[UntirtaNet] Samudra Sukardi dan Racun Orba
- From: "Irianto, Yayan" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 19 May 2002 20:14:49 -0400
Samudra Sukardi dan Racun Orba
*Adhie M Massardi
PASTI bukan karena namanya "Samudra" bila ia akhirnya gagal menjadi Direktur
Utama PT Garuda Indonesia, perusahaan penerbangan milik negara itu. Sebab,
dengan kondisi bangsa yang masih carut-marut dan nyaris tanpa sistem seperti
sekarang, dia juga dijamin bakal mengalami kesulitan besar bila hendak
menjadi Direktur Utama PT Pelni, BUMN yang notabene bergerak di bidang
pelayaran dan wilayah operasionalnya laut dan samudra. Sebab, selama
adiknya, Laksamana Sukardi tetap menjabat Menteri Negara (Menneg) Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), karier Direktur Pelaksana PT Abacus Samudra
Sukardi di BUMN niscaya bakal tersendat. Isu korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN) siap menghadang perjalanan kariernya. Tidak penting dia meniti karier
secara benar dan profesional.
Samudra Sukardi adalah potret orang bernasib "malang" pasca-Orde Baru
(Orba). Dan, ia tidak sendirian. Hanya karena salah satu anggota keluarganya
ada yang menempati posisi strategis dan menentukan, maka nasib karier
anggota keluarga lainnya, betapa pun kapabel dan potensial, bisa
terseok-seok hanya karena isu KKN. Ada Samudra-Samudra lain, baik di
instansi pemerintah maupun swasta. Bahkan, di institusi politik ada
Syaifullah Yusuf. Karier politik tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang
flamboyan ini di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) nyaris tamat hanya karena
dia kemenakan Ketua Dewan Syuro PKB KH Abdurrahman Wahid.
Lain lubuk lain belalang, lain dulu lain sekarang. Di zaman kegelapan Orba,
seorang pejabat tinggi negara ibarat petromaks bagi sanak-saudaranya. Bukan
saja bisa menyiramkan cahaya kemegahan pada mereka, tetapi juga menjadi
magnet bagi keluarga laron untuk berada di lingkar dalam kekuasaan.
Pendidikan dan kecakapan tak penting lagi. Maka, bila Anda jenderal, Anda
akan menjadi stimulus bagi anak, menantu, keponakan, bahkan anak tetangga
untuk naik pangkat. Dan, bila Anda menduduki jabatan tinggi sipil, bukan
saja menjadi tangga menuju puncak karier para kerabat, tetapi bisa menjadi
semacam ATM (automatic teller machine), yang dengan menekan kode tertentu
bisa mengeluarkan sejumlah uang yang diinginkan. Sungguh fantastis. Namun,
itulah Orba!
Secara de facto, Orba sudah menjadi sejarah politik kelam bagi bangsa.
Tetapi, secara psikologis, rezim yang dimotori Golkar ini meninggalkan KKN,
racun berbahaya yang merusak pikiran kita. Membuat kita jadi paranoid,
selalu menganggap manusia lain adalah musuh. Racun itu terus beraksi dan
tanpa disadari terus merusak sistem kekebalan tubuh bangsa. Seperti virus
HIV, penyebab luka sekecil dan sesederhana apa pun jadi sulit disembuhkan,
bahkan bisa menjalar ke mana-mana dan mematikan. Itu sebabnya, krisis yang
menimpa bangsa ini makin berlarut-larut, nyaris tak menampakkan tanda-tanda
bakal tersembuhkan. Korban pun terus berjatuhan.
Saya tidak mengenal dan tidak tahu siapa Samudra Sukardi. Namun, mendengar
kisah keberaniannya untuk terus maju memasuki bursa calon Dirut PT Garuda
Indonesia, menentang opini KKN yang berkembang di masyarakat, mendorong
nurani saya berpihak kepadanya. Karena itu, jalan yang ditempuh Samudra
setelah gagal menjadi Dirut Garuda Indonesia dengan mencari keadilan ke
Komnas HAM, selayaknya dijadikan momentum untuk mengkaji dan mengurai dengan
jernih unsur "N" (nepotisme) dalam virus KKN yang disebarkan Orba itu.
Atau, apakah kita akan tetap berpangku tangan dan membiarkan virus Orba itu
berkembang liar di masyarakat dan menelan korban putra-putra terbaik bangsa
yang siapa tahu sesungguhnya bisa membantu bangsa ini keluar dari krisis
sistem?
Dosa terbesar Orba
Dosa terbesar Orba, menurut hemat saya, bukan cara menjalankan roda
perekonomian yang korup, yang membuat bangsa ini terperosok dalam ke jurang
utang. Tetapi, menghancurkan "nilai-nilai kekeluargaan" yang telah terbukti
selama berabad-abad merupakan sistem kekebalan tubuh bangsa ini. Menjadi
penolak nilai-nilai asing yang destruktif. Dengan revitalisasi semangat
kekeluargaan oleh generasi muda pada tahun 1928 (Sumpah Pemuda 28 Oktober),
bangsa ini berhasil membangun kembali eksistensinya setelah berabad-abad
coba dihancurkan kekuatan kolonial.
Memang, jauh sebelum Golkar berkuasa kehidupan kekeluargaan di masyarakat
amat kental dan harmonis. Hampir setiap keluarga punya induk keluarga besar,
puak. Setiap puak memiliki kebanggaan tersendiri bila ada anggotanya meraih
sukses, di bidang apa saja. Dan, ukuran kesuksesan dalam tradisi yang sudah
mengakar itu bukan hanya dinikmati secara individual. Sukses yang hanya
dinikmati secara individual bukanlah sukses dalam arti sesungguhnya. Banyak
dongeng yang isinya kritik sosial terhadap perilaku semacam itu. Yang paling
terkenal dan monumental adalah Malin Kundang. Karena itu, kriteria orang
yang sukses di masa pra-Orba adalah yang sanggup menolong keluarganya. Oleh
karena itu, orang-orang yang sukses itu sering juga disebut pahlawan
keluarga!
Namun, rezim Orba telah menaburkan racun dalam lautan nilai luhur dalam
tradisi kita itu. Akibatnya, seperti budaya Jawa yang kini menjadi "budaya
antidemokrasi" setelah diselewengkan penguasa Orba, sistem kekeluargaan yang
semula merupakan perekat kehidupan sosial kemasyarakatan kini berubah
menjadi malapetaka. Sehingga bila dulu menolong saudara adalah kewajiban
luhur tiap anggota keluarga, karena itu ia akan disebut pahlawan keluarga,
kini perilaku seperti itu menjadi aib, menjadi dosa besar bagi bangsa.
Perasaan semacam itu tampaknya berkecamuk di benak Menneg BUMN Laksamana
Sukardi saat harus berhadapan dengan kakaknya yang merasa layak dan kapabel
menjadi salah satu Dirut BUMN yang dibawahinya. Perasaan yang kurang lebih
sama juga bergolak dalam pikiran KH Abdurahman Wahid saat menghadapi
Syaifullah Yusuf, salah satu kemenakannya, yang dalam Musyawarah Luar Biasa
PKB di Yogyakarta pertengahan Januari lalu, masuk bursa calon ketua umum
partai politik yang dibinanya. Tokoh nomor wahid di PKB itu sempat mengancam
mundur bila kemenakannya terpilih sebagai Ketua Umum PKB. Ancaman yang
sempat membuat kalang-kabut hampir semua muktamirin!
Namun, berbeda dengan kasus Samudra Sukardi, perlawanan Syaifullah Yusuf
terhadap isu nepotisme lebih berhasil karena medianya adalah forum yang
sudah didesain untuk ajang demokrasi. Ada proses yang transparan, juga
kedewasaan di sana. Namun demikian, perlawanan Syaifullah Yusuf sebenarnya
perlawanan yang setengah hati. Dia tampaknya juga menghargai kegalauan
pamannya akan isu nepotisme itu. Kalau tidak, bukan mustahil Syaifulah Yusuf
menempati posisi lebih tinggi dari sekretaris jenderal, posisinya sekarang.
Nepotisme memang sistem kekuasaan yang menyimpang, lebih-lebih setelah
nuansanya diperkaya dan kerusakannya diperluas rezim Orba. Tetapi, nepotisme
sebenarnya berbeda dengan sistem keluarga dalam tradisi yang telah lama
berkembang dalam masyarakat kita. Kalaupun masih dikategorikan sebagai
bagian nepotisme, ia adalah nepotisme proporsional, nepotisme yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Ingat, salah satu kunci keberhasilan Meksiko keluar dari krisis seperti
kita, yang terjadi belasan tahun lalu adalah mengubur gaya hidup individual.
Doktrin yang dikembangkan adalah: "Pertama-tama tolonglah saudaramu!" Maka,
sistem kekeluargaan yang nyaris punah dilindas budaya Barat yang individual
pun mengental kembali. Saling tolong-menolong di antara keluarga, kerabat
dekat tumbuh menjadi kekuatan yang dalam tradisi kita disebut: Gotong
Royong!
Sungguh berbeda dengan kita, justru saat bangsa ini menghadapi krisis,
semangat individualisme tumbuh subur. Akibatnya, jangankan saling menolong,
yang terjadi malah saling menjatuhkan, bahkan di sejumlah wilayah berkembang
menjadi baku-bunuh. Itulah akibat racun yang ditaburkan Orba dalam kehidupan
kemasyarakatan kita.
Adhie M Massardi Anggota Komunitas Tandalaga, Forum Studi Persoalan Bangsa,
Jakarta
--
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
- References:
- [UntirtaNet] Re: Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: prih nurcholis
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Samudra Sukardi dan Racun Orba
- [UntirtaNet] Re: Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: prih nurcholis