[UntirtaNet] Pola Jaringan Nirkabel

Pola Jaringan Nirkabel


BEBERAPA hari belakangan ini di situs http://www.detik.com ramai
diperbedatkan soal penggunaan frekuensi 2,4 Ghz untuk komunikasi nirkabel
antara satu jaringan komputer dengan jaringan lainnya atau yang dikenal
dengan WLan (Wireless LAN). Persoalan terfokus pada masalah sweeping yang
dilakukan oleh Dinas Perhubungan Pemprov DKI (http://www.detikinet.
com/berita/2002/05/ 08/20020508-174602.shtml) dan tanpa diketahui Ditjen
Postel Departemen Perhubungan (http:// www.postel.go.id) terhadap pengguna
WLan yang beroperasi dan menggunakan frekuensi 2,4 Ghz. Hal ini terlihat
janggal karena Ditjen Postel sebagai badan yang mengeluarkan perizinan dan
hak atas sweeping tidak mengetahui tindakan instansi di bawahnya.Dinas
Perhubungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempermasalahkan
penggunaan frekuensi ini karena belum mendapatkan izin dari Peme-rintah cq
Ditjen Postel sehingga wajib untuk ditertibkan. Langkah yang diambil Postel
atau Dinas Perhubungan Pemprov DKI mendapat tanggapan cukup keras dari
kalangan pengguna WLan ini. Reaksi terjadi karena sebagian besar masyarakat
pengguna merasa bahwa frekuensi ini adalah unlicenced band. Reaksi serupa
juga terjadi di kota kota lainnya seperti Medan, Bandung, Yogyakarta, Solo,
Surabaya, Malang, dan Makassar. Reaksi lain yang muncul bersamaan dengan
persoalan ini adalah inisiatif untuk mematikan IIX (Indonesia Internet
eXchange) oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet) walaupun pada
kenyataannya aksi ini tidak sepenuhnya dilakukan APJII sendiri.

Seperti pernah ditulis di Kompas beberapa saat yang lalu, WLan ini banyak
digunakan oleh perguruan tinggi, warnet, game center, serta ISP (Internet
Service Provider). Teknologi ini menjadi alternatif yang paling layak dalam
menjembatani kepentingan komunikasi data, khususnya Internet dan Intranet.
Banyaknya pengguna WLan ini juga menimbulkan persoalan baru yaitu penuhnya
pita frekuensi 2,4 GHz sehingga mengganggu peralatan lain yang beroperasi di
frekuensi yang sama. Jika diatur dengan baik dan benar, maka frekuensi ini
dapat digunakan bersama tanpa saling mengganggu satu dengan yang lainnya.
Pengaturan penggunaan frekuensi 2,4 GHz untuk WLan ini sebaiknya mengadopsi
sistem sel seperti pada sistem telekomunikasi bergerak atau lazimnya dikenal
sebagai seluler.

Telekomunikasi bergerak

Pada prinsipnya sistem telekomunikasi bergerak ini berbasiskan sistem sel di
mana satu sel dengan lainnya dapat terhubungkan dan tidak saling mengganggu.
Sebuah sel mempunyai frekuensi pancar dan daya jangkau pada radius tertentu.
Sel lainnya mempunyai frekuensi yang berbeda dengan sel yang terdahulu. Sel
berikutnya juga mempunyai frekuensi yang berbeda dan juga daya jangkau
pancaran pada radius yang berbeda pula.

Antara satu sel dengan sel lainnya dapat berkomunikasi melalui sebuah
saluran dengan menggunakan kabel atau radio yang berbeda frekuensinya dengan
frekuensi yang dipancarkan oleh masing-masing sel. Pada sistem ini, setiap
satuan sel tersebut terdapat alat yang dinamakan BTS (Basic Tranceiver
System) atau pemancar. Pemancar pada suatu sel dihubungkan pada suatu alat
pengontrol yang dinamakan BSC (Base Station Controller) yang biasanya
mengatur beberapa fasilitas yang digunakan untuk berkomunikasi antara satu
sel dengan lainnya.

Perangkat BSC ini mempunyai keterbatasan untuk mengatur sel-sel tersebut,
karena hanya ada beberapa BSC dalam sebuah area. Untuk mengatur komunikasi
antar-BSC tersebut digunakan suatu alat yang dinamakan MSC (Mobile Switch
Controller) atau suatu switch khusus untuk mengatur komunikasi yang terjadi
antar-BSC atau antara BSC dengan sentral telepon biasa/PSTN. Perangkat MSC
inilah jantung dari keseluruhan sistem seluler dan terhubungkan dengan
sentral telepon/PSTN (Public Switch Telephone Network).

Pemanfaatan frekuensi pada sistem seluler menggunakan apa yang dinamakan
frequency re-use. Misalnya, pada sel pertama digunakan frekuensi pancar f1,
pada sel kedua diberikan frekuensi f2 hingga pada fx. Besarnya x tergantung
pada sistem sel yang digunakan. Pa-da sistem seluler, secara umum dikenal
sistem 3, 4, 7, 9, dan 12 sel. Jika ada 12 sel , maka akan digunakan 12 buah
frekuensi yang berbeda.

Warna yang berbeda-beda untuk tiap sel (heksagonal) adalah frekuensi f1
hingga f12. Pada sistem empat sel, frekuensi f1 dapat digunakan kembali
dengan melewati sebuah sel lainnya. Pada gambar di atas, warna yang sama
adalah frekuensi yang digunakan kembali (re-use).

