[UntirtaNet] MENGHADAPI MUSIBAH

MENGHADAPI MUSIBAH
(M. Syamsi Ali)

Tak dapat disangkal lagi bahwa ummat Islam saat ini sedang berada dalam
situai penuh bala dan cobaan (ibtilaat). Hampir di seluruh pejuru ufuk,
ummat Islam berada pada posisi yang tidak atau kurang menguntungkan.
Serangan teroris terhadap AS telah menjadi justifikasi bagi kalangan
tertentu untuk semakin menyudutkan posisi Islam dan ummatnya. Bahkan sudah
menjadi biasa, jika individu atau instansi Muslim menjadi sasaran kemudian
karena justifikasi/pembenaran tadi. Di dunia bagian barat dari alam semesta
ini, ummat Islam harus menerima kenyataan pahit untuk diserang, baik secara
fisik maupun secara mental dan intelektual.

Dalam laporan terakhirnya, CAIR (Council on American Islamic Relations)
menyampaikan data bahwa sejak kejadian 11 September lalu hingga kini, telah
ada lebih dari 6000 kasus kekerasan yang dialami oleh ummat islam di negara
adi daya ini. Laporan ini tentunya belum mewakili keseluruhan kasus yang
ada. Mengingat bahwa kebanyakan Muslim immigrant yang datang ke negeri ini
justeru masih membawa kebiasaan lama alias dingin menghadapi kezaliman yang
dihadapinya. Sehingga kekerasan, pelecehan dan kezaliman dengan berbagai
manifestasinya, cenderung untuk didiamkan begitu saja.

Sementara itu, sebagai imbas dari kejadian 11 September tersebut, dunia
Islam semakin menjadi bulan-bulanan. Negara Afghanistan yang dianggap
menjadi lahan subur bagi para teroris diserang habis, mengikis habis harapan
kaum lemah dan papah di negeri itu. Mereka sejak berpuluh-puluh tahun telah
berada dalam situasi yang "menyayat-nyayat" hati nurani. Peperangan panjang,
sejak berkobarnya jihad melawan komunis Uni Soviet ketika itu, disusul oleh
perang saudara yang berkepanjangan, anak-anak bangsa ini sudah menderita
sedemkian berat. Hidup di musim dingin atau musim panas, keduanya adalah
"hell" bagi mereka. Makan roti kering dari pembuangan sampah, minum dari
saluran air keruh, tidur di atas tanah liat, wajah-wajah yang dibedaki oleh
debu-debu, bukanlah pemandangan asing di bagian bumi ini. Namun dengan
kejadian 11 September, semakin melengkapi penderitaan panjang mereka.

Negara-negara Islam kemudian hanya bisa "geram" dengan realita yang itu.
Pada galibnya, mereka hanya mampu mengurut dada, menahan marah, atau minimal
melontarkan kecaman "setengah hati". Basisnya adalah, "if you haven't what
you could offer" (Faaqidus syaei laa yu'thii). Negara-negara arab Muslim,
khususnya negara-negara teluk, saling berharap siapa yang akan berada di
garda depan memulai sebuah oposisi. Hati nurani dan kepentingan saling tarik
menarik, yang pada akhirnya hanya kepentingan masing-masing yang
dimenangkan. Di belahan dunia lain, negara-negara berpenduduk mayoritas
Muslim sibuk dengan permasalahannya sendiri, yang sebenarnya hasil rekayasa
panjang dari musuh-musuh ummat.

Puncaknya, saudara-saudara seiman dan seinsan (banyak di antara mereka
beragama nasrani) di Palestina mengalami puncak "penindasan" yang telah
berada di luar jangkauan pertimbangan rasio manusia. Perjuangan melawan
kezaliman, upaya kemerdekaan dari penjajahan kaum biadab, terputar balikkan
menjadi kegiatan teroris. Sementara pembunuhan terhadap kaum yang terzalimi
dianggap pembelaan diri. Mereka membantai, melakukan penghancuran total
serta upaya penghapusan ethnic (ethnic cleansing), sementara negara-negara
Islam masih sibuk dengan "KTM, KTT" yang hanya membuahkan
pernyataan-pernyataan, yang pasti akan tertelan oleh ombak yang berlalu atau
terbawa oleh derasnya angin topan. Tragis memang, tapi itulah kenyataan!

Apa Kesalahan Kami

Mungkin itulah sepotong kalimat yang akan terlontar dari mulut atau terbetik
dalam hati setiap Muslim yang melihat keadaan saat ini. Nyawa
saudara-saudara kita begitu murah. Jika seorang Amerika terbunuh, semisal
Daniel (wartawan Wall Street Journal) dunai gempar tak terbayang. Namun pada
saat ratusan bahkan ribuan nyawa Muslim hilang atau dihilangkan begitu saja,
sepertinya tak ada sesuatu yang mengusik, termasuk pada myoritas kalangan
ummat ini sendiri. Ketika segelintir warga Israel "mampus" karena serangan
"pembebasan" yang dikenal "suicide bombing" oleh warga Muslim Palestina,
dunia ibarat berkabung kehilangan warganya yang terhormat. Namun jika para
wanita dan anak-anak dibantai begitu saja oleh kekuatan penjajah, tak lebih
deri seekor anjing yang mengalami kecelakaan. Mungkin matinya seekor anjing
pun di Amerika lebih menggemparkan ketimbang "syahidnya" warga palestina
yang tengah berjuang untuk kemerdekaan mereka.

Ketika warga katolik Timtim mengalami "mistreatment" dari ABRI (saat itu),
semua elemen dunia menggonggong menyuarakan pembelaan. Dari pusat diplomasi
dunia (New York), pusat politisasi dunia (Washington), pusat bisnis dunia
(WS-NY), NGO's (Jenewa) dst. mengangkatnya sebagai issu besar yang harus
diselesaikan. Namun ketika saudara-saudara seiman di Aceh mengalami hal yang
sama, atau mungkin lebih sadis, ibaratnya tak pernah terjadi apa-apa. Warga
Aceh mengalami penindasan atau tertindas dari dua arah, dari TNI dan juga
dari pihak lawan TNI, GAM.

Semua ini menjadikan kita memang jadi bertanya, what's wrong with us?
Pertanyaan ini tentunya, sangat sederhana dan sepintas tidak memiliki bobot
apa-apa. Namun sesungguhnya inilah pertanyaan mendasar yang harus kita
temukan jawabannya. Sebab dalam ajaran Islam, setiap kejadian yang menimpa
diri kita, penyebab utamanya ada pada diri kita sendiri. Untuk itu, ajakan
untuk selalu merefleksikan setiap kejadian pada diri kita menjadi tuntutan
setiap saat. "wa fii amfusihim afalaa yubshirrun" (dan pada diri mereka
sendiri, tidakkah mereka memperhatikan?). Umar mengingatkan: "Haasibuu
anfusakum qabla an tuhaasabuu" (adakanlah perhitungan pada dirimu sendiri
sebelum orang lain melakukan perhitungan pada kamu).

Ketika dilakukan pengepungan sebuah perkampungan musuh oleh tentara Islam
dalam berbulan-bulan namun mereka belum juga menyerah, ummat Islam ketika
itu justeru tidak berfikir ke arah musuh. Sebaliknya, ummat Islam justeru
melihat kepada diri mereka sendiri, kenapa pertolongan Allah terlambat
datang? Apa kesalahan kami? Kira-kira itu pertanyaan yang mereka ajukan.
Ternyata setelah diselidiki, kesalahan itu ada pada mereka, dan itu pun
hanya pada sebatas tidak melakukan sebuah sunnah; siwak. Kegagalan umat
Islam dalam memenangkan pertempuran Uhud, juga ternyata karena kesalahan
internal. Mereka tidak mentaati perintah Rasulullah untuk tetap bertahan di
atas bukit, apa pun konsekwensinya.

Semua ini menyadarkan kita, bahwa keadaan saat ini sudah masanya menjadikan
kita sadar bahwa berbagai musibah yang menimpa umat ini tidak lepas dari
kesalahan dan dosa-dosa kita sendiri. Bukan berarti manfikan berbagai makar
dan muslihat musuh-musuh kita. Namun "hanya" menyalahakan orang lain tanpa
melihat pada dosa dan kesalahan kita, tidak akan memberikan jalan keluar
yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan penglihatan pada dua arah; internal
dan eksternal.

"Turunlah kamu dalam keadaan saling bermusuhan (wahai Adam dan Iblis)".
"Dan mereka akan senantiasa memerangi kamu sehingga mereka memalingkan kamu
dari agamamu jika mereka mampu"
"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak redha kepadamu sehingga kamu
mengikuti millah mereka".

Ayat-ayat di atas dan berbagai ayat lainnya dalam Al Qur'an mengingatkan
kita bahwa memang "nature" (fitrah) dari kebenaran itu selalu berseberangan
dengan kebathilan. Manakalah kebenaran tidak melihat kebatilan sebagai
kebatilan, maka sesungguhnya itu adalah sebuah kebenaran yang tidak benar.
Artinya, permusuhan antara al haqq dan al baathil itu akan terjadi sepanjang
hidup ini. Maka jangan heran jika kata "perdamaian" dimuntahkan secara boros
di mana-mana, tapi sesungguhnya di balik dari keborosan kata-kata itu
tersembunyi "permusuhan" yang dalam. Allah mengingatkan: "Dan nampak
permusuhan dari mulut-mulut mereka. Dan yang disembunyikan di hati-hati
mereka lebih besar lagi".

Maka, tidak ada lain yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan asbaab al
quwwah wal falaah (sebab-sebab kekuatan dan kemenangan) dan menghindari
asbaab ad dhu'f wal inhizaam (sebab-sebab kelemahan dan kekalahan). Kita
berada pada posisi maju berperang, mundur juga berperang. Karena selama kita
memegang kebenaran, kebatilan akan selalu memerangi kita. Tentu, peperangan
yang dimaksud di sini adalah peperangan yang lebih luas.

Asbaab al Quwwah / Asbaab ad Dhu'f

Salah satu keunikan Islam dalam melihat suatu hal adalah "syumuliyah"
(comprehensiveness). Pada satu sisi, sebagian ajaran melihat kekuatan dan
kelemahan segalanya ada pada quwwah maddiyah / jasadiyah (kekuatan
fisik/material) semata. Di sisi lain, sebagian ajaran melihatnya hanya pada
quwwah bathiniyyah (kekuatan batin). Penglihatan ini adalah penglihatan yang
parsial.

Islam menilai bahwa kekuatan itu ada pada dua sisi. Sisi bathin dimana
dengannya seseorang akan termotivasi untuk mendayakan kekuatan fisiknya
secara maksimal. Kekuatan batin bersumber dari kekuatan ruhiyah yang
dimiliki seseorang. Sehingga sangat wajar jika Rasulullah SAW kemudian
bersabda: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak
berdzikir seperti orang hidup dan orang mati". Kemampuan dzikir tidak lain
merupakan refleksi kehidupan jiwa, dan kehidupan jiwa itu sendiri bertumpu
pada kemampaun dalam berdzikir.

Namun demikian, kekuatan ruhiyah ini sendiri tidak boleh terputus dari asbab
lahiriyah. Untuk itu, Rasulullah SAW dalam merefleksikan kekuatan
ruhiyahnya, dibarengi oleh persiapan materi/fisik sekaligus. Ketika
Rasulullah SAW mendapat ancaman serangan dari kaum kafir Mekah, selain
kembali memperkuat komitmen iman dalam jihad, beliau juga memobilisir para
tukang besi untuk membuat alat-alat perang seperti pedang, baju besi, dll.

Tanggung Jawab Keummatan

Sementara itu, ummat Islam dalam melihat kenyataan di atas juga terbagi
kepada dua kelompok besar. Sebagian merasa bahwa keadaan itu adalah tanggung
jawab masing-masing pribadi, sehingga setiap individu  dituntut untuk
melakukan pembenahan pada diri masing-masing. Sikap "who care" seperti ini
menjadikan mereka kebal rasa serta tidak peduli dengan penderitaan sesama di
sekitarnya.

Sebagian yang lain merasa bahwa keadaan buruk yang menimpa ummat saat ini
adalah tanggung jawab bersama sebagai umat. Mereka inilah kemudian melakukan
berbagai upaya untuk meringankan beban saudara-saudara mereka di berbagai
tempat. Mereka ini sadar akan hadits Rasulullah SAW: "Sungguh ummat ini
ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit dan demam, maka
keseluruhan tubuh merasakannya". Selain itu mereka sadar bahwa ummat ini
ibarat satu bangunan yang saling mendukung. Tegaknya sebuah gedung hanya
dimungkinkan jika seluruh unsur pada gedung itu melakukan fungsinya secara
maksimal.

Sikap kelompok kedua inilah yang perlu kita ikuti. Betapa kesadaran ini
tidak saja menjadi perlu, tapi telah menjadi kebutuhan kita sebagai ummat.
Semua pribadi akan melalui proses pertanggung jawaban akan apa saja yang
pernah dilakukan dalam merinagnkan beban-beban saudara-saudara kita yang
berat. Sikap tidak tahu, tidak peduli serta merasa "that's not my business"
sesungguhnya tidak berlaku jika kesadaran keummatan kita cukup. Kita masih
diingatkan oleh Ashabul Kahf yang telah ditidurkan oleh Allah dalam masa
yang panjang. Ketika bangkita, mereka berkata: "Tuhan Kami adalah Tuhan
langit dan bumi dan kami tidak mensyarikatkan bagiNya dengan suatu apapun".

Sikap pada ayat ini adalah sikap yang menunjukkan kekuatan mental dan
kepribadian. Bahwa di saat semua orang menyembah selain Allah, seorang
Muslim tidak perlu terbawa dengan kebatilan. Namun sikap ini harus diikuti
dengan sikap jama'I (keummatan) yang peduli dengan siapa-siapa yang di
sekeliling mereka. Maka Ashabul Kahf juga berikrar dengan: "Mereka itu kaum
kami yang telah mengambil tuhan-tuhan selain Allah". Artinya, selain kami
meng-esakan Allah dalam penyembahan, kami juga peduli dengan mereka yang ada
di sekeliling kami.

Contoh Ashabul Kahf ini adalah contoh tauladan yang perlu diikuti dalam
menyikapi situasi saat ini. Kita perkuat iman, ibadah dan amal kita secara
individu. Namun hendaknya kita jangan menjadi Muslim egois yang tidak peduli
dengan penderitaan sesama di sekitar kita. Mari kita menjadi Muslim yang
saleh dan bertaqwa. Saleh pada tataran individu dan namun juga saleh pada
tataran sosial. Bertaqwa secara individu dan juga bertaqwa secara sosial.

wassalamu'alaikum wr.wb.


--

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: