[nasional_list] [ppiindia] Menimbang Stimulasi Perekonomian
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 1 Dec 2005 01:56:23 +0100
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=200131
Kamis, 01 Des 2005,
Menimbang Stimulasi Perekonomian
Oleh Cyrillus Harinowo *
Tanggal 21 November 2005, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pencapaian
PDB untuk kuartal III tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun 2005
ternyata kembali menunjukkan penurunan dibandingkan dengan dua kuartal
sebelumnya secara beruntun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun
2004, PDB kuartal I naik 6,12 persen. Pertumbuhan tersebut sedikit menurun
menjadi 5,54 persen pada kuartal II.
Sementara itu, pertumbuhan di kuartal III kembali menunjukkan penurunan menjadi
5,34 persen dibandingkan dengan kuartal III tahun 2004. Secara keseluruhan,
pertumbuhan PDB riil kita selama tiga kuartal mencapai 5,76 persen dibandingkan
dengan tiga kuartal pertama tahun 2004.
Jika kita hanya membaca bagian terakhir, yaitu tercapainya pertumbuhan ekonomi
5,76 persen pada tiga kuartal pertama 2005, maka tampaknya angka tersebut masih
sangat membesarkan hati. Angka ini memang berada di bawah 6 persen sebagaimana
target pemerintah dalam revisi APBN 2005, tetapi masih sedikit di atas target
5,4 persen yang dicanangkan pemerintahan Megawati sebelumnya.
Jika melihat tren yang ada, bisa diprediksi bahwa kuartal IV tahun
pertumbuhannya akan mengalami penurunan lebih lanjut. Jika kuartal terakhir
tersebut PDB bisa meningkat dengan 5 persen saja dibandingkan tahun sebelumnya,
maka selama tahun 2005 pertumbuhan rata-rata tahunan bisa mencapai lebih dari
5,5 persen.
Angka pertumbuhan sebesar itu tetap merupakan suatu prestasi tersendiri karena
banyak negara lain di Asia, kecuali China dan India, menunjukkan prestasi yang
lebih rendah daripada itu.
Merisaukan?
Lalu, indikator manakah yang sebetulnya bisa merisaukan? Kinerja perekonomian
Indonesia dari 2001 sampai 2004 menunjukkan perkembangan yang membaik. Kenaikan
angka pertumbuhan ekonomi tersebut melahirkan momentum, yaitu ayunan gerak ke
atas yang dapat meringankan kita untuk mendorongnya lebih tinggi lagi.
Perkembangan tersebut membalik mulai kuartal II tahun 2005 ini. Pembalikan
inilah yang akhirnya mengurangi momentum yang ada. Dalam keadaan yang
sedemikian, upaya membalikkan kembali arah pertumbuhan ekonomi menjadi dua kali
lebih sulit dibandingkan pada saat trennya masih meningkat.
Hal inilah yang harus dicermati secara sungguh-sungguh oleh pemerintah sehingga
kebijakan yang tepat dapat dilaksanakan di waktu-waktu mendatang. Keadaan yang
ada saat ini, tampaknya, menghendaki adanya stimulasi perekonomian, namun
dengan tidak meninggalkan upaya menstabilkan perkembangan makro ekonomi. Suatu
pilihan yang sulit.
Pilihan Kebijakan Moneter
Dalam keadaan down turn seperti itu, pilihan kebijakan moneter apakah yang
pantas dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia?
Dari sisi Bank Indonesia (BI), pilihan kebijakan yang ada sebetulnya lebih
terbatas. Upaya menstabilkan perkembangan makro, terutama stabilitas nilai
rupiah, masih menghendaki adanya kebijakan moneter yang cukup ketat. Hal itu
telah dilakukan BI, yaitu melalui kebijakan "harga" dana, yaitu suku bunga yang
tinggi dan kebijakan "kuantitas" dana, yaitu melalui peningkatan Giro Wajib
Minimum.
Kebijakan moneter tersebut memang cukup berhasil dalam meredam gejolak
melemahnya nilai rupiah. Meski demikian, ditempuhnya dua kebijakan sekaligus
bisa juga menimbulkan dampak kontraksi yang besar.
Bahkan, jika terlalu lama diterapkan, bukan tidak mungkin dosisnya menjadi
overkill. Hal ini dapat kita amati dalam bulan-bulan mendatang melalui tingkat
pertumbuhan kredit maupun kenaikan kredit macet atau NPL.
Karena itu, jika kita menginginkan perekonomian tetap mengalami ekspansi yang
diharapkan, sekaligus sebagai kompensasi melemahnya permintaan konsumsi, maka
kebijakan moneter dari sisi "kuantitas" bisa sedikit dilonggarkan.
Namun, kebijakan moneter dari sisi "harga" masih dapat tetap dipertahankan
sampai keadaan makro betul-betul sudah dapat dikatakan stabil. Bahkan jika
diperlukan, suku bunga yang ada masih dapat dinaikkan sedikit sampai
batas-batas tertentu yang tidak mematikan.
Stabilitas tersebut akan dapat dipantau dari beberapa indikator, yaitu mulai
stabilnya atau bahkan sedikit menguatnya nilai rupiah serta mulai masuknya
dana-dana dari luar negeri, terutama yang ditanamkan dalam SBI. Jika ini maka
SBI yang ada sudah dianggap menarik oleh para investor luar negeri.
Dalam keadaan seperti itu, maka kebijakan moneter dari sisi "harga" pun mulai
dapat dikendurkan kembali, yaitu melalui penurunan bunga secara bertahap dan
sangat terukur.
Stimulasi Sisi Fiskal
Masyarakat tampaknya banyak menerima "surprises" dengan pembahasan RAPBN 2006
yang lalu. Bagaimanakah sebetulnya sifat RAPBN kita. Apakah ada ruang untuk
memberikan stimulasi kepada perekonomian atau tidak?
Pada saat terjadi krisis ekonomi di Malaysia tahun 1986, pemerintah dan Bank
Negara Malaysia beramai-ramai melakukan pembiayaan untuk investasi prasarana
secara besar-besaran. Jalan tol dibangun sehingga dapat menyerap ekses produksi
semen, besi beton, dan yang terpenting adalah tenaga kerja. Pada saat
perekonomian mulai bangkit kembali, prasarana yang dibangun sudah mulai dapat
dimanfaatkan.
Keadaan itu sangat membantu bangkitnya kembali perekonomian Malaysia.
Pengalaman yang sama juga terjadi di Korea Selatan pada masa krisis Asia 1997.
Jalan tol tetap dibangun, airport Incheon tetap dibangun. Hasilnya? Pada saat
perekonomian mulai bangkit, jalan tol dan bandar udara baru tersebut sudah
selesai.
Apakah yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia dari sisi fiskal? Jika ada
political will, sebetulnya banyak hal bisa dilakukan sekaligus. Barangkali kita
harus berani melakukannya dengan mimpi yang lebih besar. Katakan pembangunan
tol Cikampek-Cirebon-Semarang sampai Gresik. Panjang jalan tol tersebut
barangkali sekitar 500-600 km.
Jika biaya pembangunan jalan tol Cikampek-Padalarang dapat dijadikan acuan,
maka kebutuhan pembiayaan jalan tol sepanjang 600 km tersebut sekitar Rp 30- 40
triliun. Apakah jumlah tersebut dapat dipenuhi dalam jangka waktu yang pendek?
Bisa.
Jika pemerintah ingin membiayai sendiri pembangunan jalan tol tersebut, maka
biaya sebesar, katakan Rp 40 triliun tersebut, dapat dilakukan dengan menambah
sedikit deficit financing dari APBN. Jika saat ini defisitnya sekitar 1 persen
dari PDB, sedangkan Undang-Undang Keuangan Negara memberikan kemungkinan untuk
defisit sampai dengan 3 persen dari PDB, maka untuk jalan tengah yang lebih
prudent, pemerintah dapat menambah sedikit defisitnya menjadi 2 persen saja.
Jika itu dilakukan, akan ada tambahan dana Rp 30 triliun untuk tahun 2006
(karena PDB pada waktu itu akan mencapai Rp 3.000 triliun). Jika program ini
dilakukan dalam dua tahun, tersedia dana sekitar Rp 60 triliun untuk pembiayaan
jalan tol tersebut.
Alternatif yang kedua adalah dengan melakukan penambahan modal kepada PT Jasa
Marga. Untuk membangun jalan tersebut, perusahaan BUMN tersebut memang
memerlukan modal tambahan. Namun, modal yang diperlukan tidaklah Rp 40 triliun
tersebut, tetapi barangkali hanya Rp 10 triliun sampai Rp 15 triliun.
Selebihnya akan diupayakan PT Jasa Marga melalui pembiayaan dari perbankan
maupun pasar modal. Jika ini terjadi, sebetulnya pemerintah tidak perlu
menambah defisit APBN-nya dalam jumlah besar, tetapi cukup Rp 5-7,5 triliun
selama dua tahun. Jumlah ini bisa dilakukan dengan menambah defisit APBN atau
melalui cara penghematan yang bisa dilakukan dari tempat lain.
Rasanya, daripada kita terperangkap pada pola pemikiran yang terkungkung dalam
kotak, maka usul ini adalah membuat kita berpikir di luar kotak, out of the
box. Dengan cara ini, perekonomian dapat distimulasi kembali sehingga arah
perkembangan ekonomi dapat berbalik kembali ke arah tren peningkatan
pertumbuhan.
" Cyrillus Harinowo, praktisi ekonomi dan moneter di Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Other related posts:
- » [nasional_list] [ppiindia] Menimbang Stimulasi Perekonomian