[UntirtaNet] Ibnu 'Araby Imam Para Filsuf Sufi

Jumat, 03 Mei 2002

Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam
percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf
besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah
Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di
Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu 'Araby bernama
lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin
Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu
Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan
al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul
Ahmar.

Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli
zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan
kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada
anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul
Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia.

Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan
intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan
kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih
dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja
sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang
astrologi dan kosmologi.

Meski Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad
bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah
untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul
Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk
masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry, Ibnu
'Araby sama sekali tidak bertaklid kepada mereka. Bahkan ia sendiri menolak
keras taklid.

Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan
Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir
seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat
cemerlang.

"Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati
kosong dari kontemplasi pemikiran. Kami bermunajat dan dialog dengan Allah
di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima
apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran
bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan
pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.

Jalan tengah
Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu 'Araby akhirnya menempuh jalan
halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat
dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul
Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang
memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak
menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian
ukhrawi.

Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia
menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama
tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun,
Ibnu 'Araby telah menjadi sufi terkenal.

Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa'its
(instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong
ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya
ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya
dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni
hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada
mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan
(tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya.

Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh
karya Ibnu 'Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai
cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada
lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik
dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan
hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.

Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang
menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan
mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma'rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah
dan iman satu-satunya dalam pandangan 'Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa
dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan.

Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa,
serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang
diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini
bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya
merupakan penampilan al-Haq.

Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya.
Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah
laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq,
dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.

Kontroversial
Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat
tasawuf Ibnu 'Araby, terutama kaum fuqaha' dan ahli hadis, sebagai sangat
kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang
dianggap condong pada pantheisme.

Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu 'Araby
banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya
kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap 'Araby telah kufur,
misalnya Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah, dan beberapa pengikutnya yang
menilainya sebaga 'kafir'.

Memang pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah
bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah
masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau
begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak
memahami makna sebenarnya," komentar Ibnu Taimiyah.

Di Indonesia, ketersesatan memahami Ibnu 'Araby juga terjadi khususnya di
Jawa, ketika aliran kebatinan Jawa Singkretik dengan tasawuf Ibnu 'Araby.
Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang
menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan
dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu 'Araby. Bahkan di pulau padat penduduk ini,
sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama
Tuhan. Karena itulah, untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu 'Araby,
harus disertai tarekat secara penuh, komprehensif dan iluminatif.

Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai
sedikitnya 560 kitab dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Malah
ada yang mengatakan, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2.000
judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir yang terdiri 90
jilid, dan ensiklopedi tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur,
yakni Futuhatul Makkiyah (8 jilid), serta Futuhatul Madaniyah.

Sementara karya yang tergolong paling sulit dan penuh metafora adalah
Fushushul Hikam. Dalam lentera karya dan pemikirannya itulah, ia begitu kuat
mewarnai dunia intelektualisme Islam universal.
sumber: http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=73353&kat_id=33

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: