[UntirtaNet] Linux, Siapa Takut?
- From: <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 29 May 2002 16:18:18 -0400
DI tengah dominasi software berbasiskan sistem operasi Microsoft,
kemunculan Linux
(http://www.linux.org) memang fenomenal. Sebab, selain dapat
di-instal secara cuma-cuma,
Linux juga dapat dikembangkan menjadi software apa pun sesuai
kehendak penggunanya.
Setiap orang yang tertarik dipersilakan untuk bergabung dalam
pengembangan Linux, seperti
tukar-menukar kode, melaporkan bug, dan membenahi segala masalah
yang ada, baik lewat
internet maupun lewat berbagai kelompok kerja tertentu. Hal ini
terjadi karena Linux adalah
sistem operasi dasar komputer (Unix) yang terbuka.
Linux pertama kali diperkenalkan pada 1992 oleh Linus Benedict
Torvalds di Universitas
Helsinki, Finlandia. Kemudian Linux dikembangkan lagi dengan
bantuan dari para peminat
programming dan Unix di internet. Lewat internet inilah kemudian
muncul distribusi-distribusi
Linux yang saat ini umum digunakan, misalnya RedHat, Mandrake,
Suse, Debian, Slackware,
Caldera, Stampede Linux, Turbolinux, Campur, dan lain-lain.
Sebenarnya, yang disebut dengan Linux adalah kernelnya saja,
yaitu kode-kode biner program yang terkompresi dalam ukuran antara
200 - 600 kbyte. Kernel ini biasanya didapatkan dalam sebuah
kemasan distribusi (RedHat, Mandrake, Suse, Debian, Slackware,
Caldera, Stampede Linux, Turbolinux, Campur, dan lain-lain) berukuran
5 - 300 Mbyte. Kemasan distribusi yang
berisi utilitas standar berikut source code-nya tersebutlah yang
kemudian dapat dikembangkan
menjadi paket-paket aplikasi sesuai keinginan pengguna Linux.
Menurut survei di internet, saat ini pengguna Linux diperkirakan
telah mendekati angka jutaan.
Bahkan, dalam sebuah laporan harian Strait Times yang terbit
di Singapura awal Januari 2002
lalu, pemerintah Cina yang kelabakan menghadapi pembajakan software
komputer, mewajibkan
instansi pemerintah agar meninggalkan software bajakan tersebut
dan beralih ke Linux.
Inilah pukulan paling telak para pemilik lisensi software yang
kini mendominasi industri software
komputer di dunia. Di Indonesia penggunaan Linux juga semakin
meluas. Bahkan, sejak Linux
diperkenalkan di tahun 1992, beberapa miling list telah aktif
berpartisipasi dalam
pengembangan Linux. Saat ini komunitas pengguna Linux telah tersebar
di hampir seluruh
pelosok Indonesia. Komunitas yang dikenal dengan nama Kelompok
Pengguna Linux Indonesia
(KPLI) ini biasa melakukan komunikasi lewat berbagai alamat KPLI
di internet. Maraknya
lembaga pendidikan singkat yang mempelajari Linux juga semakin
memperluas penggunaan
Linux. Selain digemari para programmer dan jagoan Unix perorangan,
saat ini puluhan
perusahaan juga telah menggunakan Linux sebagai basis operasi
komputernya.
Salah satu institusi bisnis yang menggunakan Linux sebagai basis
sistem operasinya adalah Rumah
Sakit Pertamina Jaya (RSPJ). Bagian IT rumah sakit ini sengaja
membangun sistem operasinya
berbasiskan Linux, selain karena gratis dan mudah dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan, juga
karena kecepatannya yang lebih dinamis dibandingkan softwarwe
yang sudah jadi. Tak heran, di
RSPJ ini layanan kesehatannya yang telah terintegrasi ke seluruh
unit, mulai dari personal
computer (PC) dokter di klinik yang mendiagnosis penyakit pasien,
penentuan resep, billing,
hingga unit operasi, telah 100% menggunakan Linux.
Menurut Direktur IT RSPJ, Eko Budi, investasi membangun kebutuhan
jaringan sistem kerja atau
Enterprises Resources Planning (ERP) sebuah perusahaan dengan
menggunakan sistem operasi
Linux, jauh lebih murah dibandingkan jika harus membeli software
selevel dari vendor software
maupun software aplikasi e-business.
Menurut Eko, jika pihaknya membeli kepada para vendor sistem
selevel yang saat ini
dikembangkan, nilainya akan mencapai lima kali lipat bahkan bisa
jauh lebih besar dari itu.
Eko Budi mengaku bahwa rendahnya investasi tersebut disebabkan
karena sistem operasi Linux
dapat berjalan di atas segala sistem perangkat keras standar,
misalnya menggunakan prosesor
Intel 386/SX 16 MHz, memori 16 Mbyte (bahkan Linux dilaporkan
dapat berjalan dengan
memori 2 Mbyte), dapat menggunakan segala macam kontroler disk,
termasuk jenis ESDI, ST-
506, MFM, RLL, dan kontroler 8 bit (XT).
Linux juga dapat menggunakan segala macam monitor, setidaknya
dalam bentuk mode text.
Bahkan, tidak ditemukan masalah dalam mode VGA standar 16 warna.
Selain itu, beberapa perangkat keras seperti kartu Ethernet,
CDROM Drive, Sound Card, Serial
Board, Tape Drive, Printer, juga tidak memerlukan spesifikasi
yang rumit sebagaimana standar
para vendor jaringan komputer dalam mengembangkan X-Terminal,
server jaringan dan server
staf.
Sosialisasi
Sayangnya, kelebihan-kelebihan Linux ini kurang diminati perusahaan
besar yang telah telanjur
menggunakan software jadi produksi vendor software besar. Hal
ini karena biasanya
perusahaan tersebut menyerahkan pengembangan jaringan sistem
operasi komputernya ke
vendor jaringan. Sementara itu, vendor jaringan tersebut telah
terikat dengan vendor software
atau telah terikat dengan vendor sistem operasi Unix yang ada
di sebuah perangkat keras milik
perusahaan tersebut.
Oleh karena itulah, salah satu pendiri KPLI sekaligus Pemimpin
Redaksi Infolinux, Rusmanto,
berpendapat perlu sosialisasi yang intensif terhadap pengguna
Linux, terutama pengguna korporat
agar memiliki pemahaman yang lebih memadai mengenai Linux. Menurutnya,
jaringan komputer
apa pun dapat dibangun dengan Linux dengan investasi perangkat
keras yang dapat jauh lebih
murah.
Rusmanto yang juga aktif di sebuah lembaga pendidikan singkat
Linux ini optimistis, suatu saat
nanti Linux sebagai sistem operasi dapat berkembang melebihi
apa yang telah dicapai para
pemain industri software besar dunia.
Rusmanto mengakui, untuk menjadikan Linux sebagai alternatif
utama sistem operasi komputer
bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, selain persoalan sumber daya
manusia (SDM) yang
menguasai operasi Linux sangat terbatas, juga karena kenyataan
bahwa untuk saat ini sistem
operasi Linux memang lebih sesuai untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan
yang
pengembangan jaringan komputernya dilakukan secara gradual. Sedangkan
di berbagai
perusahaan besar, pengembangan jaringan komputernya biasanya
terikat kerja sama dalam
sebuah konsorsium. Linux memang fenonemal. Namun, Linux tetap
memiliki kelemahan. Sejauh
ini diketahui bahwa Linux tidak cocok untuk sistem yang membutuhkan
driver tertentu yang
mengakibatkan router-nya tidak dapat berkinerja tinggi. Selain
itu, dari sisi perangkat lunak,
hingga kini belum ada yang mengembangkan paket-paket yang akrab
dengan masyarakat awam,
seperti yang dilakukan oleh Microsoft (Microsoft Office, Microsoft
XP, dll). Hal inilah yang
menyulitkan masyarakat awam untuk mengenal dan menggunakan Linux
secara lebih mendalam.
___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Linux, Siapa Takut?