Keuntungan menggunakan frequency re-use adalah menghemat spektrum frekuensi.
Selain itu, dengan menggunakan sistem re-use ini, daya pancar suatu BTS
(sel) dapat dibatasi radiusnya, sehingga akan dapat meningkatkan kapasitas
setiap selnya. Untuk menghubungkan antara satu BTS dengan BSC-nya atau dari
BSC ke MSC digunakan perangkat radio microwave atau menggunakan serat optik
(fiber optic). Jika menggunakan radio, frekuensi yang digunakan akan berbeda
dengan frekuensi yang digunakan di masing- masing sel. Misalnya, apabila
frekuensi yang digunakan di masing-masing sel berkisar antara 800 Mhz-807
Mhz, maka frekuensi yang digunakan pada radio microwave berkisar antara 5-7
Ghz.

Model pengaturan

Model pengaturan yang mungkin paling tepat untuk diterapkan adalah dengan
mengadopsi konsep sel yang digunakan pada sistem telekomunikasi bergerak
seperti dijelaskan di atas. Pada prinsipnya, pemancar yang memancarkan
gelombang elektromagnetik pada frekuensi tertentu mempunyai daya pancar yang
dapat menjangkau kawasan atau radius tertentu. Karakteristik gelombang pada
frekuensi 2,4 Ghz tidak berbeda jauh dengan karakteristik gelombang pada
frekuensi 800 Mhz atau 1,8 Ghz.

Dalam WLan ini menggunakan modulasi spread spectrum CDMA (Code Division
Multiple Access). Teknik ini pertama kali digunakan oleh Departemen
Pertahanan AS sebagai alat komunikasi anti-jamming. WLan generasi pertama
beroperasi pada frekuensi 900 Mhz dan hanya digunakan di AS atau Kanada
(Region II). Dalam perkembangannya, WLan ini menjadi satu solusi yang dapat
diandalkan untuk membuat koneksi antara dua buah LAN. Pada frekuensi 900 MHz
untuk region I (Eropa-Afrika), WLan ini tidak dapat digunakan karena pada
frekuensi ini digunakan untuk komunikasi seluler.

Akhirnya, disepakati untuk menggunakan frekuensi ISM (Industrial Scientif
and Medical) sebagai secondary carrier pada frekuensi 2,400 Ghz sampai
dengan 2,483 Ghz . Selain itu disediakan pula perangkat pada frekuensi 5,725
Ghz hingga 5,850 Ghz. Jika pada WLan generasi pertama, lebar pita
(bandwidth) yang disediakan 20 Mhz dan pada WLan generasi kedua (2,4 Ghz)
lebar pita yang tersedia 83,5 Mhz dan pada WLan generasi ketiga (5,7 Ghz)
lebar pita yang diberikan adalah 125 Mhz. Lebar pita yang cukup besar
tersebut, pengaturan akan lebih mudah dilakukan menjadi sel-sel yang lebih
banyak.

Frekuensi yang digunakan pada WLan 2,4 Ghz terbagi menjadi 11 kanal,
idealnya antara masing-masing kanal harus dipisahkan lima kanal untuk
menghindari interferensi pada suatu lokasi. Gangguan dapat terjadi apabila
terjadi pancaran yang sama kuat pada satu lokasi dan pada satu frekuensi
yang sama atau berdekatan. Pada WLan 2,4 Ghz ini, satu kanal mempunyai lebar
pita sebesar kurang lebih 20 Mhz.

Sebagai contoh, pada kanal pertama dengan frekuensi 2,412 Ghz akan
memerlukan lebar pita dari 2,402 Ghz hingga 2,422 Ghz. Sedangkan pada kanal
kedua (2) mempunyai frekuensi 2,417 Ghz akan memerlukan lebar pita dari
2,407 Ghz hingga 2,427 Ghz. Secara teknis antara kanal pertama dan kedua
akan terjadi interferensi sehingga dapat mengganggu komunikasi. Pada suatu
lokasi yang berdekatan, tidak dapat digunakan kanal pertama dan kedua, dan
sekurang-kurangnya harus digunakan kanal pertama dan kanal kelima.

Dengan mengambil model pengaturan dengan menggunakan pola sistem seluler,
maka akan didapatkan pola empat sel dan tujuh sel. Sebagai contoh, antara
sel pertama dan sel kedua, ketiga, dan keempat menggunakan kanal 1, 5, 9,
13. Jika pada sistem telekomunikasi bergerak, komunikasi antarsel
menggunakan microwave, maka pada jaringan WLan dapat digunakan pada
frekuensi lain (misalnya 5,7 Ghz). Peran BSC dan MSC pada seluler akan
digantikan oleh router. Router inilah yang akan menghubungkan jaringan WLan
dengan jaringan lainnya, misalnya dengan ISP.

Sebuah sel secara teknis dapat melayani sampai 30 koneksi WLan secara
bersamaan. Untuk WLan 11 mbps mempunyai output maksimum kecepatan adalah 5
mbps, apabila dalam satu sel terdapat 30 koneksi, maka setiap koneksi akan
mendapatkan kecepatan 200 kbps. Sebuah angka yang cukup untuk melakukan
berbagai aktivitas jaringan terutama untuk aplikasi Internet seperti untuk
warnet, game-network, perkantoran, perguruan tinggi dan lain-lain. Radius
pancar WLan tersebut dapat diperkecil menjadi kurang dari 3 km, sehingga
dalam kawasan 5 km dapat dipecah menjadi dua sel. Dengan memecah menjadi dua
buah sel, maka akan didapatkan sekitar 60 koneksi dalam radius 5 km
tersebut.


Basuki Suhardiman, Kepala Computer Network Research Group ITB (Institut
Teknologi Bandung) dan peneliti AI3 (Asia Internet Interconnection
Inisiative)


===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: