[UntirtaNet] Melawan AS-Zionis, Bagaimana Melakukannya?
- From: "Irianto, Yayan" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 15 May 2002 21:18:27 -0400
oleh ZA Maulani*
Setelah perang kemerdekan di Asia dan Afrika, dan Perang Dingin berakhir
dengan runtuhnya Uni Sovyet tahun l989, dunia menyaksikan tampilnya
Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan adidaya tunggal. Runtuhnya
komunisme meyakinkan Barat akan keunggulan peradaban dan sistem politik
mereka. Khususnya AS, dia menilai, posisinya sebagai super power tunggal
harus tidak berubah. Namun gagasan ini hanya akan dapat menjadi
kenyataan bila AS memelihara dan menjaga posisi itu dengan
sungguh-sungguh. Oleh karena itu, tidak boleh ada usaha yang membuka
peluang munculnya pesaing baru (new contender) untuk posisi puncak
global itu. Maka harus ada tindakan preventif, pre-emptif dan represif
terhadap setiap negara yang memiliki potensi untuk menyaingi AS.
Dalam usaha memelihara kedudukan dan perannya sebagai super power
tunggal itu, AS mengeterapkan moralitas ganda bila berhadapan dengan
dunia Islam. Ketika dunia mengutuk serangan biadab negara Yahudi-Israel
terhadap Palestina, Presiden Bush justru mendukung dan membenarkan
tindakan Israel tersebut sebagai tindakan "bela diri" menghadapi
"terorisme bom bunuh diri" oleh pejuang-pejuang Palestina.
Sebaliknya, AS pada berbagai kesempatan cepat sekali menuding "teroris"
serta menghukum dan mengambil tindakan baik secara politik, ekonomi,
maupun militer, terhadap negara-negara Islam atau yang berpenduduk
Muslim. Pada saat yang bersamaan, AS menutup mata terhadap kedzaliman
yang dilakukan sekutu-sekutunya.
Ketidakadilan dan moralitas ganda AS itulah pemicu utama munculnya
berbagai kelompok perlawanan seperti Front Pembebasan Nasional Palestina
(NFLP), Hizbullah, dan Hamas; di Mesir Ikhwanul Muslimin dan Jihad
Islam; di Saudi gerakan al-Mahdi; di Aljazair Group Islam Armee, di
Filipina kelompok Abu Sayyaf, dan tentu tidak dapat dilupakan organisasi
al-Qaedah. Kelompok-kelompok perlawanan ini oleh AS disebut sebagai
teroris.
Tapi anehnya, kelompok retoris aktif seperti IRA di Irlandia Utara,
kelompok Basque di Spanyol, dan Macan Tamil Etam di Sri Lanka, jangankan
menyerang menyebutnya sebagai terorispun AS tidak pernah. Sehingga sulit
mempercayai ucapan Presiden Bush, bahwa upaya AS untuk menghabisi apa
yang disebutnya sebagai "teroris internasional" itu bukanlah usaha AS
untuk memerangi dunia Islam dan ummatnya. Terkesan kuat, Perang Salib
yang dilancarkan terhadap Islam sejak akhir abad ke-11 sampai dengan
awal abad ke-13, kemudian dilanjutkan dengan `penaklukan dunia Islam'
melalui peperangan membangun imperialisme dan kolonialisme Barat yang
berlangsung selama lima ratus tahun lebih, ternyata belum juga berakhir
hingga sekarang.
Kondisi Bangsa
Ironisnya, di tengah ancaman AS dan sekutunya itu, bangsa Muslim
terbesar di dunia, Indonesia, justru amburadul kondisinya. Hutangnya
segunung, kemiskinannya meluas, hukumnya tidak jalan dan korupsinya
sangat akut.
Sedihnya lagi, dalam keadaan krisis berat itu, kita menyaksikan
perpecahan di lapisan elit politik yang nyaris melanda semua partai,
terutama pada partai-partai Islam. Mereka saling menghujat dan tuntut di
pengadilan, serta metutup pintu islah. Dari berbagai pernyataan yang
dikeluarkan oleh mereka yang menyebut dirinya pemimpin ummat itu, tampak
betapa mereka telah kehilangan nalar dan akal sehatnya. Bila keadaan ini
terus berlanjut, diniscayakan ummat Islam akan mengalami alienasi dan
marjinalisasi kembali melebihi keadaan di masa-masa silam, baik secara
politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Merujuk keadaan yang digambarkan
di atas, dampak dari keterpurukan ummat di masa depan tidak akan dapat
terbayangkan.
Sementara itu, konspirasi kekuatan Barat-Zionis tanpa disadari terus
menjerat negeri ini melalui tekanan ekonomi, politik, dan media-massa,
sebagai upaya untuk menghancurkan negeri ini. Perang Afghanistan yang
oleh Presiden Bush disebut hanyalah "sasaran awal" dari peperangan yang
lebih luas lingkup dan lebih lama waktunya, diniscayakan akan menjadikan
ummat Islam Indonesia juga sebagai sasaran mereka. Pada dasarnya, meski
kita tidak sepenuhnya setuju dengan premis Samuel Huntington seperti
yang diungkapkannya di dalam makalahnya tentang "the Clash of
Civilization" -perang antara peradaban- khususnya antara peradaban Barat
yang sekuler berhadapan dengan Islam, perang sebenarnya itu telah dan
tengah berlangsung.
Kekuatan sekuler di dalam dan di luar negeri secara bersama-sama dan
tersinergikan tengah berusaha untuk meminggirkan ummat Islam. Kita harus
mengambil langkah-langkah untuk menghadapinya dan menyelamatkan ummat
dan aqidah.
Jalan Keluar
Pemecahan krisis multi-dimensional ini menuntut sense of urgency
(kesadaran akan situasi yang sangat mendesak) dari Ummat Islam. Lalu
diikuti tindakan yang tepat sasaran, dan mengutamakan prioritas.
Meskipun kita menyetujui, dewasa ini bangsa dan ummat mengalami krisis
dekadensi moral yang akut, tetapi titik-berat prioritasnya terletak pada
tiadanya pemimpin yang memiliki akhlaqul karimah, integritas moral,
tidak mampu mengemban amanah, ketiadaan kepekaan yang kesemuanya
terefleksi pada tiadanya keteladanan sebagai panutan. Maka
langkah-langkah yang harus diambil adalah:
1. Islam pada hakekatnya adalah agama jamaah. Menurut sabda Rasulullah
saw kekuatan ummat terletak pada kohesifnya jamaah kaum Muslimin. Karena
itu pada saat ketika ummat terpecah-belah ke dalam firqah-firqah, kita
wajib merapatkan shaf kembali, membangun kekuatan kejamaahan ummat yang
bersifat lintas organisasi, serta paham dalam keagamaan. Pembangunan
kekuatan jamaah harus berbasis pada masjid, mulai dari jaringan masjid
kecamatan, kabupaten, propinsi, sampai kepada jaringan masjid nasional.
Jaringan yang didasarkan pada organisasi kemasyarakatan dan politik akan
memecah-belah kembali ke dalam kepentingan sempit program partai atau
ormas. Jaringan berdasarkan masjid tidak untuk membubarkan partai-partai
atau ormas-ormas Islam. Yang dituju adalah pembangunan kekuatan ummah,
ke dalam ummat yang utuh dan kohesif. Keluar (boleh saja) membawa
bendera partai atau ormas masing-masing.
2. Kekuatan kejamaahan seperti yang dikehendaki itu hanya dapat dibangun
dengan semangat ukhuwwah. Ukhuwwah atau solidaritas adalah lem perekat
bagi kekuatan kejamaahan. "Tidak diterima iman seorang Muslim sebelum ia
memperlakukan muslim lainnya sebagai saudaranya," demikian firman Allah
Swt dalam al-Qur'an. Untuk dapat membangun semangat ukhuwah, ada empat
syarat yang harus terpenuhi; (1) Tidak boleh ada suudzon, berburuk
sangkat terhadap sesama Muslim. (2) Bila ada hal-hal yang dianggap salah
paham yang dapat menimbulkan perbedaan atau bahkan konflik, seorang
Muslim harus segera melakukan tabayyun (klarifikasi). (3) Dalam proses
tabayyun atau tausyiah itu setiap Muslim dituntut menghadapinya dengan
sikap tawaddu, rendah hati, yaitu kesediaan untuk mendengarkan pendapat
orang lain meski berbeda. (4) Bila perbedaan itu tidak berhasil mencapai
kesepakatan, tidak boleh sampai memutuskan silaturrahim. Untuk itu maka
orang-orang Muslim hendaknya bersikap tatsamuh atau toleran yaitu
bersepakat untuk tidak sepakat.
3. Jamaah tidak akan memiliki kamampuan dan kekuatan tanpa adanya
imamah. Rasulullah saw bersabda, "Bila ada tiga orang Muslim, maka
diwajibkan seorang di antaranya menjadi pemimpin mereka." Oleh karena
itu, kita harus mengembangkan mekanisme untuk menseleksi pemimpin
dilingkungan komunitas ummat berdasarkan azas musyawarah terhadap
tokoh-tokoh panutan yang memang memperoleh pengakuan dari ummat.
Pengakuan itu tertuju kepada sifat-sifat kepemimpinannya, memiliki
kewibawaan, mampu memikul amanah, dan memiliki kecakapan
administrasi-manajereal sebagai pemimpin ummat.
4. Kekuatan kejamaahan ummat harus mampu menjadi moral force ummat untuk
melakukan moral pressure kepada lapisan elit ummat secara konsekuen,
konsisten, dan sanksional, dalam rangka mengembangkan lapisan imamah
yang berakhaqul karimah dan amanah.
5. Mengembangkan masjid sebagai basis dan pusat kegiatan bagi
pengembangan sosial-budaya, sosial ekonomi, dan penguasaan ilmu dan
teknologi ummat.
6. Memulai upaya bagi pemberdayaan ekonomi ummat sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dalam usaha pemberdayaan politik ummat.
7. Pengembangan jumlah dan mutu sumberdaya manusia ummat sebagai
perwujudan ketaqwaan kepada Allah swt.
Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan seraya memohon taufiq,
hidayah, dan inayah Allah swt..
* Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN)
--
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
- References:
- [UntirtaNet] Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: ali rohman
- [UntirtaNet] HOME LAND SECURITY: SENJATA MAKAN TUAN?
- From: Irianto, Yayan
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Melawan AS-Zionis, Bagaimana Melakukannya?
- [UntirtaNet] Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: ali rohman
- [UntirtaNet] HOME LAND SECURITY: SENJATA MAKAN TUAN?
- From: Irianto, Yayan