[UntirtaNet] Di Balik Aksi Bom Bunuh Diri Palestina

      Di Balik Aksi Bom Bunuh Diri Palestina
       Sudirman HN, Pemerhati masalah sosial politik


      KAMPANYE militer Israel di Tepi Barat seperti diduga sebelumnya tidak
akan mampu menghentikan aksi-aksi bom bunuh diri Palestina. Selasa (7/5),
seorang pelaku bom bunuh diri kembali meledakkan sebuah bom yang ditenteng
dalam sebuah tas di sebuah klub biliar di Israel tengah, menewaskan sekitar
15 orang. Stasiun televisi Al-Manar milik gerilyawan Hizbullah di Lebanon
mengatakan, kelompok milisi Hamas mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa
itu (Media Indonesia, 9/5). Rentetan aksi bom bunuh diri itu menunjukkan
melesetnya asumsi Perdana Menteri (PM) Israel, Ariel Sharon, yang
berkali-kali menegaskan bahwa serangannya ke kota-kota Palestina ditujukan
untuk menghancurkan 'infrastruktur terorisme' dan sebagai 'penjeraan'
(deterrent) terhadap aksi-aksi bom bunuh diri.

      Asumsi Sharon yang keliru itu tidak bisa dilepaskan dari kegagalannya
memahami profil, psikologi, dan motivasi aksi-aksi bom bunuh diri itu.
Kegagalan serupa sebenarnya juga dialami banyak pemimpin negara-negara
Barat. Kegagalan pemahaman itu dapat dilihat sejak pada pilihan kata yang
mereka pakai untuk melabeli dan melacak motivasi para pelaku bom bunuh diri
itu. Sharon, George W Bush (Presiden Amerika Serikat), Toni Blair (PM
Inggris), dan John Howard (PM Australia) melabeli mereka sebagai 'evil' dan
'monster' (The Courier Mail, 2/4). Mereka menganggap para pelaku aksi bom
bunuh diri itu adalah para pengidap gangguan jiwa (personal psychopatology)
dan memiliki penghargaan terhadap diri yang rendah (low self esteem). Mereka
secara arbitrer menghubungkan pula motivasi para pelaku bom bunuh diri
dengan apa yang mereka sebut sebagai pseudo religious fantasy dalam ajaran
Islam yang menganjurkan pengorbanan diri (syahid) sebagai jalan pintas
menuju surga.

      Labelisasi ala Sharon, Bush, Blair, dan Howard itu tampaknya mulai
banyak diragukan, bahkan di kalangan masyarakat Barat sendiri. Paul Wilson,
seorang psikolog asal Australia, membantah hal tersebut dengan mengajukan
hasil penelitian bahwa para pelaku bom bunuh diri itu bukanlah pengidap
kelainan jiwa dan kepercayaan diri yang rendah. Motivasi mereka pun tidak
secara linier terkait dengan agama, namun lebih pada perjuangan politik dan
identitas (Blowing Away the Myths, 2002). Ia menegaskan bahwa pelabelan para
pelaku bom bunuh diri itu sebagai evil atau monster bersifat simplistis dan
menyesatkan.

      Argumen Wilson tersebut didukung pula oleh penelitian yang dilakukan
Ariel Merari, profesor psikologi dari Universitas Tel Aviv-Israel. Merari
melakukan otopsi psikologis terhadap para pelaku aksi bom bunuh diri itu
bersama koleganya yang berkebangsaan Palestina, Eyad Sarraj dari Independent
Commission for Citizens Rights. Kedua ahli ini tidak menemukan kelainan
psikologis yang bermakna dari para pelaku bom bunuh diri itu. Menurut
mereka, motivasi para pelaku bom bunuh diri itu sangat kompleks, sama
komplesknya dengan konflik Palestina-Israel itu sendiri. Namun, paling tidak
mereka menemukan adanya korelasi yang sangat signifikan antara keputusasaan
(desperation), ketiadaan harapan (sense of hopeless), kecemasan terhadap
masa depan (anxiety), dan keinginan meneguhkan identitas (struggle for
identity) dari kalangan pemuda Palestina dengan aksi-aksi bom bunuh diri
itu.

      Keputusasaan, ketiadaan harapan, kecemasan terhadap masa depan dan
keinginan meneguhkan identitas itu tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa
anak-anak muda Palestina dibesarkan dalam lingkungan yang sarat kekerasan
(violence, penghinaan (humiliation), pelecehan (harrashment) dari aparat
militer Israel, dan perasaan diabaikan (being neglected) oleh masyarakat
internasional. Lingkungan yang tidak bersahabat itu yang membuat banyak di
antara mereka kemudian mempercayai bahwa aksi bom bunuh diri adalah
satu-satunya pilihan untuk menandingi Israel yang memiliki kekuatan militer
yang jauh lebih superior itu.

      Upaya penghentian

      Keberlangsungan aksi-aksi bom bunuh diri itu ditunjang pula oleh
dukungan masyarakat yang kian meningkat. David van Biema mencatat bahwa pada
awal 1996 lalu hanya 20% masyarakat Palestina mendukung aksi-aksi bom bunuh
diri itu. Namun, sejak 2001 lalu tingkat dukungan masyarakat meningkat
menjadi 70% ('Why The Bombers Keep Coming', Time, 17/12/2001).

      Merari dan Sarraj memberikan gambaran profil umumnya pelaku bom bunuh
diri Palestian itu (lebih dari 70 kasus sejak penandatanganan kesepakatan
Oslo pada 1993). Yakni berada pada akhir masa remaja (awal 20-an tahun),
belum menikah, sebagian besar lelaki. Dua pertiga dari mereka merumur antara
18 - 23 tahun dan menamatkan sekolah menengah. Namun, cukup banyak pula di
antara mereka yang tamatan perguruan tinggi. Sebagian besar di antara mereka
(diri mereka sendiri atau keluarga dekat mereka) memiliki pengalaman
disakiti, dianiaya, dan dilecehkan oleh pihak Israel.

      Meskipun sebagian besar pelaku bom bunuh diri itu adalah lelaki, saat
ini mulai muncul gejala baru, meningkatnya pelaku bom bunuh diri dari
kalangan perempuan. Ayat Akhras, 18 tahun, yang meledakkan diri di luar
sebuah supermarket di Israel beberapa waktu lalu, adalah salah satu contoh
gejala tersebut.

      Juru bicara kelompok Al Aqsa menegaskan bahwa saat ini di Betlehem
saja ada sekitar 200 perempuan yang siap mengorbankan dirinya. Besar
kemungkinan ini bukan sebuah retorika kosong belaka. Menurut Wilson, tidak
diragukan lagi bahwa di seluruh Palestina saat ini kemungkinan ada ribuan
perempuan dan puluhan ribu laki-laki yang bersedia menjadi pelaku bom bunuh
diri bila tekanan Israel makin tak terperikan.

      Fakta dan data yang diajukan Wilson, Merari, Sarraj, dan Biema di atas
secara jelas menunjukkan bahwa asumsi dan pelabelan ala Sharon, Bush, Blair,
dan Howard terhadap para pelaku bom bunuh diri Palestina itu lebih sebagai
mitos belaka. Apalagi karena pelabelan seperti itu juga secara implisit
sebenarnya bersifat stigmatis terhadap Islam. Padahal aksi-aksi bom bunuh
diri itu bukan hanya dilakukan oleh kalangan Islam. Para pejuang Palestina
pun bukan hanya berasal dari kalangan Islam namun juga kalangan Kristen.
Gerilyawan Tamil Eelam di Sri Lanka yang beragama Hindu juga terkenal dengan
aksi-aksi bom bunuh dirinya.

      Betapa pun sulit dipungkiri bahwa aksi-aksi bom bunuh diri itu adalah
konsekuensi dari tindakan-tindakan kekerasan Israel sendiri. Upaya
mengakhiri aksi bom bunuh diri Palestina hanya dapat dilakukan bila solusi
politik yang adil bisa diwujudkan di antara kedua belah pihak.

      Adalah ilusi belaka bila Sharon dan pemimpin-pemimpin garis keras
Israel lainnya beranggapan bahwa aksi-aksi bom bunuh diri itu bisa
dihentikan dengan menghancurkan kota-kota Palestina, mengisolasi bahkan
membunuh pemimpin Palestina Yasser Arafat. Kematian Arafat justru akan
membuatnya menjadi martir yang makin mengentalkan memori kolektif
(collective memory) masyarakat Palestina akan kebiadaban Israel. Arafat dan
pemimpin-pemimpin Palestina lainnya juga tidak akan mampu menghentikan
aksi-aksi bom bunh diri itu bila Israel tetap saja melanjutkan aksi-aksi
brutalnya. Hanya pengakhiran lingkaran keputusasaan, ketiadaan harapan,
kecemasan terhadap masa depan yang melanda masyarakat Palestina yang
potensial menghentikan aksi-aksi bom bunuh diri itu. ***



sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002051223244443


-- Binary/unsupported file stripped by Ecartis --
-- Type: image/gif
-- File: redbox.gif


-- Binary/unsupported file stripped by Ecartis --
-- Type: image/gif
-- File: spacer.gif


===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: