[breaktime-corner] Preman -ISME


Preman -ISME











Hercules, Sang Penguasa Tanah Abang

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/hercules.jpg

Ia merupakan seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi
ketegangan Timor-timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Maka tak
salah jika sosoknya yang begitu berkarisma ia dipercaya memegang logistik
oleh KOPASUS ketika menggelar operasi di Tim-tim.

Namun nasib lain hinggap pada dirinya, musibah yang dialaminya di Tim-tim
kala itu memaksa dirinya menjalani perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Dan
dari situlah perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai
sekarang, ia jalani.

Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah
‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai
daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan
perkelahian antar preman.

Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu
itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang.
Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap
saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya.

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/hercules_tanahabang.jpg

Hercules Rosario de Marshal alias Hercules

Rasanya tidak percaya Hercules preman yang paling ditakuti, setidaknya di
kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya
kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan
kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya
sudah digantikan dengan bola mata buatan.

Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian.
Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut
saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan
di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa
kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.

Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik
dengan Tanah Abang. Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim
(kini Timor Leste)  ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok
Hercules sering memimpin langsung. Pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok
16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas. Bahkan
suatu ketika, dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga
ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut
keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya
dari seorang pendekar di Badui Dalam.

Ternyata, di balik sosok yang menyeramkan ini, ada sisi lain yang belum
banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules
menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan
buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran. Begitu juga ketika terjadi
bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan
pakaian.

Bahkan juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan
masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya
pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari
pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini.

Maka jangan kaget jika Hercules menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah
sekolah internasional yang relatif uang sekolahnya mahal. Bukan Cuma itu,
ketika Lembaga Pendidikan Kesekretarisan Saint Mary menghadapi masalah,
Hercules ikut andil menyelesaikannya, termasuk menyuntikan modal agar
lembaga pendidikan itu bisa terus berjalan dan berkembang.

Olo Panggabean, The Real Medan Godfather

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/olo-panggabean-.jpg

Sahara Oloan Panggabean

Olo Panggabean lahir di Tarurung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara
24 Mei 1941. Nama lengkapnya adalah Sahara Oloan Panggabean, tapi lebih suka
di panggil OLO, yang dalam bahasa Tapanuli artinya YA atau OK.

Pada masa hidupnya, untuk menemui atau hanya melihat sosok “Ketua” itu
bukanlah perkara gampang. Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya
di suatu tempat, itupun dengan pengawalan berlapis-lapis yang selalu
mengitari kemanapun dia pergi. Sang “Ketua” itu pun selalu menghindari
wartawan. Dia bahkan pernah memberikan uang kepada wartawan untuk tidak
mewawancarai ataupun mengabadikan dirinya melalui foto.

Sosoknya sangat bertolak belakang dari sebutannya yang dikenal sebagai
“Kepala Preman.” Perawakannya seperti orang biasa dengan penampilan yang
cukup sederhana. Ia hanya mengunakan sebuah jam tangan emas tanpa satupun
cincin yang menempel di jarinya. Sorot matanya terlihat berair seperti
mengeluarkan air mata, tetapi memiliki lirikan yang sangat tajam. “Jangan
panggil saya Pak. Panggil saja Bang, soalnya saya kan sampai sekarang masih
lajang,”ujar Olo sambil tertawa. Meski begitu, pengawal rata-rata bertubuh
besar berkumis tebal dengan kepalan rata-rata sebesar buah kelapa.

Olo Panggabean diperhitungkan setelah keluar dari organisasi Pemuda
Pancasila, saat itu di bawah naungan Effendi Nasution alias Pendi Keling,
salah seorang tokoh Eksponen ’66′. Tanggal 28 Agustus 1969, Olo Panggabean
bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK. Masa mudanya itu,
dia dikenal sebagai preman besar.

Wilayah kekuasannya di kawasan bisnis di Petisah. Dia juga sering
dipergunakan oleh pihak tertentu sebagai debt collector. Sementara
organisasi yang didirikan terus berkembang, sebagai bagian dari lanjutan
Sentral Organisasi Buruh Pancasila (SOB Pancasila), di bawah naungan dari
Koordinasi Ikatan - Ikatan Pancasila (KODI), dan pendukung Penegak Amanat
Rakyat Indonesia (Gakari).

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/olo_panggabean.jpg

Melalui IPK Olo kemudian membangun “kerajaannya” yang sempat malang
melintang di berbagai aspek kehidupan di Sumut dan menghantarkannya dengan
julukan “Ketua.” Selain kerap disebut “Kepala Preman”, yang dikaitkan
dari nomor seri plat kendaraannya yang seluruhnya berujung “KP”, Olo juga
dikenal orang sebagai “Raja Judi” yang mengelola perjudian di Sumut. Namun
segala hal tersebut, belum pernah tersentuh atau dibuktikan oleh pihak yang
berwajib. Terasa, tapi tidak teraba.

Olo Panggabean pernah dituding sebagai pengelola sebuah perjudian besar di
Medan. Semasa Brigjen Pol Sutiono menjabat sebagai Kapolda Sumut (1999), IPK
pernah diminta untuk menghentikan praktik kegiatan judi. Tudingan itu
membuat Moses Tambunan marah besar. Sebagai anak buah Olo Panggabean, Moses
menantang Sutiono untuk dapat membuktikan ucapannya tersebut.

Persoalan ini diduga sebagai penyulut insiden di kawasan Petisah. Anggota
brigade mobile (Brimob) terluka akibat penganiayaan sekelompok orang. Merasa
tidak senang, korban yang terluka itu melaporkan kepada rekan rekannya.
Insiden ini menjadi penyebab persoalan, sekelompok oknum itu memberondong
tempat kediamana Olo “Gedung Putih” dengan senjata api.

Pada pertengahan 2000, ia menerima perintah panggilan dari Sutanto (saat itu
menjabat sebagai Kapolda Sumut) terkait masalah perjudian namun panggilan
tersebut ditolaknya dengan hanya mengirimkan seorang wakil sebagai penyampai
pesan.

Sejak jabatan Kapolri disandang Sutanto pada tahun 2005, kegiatan perjudian
yang dikaitkan dengan Olo telah sedikit banyak mengalami penurunan.[1].
Semasa Sutanto menjadi Kapolri, bisnis judi Olo diberantas habis sampai
keakar akarnya. Sutanto berhasil memberantas judi di Sumatera Utara kurang
dari tiga tahun, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Kapolri
sebelumnya. Sejak itu, Olo dikabarkan memfokuskan diri pada bisnis legal,
seperti POM Bensin , Perusahaan Otobus (PO) dan sebagainya.

Pada akhir 2008, Olo Panggabean yang kembali harus berurusan pihak polisi.
Namun kali ini, kasusnya berbeda yakni untuk melaporkan kasus penipuan
terhadap dirinya oleh sejumlah rekannya dalam kasus jual beli tanah sebesar
Rp 20 miliar di kawasan Titi Kuning, Medan Johor.

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/Olo_Panggabean-1-204x30
0.jpg

Namun terlepas dari apa kata orang terhadap Olo Panggabean, sejumlah langkah
positif dalam perjalanan hidupnya pantas dicatat dengan tinta emas. Terutama
sikap kedermawanannya dan kepeduliannya kepada rakyat tidak berkemampuan.

Kisah sedih bayi kembar siam Angi-Anjeli anak dari pasangan Subari dan Neng
Harmaini yang kesulitan membiayai dana operasi pemisahan di Singapura, tahun
2004 adalah satu contoh kedermawanan Olo paling mendebarkan.

Ibu sang bayi, Neng Harmaini, melahirkan mereka di RS Vita Insani, Pematang
Siantar, Rabu, 11 Pebruari 2004 pukul 08.00 WIB, melalui operasi caesar.
Bayi kembar siam ini harus diselamatkan dengan operasi cesar, tapi
orangtuanya tidak mampu. Ditengah pejabat Pemprovsu dan Pemko Siantar masih
saling lempar wacana untuk membantu biaya operasi, malah Olo Panggabean
bertindak cepat menanggung semua biaya yang diperlukan.

Bahkan saat bayi bernasib sial itu tiba di Bandara Polonia Medan dengan
pesawat Garuda Indonesia No. GIA 839 pada Senin 18 Juli 2004 sekitar pukul
11.30, Olo Panggabean menyempatkan diri menyambut dan menggendongnya.

Saat itu Angi dan Anjeli terseyum manis, mereka mudah akrab dengan orang
yang berjasa untuk mengoperasi mereka. Banyak orang tereyuh dan orng tua
Angi dan Anjeli, nyaris rubuh pingsan karena terharu. Maklum, setelah
membiayai semua perobatan di rumah sakit, Olo masih bersedia menyambutnya di
Bandara.

Kisah kedermawanan Ketua sudah banyak dirasakan masyarakat kurang mampu di
Sumatera Utara.Tidak sekedar membiayai perobatan orang sakit, tapi juga
dalam bentuk lain berupa biaya pendidikan, modal kerja untuk menghidupi
keluarga.

Olo telah meninggal dunia Kamis, 30 April 2009  jam 14.00 di rumah sakit
Glenegles Medan Sumatera Utara. Olo meninggal pada usia 67 Tahun. Jenazah
disemayamkan dirumah duka jalan Sekip.

John Kei, Big Boss Asal Maluku Utara

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/John_kei.jpg

Jhon Refra Kei

Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei,  tokoh pemuda asal Maluku
yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota. Namanya semakin berkibar
ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara pula, Basri Sangaji meninggal dalam
suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12
Oktober 2004 lalu

Padahal dua nama tokoh pemuda itu seperti saling bersaing demi mendapatkan
nama lebih besar. Dengan kematian Basri, nama Jhon Key seperti tanpa
saingan. Ia bersama kelompoknya seperti momok menakutkan bagi warga di
Jakarta.

Untuk diketahui, Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para
pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun
pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan
pemuda itu Angkatan Muda Kei (AMKEI) dengan Jhon Kei sebagai pimpinan. Ia
bahkan mengklaim kalau anggota AMKEI mencapai 12 ribu orang.

Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector
alias penagih utang. Usaha jasa penagihan utang semakin laris ketika
kelompok penagih utang yang lain, yang ditenggarai pimpinannya adalah Basri
Sangaji tewas terbunuh. Para ‘klien’ kelompok Basri Sangaji mengalihkan
ordernya ke kelompok Jhon Kei. Aroma menyengat yang timbul di belakang
pembunuhan itu adalah persaingan antara dua kelompok penagih utang.

Bahkan pertumpahan darah besar-besaran hampir terjadi tatkala ratusan orang
bersenjata parang, panah, pedang, golok, celurit saling berhadapan di Jalan
Ampera Jaksel persis di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awal
Maret 2005 lalu. Saat itu sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa
pembunuhan Basri Sangaji. Beruntung 8 SSK Brimob Polda Metro Jaya bersenjata
lengkap dapat mencegah terjadinya bentrokan itu.

Sebenarnya pembunuhan terhadap Basri ini bukan tanpa pangkal, konon
pembunuhan ini bermula dari bentrokan antara kelompok Basri dan kelompok
Jhon Key di sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada
2 Maret 2004 lalu. Saat itu kelompok Basri mendapat ‘order’ untuk menjaga
diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi
penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas security di
diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.

Polisi bertindak cepat, beberapa pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan.
Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun pada 8 Juni
di tahun yang sama saat sidang mendengarkan saksi-saksi yang dihadiri
puluhan anggota kelompok Basri dan Jhon Kei meletus bentrokan. Seorang
anggota Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei terbunuh di
ruang pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung
Jhon Key, hal ini menjadi salah satu faktor pembunuhan terhadap Basri,
selain persaingan bisnis juga ditunggangi dendam pribadi.

Description:
http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/jhon-kei.jpg

Pada Juni 2007 aparat Polsek Tebet Jaksel juga pernah meminta keterangan
Jhon Key menyusul bentrokan yang terjadi di depan kantor DPD PDI Perjuangan
Jalan Tebet Raya No.46 Jaksel. Kabarnya bentrokan itu terkait penagihan
utang yang dilakukan kelompok Jhon Key terhadap salah seorang kader PDI
Perjuangan di kantor itu. Bukan itu saja, di tahun yang sama kelompok ini
juga pernah mengamuk di depan Diskotik Hailai Jakut hingga memecahkan
kaca-kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Sebuah sumber dari seseorang yang pernah berkecimpung di kalangan jasa
penagihan utang menyebutkan, Jhon Kei dan kelompoknya meminta komisi 10
persen sampai 80 persen. Persentase dilihat dari besaran tagihan dan lama
waktu penunggakan. “Tapi setiap kelompok biasanya mengambil komisi dari
kedua hal itu,” ujar sumber tersebut.

Dijelaskannya, kalau kelompok John, Sangaji atau Hercules yang merupakan 3
Besar Debt Collector Ibukota biasanya baru melayani tagihan di atas Rp 500
juta. Menurutnya, jauh sebelum muncul dan merajalelanya ketiga kelompok itu,
jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah kelompok pimpinan
mantan gembong perampok Johny Sembiring, kelompoknya bubar saat Johny
Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur
tahun 1996 lalu.

Kalau kelompok tiga besar itu biasa main besar dengan tagihan di atas Rp 500
juta’an, di bawah itu biasanya dialihkan ke kelompok yang lebih kecil.
Persentase komisinya pun dilihat dari lamanya waktu nunggak, semakin lama
utang tak terbayar maka semakin besar pula komisinya,” ungkap sumber itu
lagi.Dibeberkannya, kalau utang yang ditagih itu masih di bawah satu tahun
maka komisinya paling banter 20 persen. Tapi kalau utang yang ditagih sudah
mencapai 10 tahun tak terbayar maka komisinya dapat mencapai 80 persen.

Bahkan menurut sumber tersebut, kelompok penagih bisa menempatkan beberapa
anggotanya secara menyamar hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau
berbulan-bulan di dekat rumah orang yang ditagih. “Pokoknya perintahnya,
dapatkan orang yang ditagih itu dengan cara apa pun,” ujarnya.

Saat itulah kekerasan kerap muncul ketika orang yang dicari-carinya apalagi
dalam waktu yang lama didapatkannya namun orang itu tak bersedia membayar
utangnya dengan berbagai dalih. “Dengan cara apa pun orang itu dipaksa
membayar, kalau perlu culik anggota keluarganya dan menyita semua
hartanya,” lontarnya.

Dilanjutkannya, ketika penagihan berhasil walaupun dengan cara diecer alias
dicicil, maka saat itu juga komisi diperoleh kelompok penagih. “Misalnya
total tagihan Rp 1 miliar dengan perjanjian komisi 50 persen, tapi dalam
pertemuan pertama si tertagih baru dapat membayar Rp 100 juta, maka kelompok
penagih langsung mengambil komisinya Rp 50 juta dan sisanya baru diserahkan
kepada pemberi kuasa. Begitu seterusnya sampai lunas. Akhirnya walaupun si
tertagih tak dapat melunasi maka kelompok penagih sudah memperoleh komisinya
dari pembayaran-pembayaran sebelumnya,”

Dalam ‘dunia persilatan’ Ibukota, khususnya dalam bisnis debt collector
ini, kekerasan kerap muncul diantara sesama kelompok penagih utang. Ia
mencontohkan pernah terjadi bentrokan berdarah di kawasan Jalan Kemang IV
Jaksel pada pertengahan Mei 2002 silam, dimana kelompok Basri Sangaji saat
itu sedang menagih seorang pengusaha di rumahnya di kawasan Kemang itu,
mendadak sang pengusaha itu menghubungi Hercules yang biasa ‘dipakainya’
untuk menagih utang pula.

“Hercules sempat ditembak beberapa kali, tapi dia hanya luka-luka saja dan
bibirnya terluka karena terserempet peluru. Dia sempat menjalani perawatan
cukup lama di sebuah rumah sakit di kawasan Kebon Jeruk Jakbar. Beberapa
anak buah Hercules juga terluka, tapi dari kelompok Basri seorang anak
buahnya terbunuh dan beberapa juga terluka,” tutupnya.

Selain jasa penagihan utang, kelompok Jhon Kei juga bergerak di bidang jasa
pengawalan lahan dan tempat. Kelompok Jhon Kei semakin mendapatkan banyak
‘klien’ tatkala Basri Sangaji tewas terbunuh dan anggota keloompoknya
tercerai berai. Padahal Basri Sangaji bersama kelompoknya memiliki nama
besar pula dimana Basri CS pernah dipercaya terpidana kasus pembobol Bank
BNI, Adrian Waworunto untuk menarik aset-asetnya. Tersiar kabar, Jamal
Sangaji yang masih adik sepupu Basri yang jari-jari tangannya tertebas
senjata tajam dalam peristiwa pembunuhan Basri menggantikan posisi Basri
sebagai pimpinan dengan dibantu




Daftar nama tokoh dan kelompok preman yang menguasai Jakarta


Aksi premanisme yang banyak dilakukan oleh beberapa kelompok pemuda
akhir-akhir ini semakin meresahkan masyarakat umum. Berlatar belakang jasa
dept collector (penagih hutang) dan pembebasan lahan sengketa, membuat
banyak kelompok pemuda terutama yang berasal dari kawasan timur Indonesia
telah mengontrol dan menduduki suatu kawasan tertentu di Jakarta. Nama -
nama pentolan kelompok pemuda seperti Jhon Kei (mantan seteru kelompok
pimpinan Almarhum Basri Sangaji), misalnya, merupakan himpunan para pemuda
Ambon asal Pulau Kei, Maluku Tenggara. Terbentuk pasca-kerusuhan di Tual,
Pulau Kei, pada Mei 2000, dengan nama resmi Angkatan Muda Kei (Amkei). Jhon
Kei, pentolan Amkei, mengklaim punya anggota sampai 12.000 orang. Belum lagi
nama mantan penguasa tanahabang (Hercules) yang sudah sangat tersohor,
semakin membuktikan bahwa semakin hari dunia premanisme semakin berkembang
dan terorganisir dengan rapi.



Selain nama-nama tokoh dan kelompok terkenal yang sudah sering kita dengar
di media massa, masih ada lagi kelompok-kelompok lain yang menguasai
berbagai kawasan di Jakarta.



Di Jakarta Timur, kawasan Kebon Singkong, Klender, diketahui menjadi "basis"
preman. Dari "pemain" 365 (perampokan) hingga pencuri kendaraan bermotor
berkumpul di situ. Di kawasan perparkiran Arion Rawamangun ada nama "Azis",
sedangkan di Jl. Matraman-Pramuka ada nama "Edison".



Di Jakarta Pusat, nama "Hasan Suwing" masih disegani di kawasan Lokasari,
Manggabesar dan sekitarnya. Kemudian mantan pembunuh bayaran yang sudah
tobat, Arek Foto, juga masih punya nama di Tanah Tinggi. Atau "Yanto", yang
memegang perparkiran di depan Gelanggang "Planet" Senen.



Pencopet-pencopet Senen diisukan dipimpin "Ical alias Eddy". Dan salah satu
penyebab, mengapa mereka berani langsung mencopet penumpang KA di Stasiun
Senen, konon karena ada beking oknum di kawasan itu. Lalu di Jl Biak-Roxy,
masih ada nama "Amsir Budeg" dan "Tatang Cs" di Jl Juanda.



Di Jakarta Barat, nama "Margono" sudah cukup kuat di kawasan Cengkareng.
Pemerasan pengemudi angkot setiap hari diduga dikoordinir olehnya, dan
sempat terjadi tawuran massal dengan kelompok Palembang di kawasan itu.



Di Jakarta Selatan, masih ada nama preman yang "sudah sadar", yakni "Seger"
yang memegang perparkiran di kawasan Blok M. Dia terkenal dalam kasus
pemberontakan LP Cipinang tahun 1981, di mana dia diduga menghabisi anak
buah Jhoni Sembiring (almarhum). Rekan seangkatan "Seger" adalah "Freddy
Galur" serta "Plolong" (almarhum).



Di Jakarta Utara, nama "Kadim" masih disegani di kawasan pelabuhan. Di
sekitar kawasan WTS Kramat Tunggak, tepatnya di Jl Kramat Jaya VI ada
"dedengkot" bernama Zazuli. Mantan terhukum seumur hidup ini, dianggap
penguasa kawasan Gudang Baru, Bulog dan lain-lain.



Lalu di Pademangan Barat, ada nama "Rudy Ambon" yang biasa mangkal di
bioskop King. Di kawasan WTS Kalijodo, nama "Daeng Usman, Daeng Patah dan
Daeng Hamid" masih disegani di daerah itu. Kemudian, nama "Royal" di Gedung
Panjang, Kota.



Di Pasar Ikan sudah lama ada nama "Janaan dan Suganda" (satu lagi: Janaka
sudah almarhum). Selain menguasai kuli-kuli di pelabuhan itu, juga diduga
sebagai bos "bajing luncat" di kawasan pelabuhan hingga Jawa Barat. "Markas"
mereka konon di belakang pabrik Bimoli, Pluit.






GENG PREMAN VAN JAKARTA (dari majalah TEMPO)


TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima
bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. “Saya
lari ke atas,” kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang
pertikaian melawan geng preman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai,
Banten, April lalu. “Anak buah saya berkumpul di lantai tiga.”

Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya,
Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi,
Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia
menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semarang,
Parung, Ciputat, dan Pamulang.

Wafat pada akhir 2008, Baharudin meninggalkan banyak warisan buat
keluarganya, antara lain aset delapan koperasi berbadan hukum, yang
cabangnya tersebar di sejumlah kota. Pengadilan Agama Jakarta Timur pun
menetapkan istri dan empat anak Baharudin sebagai ahli waris. Konflik
keluarga berawal ketika Masthahari, adik Baharudin, menuntut hak
waris.Masthahari menyewa jasa pengamanan dari Umar Kei, 33 tahun, pemuda
dari Kei, Maluku. Tak mau kalah, Burhanuddin meminta pengawalan Alfredo
Monteiro dan Logo Vallenberg dari kelompok Timor. Di lapangan, merekalah
yang berhadapan.

Serangan itu datang pagi-pagi. Lima orang datang ke kantor Koperasi Bosar
Jaya. “Kami dari Koperasi Mekar Jaya ingin mengambil alih kantor,” kata
Jamal, seorang penyerang. Tak lama kemudian datang Umar Kei, yang meminta
Logo dan kelompoknya meninggalkan kantor. Ditolak, Umar memanggil anak
buahnya yang datang dengan enam mobil. Menurut Logo, mereka bersenjata golok
dan pedang samurai. Umar memerintahkan anak buahnya menyerang.

Para penyerang menyabet Logo. “Anak buah saya tak bersenjata,” kata Logo.
Bentrokan tak berlanjut karena petugas kompleks pertokoan itu telah datang.
Belakangan Logo tahu, Umar bekerja dengan bendera Lembaga Bantuan Hukum
Laskar Merah Putih. “Mereka mengatasnamakan koperasi simpan-pinjam Mekar
Jaya,” katanya.

Kepada Tempo, Umar mengatakan, dia datang untuk mengajak berunding. Ia
meminta Logo dan teman-temannya meninggalkan kantor karena sengketa keluarga
itu ditangani pengadilan. Sebelum menghadapi Logo, Umar mengatakan bahwa
gengnya sudah lebih dulu berhadapan dengan anggota Brimob, kelompok Banten,
Forum Betawi Rempug, dan kelompok Ongen Sangaji yang disewa Burhanuddin
Harahap. “Mereka mundur menghadapi kelompok saya,” katanya.

Sengketa waris pun menjadi pertikaian berdarah.

l l l

KELOMPOK Umar Kei dan kelompok Alfredo-Logo terhubung dalam usaha jasa
pengamanan. Di ceruk “bisnis kekerasan” ini, ada pemain lain semacam
Kembang Latar pimpinan Bahyudin, Petir di bawah komando Alo Maumere, Forum
Betawi Rempug yang dipimpin Lutfi Hakim, Badan Pembina Potensi Keluarga
Besar Banten pimpinan Dudung Sugriwa, dan Pemuda Pancasila.

“Subsektor” bisnis ini merentang dari penagihan utang, jasa penjagaan
lahan sengketa, pengelolaan jasa parkir, sampai pengamanan tempat hiburan
dan perkantoran di Ibu Kota. Usaha pengamanan kantor antara lain dipilih
Abraham Lunggana alias Lulung, 50 tahun. Mendirikan perusahaan PT Putraja
Perkasa pada awal 2000, ia masuk jasa pengelolaan parkir dan pengamanan.
Putraja memiliki anak perusahaan, PT Sacom. Abraham mengklaim mempekerjakan
sekitar 4.000 orang. “Dulu sempat lebih besar dari itu,” kata dia.

Anak buah Lulung menangani pengamanan Blok F, Pasar Tanah Abang, Jakarta
Pusat, tempat para pedagang kelontong. Ia mengambil alih “kekuasaan” yang
sebelumnya dipegang oleh seorang jawara bernama Muhammad Yusuf Muhi alias
Bang Ucu Kambing, 62 tahun. Ucu dulu menyingkirkan penguasa sebelumnya,
Rosario Marshal alias Hercules, seorang pemuda asal Timor Timur. Perusahaan
Lulung juga mengelola perparkiran di sejumlah kantor, termasuk Rumah Sakit
Fatmawati, Jakarta Selatan (lihat “Pemburu Utang, Penjaga Parkir”).

Persaingan antarkelompok sering sangat keras dan bisa diakhiri dengan
pertumpahan darah. Akhir September lalu, dua kelompok berhadapan di depan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Jalan Ampera. Mereka menghadiri sidang
bentrok berdarah, yang melibatkan sejumlah pemuda Kei dengan penjaga
keamanan Blowfish Kitchen and Bar, Gedung Menara Mulia, Jakarta Selatan.
(lihat “Dari Blowfish ke Ampera”).

Menurut Agrafinus Rumatora, 42 tahun, dari kelompok Kei, penjaga keamanan
Blowfish dipegang kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim. Perkelahian
pada April lalu itu menewaskan dua pemuda Kei, yakni Yoppie Ingrat Tubun dan
M. Soleh. Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghadirkan terdakwa
pelaku pembunuhan dua orang itu. Ternyata sidang ini menyulut pertikaian
lebih besar. Tiga orang dari kelompok Kei tewas, puluhan lainnya luka-luka.
Seorang sopir bus pengangkut kelompok ini menjadi korban.

Daud Kei, Wakil Ketua Angkatan Muda Kei (AMKei), menganggap pertikaian dua
kelompok itu lebih besar. Daud, 38 tahun, tangan kanan John Kei, ketua
organisasi itu, mengatakan, “Ini bukan antara Kei dan Flores, tapi antara
Maluku dan Flores Ende. Jangan salah tulis,” katanya.

Setelah bentrokan di Ampera, Alfredo Monteiro dan Logo diperiksa polisi.
Alfredo mengatakan bahwa polisi menduga ia dan Logo berkaitan dengan Thalib
Makarim. Logo memang pernah bekerja untuk Thalib. “Cuma dua bulan,”
katanya. Polisi lalu menangkap enam tersangka, semuanya dari kelompok Flores
Ende. “Bagaimana mungkin tidak ada tersangka satu pun dari mereka (kelompok
Kei)?” kata Zakaria “Sabon” Kleden, 66 tahun, tokoh yang sangat dihormati
di kalangan kelompok etnis.

l l l

PERALIHAN penguasa bisnis jagoan di Ibu Kota bukanlah suksesi yang mulus.
Pada 1990-an, area ini dikuasai Hercules. Ia semula pemuda Timor yang
direkrut Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi
wilayah itu ke Indonesia. Terluka dalam kecelakaan helikopter, ia dibawa
Gatot Purwanto, perwira pasukan yang dipecat dengan pangkat kolonel setelah
insiden Santa Cruz, ke Jakarta.

Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia
menguasai Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Kekuasaan
tak abadi. Pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar
terbesar se-Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian
dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing, kini 64 tahun.

Sejak itu ia tak lagi berkuasa. Tapi namanya telanjur menjadi ikon. Seorang
perwira polisi mengatakan, setiap pergantian kepala kepolisian, Hercules
selalu dijadikan “sasaran utama pemberantasan preman”.

Pada masa kejayaan Hercules, ada Yorrys Raweyai. Pada awal 1980-an, ia
bekerja menjadi penagih utang. Kekuatan pemuda asal Papua ini ditopang
Pemuda Pancasila, organisasi yang mayoritas anggotanya anak-anak tentara.
Dia menjadi ketua umum organisasi itu pada 2000 dan melompatkan kariernya di
politik. Dia kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar.

Pemuda Pancasila juga menjual jasa pengamanan lahan, penagihan, dan penjaga
keamanan. Ordernya diterima dari perusahaan resmi yang memiliki jaringan
dengan Pemuda Pancasila. “Habis, mau kerja apa, mereka tidak punya
ijazah,” Yorrys menunjuk anggota kelompoknya. Soal cap preman, dia
berkomentar enteng, “Saya anggap koreksi saja.”

Pada generasi yang sama, Lulung, bekas preman Tanah Abang, kini menjadi
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta dari Partai Persatuan
Pembangunan. Usahanya dimulai dari pengumpul sampah kardus bekas hingga
barang bekas. “Karier”-nya mencorong ketika kemudian bermain dalam usaha
pengamanan Tanah Abang.

Untuk melestarikan kekuatan, Lulung memilih jalur resmi. Ia mendirikan PT
Putraja Perkasa, lalu PT Tujuh Fajar Gemilang, dan PT Satu Komando
Nusantara. Perusahaan ini disesuaikan dengan “kompetensi inti” Lulung:
jasa keamanan, perparkiran, penagihan utang. “Kami masuk lewat tender
resmi,” ujarnya.

Pada 1996, ketika Hercules berhadapan dengan Bang Ucu, Lulung memilih
“berkolaborasi” dengan kelompok Timor. Alhasil, ia dikejar-kejar
teman-temannya di Betawi. Bang Ucu menyelamatkannya. Itu sebabnya, kini
Lulung rajin menyetor dana ke Ucu.

Dari Nusa Tenggara Timur ada nama Zakaria “Sabon” Kleden. Mendarat di
Betawi pada 1961, Zaka-begitu dia disapa-mengatakan menjadi preman pertama
asal daerahnya. “Dulu istilahnya geng. Ada geng Berland, Santana, dan
Legos,” tuturnya kepada Tempo.

Riwayat Zaka tak kalah berdarah. Ia mengaku sempat memutilasi korbannya. Ia
juga mengatakan telah menembak mati beberapa orang. “Saya membela harga
diri saya,” ujarnya. Tapi ia mengatakan tak pernah dinyatakan bersalah.
“Saya sering ditahan, tapi tidak pernah dihukum penjara,” kata pria yang
sangat dihormati kelompok preman terutama dari daerah Nusa Tenggara Timur
itu. Tiga tahun lalu, Zaka menjalankan bisnis sekuriti, PT Sagas Putra
Bangsa.

Dari eranya, Zaka menyebutkan nama ketua geng seperti Chris Berland, Ongky
Pieter, Patrick Mustamu dari Ambon, Matt Sanger dari Manado, Jonni Sembiring
dari Sumatera, Pak Ukar dan Rozali dari Banten, Effendi Talo dari Makassar.
“Komunikasi di antara kami baik, maka jarang bentrok berdarah,” tuturnya.

Pada awal 2000, muncul Basri Sangaji. Tapi dia terbunuh dalam penyerangan
berdarah di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. “Bisnis”-nya diteruskan
anggota keluarga Sangaji: Jamal dan Ongen. Ongen kini mantap dengan karier
politiknya, menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Jakarta.
“Target saya ketua Dewan Pimpinan Pusat,” ujar Ongen Sangaji.

Menjelang 1980-an kelompok-kelompok preman etnis juga membentuk organisasi
massa. Dimulai dari Prems-kependekan dari Preman Sadar-pimpinan Edo Mempor.
Tetap saja, bisnis mereka penagihan, perpakiran, dan jaga tanah sengketa.
“Ini awal mulanya preman berbalut ormas,” kata seorang mantan serdadu yang
kini jadi preman.

Kelompok itu berdiri hingga kini. Ada Angkatan Muda Kei, Kembang Latar,
Petir, Forum Betawi Rempug, Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Badan
Pembina Potensi Keluarga Besar Banten, juga Angkatan Muda Kei.

l l l

SETELAH bentrok berdarah di Ampera, nama Thalib Makarim muncul ke permukaan.
Para pesaingnya menyebut dia menyediakan pengamanan klub hiburan malam,
seperti Blowfish, DragonFly, X2, dan Vertigo. Thalib resminya seorang
pengacara. Dia pernah mendampingi artis kakak-adik Zaskia Adya Mecca dan
Tasya Nur Medina, yang diculik oleh Novan Andre Paul Neloe. Ia juga menjadi
anggota tim pengacara pengusaha Tomy Winata, ketika menggugat majalah Tempo
pada 2005.

Thalib tercatat bekerja untuk kantor pengacara Victor B. Laiskodat &
Associates di Melawai, Jakarta Selatan. Tapi, ketika Tempo mendatangi kantor
ini, ia tak lagi bekerja di sana. “Lima tahun lalu sudah keluar,” kata Mie
Gebu, staf kantor ini. Beberapa orang yang berjanji bisa menghubungkan dia
dengan Tempo juga gagal menemukannya. Ia juga tak pernah memenuhi panggilan
polisi, yang menangani kasus Ampera.

Sumber Tempo di kalangan preman menyebutkan, Thalib merupakan pengganti
Basri Sangaji. Ia menguasai tempat-tempat hiburan elite di Jakarta Selatan.
“Termasuk lingkungan pasar Blok M-Melawai,” katanya.

Adapun kelompok John Kei, menurut salah satu pentolannya, Agrafinus,
berfokus pada jasa penagihan dan pengacara. Kelompok ini tidak masuk ke
bisnis pengamanan tempat hiburan, perparkiran, ataupun pembebasan tanah.
“Level kami bukan kelas recehan seperti itu,” katanya. Sebab itulah, Daud
Kei membantah tuduhan pertikaian di Blowfish dan Ampera dilatari perebutan
lahan bisnis. “Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat
hiburan,” dia menegaskan.

Namun, menurut seorang preman senior, pertikaian antarkelompok separah itu
umumnya karena berebut suplai atau meminta jatah. Sebab, perputaran uang di
tempat-tempat dugem (dunia gemerlap) itu luar biasa besar. “Bayangin aja,
dari suplai tisu, snack, minuman, sampai narkoba ada,” tuturnya.

Berbeda dengan John Kei, Umar Kei meluaskan bisnisnya ke pembebasan tanah,
termasuk penjagaannya. Di lahan ini juga bermain Forum Betawi Rempug dan
Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten. Adapun perparkiran umumnya
dipegang ormas lokal Betawi atau Banten, contohnya Haji Lulung.

Dari semua bisnis yang dilakoni kelompok etnis itu, sumber Tempo menuturkan,
penghasilan terbesar ada di proyek pembebasan tanah. “Nilainya setara
dengan uang jajan setahun,” katanya. Mereka biasa menyebut penghasilan ini
sebagai “jatah preman”, yang dipelesetkan menjadi “jatah reman”. Di
tingkat kedua, penjagaan tempat hiburan malam. Kali ini jatahnya dipakai
untuk “uang jajan sebulan”. Sedangkan bisnis perpakiran menghasilkan jatah
reman berupa “uang jajan harian”.

Tak mengherankan bila dunia para jagoan ini sering diwarnai pertikaian,
bahkan sampai berdarah-darah.

Sejarah Preman Jakarta

29 September 2010
Bentrokan antara kelompok Maluku (Kei) dan Flores (Thalib Makarim) ketika
sidang kasus Blowfish di Jalan Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan. Korban tewas dari kelompok Maluku: Frederik Philo Let Let, 29
tahun, Agustinus Tomas (49), dan seorang sopir Kopaja Syaifudin (48).

31 Juli 2010
Bentrokan Forum Betawi Rempug (FBR) dengan Pemuda Pancasila, Forum
Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), dan Komunikasi Masyarakat Membangun
Lapisan Terbawah (Kembang Latar) di Rempoa, Ciputat.

30 Mei 2010
Bentrokan antara massa Forkabi dan warga Madura di Duri Kosambi, Cengkareng.
Ketua Forkabi Cipondoh Endid Mawardi tewas dibacok.

12 April 2010
Koordinator keamanan Koperasi Bosar Jaya, Logo Vallenberg, dikeroyok
kelompok Umar Kei. Penyebabnya sengketa warisan antarkeluarga pemilik
koperasi.

4 April 2010
Bentrokan di Klub Blowfish, Wisma Mulia, Jakarta, menewaskan dua orang dari
kelompok Kei, M. Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish dijaga
kelompok Flores Ende pimpinan Tha-lib Makarim.

14 Desember 2009
Mantan karyawan PT Maritim Timur Jaya, Susandi alias Aan, dipukul dan
ditendang di bagian kepala dan dada oleh Viktor Laiskodat, pemimpin Artha
Graha Group.

11 Agustus 2008
John Kei, pemuda Ambon, ditangkap Densus Antiteror 88 Kepolisian Daerah
Maluku di Desa Ohoijang, Kota Tual. Dia diduga kuat terlibat penganiayaan
terhadap dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra, yang menyebabkan jari
kedua pemuda itu putus.

1 Juni 2008
Bentrokan Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan. Markas Besar Kepolisian RI menetapkan lima
anggota FPI sebagai tersangka dalam pengeroyok-an dan pemukulan terhadap
anggota Aliansi.

27 April 2006
Ratusan anggota FBR mendatangi rumah artis Inul Daratista, menuntut Inul
meminta maaf atas tindakannya menggelar demonstrasi menolak Rancangan
Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi di Hotel Indonesia.

3 Februari 2006
Massa FPI mengamuk di depan kantor Kedutaan Besar Denmark, Menara Rajawali,
terkait dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di koran Denmark,
Jyllands-Posten.

19 Desember 2005
Hercules bersama 17 anak buahnya menyerang kantor Indopos, Jakarta Barat,
karena keberatan atas artikel berjudul “Reformasi Preman Tanah Abang,
Hercules Kini Jadi Santun”. Dia divonis hukuman penjara 2 bulan.

18 Juni 2005
Kelompok Maluku mengamuk dan merusak kantor pemasaran Perumahan Taman
Permata Buana, Jakarta Barat. Mereka mengaku mewakili Aminah binti Ilyas,
pemilik tanah yang sedang bersengketa dengan pengembang.

8 Juni 2005
Keributan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei saat sidang kasus
pemukulan di Diskotek Stadium, Jakarta Barat. Kakak kandung John Kei,
Walterus Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan
Negeri Jakarta Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan
Basri Sangaji dan bentrokan di Diskotek Stadium.

29 Mei 2005
Persatuan Pendekar Banten bentrok dengan Forkabi. Jahuri, 44 tahun, warga
Cilampang, Banten, tewas, ditemukan di Gedung Serbaguna Perumahan Permata
Buana. Bentrokan dipicu sengketa tanah.

1 Maret 2005
Ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, dan celurit berhadapan di
Jalan Ampera, Jakarta Selatan, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,
ketika sidang pembunuhan Basri Sangaji.

16 Februari 2005
Bentrokan antara petugas Tramtib DKI dan kelompok Hercules yang menjaga
lahan kosong di Jalan H.R. Rasuna Said Blok 10-I Kaveling 5-7, Jakarta
Selatan. Adik Hercules, Albert Nego Kaseh alias John Albert, mati tertembak
senjata Kasi Operasi Satpol Pamong Praja DKI Jakarta, Chrisman Siregar.

12 Oktober 2004
Basri Sangaji tewas diserang sepuluh preman dari kelompok John Kei di kamar
301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan.

2 Maret 2004
Bentrokan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei di Diskotek Stadium di
kawasan Taman Sari, Jakarta Barat. Saat itu kelompok Basri menjaga diskotek
dan diserang puluhan orang Kei. Dua penjaga keamanan dari kelompok Basri
tewas.

7 Mei 2003
Bentrokan kubu Hercules dan Basri Sangaji di Kemang, Jakarta Selatan.
Pertikaian menyebabkan Samsi Tuasah tewas akibat luka tembak di paha dan
dada.

8 Maret 2003
David A. Miauw dan rekan, anak buah Tomy Winata, menye-rang dan melakukan
pemukulan terhadap tiga wartawan majalah Tempo. Tomy berkeberatan atas
artikel Tempo edisi Senin, 3 Maret 2003, berjudul “Ada Tomy di Tanah
abang?” Kasus ini dibawa ke pengadilan.

28 Maret 2002
Tujuh anggota FBR menganiaya anggota Urban Poor Consortium pimpinan Wardah
Hafidz di kantor Komnas HAM, Menteng.

12 Desember 1998 dan 15 Januari 1999
Kerusuhan antara kelompok Ambon muslim dan Kristen dipicu peristiwa
Ketapang. Kerusuhan Ambon ditengarai akibat provokasi beberapa kelompok
preman.

22-23 November 1998
Kerusuhan antara Ambon muslim dan Kristen di daerah Ketapang, Jakarta Pusat.
Baku hantam dipicu terbunuhnya empat pemuda muslim pada kerusuhan Semanggi,
menjelang Sidang Istimewa MPR.

29 Mei 1997
Dedy Hamdun, preman asal Ambon beragama Islam, diculik lalu hilang hingga
kini. Suami artis Eva Arnaz ini bekerja membebaskan tanah bagi bisnis
properti Ibnu Hartomo, adik ipar bekas presiden Soeharto. Sebelum hilang,
Dedy aktif mendukung Partai Persatuan Pembangunan.

1996
Perang antara kelompok Betawi dan Timor pimpinan Hercules. Kelompok Timor
hengkang dari Tanah Abang.

Laskar Jalanan

29 Juli 2001
FBR didirikan oleh KH Fadloli el-Muhir (almarhum) dengan jumlah pengikut
saat pendirian 400 ribu orang.

18 April 2001
Forkabi dideklarasikan di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

10 Oktober 2000
Kelompok Laskar Merah Putih pimpinan Eddy Hartawan (almarhum). Kelompok
pemuda ini pernah menjadi tenaga pengawal mendampingi Manohara Odelia Pinot.

Mei 2000
Angkatan Muda Kei (AmKei) didirikan oleh keluarga Kei dengan ketua John
Refra atau John Kei. Organisasi terbentuk pascakerusuhan Tual, Maluku, pada
Maret 1999. Kelompok ini mengklaim memiliki 12 ribu pengikut.

17 Agustus 1998
FPI didirikan oleh Muhammad Rizieq bin Husein Syihab di Jalan Petamburan III
Nomor 83, Jakarta Pusat. Beberapa jenderal TNI dan Polri mendukung pendirian
FPI, di antaranya mantan Kepala Polda Metro Jaya Komisaris Jenderal Nugroho
Jayusman.

1998
Warga Betawi Tanah Abang mendirikan Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang dan
memilih jawara Tanah Abang, Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing,
sebagai ketua umum hingga sekarang.

Masa Orde Baru:
Tumbuh organisasi pemuda, seperti Pemuda Pancasila, Pemuda Panca Marga,
Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia, Yayasan Bina
Kemanusiaan, dan belakangan organisasi Kembang Latar. Selain berbendera
organisasi kepemudaan, ada kelompok informal yang sangat populer, seperti
Siliwangi, Berland, Santana, dan Legos. Kelompok ini menjalankan usaha
keamanan tempat hiburan serta sengketa lahan dan tempat parkir wilayah
Jakarta Selatan.

Petrus
Pemerintah Orde Baru menekan kelompok preman dengan operasi rahasia
“penembakan misterius” atau petrus. Investigasi Komisi untuk Orang Hilang
dan Korban Tindak Kekerasan mencatat korban tewas petrus pada 1983 sekitar
532 orang, dan sepanjang 1984 dan 1985 sebanyak 181 orang.

Titik rawan jakarta antara lain, Perempatan Coca-Cola, Stasiun Pasar Senen,
Johar Baru, Kemayoran di Jakarta Pusat.  Selain itu, ada juga wilayah Taman
Sari, Kolong Jembatan Grogol, Tambora di Jakarta Barat. Pasar kebayoran Lama
& Pasarlebak Bulus di Jakarta selatan





JPEG image

JPEG image

JPEG image

JPEG image

JPEG image

JPEG image

JPEG image

JPEG image

Other related posts:

  • » [breaktime-corner] Preman -ISME - gunawan prakoso