[UntirtaNet] Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (1)
- From: <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 12 Jun 2002 14:21:46 -0400
Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (1)
Penulis: KH Abdullah Gymnastiar
Bismillahirrahmaanirrahiim,
Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah
yang disebut masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun,
apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah.
Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan
yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu
panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya
dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak
pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut.
Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan
baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus
meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka
persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya
seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan,
cita-cita dan tanggung jawab.
Kelalaian kita dalam menyadari pentingnya bersungguh-sungguh
mencari ilmu tentang cara menghadapi hidup ini dan kemalasan
kita dalam melatih dan mengevaluasi ketrampilan kita dalam menghadapi
persoalan hidup berarti akan membuat hidup ini hanya perpindahan
kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan
yang bertubi-tubi. Na'udzubillah.
1. Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan
siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana
yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan
untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia
akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa
kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan
untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar
dan kemampuan kita.
Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih
sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang
di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya,
andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya
maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan,
penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh
rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak
didugapun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan
yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa
dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata "kejadian"
tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat
besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan
sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat
dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat shubuh,
di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak
patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah
kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat
sial, jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam,
dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam
kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang
biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga
seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera
berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa
menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang
tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanalloh, dua
jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam
kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu "fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh" bulatkan
tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan
segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan
mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah
Swt.
Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216,
"Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah
Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu
padahal buruk dalam pandangan Allah Swt."
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan
bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita
belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta
oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk
Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima
di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata
Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya
akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai
dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati
harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah
Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun
ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah
tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah
menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah
dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi,
satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah
hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian?
Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap
saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak,
kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita
ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur.
Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi
bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah
menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati
mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal
yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri,
keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam
spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara,
nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar
entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita
harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja,
ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah
total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian
yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan
yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki
kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang
tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi
positif, optimal, dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental
untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak
realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan
mengandai - andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin
terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat
ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang
yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa
menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih
beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling
menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian
karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik
orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung.
Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih
tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah
satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau
telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali
keadaan, bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun
kepada keduanya, mempersatukan, atau menghidupkannya kembali.
Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak
menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak
monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup
kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi
setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang
ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua
itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah
masalah.
Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan
yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan
yang diridhai Allah swt. *** (bersambung, bagian 1 dari 2 tulisan)
___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (1)