[UntirtaNet] Teknologi 'Wireless' Banyak Diminati

Izin Frekuensi Jadi Faktor Penghambat
TEKNOLOGI Wireless Local Area Network atau dikenal juga dengan 
standar 802.11b kini makin menjamur pemakaiannya. Dengan bergerak 
di frekuensi 2,4 GHz, teknologi ini antara lain mampu mengirimkan 
data dalam jumlah besar secara singkat. Tapi, di Indonesia pemakaiannya 
sekarang masih terhambat kendala perizinan.
Karena populernya teknologi yang disebut juga dengan Wireless 
Fidelity (Wi-Fi) ini, ada yang bahkan menyebutnya bisa menyingkirkan 
teknologi telekomunikasi generasi ketiga (3G) yang implementasinya 
baru dimulai. Ini mungkin karena Wi-Fi memang memiliki sejumlah 
keunggulan dibanding 3G, mulai dari segi biaya pemasangan sampai 
kecepatan pengiriman data.
Perusahaan riset Gartner yang dikutip majalah Time beberapa waktu 
lalu menjelaskan perbandingan kedua teknologi tersebut. Dari 
kecepatannya, Wi-Fi mampu mengirim data 11 megabits per detik 
dan bisa ditingkatkan sampai 50 mbps, sementara 3G baru bisa 
sampai 2 mbps. Dari biayanya, pemasangan pemancar Wi-Fi menghabiskan 
sekitar US$300 sedangkan ponsel 3G harganya 10-15% lebih mahal 
daripada ponsel kebanyakan.
Selain itu sudah banyak vendor yang menyediakan perangkat Wi-Fi. 
Berbeda dengan teknologi 3G yang baru dipasang di sedikit negara 
saja, kemungkinan perluasannya baru terjadi di tahun 2004. Kelemahan 
Wi-Fi sendiri mungkin pada jangkauannya, yaitu hanya bisa menghubungkan 
antarperalatan yang berjarak 45-100 meter, setelah itu harus 
disambung lagi oleh perangkat poin akses. Beda dengan 3G yang 
berpotensi dipakai secara mendunia.
Mengingat keunggulan tersebut, operator seluler di luar negeri 
ramai-ramai memanfaatkan Wi-Fi. Korea Telecom (KT) misalnya mulai 
menjual akses Wi-Fi di samping layanan regulernya. Mereka memprediksikan 
bahwa di tahun 2005 nanti akan ada 3,6 juta konsumen yang memakai 
jaringan nirkabel tadi.
Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Sebenarnya sejumlah penyedia 
jasa internet atau ISP sudah mulai memakainya sejak beberapa 
tahun lalu. Seperti dikatakan John Sihar Simanjuntak dari IPNet, 
pihaknya memakai sejak 1996 yang teknologinya saat itu masih 
belum standar dan masih dikenal sebagai Wireless LAN. "Saat itu 
pemakaian untuk warnet belum dikenal, kami memakainya untuk konfigurasi 
ke berbagai gedung," ujar John Sihar.
Karena teknologinya yang 'murah-meriah', perangkat 2,4 GHz kini 
popularitasnya pun kian melonjak. Ambil contoh di Yogyakarta. 
Dari sekitar 240 warung internet di sana, sekitar 120 di antaranya 
telah memanfaatkan frekuensi 2,4 GHz. Salah satunya warnet perpustakaan 
UGM yang memakainya sejak dua tahun lalu. Mereka juga menyebarkan 
data internet ke warnet lain di sekitarnya yang berminat.
Sejumlah warnet di Yogya juga membentuk jaringan lokal antarwarnet 
memakai frekuensi 2,4 GHz. Mereka memilih satu warnet induk yang 
bertugas meneruskan data dari ISP ke antena warnet anggotanya. 
Konsumen nantinya juga diuntungkan karena biaya akses internet 
dari warnet akan semakin murah.
Penggunaan frekuensi 2,4 GHz yang bebas biaya ini memang menguntungkan 
para pengusaha warnet. Mereka tidak perlu membayar pulsa telepon 
saat mengakses internet. Biaya perangkatnya juga lebih murah 
bila dibandingkan dengan biaya leased line Telkom.
"Perangkatnya memang banyak. Saking murahnya, warnet hanya perlu 
satu ISA Card atau PCI Card pada komputernya yang di-assign sebagai 
router. Banyak vendor yang juga menyediakan driver-nya untuk 
dipasang di komputer," kata John Sihar.
Menurut badan telekomunikasi dunia atau ITU, frekuensi 2,4 GHz 
dikategorikan sebagai frekuensi publik yang bebas. Karena di 
Indonesia sendiri belum ada peraturan yang secara jelas mengaturnya, 
banyak ISP dan warnet memakai frekuensi tersebut untuk pengiriman 
data. Kabarnya dalam waktu dekat Departemen Perhubungan akan 
mengatur pemakaian sekaligus biaya frekuensi 2,4 GHz.
Sweeping
Selain soal pengaturan tersebut, para pemakai frekuensi 2,4 GHz 
sempat juga resah karena adanya sweeping terhadap peralatan frekuensi 
yang dianggap belum berizin. Menurut sekjen perkumpulan pemakai 
frekuensi 2,4 GHz atau IndoWLI, Andi Budimansyah, pihaknya sendiri 
sudah membicarakan masalah perizinan tersebut dengan pemerintah. 
Hasilnya soal izin dan besaran tarif akan ditetapkan dalam Kepmenhub 
No 54 mendatang. Sayang, belum ada kabar pasti kapan keputusan 
tersebut akan dikeluarkan.
"Sudah ada pemahaman bahwa BHP (biaya hak pakai) frekuensi akan 
berkisar Rp2,4 - 2,7 juta setahun. Ini kira-kira untuk di Jakarta. 
Angka ini sendiri sudah diterima oleh pemerintah maupun komunitas 
karena kita juga sudah melakukan komparasi dengan memakai wireless 
atau leased line, relatif ini lebih menarik," kata Andi.
Angka tersebut jelas lebih murah. Seperti dijelaskan Andi lebih 
lanjut, perbandingannya kalau memakai leased line perlu biaya 
sekitar Rp1,3 juta sebulan dengan kecepatan 64 kbps. Bandingkan 
Wi-Fi atau frekuensi 2,4 GHZ yang bisa mengirim sampai 2 mbps, 
nantinya hanya perlu biaya Rp2,4 juta setahun atau Rp200 ribu 
sebulan.
Secara asosiasi, kata Andi, pihaknya memang mendukung supaya 
frekuensi 2,4 GHz bisa dipakai secara bebas tanpa biaya seperti 
di negara lain. Tapi perlu disadari pula selama ini sudah ada 
peraturan yang menyebut tiap pemakaian frekuensi harus berizin.
Sayang memang, kalau kemudian teknologi nirkabel seperti Wi-Fi 
di frekuensi 2,4 GHz kemudian mandek hanya karena soal perizinan 
dan sebagainya. Ada baiknya kalau pemerintah menyerahkan urusan 
tersebut kepada komunitas seperti IndoWLI sehingga permasalahan 
kekacauan frekuensi dan interferensi yang dikhawatirkan sebagai 
dampak Wi-Fi bisa diminimalisasi. 


___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: