[UntirtaNet] Kabel Listrik Ternyata Pipa Besar yang Dapat Dialiri Data

JARINGAN fiber optik yang dimiliki PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara (=
PLN) ternyata merupakan jaringan komunikasi dan transfer data yang andal.=
 Kabel listrik tersebut cukup potensial untuk memenuhi kebutuhan komunika=
si masyarakat Indonesia, sebab jaringan fiber optik milik PLN ternyata se=
perti pipa besar yang dapat dialiri data.

Saking hebatnya, kecepatan transfer data dari jaringan fiber optik jauh leb=
ih besar dari jaringan telepon milik PT Telkom. Keberhasilan transfer dat=
a melalui fiber optik milik PLN ini, mampu mengantar data hingga kecepata=
n 2 Mega byte per detik (Mbps) hingga 4,5 Mbps.

Melihat potensi tersebut, PLN kemudian mendirikan anak perusahaan yang akan=
 mengurus penggunaan jaringan telekomunikasi lewat kabel listrik (power l=
ine communication) tersebut bernama PT In-donesia Comnets Plus atau lebih=
 dikenal dengan nama dagangnya ICON+ (red: baca Icon plus). Perusahaan in=
i didirikan pada tanggal 3 Oktober 2000, sebagai pendorong pengembangan t=
eknologi telekomunikasi dan informasi muktahir di Indonesia.

Meskipun baru resmi berdiri sebagai anak perusahaan PLN pada tahun 2000, na=
mun sebenarnya ICON+ sudah mulai berjalan lebih awal pada tahun 1997. Mak=
anya tak heran, jika saat ini sudah memiliki 20 unit sambungan telepon ya=
ng digunakan oleh 20 keluarga karyawan PLN yang tinggal di Perumahan Kary=
awan PLN Duren Tiga, Jakarta.

Bila anda memasuki Perumahan PLN di Jalan Duren Tiga, maka di beberapa tian=
g listrik tampak dipasangi boks sebesar kotak obat yang dinamakan repeate=
r pada puncak tiang. Jangkauan alat ini terbatas, hanya sejauh radius 200=
 meter, makin jauh dari alat ini kecepatan jaringan dalam mengantar data =
semakin lambat.

Repeater ini berada antara alat yang dinamakan consentrator unit (CU) yang =
berada dalam gardu terdekat dari wilayah dilayani dengan network terminat=
ion (NT) yang berada di dalam rumah. Dengan NT, setiap rumah yang berada =
dalam radius 200 meter dari satu repeater dipastikan dapat berkomunikasi =
dalam jaringan telepon milik ICON+.

"Kami memang masih mencoba secara internal, kepada karyawan PLN terlebih da=
hulu. Hasilnya bagus, mereka bisa berkomunikasi dan menggunakan internet =
dengan kecepatan akses yang melebihi kemampuan jaringan telepon PT Telkom=
," ujar Presiden Direktur ICON+, Waluyo Nugroho Harjowinoto.

Sebanyak 20 sambungan telepon yang dipasang telah membuktikan bahwa jaringa=
n kabel listrik betul-betul mampu digunakan sebagai alat komunikasi di pe=
rumahan. Setelah dipasang sejak bulan Agustus 2001, jaringan telepon lewa=
t kabel listrik itu terbukti dapat memenuhi syarat VOIP karena bisa digun=
akan menerima dan mengirim sambungan telepon, termasuk untuk penggunaan i=
nternet.

Makanya, menurut Waluyo, selanjutnya ICON+ akan mencoba menambah 400 unit s=
ambungan telepon yang baru, dan disebar ke beberapa kota, di antaranya Se=
marang, Bandung, Surabaya dan Semarang. Rencana tersebut diperkirakan sud=
ah dapat direalisasikan pada akhir tahun 2002.

"Pokoknya kalau kita sudah bisa menambah 400 unit tahun ini dan berhasil di=
operasikan tanpa kendala, maka berarti kita tak akan menemui masalah sean=
dainya harus menambah 1.000 unit telepon. Selanjutnya ICON+ akan menyusun=
 pola bisnisnya, kemudian mencoba mengajukan tagihan kepada penggunanya, =
terutama dalam pemakaian internet," ujar Waluyo.

Namun, sayangnya, meskipun jumlahnya sudah mencapai 1.000 unit, namun hubun=
gan telepon dipastikan hanya sesama pengguna jaringan kabel listrik saja.=
 Sebab ICON+ belum memiliki kerja sama dengan penyelenggara jasa telekomu=
nikasi lainnya di Indonesia, sehingga pemakainya belum dapat melakukan hu=
bungan interkoneksi dengan pelanggan jaringan telepon lain.

Waluyo mengutarakan, jika perusahaannya dibukakan jalan oleh pemerintah unt=
uk mengadakan usaha jasa telekomunikasi, maka segera akan menggelar jasa =
tersebut secara komersil. Pokoknya ICON+ akan segera membuka kerja sama d=
engan Telkom, atau perusahaan lainnya agar antarpelanggan dapat saling be=
rhubungan telepon.

Menyinggung mengenai harga pemasangan dan tarif telepon, dia mengatakan aka=
n semakin murah jika skala pemakaian semakin besar di masyarakat. Biaya p=
emakaian mungkin akan dikenakan secara flat, tetapi biaya pemasangan dipe=
rkirakan tidak akan melebihi 350 dollar AS, bila perlu ditekan hanya 275 =
dollar AS, berbeda dengan Telkom yang butuh biaya 1.000 dollar per satuan=
 sambungan telepon (SST).


***
SEBENARNYA sudah sejak lama, PLN memanfaatkan jaringan listriknya, berupa k=
abel bertegangan tinggi, jaringan radio microwave sebagai infrastruktur t=
elekomunikasi internal. Kemudian pada tahun 1994, PLN kemudian baru meman=
faatkan jaringan broadband fiber optik digital, sebagai sistem telekomuni=
kasi yang digunakan untuk berkomunikasi internal dan transmisi data bagi =
keperluan operasi tenaga listrik PLN di Pulau Jawa.

Belakangan, PLN sadar bahwa kapasitas jaringan komunikasi yang dimiliki dir=
asakan sangat berlebih jika digunakan hanya untuk urusan internal PLN. At=
as dasar itu, didirikan ICON+ untuk memberdayakan kelebihan jaringan ters=
ebut, sekaligus mengembangkan pemanfaatan right of ways (RoW) yang dimili=
ki jaringan kabel bertegangan dan data base pelanggan seluruh Indonesia.

Sebelum melakukan percobaan di 20 rumah milik karyawan PLN, ICON+ terlebih =
dahulu melakukan survai dan mewawancarai calon pelanggannya. Dalam kesemp=
atan tersebut, memang muncul keraguan dari pelanggan, menyangkut bahaya d=
an biaya listrik yang dapat ditimbulkan. Namun setelah berjalan lama, bar=
u sadar tidak berbahaya sama sekali dan biaya listrik yang dikeluarkan ha=
nya berkisar Rp 3.000 hingga Rp 10.000 per bulan untuk biaya listrik dari=
 peralatan yang digunakan di dalam rumah.

Sebenarnya di dunia, penggunaan kabel listrik untuk alat komunikasi sudah s=
ejak lama dikenal di Benua Eropa, namun kebanyakan digunakan hanya untuk =
mengakses internet. Sementara di negara ASEAN, Malaysia, dan Singapura su=
dah memulai penggunaan jasa tersebut kepada warganya secara komersial.

Aset berupa jaringan fiber optik yang dimiliki, ICON+ menyediakan jasa broa=
dband yang berasal dari penyelenggara telekomunikasi, operator seluler, p=
erusahaan broadcast televisi, penyelenggara jasa internet (ISP) dan penye=
dia materi siar multimedia. Untuk ISP, ICON+ menyediakan kapasitas broadb=
and berkecepatan tinggi agar dapat digunakan untuk menjangkau daerah terp=
encil.

Menyinggung mengenai potensi di Indonesia, Waluyo mengatakan cukup besar, s=
ebanyak pelanggan PLN yang berjumlah 15 juta. Jika yang memanfaatkan jasa=
 tersebut hanya 10 persen dari pelanggan PLN, berarti sudah 1,5 juta pela=
nggan. "Pokoknya kalau naik pesawat di malam hari, dan melihat titik lamp=
u, maka sebanyak itulah potensi pasar dari ICON+," tambahnya.

Soal izin pemerintah kepada ICON+ untuk merealisasikan usahanya, Waluyo men=
gatakan bahwa sesuai Undang-Undang Telekomunikasi Nomor 36 Tahun 1999, di=
sebutkan bahwa pemerintah akan mencabut hak eksklusivitas PT Telkom pada =
tahun 2002-2003. Jadi akan ada liberalisasi, kalaupun di-review, maka pen=
yelenggara lain bisa memberikan kompensasi kepada Telkom untuk masuk ke b=
isnis telekomunikasi.

Waluyo juga mengatakan, dirinya sebenarnya menginginkan potensi penggunaan =
kabel listrik sebagai jaringan telepon menjadi bermanfaat tanpa adanya ko=
mpetisi. Artinya jaringan milik PLN jangan menjadi eksklusif, tetapi dapa=
t juga digunakan Telkom, sebagaimana saat ini berupaya menambah jaringann=
ya.

Namun, sebenarnya ICON+ tidak perlu terlalu khawatir tak akan mendapatkan r=
estu menjadi penyelenggara telekomunikasi, sebab sebenarnya pemerintah te=
lah berniat dengan sugguh-sungguh untuk tidak membatasi lagi jumlah opera=
tor telekomunikasi. Tentu termasuk kepada PLN yang melalui anak perusahaa=
nnya ICON+ untuk menjadi penyelenggara jasa melalui kabel listrik.

Niat pemerintah tersebut, didorong keinginan untuk mempercepat penetrasi pe=
nggunaan telepon di dalam negeri dan mencegah adanya sistem duopoli yang =
selama ini dipegang PT Telkom dan PT Indosat. Jadi ICON+ sudah harus memp=
ersiapkan diri dan lebih mempopulerkan teknologi ini kepada masyarakat lu=
as, sebelum betul-betul terjun ke dalam bisnis telekomunikasi di dalam ne=
geri.=20

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0205/28/iptek/kabe31.htm
Yayan tea
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: