[UntirtaNet] Sulit Mendapat Visa, Bukan Berarti Bencana
- From: "yayantea" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 14 May 2002 08:52:53 -0400
Sulit Mendapat Visa, Bukan Berarti Bencana
DAMPAK serangan teroris 11 September 2001 yang meluluhlantakkan World Trade=
Center (WTC) di New York Amerika Serikat (AS), sangat dirasakan industri=
pariwisata dunia. Jumlah kunjungan wisatawan ke AS menurun drastis. Seba=
liknya pengeluaran visa oleh Kedutaan Besar AS pun diperketat.Langkah pen=
getatan visa juga dilakukan Australia dan beberapa negara Eropa Barat. Be=
berapa negara yang sebelumnya sangat gampang mengeluarkan visa untuk wisa=
tawan asal Indonesia, sekarang ikut-ikutan sangat ketat mengeluarkan visa=
seperti Belanda, Perancis, dan Italia. Bukan hanya untuk wisatawan peror=
angan, namun wisatawan rombongan yang berangkat bersama biro perjalanan j=
uga sering dibuat kelabakan.
Bahkan ada kesan sekarang ini, beberapa kedutaan besar terkesan "mempersuli=
t" pengeluaran visa. Misalnya, wisatawan yang dijadwalkan berangkat tangg=
al 15 April dan tiket pesawat sudah ditangan, ternyata pihak kedutaan bes=
ar mengeluarkan jadwal wawancara untuk mendapatkan visa tanggal 17 April.
Kerap pula terjadi, di antara rombongan keluarga istri mendapatkan visa, se=
dangkan suami tidak mendapatkan visa dengan alasan yang tidak jelas, bahk=
an tak masuk akal. Parahnya, banyak wisatawan yang tidak mengerti dan sel=
alu menyalahkan biro perjalanan ketika visa tidak diperoleh.
"Padahal, kewenangan memberikan visa sepenuhnya ada pada kedutaan besar," k=
ata seorang tour leader yang merasakan betul perubahan sikap beberapa ked=
utaan besar, setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001. Tidak heran =
jika kemudian kunjungan wisatawan ke AS dan beberapa negara Eropa Barat, =
turun lebih dari 30 persen dari tahun-tahun sebelumnya.
Untuk kunjungan wisata ke AS saja, sebuah biro perjalanan terkemuka rata-ra=
ta memberangkatkan sekitar 15-20 grup setiap tahun, sebelum terjadi peris=
tiwa 11 September 2001. Setiap grup umumnya terdiri atas 30-35 orang wisa=
tawan, sehingga jumlah wisatawan yang berangkat ke negeri George W Bush i=
tu, sedikitnya 600 orang setahun. Namun, sejak akhir 2001 lalu hingga sek=
arang pertengahan 2002, jumlah wisatawan yang berangkat ke AS menurun dra=
stis menjadi cuma dua grup dan masing-masing grup 18 orang atau jumlah se=
muanya cuma 36 wisatawan!
Penurunan ini bukan semata-mata banyaknya visa yang ditolak, tetapi wisataw=
an tak sabar dengan ulah bertele-tele yang ditunjukkan petugas di kedutaa=
n besar. Maklum saja, wisatawan mau berlibur dan memanjakan diri dengan m=
engunjungi berbagai obyek wisata, tetapi belum apa-apa malahan sudah dipe=
rsulit. Mereka yang merasa tidak sabar, kemudian membatalkan atau mengali=
hkan tujuan wisatanya dengan mengunjungi obyek wisata di luar AS dan nega=
ra Eropa Barat.
Kalaupun tetap ingin mengunjungi AS dan Eropa, dianjurkan wisatawan mengaju=
kan permohonan visa jauh-jauh hari sebelumnya, paling lambat sebulan sebe=
lum keberangkatan. Maklum saja, ulah sebagian wisatawan Indonesia belum b=
erubah, rencana berwisata dilakukan dadakan dan mengurus visa hanya beber=
apa hari sebelum hari keberangkatan.
"Jika diurus jauh-jauh hari sebelumnya, kita bisa membantu dengan memberi b=
erbagai penjelasan. Sejauh ini bagi kami, soal sulitnya mendapatkan visa =
ke Eropa Barat dan Amerika baru taraf merepotkan, tetapi belum sampai mem=
batalkan rencana perjalanan wisatawan apalagi mengurangi market Anta Tour=
," kata Edwin Tjahjadi Widjaja dari Anta Tour.
***
SULITNYA mendapatkan visa untuk tujuan AS dan Eropa Barat, bagi sejumlah bi=
ro perjalanan yang kreatif justru merupakan suatu tantangan. Mereka melak=
ukan berbagai terobosan dengan membuat paket wisata baru dengan beragam k=
eunggulan.
Agen Perjalanan Bayu Buana, misalnya, menawarkan paket wisata yang sebelumn=
ya tidak pernah ada semacam ke Estonia, Uzbekistan, Kazakstan dan beberap=
a negara lain di bekas wilayah Uni Sovyet dulu. Selain persoalan visa tid=
ak terlampau bertele-tele, negara-negara di Eropa Timur tersebut memiliki=
keunikan dan kekhasan wisata tersendiri.
"Karena itu tidak heran, peminat paket wisata ini cukup banyak. Boleh jadi =
karena wisatawan ingin mendapat wawasan dan pengalaman baru," kata Bernar=
d Kurniawan, Assistant Tour Manager Bayu Buana.
Anta Tour yang merupakan biro perjalanan wisata tertua di Indonesia dengan =
pengalaman 31 tahun, bahkan menjadikan Eropa Timur sebagai tujuan wisata =
utama sedangkan negara-negara Eropa Barat sebagai tujuan pendamping.
Tujuan wisata ke Budapest (Hungaria), Prague, Krakow, dan Warsawa (Polandia=
) serta Berlin, yang sebelumnya tidak pernah dikelola, sekarang justru me=
njadi salah satu sasaran utama. Begitu pun kunjungan wisata ke Rusia dan =
Skandinavia yang sebelumnya dilirik sebelah mata, kini menjadi salah satu=
andalan. Maklum saja, obyek wisata yang ditawarkan di negara Eropa Timur=
tersebut, mempunyai keunikan tersendiri serta penuh pesona.
Di St Petersburg, misalnya, bisa disaksikan istana musim dingin yang sangat=
megah dan sekarang menjadi museum seni lukis terbesar di dunia. Begitupu=
n di Helsinki, wisatawan bisa mengunjungi Temple Liaukio, sebuah gereja u=
nik yang dibangun di dalam batu karang, serta beragam obyek wisata lainny=
a yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
Sedangkan sarana transportasi yang digunakan selama wisata di Eropa Timur t=
ersebut sangat beragam. Selain pesawat dan bus, digunakan pula kereta api=
khas Eropa Timur, feri dan bahkan wisatawan diajak bermalam di atas kapa=
l pesiar dalam melakukan perjalanan.
"Boleh jadi karena keunikan ini, minat wisatawan untuk berkunjung ke negara=
-negara Eropa Timur, Rusia dan Skandinavia cukup tinggi," kata Edwin Tjah=
jadi Widjaja, outbound tour leader Anta Tour.
***
BUKAN hanya Eropa Timur yang menjadi sasaran utama wisatawan pasca serangan=
11 September 2001. Negara-negara di kawasan Asia, Amerika Latin serta Af=
rika Selatan, juga semakin diminati banyak wisatawan.=20
Di Asia, negara-negara seperti Cina, Thailand, Taiwan, Malaysia dan Singapu=
ra sudah lama menjadi tujuan favorit wisatawan asal Indonesia. Untuk Cina=
bahkan hampir semua biro perjalanan membuat paket kunjungan wisata, kare=
na memang peminatnya cukup banyak.=20
Avia Tour, salah satu biro perjalanan terkemuka, misalnya, sampai menyediak=
an sekitar sepuluh paket wisata ke Cina yang masing-masing memiliki obyek=
wisata unggulan, serta keunikan tersendiri. Pemerintah Cina juga terus m=
enata dan mempromosikan obyek wisata baru untuk menarik jumlah wisatawan,=
termasuk bendungan Dujiangyan yang berumur 2.250 tahun di Chengdu, Ibuko=
ta Propinsi Sichuan yang baru dikunjungi Presiden Megawati April lalu.
"Karena tingginya minat wisatawan ke Cina, kami terus memperbarui paket-pak=
et kunjungan wisata ke Cina termasuk yang terbaru ke Chengdu," kata Eddy =
Effendy, Direktur Operasional Biro Perjalanan Wisata Avia Tour.
Tidak dapat dipungkiri, Pemerintah China memang ingin merebut sebanyak-bany=
aknya wisatawan yang sulit masuk ke AS atau Eropa Barat, sehingga berbaga=
i kemudahan dilakukan termasuk memberikan tiket murah untuk masuk obyek w=
isata, tarif hotel dan penerbangan.
"Strategi ini berhasil, buktinya wisatawan ke Cina selalu melimpah," kata T=
om Mc Ifle, Manajer Penjualan dan Pemasaran Panorama Tours.
Namun, bukan hanya Cina yang ingin merebut peluang dari limpasan wisatawan =
yang gagal ke AS atau Eropa Barat tersebut. Srilangka juga termasuk negar=
a yang sangat menggebu-gebu dalam menarik wisatawan asal Indonesia, untuk=
berkunjung ke "Negeri Ramayana" tersebut. Saking antusiasnya, pengelola =
pariwisata dengan dukungan pemerintah setempat, mengenakan tarif yang san=
gat murah dan bahkan terkesan tak masuk akal baik untuk tiket pesawat, ho=
tel maupun akomodasi lainnya.
Bayangkan saja untuk paket wisata ke Sri Lanka selama lima hari, hanya dike=
nakan tarif 808 dollar AS untuk berdua, atau 404 dollar AS (sekitar Rp 3,=
75 juta seorang). Tarif ini sudah termasuk tiket pesawat pergi pulang, me=
nginap lima hari di hotel berbintang, makan tiga kali di hotel dan tiket =
masuk obyek wisata.
Obyek wisata yang ditawarkan juga cukup beragam. Selain mengunjungi candi-c=
andi tua yang menjadi ciri khas Sri Lanka, wisatawan juga diajak naik gaj=
ah, berbelanja batu-batu kecubung dan bahkan berlian dengan kualitas nomo=
r satu di dunia.
"Harga yang murah ini tentu saja menarik wisatawan dan pasti tidak terlepas=
dari peran serta pemerintahnya," kata Nurdin Supena, Incentive Tour Mana=
ger Biro Perjalanan Bayu Buana.
***
SELAIN mengalihkan tujuan wisata ke negara-negara Eropa Timur dan Asia, sej=
umlah biro perjalanan yang kreatif melakukan terobosan, mengajak wisatawa=
n berkunjung ke kawasan Amerika Latin.
Calyba Tour, misalnya, yang selama ini sangat berpengalaman mengelola wisat=
awan ke Amerika Latin, semakin giat mengajak wisatawan berkunjung ke sela=
tan Benua Amerika tersebut. Selain menawarkan seni budaya Amerika Latin y=
ang memang sangat khas, ditampilkan pula panorama alam yang terkenal inda=
h. Jadilah kemudian paket wisata dengan mengunjungi Brazil, Argentina dan=
Chile, tetapi singgah dulu di Perancis. Ditawarkan pula Calyba Canadian =
Rockies dengan mengunjungi berbagai tempat wisata alam, budaya dan belanj=
a di Canada.
Sebagian biro perjalanan lainnya, mensiasati sulitnya mendapatkan visa ke A=
S dan Eropa Barat dengan paket wisata menggunakan pola baru. Obyek wisata=
yang dikunjungi jumlahnya tidak terlampau banyak, tetapi wisatawan bisa =
menikmati obyek wisata tersebut sepuas-puasnya. Ini disebabkan waktu kunj=
ungan ke setiap obyek wisata cukup lama, tidak cuma beberapa menit sepert=
i yang banyak terjadi selama ini.
"Paket wisata ini pun peminatnya cukup banyak, karena wisatawan bisa menikm=
ati obyek wisata secara lebih mendalam dan tidak terburu-buru," kata Bern=
ard Kurniawan, Asistant Tour Manager Biro Perjalanan Bayu Buana.
Pendeknya, hambatan mendapatkan visa dari sejumlah negara, bagi biro perjal=
anan wisata yang kreatif bukanlah berarti bencana. Justru hambatan terseb=
ut menjadi tantangan, sekaligus peluang untuk mengajak wisatawan mengunju=
ngi obyek-obyek wisata baru. (Try Harijono/R Badil)
Yayan tea
--
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Sulit Mendapat Visa, Bukan Berarti Bencana