[UntirtaNet] Re: Di Balik Aksi Bom Bunuh Diri Palestina

just test E-mail, pls forward......

> -----Original Message-----
> From: Irianto, Yayan [SMTP:yayantea@xxxxxxxxxxxxx]
> Sent: Monday, May 13, 2002 7:37 AM
> To:   untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
> Subject:      [UntirtaNet] Di Balik Aksi Bom Bunuh Diri Palestina 
> 
>       Di Balik Aksi Bom Bunuh Diri Palestina
>        Sudirman HN, Pemerhati masalah sosial politik
> 
> 
>       KAMPANYE militer Israel di Tepi Barat seperti diduga sebelumnya
> tidak
> akan mampu menghentikan aksi-aksi bom bunuh diri Palestina. Selasa (7/5),
> seorang pelaku bom bunuh diri kembali meledakkan sebuah bom yang ditenteng
> dalam sebuah tas di sebuah klub biliar di Israel tengah, menewaskan
> sekitar
> 15 orang. Stasiun televisi Al-Manar milik gerilyawan Hizbullah di Lebanon
> mengatakan, kelompok milisi Hamas mengklaim bertanggung jawab atas
> peristiwa
> itu (Media Indonesia, 9/5). Rentetan aksi bom bunuh diri itu menunjukkan
> melesetnya asumsi Perdana Menteri (PM) Israel, Ariel Sharon, yang
> berkali-kali menegaskan bahwa serangannya ke kota-kota Palestina ditujukan
> untuk menghancurkan 'infrastruktur terorisme' dan sebagai 'penjeraan'
> (deterrent) terhadap aksi-aksi bom bunuh diri.
> 
>       Asumsi Sharon yang keliru itu tidak bisa dilepaskan dari
> kegagalannya
> memahami profil, psikologi, dan motivasi aksi-aksi bom bunuh diri itu.
> Kegagalan serupa sebenarnya juga dialami banyak pemimpin negara-negara
> Barat. Kegagalan pemahaman itu dapat dilihat sejak pada pilihan kata yang
> mereka pakai untuk melabeli dan melacak motivasi para pelaku bom bunuh
> diri
> itu. Sharon, George W Bush (Presiden Amerika Serikat), Toni Blair (PM
> Inggris), dan John Howard (PM Australia) melabeli mereka sebagai 'evil'
> dan
> 'monster' (The Courier Mail, 2/4). Mereka menganggap para pelaku aksi bom
> bunuh diri itu adalah para pengidap gangguan jiwa (personal
> psychopatology)
> dan memiliki penghargaan terhadap diri yang rendah (low self esteem).
> Mereka
> secara arbitrer menghubungkan pula motivasi para pelaku bom bunuh diri
> dengan apa yang mereka sebut sebagai pseudo religious fantasy dalam ajaran
> Islam yang menganjurkan pengorbanan diri (syahid) sebagai jalan pintas
> menuju surga.
> 
>       Labelisasi ala Sharon, Bush, Blair, dan Howard itu tampaknya mulai
> banyak diragukan, bahkan di kalangan masyarakat Barat sendiri. Paul
> Wilson,
> seorang psikolog asal Australia, membantah hal tersebut dengan mengajukan
> hasil penelitian bahwa para pelaku bom bunuh diri itu bukanlah pengidap
> kelainan jiwa dan kepercayaan diri yang rendah. Motivasi mereka pun tidak
> secara linier terkait dengan agama, namun lebih pada perjuangan politik
> dan
> identitas (Blowing Away the Myths, 2002). Ia menegaskan bahwa pelabelan
> para
> pelaku bom bunuh diri itu sebagai evil atau monster bersifat simplistis
> dan
> menyesatkan.
> 
>       Argumen Wilson tersebut didukung pula oleh penelitian yang dilakukan
> Ariel Merari, profesor psikologi dari Universitas Tel Aviv-Israel. Merari
> melakukan otopsi psikologis terhadap para pelaku aksi bom bunuh diri itu
> bersama koleganya yang berkebangsaan Palestina, Eyad Sarraj dari
> Independent
> Commission for Citizens Rights. Kedua ahli ini tidak menemukan kelainan
> psikologis yang bermakna dari para pelaku bom bunuh diri itu. Menurut
> mereka, motivasi para pelaku bom bunuh diri itu sangat kompleks, sama
> komplesknya dengan konflik Palestina-Israel itu sendiri. Namun, paling
> tidak
> mereka menemukan adanya korelasi yang sangat signifikan antara
> keputusasaan
> (desperation), ketiadaan harapan (sense of hopeless), kecemasan terhadap
> masa depan (anxiety), dan keinginan meneguhkan identitas (struggle for
> identity) dari kalangan pemuda Palestina dengan aksi-aksi bom bunuh diri
> itu.
> 
>       Keputusasaan, ketiadaan harapan, kecemasan terhadap masa depan dan
> keinginan meneguhkan identitas itu tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa
> anak-anak muda Palestina dibesarkan dalam lingkungan yang sarat kekerasan
> (violence, penghinaan (humiliation), pelecehan (harrashment) dari aparat
> militer Israel, dan perasaan diabaikan (being neglected) oleh masyarakat
> internasional. Lingkungan yang tidak bersahabat itu yang membuat banyak di
> antara mereka kemudian mempercayai bahwa aksi bom bunuh diri adalah
> satu-satunya pilihan untuk menandingi Israel yang memiliki kekuatan
> militer
> yang jauh lebih superior itu.
> 
>       Upaya penghentian
> 
>       Keberlangsungan aksi-aksi bom bunuh diri itu ditunjang pula oleh
> dukungan masyarakat yang kian meningkat. David van Biema mencatat bahwa
> pada
> awal 1996 lalu hanya 20% masyarakat Palestina mendukung aksi-aksi bom
> bunuh
> diri itu. Namun, sejak 2001 lalu tingkat dukungan masyarakat meningkat
> menjadi 70% ('Why The Bombers Keep Coming', Time, 17/12/2001).
> 
>       Merari dan Sarraj memberikan gambaran profil umumnya pelaku bom
> bunuh
> diri Palestian itu (lebih dari 70 kasus sejak penandatanganan kesepakatan
> Oslo pada 1993). Yakni berada pada akhir masa remaja (awal 20-an tahun),
> belum menikah, sebagian besar lelaki. Dua pertiga dari mereka merumur
> antara
> 18 - 23 tahun dan menamatkan sekolah menengah. Namun, cukup banyak pula di
> antara mereka yang tamatan perguruan tinggi. Sebagian besar di antara
> mereka
> (diri mereka sendiri atau keluarga dekat mereka) memiliki pengalaman
> disakiti, dianiaya, dan dilecehkan oleh pihak Israel.
> 
>       Meskipun sebagian besar pelaku bom bunuh diri itu adalah lelaki,
> saat
> ini mulai muncul gejala baru, meningkatnya pelaku bom bunuh diri dari
> kalangan perempuan. Ayat Akhras, 18 tahun, yang meledakkan diri di luar
> sebuah supermarket di Israel beberapa waktu lalu, adalah salah satu contoh
> gejala tersebut.
> 
>       Juru bicara kelompok Al Aqsa menegaskan bahwa saat ini di Betlehem
> saja ada sekitar 200 perempuan yang siap mengorbankan dirinya. Besar
> kemungkinan ini bukan sebuah retorika kosong belaka. Menurut Wilson, tidak
> diragukan lagi bahwa di seluruh Palestina saat ini kemungkinan ada ribuan
> perempuan dan puluhan ribu laki-laki yang bersedia menjadi pelaku bom
> bunuh
> diri bila tekanan Israel makin tak terperikan.
> 
>       Fakta dan data yang diajukan Wilson, Merari, Sarraj, dan Biema di
> atas
> secara jelas menunjukkan bahwa asumsi dan pelabelan ala Sharon, Bush,
> Blair,
> dan Howard terhadap para pelaku bom bunuh diri Palestina itu lebih sebagai
> mitos belaka. Apalagi karena pelabelan seperti itu juga secara implisit
> sebenarnya bersifat stigmatis terhadap Islam. Padahal aksi-aksi bom bunuh
> diri itu bukan hanya dilakukan oleh kalangan Islam. Para pejuang Palestina
> pun bukan hanya berasal dari kalangan Islam namun juga kalangan Kristen.
> Gerilyawan Tamil Eelam di Sri Lanka yang beragama Hindu juga terkenal
> dengan
> aksi-aksi bom bunuh dirinya.
> 
>       Betapa pun sulit dipungkiri bahwa aksi-aksi bom bunuh diri itu
> adalah
> konsekuensi dari tindakan-tindakan kekerasan Israel sendiri. Upaya
> mengakhiri aksi bom bunuh diri Palestina hanya dapat dilakukan bila solusi
> politik yang adil bisa diwujudkan di antara kedua belah pihak.
> 
>       Adalah ilusi belaka bila Sharon dan pemimpin-pemimpin garis keras
> Israel lainnya beranggapan bahwa aksi-aksi bom bunuh diri itu bisa
> dihentikan dengan menghancurkan kota-kota Palestina, mengisolasi bahkan
> membunuh pemimpin Palestina Yasser Arafat. Kematian Arafat justru akan
> membuatnya menjadi martir yang makin mengentalkan memori kolektif
> (collective memory) masyarakat Palestina akan kebiadaban Israel. Arafat
> dan
> pemimpin-pemimpin Palestina lainnya juga tidak akan mampu menghentikan
> aksi-aksi bom bunh diri itu bila Israel tetap saja melanjutkan aksi-aksi
> brutalnya. Hanya pengakhiran lingkaran keputusasaan, ketiadaan harapan,
> kecemasan terhadap masa depan yang melanda masyarakat Palestina yang
> potensial menghentikan aksi-aksi bom bunuh diri itu. ***
> 
> 
> 
> sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002051223244443
> 
> 
> -- Binary/unsupported file stripped by Ecartis --
> -- Type: image/gif
> -- File: redbox.gif
> 
> 
> -- Binary/unsupported file stripped by Ecartis --
> -- Type: image/gif
> -- File: spacer.gif
> 
> 
> ===============================================================
> (C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
> Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
> dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
> Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
> Subject 'Subscribe' atau lansung ke
> http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
> list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
> Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
> --------------------------------------------------------------------------
> -
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: