[UntirtaNet] Kapak Perang Sudah Digali di Bisnis VOIP
- From: "yayan tea" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 27 May 2002 20:45:54 -0400
Selasa, 28 Mei 2002
Kapak Perang Sudah Digali di Bisnis VOIP
Kompas/moch s hendrowijono
KAPAK perang sudah digali, genderang telah dibunyikan bertalu-talu.
Itu yang terjadi di arena bisnis telekomunikasi, yang era persaingannya
justru "resmi" baru akan mulai Agustus mendatang, bukan sekarang-sekarang
ini. Bahkan kini yang ikut perang bukan cuma PT Indosat dan PT Telkom,
"operator" swasta lain yang belum pernah mendaftar untuk terjun ke arena
pun, ikut meramaikan suasana.
Perang yang dimulai adalah perang layanan VOIP, voice over internet
protocol, yaitu layanan sambungan telepon jarak jauh dan internasional murah
karena menggunakan protokol internet. VOIP menjadi alternatif solusi
pelayanan telekomunikasi dengan tarif yang murah tetapi kualitas layanan
memang lebih rendah, tergantung berapa besar kompresi kanal yang dilakukan.
Secara sederhana dapat diuraikan, VOIP memanfaatkan kanal telepon
dengan lebih efisien. Kalau semula satu kanal untuk satu pembicaraan, dengan
VOIP bisa enam atau delapan, bahkan bisa 12 dan tidak tertutup kemungkinan
dengan kompresi dua atau empat kali.
Akan tetapi, karena dipakai secara berdesakan, mutu suara lewat VOIP
pun tidak sehalus kalau satu kanal satu pembicaraan atau yang umum disebut
dengan clear channel. Makin besar kompresinya, tidak cuma enam atau delapan,
makin buruk mutunya, bahkan bisa terjadi putus sambungan dan ini sangat
mengganggu pelanggan yang menginginkan kualitas. Pengiriman data atau gambar
(video) akan sangat buruk, konferensi video tidak bisa dilangsungkan kalau
menggunakan VOIP, sebab setidaknya harus menggunakan clear channel tadi.
Dewasa ini ada lima operator VOIP yang sudah mendapat izin pemerintah
yaitu Telkom, Indosat, Satelindo, Gaharu, dan Atlasat. Namun demikian,
teknologi sangat memungkinkan penyelenggara Internet (ISP-internet service
provider) memberi layanan VOIP untuk masyarakat pelanggannya, atau sebagai
ITSP (internet telephony service provider).
Selain ISP resmi, ada lagi ITSP liar yang hanya dengan menyediakan
server, VOIP gateway (gerbang), router dan sambungan telepon yang semuanya
ditaruh di ruang kecil seluas lemari, bisa memberi layanan VOIP. Modalnya
tak banyak-banyak amat, tak sampai Rp 100 juta dan mereka mengeruk
keuntungan besar karena melakukan kompresi sampai 12 kali.
Catatan Kompas menyebutkan, hingga awal Mei ini ada sekitar 60 ITSP
liar atau operator VOIP ilegal yang beroperasi di Indonesia yang karena
aturan hukumnya belum tegas, masih tenang beroperasi. Beberapa pembeli kartu
prabayar, baik untuk SLI atau SLJJ, sering kecewa akibat kartu panggilnya
tiba-tiba tak bisa dipakai sebab nomor aksesnya ditutup PT Telkom dan
operator VOIP yang menjual kartu sudah menghilang.
Para operator ilegal dapat menawarkan akses telepon ke luar negeri
secara murah karena kompresi yang besar tadi, di samping tidak membayar
biaya interkoneksi ke PT Telkom serta tidak membayar pajak. Baik Satelindo
maupun Indosat yang saat ini masih merupakan operator SLI (sambungan
langsung internasional) harus membayar biaya interkoneksi kepada PT Telkom
sebagai pemilik jaringan domestik. Biaya itu terdiri dari biaya akses
sebesar Rp 850 setiap panggilan dari luar negeri plus biaya percakapan Rp
550 per menit.
Tanpa kewajiban itu menjadikan para operator ilegal leluasa menawarkan
tarif Rp 200 per menit untuk panggilan dari luar negeri ke Jakarta atau Rp
400 per menit untuk panggilan ke luar Jakarta. Banyak operator di luar
negeri yang akhirnya mengalihkan jalur percakapan ke Indonesia yang
semestinya lewat Satelindo dan Indosat, ke operator VOIP ilegal. Terutama
karena keuntungan yang mereka dapat lebih besar lagi sebab mereka tetap
menjual akses dengan tarif normal di negerinya. Panggilan VOIP lewat
Singapore Telecom saja kini banyak yang tidak lagi masuk ke Satelindo atau
Indosat, melainkan ke operator VOIP murah itu.
Sumber di Ditjen Postel menyebutkan, tahun 2001 lalu terjadi kebocoran
100 juta menit percakapan masuk (incoming), sehingga negara gagal mendapat
devisa senilai 18 juta dollar. Bahkan pendapatan PT Telkom dari interkoneksi
dalam kurun waktu itu turun sampai separuhnya dibanding tahun 2000 sementara
PT Indosat kehilangan lima juta menit incoming setiap bulan.
Akan tetapi, paling tidak enak adalah komplain dari pelanggan kepada
PT Telkom, Satelindo dan Indosat karena mutu suara rekan mereka dari luar
negeri sangat buruk. Pada saat padat lalu lintas pembicaraan dan kompresi
dilakukan maksimal, seringkali pembicaraan terputus selain suaranya bergema.
Masyarakat banyak tidak paham siapa sebenarnya yang salah, sebab kalau soal
telekomunikasi, hanya tiga perusahaan itulah yang mereka anggap bertanggung
jawab.
***
LAPORAN keuangan triwulan pertama tahun 2002 PT Indosat yang
dikeluarkan 15 Mei 2002 lalu menampilkan penurunan pendapatan perusahaan
publik itu dari sambungan langsung internasional. Triwulan pertama tahun
2001 dilaporkan pendapatan dari panggilan internasional mencapai Rp 545
milyar, tetapi pada periode sama tahun ini panggilan internasional cuma
menyetor Rp 522,3 milyar.
Perlu dicatat, periode tiga bulan pertama tahun 2001 panggilan
internasional cuma dilakukan PT Indosat sendirian sementara triwulan pertama
tahun ini termasuk pendapatan konsolidasi dari SLI 008 PT Satelindo. Dirut
PT Indosat, Hari Kartana menyebutkan, penurunan pendapatan dari panggilan
internasional akibat adanya operator VOIP ilegal ini sampai 15 persen
dibanding tahun sebelumnya.
Tahun ini, kalau keadaan tetap demikian, pendapatan PT Indosat dan PT
Satelindo dari panggilan internasional akan "habis", sebab PT Telkom pun
sudah mulai masuk ke SLI lewat VOIP. Bahkan di beberapa tempat PT Telkom
sudah menjual jasa TelkomSave sebagai produk mereka, sejak Oktober tahun
lalu.
Di Batam yang merupakan wilayah terbesar produksi SLI setelah Jakarta,
PT Telkom gencar memasarkan VOIP mereka, selain tiga operator VOIP ilegal
yaitu Halophone, Dolphin dan One World. PT Telkom lewat media awal tahun
2002 sudah memasarkan akses 017 untuk TelkomSave mereka di samping tiga
operator ilegal yang terang-terangan menawarkan produk mereka lewat spanduk
dan iklan di radio serta surat kabar.
Awalnya Telkom memasarkan TelkomSave prabayar pada Oktober 2001 lewat
kode akses 17017 dengan tuntunan suara (voice respons) yang umum disebut
dengan double stage. Mutunya tidak terlalu baik, sehingga meskipun semula
banyak kelompok perumahan yang menggunakannya, akhirnya mereka kembali ke
SLI 001 atau 008, terutama panggilan dari perusahaan dan pebisnis asing.
Mulai Februari lalu, TelkomSave menggunakan akses single stage 017
yang merupakan direct dial tanpa voice respons. "Hasilnya lebih bagus,
selain mutu suara sama dengan SLI juga masa sambungnya singkat, tak sampai
10 detik," kata Aseng, pedagang di Lucky Plaza. Padahal, dengan double stage
sebelumnya, Aseng mengaku harus menunggu sampai hampir 20 detik untuk bisa
tersambung ke lawan bicaranya.
Kata Johan, pedagang di Nagoya, Batam, dengan TelkomSave 017 biayanya
jauh lebih murah, ke Singapura cuma Rp 3.200 per menit sementara SLI 001
atau 008 Rp 5.650 per menit. "Seperti bukan VOIP, sebab dalam waktu singkat,
tak sampai enam detik bisa nyambung. Padahal waktu 17017 bisa lebih dari 12
detik, sekarang juga tanpa echo (gema)," ujar pedagang elektronik itu.
Upaya PT Telkom untuk merebut kembali pasar komunikasi lintas batas
(bordercom) yang oleh pemerintah harus diserahkan kepada PT Indosat awal
90-an itu tampaknya serius. Pembinaan dilakukan terhadap para pengusaha dan
operator wartel sampai para pengusaha itu mau mengutak-atik alat sehingga
walau pelanggan menekan angka 001, masuknya ke 017.
Telkom membantah kemungkinan tadi, malah merasa upaya membujuk wartel
sia-sia karena Indosat gencar melakukan promosi. Operator SLI 001 itu
membagi-bagi hadiah kepada wartel, sehingga kata Arief Musta'in, Kakandatel
Batam, "Banyak pelanggan TelkomSave kembali ke Indosat karena mutu suara 001
lebih baik."
R Haryanto, Manager PT Indosat untuk Batam dan Riau Kepulauan, juga M
Amin Tuhelelu, manajer pemasaran setempat mengaku mereka membagi-bagi
suvenir berupa kaus, topi, payung untuk pengusaha dan operator. "Pelanggan
wartel yang pakai 001 juga dapat hadiah," kata Amin Tuhelelu.
Mereka mencontohkan bagaimana PT Indosat coba mempertahankan pasar
dengan mendekati para pengusaha, misalnya mengadakan pelatihan-pelatihan
untuk operator, juga mensponsori kegiatan APWI (Asosiasi Pengusaha Wartel
Indonesia). Sampai ke kertas komputer untuk bukti dan tagihan pembicaraan
pelanggan pun, kini disediakan oleh PT Indosat sekadar agar mereka tidak
lari ke operator lain.
Akan tetapi, Telkom juga mencoba merebut pasar internasional Indosat
lewat TelkomSave yang bisa diakali secara teknologi. Kalau umumnya VOIP yang
normal menggunakan kanal yang dikompresi antara 6 sampai 8, PT Telkom
mengkompresinya hanya sampai empat, kata Arif.
Namun, seorang teknisi PT Telkom menyebutkan, kompresi bisa cuma satu
atau tanpa kompresi sama sekali. "Tergantung NOC (network operation center)
memainkannya," ujar teknisi tadi. Itu yang menjadi sebab kenapa mutu
TelkomSave bisa nyaris bahkan sama dengan mutu clear channel 001 Indosat
atau 008 Satelindo Dan ini dilakukan PT Telkom sebagai upaya untuk menarik
pelanggannya.
Meski PT Telkom sudah melejit dengan VOIP lewat TelkomSave-nya dan PT
Indosat sudah merasa kuenya dikurangi, Indosat masih belum juga masuk ke
bisnis IndosatVOIP. Peralatan mereka konon kini sudah dipasang dan hari-hari
ini sedang dalam proses mendapat ULO (uji laik operasi) dari Ditjen Postel,
dan "go" begitu ULO lolos.
Tetapi, kalaupun mau masuk ke bisnis VOIP, masih ada perjuangan lain,
karena PT Indosat harus menggunakan saluran E-1 (E-one) yang kini hanya
dimiliki oleh PT Telkom. E-1 ini merupakan saluran dengan 30 kanal dan
menurut Keputusan Menteri Perhubungan No 23 tahun 2002, operator VOIP harus
menyediakan perangkat dengan kapasitas sekurang-kurangnya 28 port E-1 atau
28 kali 30 kanal.
Sementara PT Telkom masih menganggap IndosatVOIP bukan merupakan calon
pesaing kuat. Mereka kini malah disibukkan oleh persaingan dengan operator
VOIP ilegal, bukan dari sambungan internasional melainkan dari SLJJ
(sambungan langsung jarak jauh) yang juga dirambah para operator itu. "Untuk
SLI dan SLJJ mereka bisa memberi diskon sampai 50 persen," ujar Arief
Musta'in.
Menurut keterangan, para operator itu menyewa E-1 dari pemilik satelit
dengan standar G703 yang secara fraksional mampu menyediakan lebar pita
(bandwidth) tak terbatas (n X 64), tergantung kebutuhan (bandwidth on
demand). Dengan E-1 itu pula mereka bisa memberikan layanan SLJJ sepanjang
mereka memiliki POP (point of present) di kota-kota tujuan panggilan
telepon.
Kemudahan menggunakan VOIP oleh operator ilegal ini juga ditunjang
oleh gampangnya membeli VOIP gateway di pasar bebas, misalnya dari Cisco.
Dengan cara ini, perusahaan yang punya kantor cabang yang memiliki jaringan
komunikasi data ketika membeli router baru otomatis dapat membuka dan
memanfaatkan VOIP yang tersedia di dalamnya. Kecenderungan ini yang
tampaknya akan mengancam pasar PT Telkom dan tahun depan juga PT Indosat di
SLJJ.
Bahkan dengan teknologi baru, sirkit sewa yang dimanfaatkan oleh
bank-bank untuk suara, data dan faksimili ke kantor-kantor cabangnya atau ke
ATM-ATM, nantinya bisa dikembangkan menjadi VOIP untuk kepentingan mereka
sendiri. Misalnya sebuah bank berpusat di Jakarta, punya leased line ke
kantor-kantor cabang antara lain ke Makassar, sehingga kontak kantor pusat
dengan Makassar menjadi lokal. Lebih jauh, sambungan dari Jakarta ke Maros
menjadi lokal 2, sebab pembicaraan ke Maros hanya dihitung dari Makassar.
VOIP memang bisnis menggiurkan sementara meresapnya teknologi tidak
akan bisa dibendung, hanya bisa dibatasi oleh peraturan perundangan. Tanpa
aturan yang jelas dan ketat, bisnis VOIP menjadi bisnis hutan belantara yang
persaingannya tidak sehat, mematikan yang resmi dan mengurangi kesempatan
pemerintah mendapat pemasukan dari pajak.
-- Binary/unsupported file stripped by Ecartis --
-- Type: image/jpeg
-- File: 2705ha26.jpg
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Kapak Perang Sudah Digali di Bisnis VOIP