[UntirtaNet] Memahami Kehadiran Islam Liberal

Memahami Kehadiran Islam Liberal
Nur Sholihin, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Jember
MENJAMURNYA gerakan pemikiran Islam di Indonesia dewasa ini sebenarnya 
diharapkan lebih konvergen, sehingga setiap gerakan dapat saling 
sinergi. Kategori Islam tradisional, Islam kultural, Islam modernis, 
Islam neomodernis, Islam politik, Islam liberal, dan label-label 
Islam lainnya mungkin tidak begitu relevan lagi. Atau, setidak-tidaknya 
sekadar menjadi catatan kaki untuk kepentingan menghadirkan Islam 
yang lebih komprehensif dan secara kontekstual mampu tampil sebagai 
syuhada 'ala-nnas di tengah tantangan kemanusiaan, keumatan, 
dan kebangsaan yang demikian berat dan kritis dewasa ini.
Islam dan umat Islam saat ini makin memerlukan rumah besar yang 
setiap orang di dalamnya memperoleh ruang yang lebih leluasa, 
sekat-sekat yang terlalu rigid dan pada akhirnya membawa kembali 
ke kamar-kamar sempit. Kehadiran Islam liberal sebagai citra 
suatu kelompok baru jika terlalu diangkat secara berlebihan mungkin 
akan mengulang dikotomi di kalangan kaum muslim. Bahkan tidak 
tertutup kemungkinan kian memancing kehadiran kelompok Islam 
dari pendulum lain, sebutlah misalnya Islam garis keras. Namun, 
sebagai sebuah apresiasi, jika pada saat ini tumbuh kegairahan 
yang demikian tinggi dari sebagian kaum muslim, khususnya kaum 
terpelajar, maupun sebagai penerimaan terhadap realitas gerakan 
pembaruan Islam sejak dasawarsa 1970-an, maka kehadiran Islam 
liberal tentu merupakan sesuatu yang positif. Lebih-lebih ketika 
gerakan Islam ini memberikan harapan-harapan baru bagi pencerahan 
umat dan dunia kemanusiaan. Kita juga perlu memberikan apresiasi 
positif atas gagasan-gagasan dari gerakan Islam liberal ini.
Kontribusi positif dari kehadiran Islam liberal adalah koreksi 
terhadap pemikiran modernisme Islam yang dalam beberapa hal memang 
memerlukan kontekstualisasi. Sebutlah tentang paradigma kaum 
modernis yang selama ini memakai tajdid yang cenderung menguat 
ke dimensi purifikasi yang skriptual melalui pemberantasan syirik, 
takhayul, bidah, dan khurafat yang demikian perkasa. Pada saat 
yang sama gerakan ini kehilangan fungsi tajdid dinamisasi atau 
kontekstualisasi yang lebih progresif. Sumbangan berharga lainnya 
dari kehadiran Islam liberal ialah apresiasi yang terbuka terhadap 
pluralisme, yang selama ini kurang memperoleh perhatian serius 
kaum modernis.
Kehadiran Islam liberal juga telah memberikan apresiasi positif 
terhadap isu-isu kontemporer seperti demokrasi, hak asasi manusia, 
dan nilai-nilai humanisme universal yang selama ini kurang diapresiasi 
oleh gerakan Islam modernis. Kendati, sekali lagi dalam hal aktualisasinya 
dan konsisten perilakunya masih perlu diuji di tingkat empirik. 
Sebagian Islam modernis bahkan terkesan bergerak ke arah lain 
dengan menunjukkan antitesis yang ekstrem terhadap isu-isu kontemporer 
tersebut. Misalnya isu Piagam Jakarta, yang makin memperkuat 
stigma lama tentang fundamentalisme Islam.
Apresiasi dan optimisme atas kehadiran Islam liberal itu tentu 
disertai catatan bahwa gerakan kini tengah dihadapkan pada masalah-masalah 
besar umat Islam khususnya serta bangsa Indonesia dan dunia kemanusiaan 
pada umumnya, baik pada level lokal, nasional, maupun global. 
Dalam konteks ini Islam liberal pada fase-fase berikut akan diuji 
keberadaan dan peran konkretnya dalam menawarkan jawaban-jawaban 
atas masalah dan tantangan mendasar sebagaimana disebutkan itu. 
Beberapa agenda sekaligus kritik dapat diajukan sebagai catatan 
kaki bagi Islam liberal, antara lain, pertama, seberapa jauh 
gerakan Islam liberal mampu menawarkan institusi-institusi sosial-keagamaan 
baru sebagai buah dari ijtihad atau pembaruannya yang jauh lebih 
cemerlang daripada prestasi yang diukir oleh modernisme Islam 
di masa lalu. Islam liberal tentu tidak ingin mengakhiri proyek 
pembaruannya dengan sekadar membangun sekolah dan universitas 
yang sebenarnya telah dirintis secara lebih cerdas dan mapan 
oleh Islam modernis.
Kedua, jawaban apa yang dapat diberikan oleh Islam liberal dalam 
memecahkan konflik-konflik sosial-keagamaan yang bercorak primordialisme 
ketika gerakan ini secara radikal telah lama menawarkan teologi 
inklusif untuk pluralisme sosial dan agama. Peran profetik apa 
yang dapat diberikan oleh Islam liberal ketika menghadapi konflik 
Ambon, Sampit, dan konflik-konflik sosial lainnya yang hingga 
kini terus berlangsung. Pertanyaan lain ialah bagaimana Islam 
liberal dapat bersikap inklusif terhadap kepusparagaman di tubuh 
umat Islam sendiri. Dari yang bercorak radikal hingga akomodatif, 
ketika pada saat yang sama mampu menunjukkan apresiasi yang inklusif 
terhadap minoritas nonmuslim di Tanah Air.
Ketiga, model aktualisasi politik dan sosial semacam apa yang 
dapat direkomendasikan oleh gerakan Islam liberal dalam konteks 
Indonesia, manakala gerakan ini menolak institusionalisasi agama 
ke dalam sistem politik/negara, juga menolak keras politik aliran/ 
sektarian. Kenyataan empirik menunjukkan bahwa di negeri ini 
agama dan politik secara niscaya melekat dengan kebutuhan dan 
dinamika kehidupan seluruh bangsa yang kebetulan mayoritas umat 
Islam.
Keempat, Islam liberal komitmen untuk pencerahan melalui gerakan 
Islam kultural. Masyarakat madani atau civil society juga menjadi 
tumpuan dalam gerakan sosial-keagamaan Islam liberal. Kelima, 
apa yang telah diperbuat oleh gerakan Islam liberal dalam dua 
puluh tahun terakhir dalam memberikan solusi moral berdasar teologi 
sufisme yang dikembangkannya, ketika bangsa ini dari hari ke 
hari dililit oleh krisis moralitas yang luar biasa. Apakah kaum 
Islam liberal akan tetap menjaga jarak dari problem moral tersebut 
dengan sekadar memberikan fatwa-fatwa teologis yang pada akhirnya 
bersifat normatif juga jika tanpa disertai dengan gerakan emansipatoris 
untuk menyikapi kebobrokan dengan sikap tegas. Atau cukuplah 
Islam liberal sesuai dengan teologi inklusifnya berdiri dalam 
posisi netral agar tidak terjebak pada gaya nahi munkar kaum 
modernis yang serbalugas, karena hal semacam itu jauh lebih memberi 
keamanan dan tidak menyakiti siapa pun di Republik ini.
Ketika kaum modernis muslim dinilai tengah kehilangan peran tajdidnya 
maka seberapa jauh Islam liberal dapat memberikan jawaban cemerlang 
yang konkret atas krisis moral maupun krisis kehidupan di tubuh 
bangsa ini yang mekar secara luar biasa itu? Lebih-lebih dalam 
memberikan jawaban profetik terhadap persoalan struktural seperti 
kemiskinan, penindasan, dan berbagai penyakit sistem dalam kehidupan 
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Persoalan moral dan 
struktural yang dihadapi bangsa ini sungguh memerlukan proses 
pencerahan yang radikal, memiliki landasan profetik pada ajaran 
agama yang memihak pada pembebasan dan rehumanisasi.
Dalam realitas sosiologis umat, Islam liberal bahkan secara nyata 
akan berhadapan dengan pendulum lain, yaitu Islam skriptual yang 
makin ingin menegaskan dirinya secara lebih terbuka dan percaya 
diri. Kehadiran Islam 'garis keras' ini juga memiliki argumen 
tersendiri baik secara teologis maupun sosiologis. Lebih-lebih 
ketika masyarakat modern dilanda krisis kemanusiaan yang memerlukan 
kepastian nilai-nilai. Dalam konteks Islam liberal versus Islam 
skriptual mungkin akan berlaku dialektika, semakin kuat dan terbuka 
kaum Islam liberal dalam menawarkan dekonstruksi atau liberalisasi, 
maka semakin kuat dan terbuka pula gerakan Islam skriptual dalam 
melakukan peneguhan ajaran di kalangan umat Islam dengan pemahaman 
keagamaan yang menjadi keyakinannya. Untuk itu, gerakan Islam 
liberal diharapkan lebih membumi dan bersahaja di tengah-tengah 
masyarakat. Selamat datang Islam liberal, semua menanti kiprahmu!***
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002062023592449

___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: