[UntirtaNet] Memahami Kehadiran Islam Liberal
- From: <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 20 Jun 2002 14:36:27 -0400
Memahami Kehadiran Islam Liberal
Nur Sholihin, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Jember
MENJAMURNYA gerakan pemikiran Islam di Indonesia dewasa ini sebenarnya
diharapkan lebih konvergen, sehingga setiap gerakan dapat saling
sinergi. Kategori Islam tradisional, Islam kultural, Islam modernis,
Islam neomodernis, Islam politik, Islam liberal, dan label-label
Islam lainnya mungkin tidak begitu relevan lagi. Atau, setidak-tidaknya
sekadar menjadi catatan kaki untuk kepentingan menghadirkan Islam
yang lebih komprehensif dan secara kontekstual mampu tampil sebagai
syuhada 'ala-nnas di tengah tantangan kemanusiaan, keumatan,
dan kebangsaan yang demikian berat dan kritis dewasa ini.
Islam dan umat Islam saat ini makin memerlukan rumah besar yang
setiap orang di dalamnya memperoleh ruang yang lebih leluasa,
sekat-sekat yang terlalu rigid dan pada akhirnya membawa kembali
ke kamar-kamar sempit. Kehadiran Islam liberal sebagai citra
suatu kelompok baru jika terlalu diangkat secara berlebihan mungkin
akan mengulang dikotomi di kalangan kaum muslim. Bahkan tidak
tertutup kemungkinan kian memancing kehadiran kelompok Islam
dari pendulum lain, sebutlah misalnya Islam garis keras. Namun,
sebagai sebuah apresiasi, jika pada saat ini tumbuh kegairahan
yang demikian tinggi dari sebagian kaum muslim, khususnya kaum
terpelajar, maupun sebagai penerimaan terhadap realitas gerakan
pembaruan Islam sejak dasawarsa 1970-an, maka kehadiran Islam
liberal tentu merupakan sesuatu yang positif. Lebih-lebih ketika
gerakan Islam ini memberikan harapan-harapan baru bagi pencerahan
umat dan dunia kemanusiaan. Kita juga perlu memberikan apresiasi
positif atas gagasan-gagasan dari gerakan Islam liberal ini.
Kontribusi positif dari kehadiran Islam liberal adalah koreksi
terhadap pemikiran modernisme Islam yang dalam beberapa hal memang
memerlukan kontekstualisasi. Sebutlah tentang paradigma kaum
modernis yang selama ini memakai tajdid yang cenderung menguat
ke dimensi purifikasi yang skriptual melalui pemberantasan syirik,
takhayul, bidah, dan khurafat yang demikian perkasa. Pada saat
yang sama gerakan ini kehilangan fungsi tajdid dinamisasi atau
kontekstualisasi yang lebih progresif. Sumbangan berharga lainnya
dari kehadiran Islam liberal ialah apresiasi yang terbuka terhadap
pluralisme, yang selama ini kurang memperoleh perhatian serius
kaum modernis.
Kehadiran Islam liberal juga telah memberikan apresiasi positif
terhadap isu-isu kontemporer seperti demokrasi, hak asasi manusia,
dan nilai-nilai humanisme universal yang selama ini kurang diapresiasi
oleh gerakan Islam modernis. Kendati, sekali lagi dalam hal aktualisasinya
dan konsisten perilakunya masih perlu diuji di tingkat empirik.
Sebagian Islam modernis bahkan terkesan bergerak ke arah lain
dengan menunjukkan antitesis yang ekstrem terhadap isu-isu kontemporer
tersebut. Misalnya isu Piagam Jakarta, yang makin memperkuat
stigma lama tentang fundamentalisme Islam.
Apresiasi dan optimisme atas kehadiran Islam liberal itu tentu
disertai catatan bahwa gerakan kini tengah dihadapkan pada masalah-masalah
besar umat Islam khususnya serta bangsa Indonesia dan dunia kemanusiaan
pada umumnya, baik pada level lokal, nasional, maupun global.
Dalam konteks ini Islam liberal pada fase-fase berikut akan diuji
keberadaan dan peran konkretnya dalam menawarkan jawaban-jawaban
atas masalah dan tantangan mendasar sebagaimana disebutkan itu.
Beberapa agenda sekaligus kritik dapat diajukan sebagai catatan
kaki bagi Islam liberal, antara lain, pertama, seberapa jauh
gerakan Islam liberal mampu menawarkan institusi-institusi sosial-keagamaan
baru sebagai buah dari ijtihad atau pembaruannya yang jauh lebih
cemerlang daripada prestasi yang diukir oleh modernisme Islam
di masa lalu. Islam liberal tentu tidak ingin mengakhiri proyek
pembaruannya dengan sekadar membangun sekolah dan universitas
yang sebenarnya telah dirintis secara lebih cerdas dan mapan
oleh Islam modernis.
Kedua, jawaban apa yang dapat diberikan oleh Islam liberal dalam
memecahkan konflik-konflik sosial-keagamaan yang bercorak primordialisme
ketika gerakan ini secara radikal telah lama menawarkan teologi
inklusif untuk pluralisme sosial dan agama. Peran profetik apa
yang dapat diberikan oleh Islam liberal ketika menghadapi konflik
Ambon, Sampit, dan konflik-konflik sosial lainnya yang hingga
kini terus berlangsung. Pertanyaan lain ialah bagaimana Islam
liberal dapat bersikap inklusif terhadap kepusparagaman di tubuh
umat Islam sendiri. Dari yang bercorak radikal hingga akomodatif,
ketika pada saat yang sama mampu menunjukkan apresiasi yang inklusif
terhadap minoritas nonmuslim di Tanah Air.
Ketiga, model aktualisasi politik dan sosial semacam apa yang
dapat direkomendasikan oleh gerakan Islam liberal dalam konteks
Indonesia, manakala gerakan ini menolak institusionalisasi agama
ke dalam sistem politik/negara, juga menolak keras politik aliran/
sektarian. Kenyataan empirik menunjukkan bahwa di negeri ini
agama dan politik secara niscaya melekat dengan kebutuhan dan
dinamika kehidupan seluruh bangsa yang kebetulan mayoritas umat
Islam.
Keempat, Islam liberal komitmen untuk pencerahan melalui gerakan
Islam kultural. Masyarakat madani atau civil society juga menjadi
tumpuan dalam gerakan sosial-keagamaan Islam liberal. Kelima,
apa yang telah diperbuat oleh gerakan Islam liberal dalam dua
puluh tahun terakhir dalam memberikan solusi moral berdasar teologi
sufisme yang dikembangkannya, ketika bangsa ini dari hari ke
hari dililit oleh krisis moralitas yang luar biasa. Apakah kaum
Islam liberal akan tetap menjaga jarak dari problem moral tersebut
dengan sekadar memberikan fatwa-fatwa teologis yang pada akhirnya
bersifat normatif juga jika tanpa disertai dengan gerakan emansipatoris
untuk menyikapi kebobrokan dengan sikap tegas. Atau cukuplah
Islam liberal sesuai dengan teologi inklusifnya berdiri dalam
posisi netral agar tidak terjebak pada gaya nahi munkar kaum
modernis yang serbalugas, karena hal semacam itu jauh lebih memberi
keamanan dan tidak menyakiti siapa pun di Republik ini.
Ketika kaum modernis muslim dinilai tengah kehilangan peran tajdidnya
maka seberapa jauh Islam liberal dapat memberikan jawaban cemerlang
yang konkret atas krisis moral maupun krisis kehidupan di tubuh
bangsa ini yang mekar secara luar biasa itu? Lebih-lebih dalam
memberikan jawaban profetik terhadap persoalan struktural seperti
kemiskinan, penindasan, dan berbagai penyakit sistem dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Persoalan moral dan
struktural yang dihadapi bangsa ini sungguh memerlukan proses
pencerahan yang radikal, memiliki landasan profetik pada ajaran
agama yang memihak pada pembebasan dan rehumanisasi.
Dalam realitas sosiologis umat, Islam liberal bahkan secara nyata
akan berhadapan dengan pendulum lain, yaitu Islam skriptual yang
makin ingin menegaskan dirinya secara lebih terbuka dan percaya
diri. Kehadiran Islam 'garis keras' ini juga memiliki argumen
tersendiri baik secara teologis maupun sosiologis. Lebih-lebih
ketika masyarakat modern dilanda krisis kemanusiaan yang memerlukan
kepastian nilai-nilai. Dalam konteks Islam liberal versus Islam
skriptual mungkin akan berlaku dialektika, semakin kuat dan terbuka
kaum Islam liberal dalam menawarkan dekonstruksi atau liberalisasi,
maka semakin kuat dan terbuka pula gerakan Islam skriptual dalam
melakukan peneguhan ajaran di kalangan umat Islam dengan pemahaman
keagamaan yang menjadi keyakinannya. Untuk itu, gerakan Islam
liberal diharapkan lebih membumi dan bersahaja di tengah-tengah
masyarakat. Selamat datang Islam liberal, semua menanti kiprahmu!***
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002062023592449
___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [UntirtaNet] Re: Memahami Kehadiran Islam Liberal
- From: Dedi juanda
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Memahami Kehadiran Islam Liberal
- » [UntirtaNet] Re: Memahami Kehadiran Islam Liberal
- [UntirtaNet] Re: Memahami Kehadiran Islam Liberal
- From: Dedi juanda