[UntirtaNet] Linux, Siapa Takut?

DI tengah dominasi software berbasiskan sistem operasi Microsoft, 
kemunculan Linux 
(http://www.linux.org) memang fenomenal. Sebab, selain dapat 
di-instal secara cuma-cuma, 
Linux juga dapat dikembangkan menjadi software apa pun sesuai 
kehendak penggunanya.
Setiap orang yang tertarik dipersilakan untuk bergabung dalam 
pengembangan Linux, seperti 
tukar-menukar kode, melaporkan bug, dan membenahi segala masalah 
yang ada, baik lewat 
internet maupun lewat berbagai kelompok kerja tertentu. Hal ini 
terjadi karena Linux adalah 
sistem operasi dasar komputer (Unix) yang terbuka.

Linux pertama kali diperkenalkan pada 1992 oleh Linus Benedict 
Torvalds di Universitas 
Helsinki, Finlandia. Kemudian Linux dikembangkan lagi dengan 
bantuan dari para peminat 
programming dan Unix di internet. Lewat internet inilah kemudian 
muncul distribusi-distribusi 
Linux yang saat ini umum digunakan, misalnya RedHat, Mandrake, 
Suse, Debian, Slackware, 
Caldera, Stampede Linux, Turbolinux, Campur, dan lain-lain.

Sebenarnya, yang disebut dengan Linux adalah kernelnya saja, 
yaitu kode-kode biner program yang terkompresi dalam ukuran antara 
200 - 600 kbyte. Kernel ini biasanya didapatkan dalam sebuah 
kemasan distribusi (RedHat, Mandrake, Suse, Debian, Slackware, 
Caldera, Stampede Linux, Turbolinux, Campur, dan lain-lain) berukuran 
5 - 300 Mbyte. Kemasan distribusi yang 
berisi utilitas standar berikut source code-nya tersebutlah yang 
kemudian dapat dikembangkan 
menjadi paket-paket aplikasi sesuai keinginan pengguna Linux.
Menurut survei di internet, saat ini pengguna Linux diperkirakan 
telah mendekati angka jutaan. 
Bahkan, dalam sebuah laporan harian Strait Times yang terbit 
di Singapura awal Januari 2002 
lalu, pemerintah Cina yang kelabakan menghadapi pembajakan software 
komputer, mewajibkan
 instansi pemerintah agar meninggalkan software bajakan tersebut 
dan beralih ke Linux.
Inilah pukulan paling telak para pemilik lisensi software yang 
kini mendominasi industri software 
komputer di dunia. Di Indonesia penggunaan Linux juga semakin 
meluas. Bahkan, sejak Linux 
diperkenalkan di tahun 1992, beberapa miling list telah aktif 
berpartisipasi dalam 
pengembangan Linux. Saat ini komunitas pengguna Linux telah tersebar 
di hampir seluruh 
pelosok Indonesia. Komunitas yang dikenal dengan nama Kelompok 
Pengguna Linux Indonesia 
(KPLI) ini biasa melakukan komunikasi lewat berbagai alamat KPLI 
di internet. Maraknya 
lembaga pendidikan singkat yang mempelajari Linux juga semakin 
memperluas penggunaan 
Linux. Selain digemari para programmer dan jagoan Unix perorangan, 
saat ini puluhan 
perusahaan juga telah menggunakan Linux sebagai basis operasi 
komputernya.
Salah satu institusi bisnis yang menggunakan Linux sebagai basis 
sistem operasinya adalah Rumah
 Sakit Pertamina Jaya (RSPJ). Bagian IT rumah sakit ini sengaja 
membangun sistem operasinya 
berbasiskan Linux, selain karena gratis dan mudah dikembangkan 
sesuai dengan kebutuhan, juga 
karena kecepatannya yang lebih dinamis dibandingkan softwarwe 
yang sudah jadi. Tak heran, di 
RSPJ ini layanan kesehatannya yang telah terintegrasi ke seluruh 
unit, mulai dari personal 
computer (PC) dokter di klinik yang mendiagnosis penyakit pasien, 
penentuan resep, billing, 
hingga unit operasi, telah 100% menggunakan Linux.

Menurut Direktur IT RSPJ, Eko Budi, investasi membangun kebutuhan 
jaringan sistem kerja atau 
Enterprises Resources Planning (ERP) sebuah perusahaan dengan 
menggunakan sistem operasi 
Linux, jauh lebih murah dibandingkan jika harus membeli software 
selevel dari vendor software 
maupun software aplikasi e-business.

Menurut Eko, jika pihaknya membeli kepada para vendor sistem 
selevel yang saat ini 
dikembangkan, nilainya akan mencapai lima kali lipat bahkan bisa 
jauh lebih besar dari itu.
Eko Budi mengaku bahwa rendahnya investasi tersebut disebabkan 
karena sistem operasi Linux 
dapat berjalan di atas segala sistem perangkat keras standar, 
misalnya menggunakan prosesor 
Intel 386/SX 16 MHz, memori 16 Mbyte (bahkan Linux dilaporkan 
dapat berjalan dengan 
memori 2 Mbyte), dapat menggunakan segala macam kontroler disk, 
termasuk jenis ESDI, ST-
506, MFM, RLL, dan kontroler 8 bit (XT).
Linux juga dapat menggunakan segala macam monitor, setidaknya 
dalam bentuk mode text. 
Bahkan, tidak ditemukan masalah dalam mode VGA standar 16 warna.
Selain itu, beberapa perangkat keras seperti kartu Ethernet, 
CDROM Drive, Sound Card, Serial 
Board, Tape Drive, Printer, juga tidak memerlukan spesifikasi 
yang rumit sebagaimana standar 
para vendor jaringan komputer dalam mengembangkan X-Terminal, 
server jaringan dan server 
staf.
Sosialisasi
Sayangnya, kelebihan-kelebihan Linux ini kurang diminati perusahaan 
besar yang telah telanjur 
menggunakan software jadi produksi vendor software besar. Hal 
ini karena biasanya 
perusahaan tersebut menyerahkan pengembangan jaringan sistem 
operasi komputernya ke 
vendor jaringan. Sementara itu, vendor jaringan tersebut telah 
terikat dengan vendor software 
atau telah terikat dengan vendor sistem operasi Unix yang ada 
di sebuah perangkat keras milik 
perusahaan tersebut.
Oleh karena itulah, salah satu pendiri KPLI sekaligus Pemimpin 
Redaksi Infolinux, Rusmanto, 
berpendapat perlu sosialisasi yang intensif terhadap pengguna 
Linux, terutama pengguna korporat 
agar memiliki pemahaman yang lebih memadai mengenai Linux. Menurutnya, 
jaringan komputer 
apa pun dapat dibangun dengan Linux dengan investasi perangkat 
keras yang dapat jauh lebih 
murah.
Rusmanto yang juga aktif di sebuah lembaga pendidikan singkat 
Linux ini optimistis, suatu saat 
nanti Linux sebagai sistem operasi dapat berkembang melebihi 
apa yang telah dicapai para 
pemain industri software besar dunia.
Rusmanto mengakui, untuk menjadikan Linux sebagai alternatif 
utama sistem operasi komputer 
bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, selain persoalan sumber daya 
manusia (SDM) yang 
menguasai operasi Linux sangat terbatas, juga karena kenyataan 
bahwa untuk saat ini sistem 
operasi Linux memang lebih sesuai untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan 
yang 
pengembangan jaringan komputernya dilakukan secara gradual. Sedangkan 
di berbagai 
perusahaan besar, pengembangan jaringan komputernya biasanya 
terikat kerja sama dalam 
sebuah konsorsium. Linux memang fenonemal. Namun, Linux tetap 
memiliki kelemahan. Sejauh 
ini diketahui bahwa Linux tidak cocok untuk sistem yang membutuhkan 
driver tertentu yang 
mengakibatkan router-nya tidak dapat berkinerja tinggi. Selain 
itu, dari sisi perangkat lunak, 
hingga kini belum ada yang mengembangkan paket-paket yang akrab 
dengan masyarakat awam, 
seperti yang dilakukan oleh Microsoft (Microsoft Office, Microsoft 
XP, dll). Hal inilah yang 
menyulitkan masyarakat awam untuk mengenal dan menggunakan Linux 
secara lebih mendalam. 


___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: