[UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"

Hussss....nu eta mah 'pelem'...ceuk abah jambrong oge...he..he..he.

----- Original Message -----
From: "Entang Kusmana" <entangk@xxxxxxxxxxxxx>
To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
Sent: Wednesday, May 15, 2002 8:56 PM
Subject: [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"


>
> Kalau Nine Irianto mah menjadi momok buat Irianto yah, he he.
>
> ----- Original Message -----
> From: "yayantea" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
> To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
> Sent: Tuesday, May 14, 2002 7:44 PM
> Subject: [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
>
>
> >
> > Mungkin berita ini bagus buat referensi mas buyung
> > yang mau lancong ke Atlanta ... :)
> > ---------------------------------------------------
> >
> > KATA Nine One One, Nine Eleven atau September Eleven rupanya masih
menjadi
> =
> > momok yang amat menakutkan bagi sebagian besar warga Amerika Serikat
(AS)=
> > , meski tragedi 11 September 2001 sudah delapan bulan berlalu.
> >
> > Tragedi yang diperkirakan menewaskan sekitar 2.872 orang itu di New York
> da=
> > n Pentagon itu begitu amat membekas, bahkan tetesan air mata masih saja
m=
> > engucur dari setiap orang yang mengunjungi Ground Zero, lokasi di mana
du=
> > a menara kembar World Trade Center (WTC) luluh lantak akibat serangan
ter=
> > oris.
> >
> > Paling tidak, suasana ini masih terasa kental saat 10 wartawan dari Asia
> Te=
> > nggara, termasuk Kompas mengunjungi New York dan enam negara bagian
lainn=
> > ya di AS, 9 Maret hingga 6 April 2002. Hampir semua surat kabar di
negara=
> >  bagian itu menghiasi lembar korannya dengan profil dan potret korban
tra=
> > gedi itu, termasuk kenangan-kenangan manis dari keluarga yang
ditinggalka=
> > n.
> >
> > "Tragedi itu amat memilukan, sulit dilupakan bagi kami yang tertimpa
> musiba=
> > h ini. Hingga hari ini, suasana hati kami masih terasa pedih dan perih,"
=
> > kenang Jo Flo, warga New York yang kehilangan tiga anggota keluarganya
da=
> > lam tragedi September Eleven itu.
> >
> > Tidak hanya Jo yang terus meratapi musibah itu, ribuan orang yang setiap
> ha=
> > ri mengunjungi Ground Zero ikut terpana dan terpaku menyaksikan barang
pe=
> > ninggalan korban, baik berupa foto korban, pakaian-pakaian yang masih
ter=
> > sisa, bercak darah, serta puisi-puisi dan bendera AS yang dipajang
memanj=
> > ang hingga ratusan meter, mulai dari salah satu blok di dekat Gereja St
P=
> > aul hingga lokasi Ground Zero.
> >
> > Bahkan, seorang wanita hanyut dengan emosional yang mendalam, ketika
> merata=
> > pi bunga-bunga yang berserakan pada sebuah taman di dekat lokasi tragedi
=
> > itu. "Saya ikut merasakan begitu kejamnya teroris itu. Saya tak habis
pik=
> > ir bagaimana peristiwa itu bisa terjadi," ujarnya sambil menahan isakan
t=
> > angisnya.
> >
> >
> > ***
> > TRAUMA memang masih menyelimuti Kota New York dan kota lainnya di AS.
> Penga=
> > manan superketat sangat mencolok di berbagai penjuru Kota New York,
puluh=
> > an aparat keamanan dengan senjata lengkap selalu siaga di penjuru kota
it=
> > u.
> >
> > Pemandangan yang sama juga ditemukan pada setiap bandar udara (bandara)
di
> =
> > negeri Paman Sam itu. Wajah garang yang pelit senyum dengan senjata
laras=
> >  panjang di punggung, serta mata liar yang selalu memandang curiga,
menja=
> > di pemandangan biasa pada 11 bandara yang dikunjungi 10 wartawan Asia
Ten=
> > ggara yang mengikuti program kunjungan internasional yang
diselenggarakan=
> >  Departemen Luar Negeri AS itu.
> >
> > "Sejak tragedi itu, pengamanan di setiap bandara memang superketat. Alat
> cu=
> > kur pun haram masuk ke negeri ini, karena semua barang Anda akan
diperiks=
> > a dengan X-ray," ujar George Nassif, pendamping program itu kepada
wartaw=
> > an.
> >
> > Ia benar-benar meminta peserta program ini agar menaati pesannya itu,
> kalau=
> >  tak ingin berurusan panjang dengan aparat keamanan bandara.
> >
> > Pesan ini langsung terbukti ketika wartawati Matichon Daily Newspaper
> Bangk=
> > ok, Monthip Thanasook, harus berurusan panjang dengan petugas Bandara La
=
> > Guardia, New York, sesaat rombongan wartawan ini akan meninggalkan New
Yo=
> > rk, menuju Tampa, Florida, 20 Maret 2002 lalu.
> >
> > Ia diperintahkan membongkar bagasi kopernya karena alat X-ray memberi
> sinya=
> > l lampu merah pertanda ditemukannya barang berbahaya di dalam koper
warta=
> > wati itu. Sejumlah penumpang US Airways 2594 menduga ia membawa pisau
lip=
> > at, atau gunting kuku yang sering terbawa di dalam koper, namun ternyata
=
> > mi mangkuk yang mengandung aluminium foil menjadi penyebabnya. Setelah
mi=
> >  mangkuk itu dikeluarkan, alat X-ray tidak lagi memberikan sinyal lampu
m=
> > erah.
> >
> > Sebelum bagasi diperiksa X-ray, petugas di loket lapor lebih dulu
> menginter=
> > ogasi setiap penumpang. Pertanyaan yang selalu dilontarkan petugas
adalah=
> >  apakah penumpang membawa barang berbahaya, apakah bagasi yang dibawa
ter=
> > dapat benda cair, semisal parfum atau bahan kimia lainnya, atau apakah
ba=
> > rang itu sepanjang hari bersama penumpang, serta adakah orang lain yang
m=
> > enitip sesuatu di bagasi tersebut. Meski pertanyaan itu cukup dijawab
den=
> > gan kata "yes" atau "no", tapi petugas biasanya tidak cukup puas, lalu
me=
> > merintahkan bagasi penumpang diperiksa ke meja X-ray.
> >
> > Setelah interogasi di loket lapor dan pemeriksaan X-ray beres, penumpang
> pu=
> > n belum bisa melenggang bebas menuju ruang tunggu. Beberapa petugas
banda=
> > ra dan petugas keamanan pun sudah menanti di pintu ruang tunggu dengan
pe=
> > ralatan metal detector.
> >
> > Bak seorang tersangka teroris, setiap penumpang yang melewati pintu itu
> dim=
> > inta untuk mengangkat kedua tangannya untuk diperiksa dengan alat
tersebu=
> > t. Bahkan, isi kantung yang berisi uang logam dan dompet berisi kartu
kre=
> > dit juga harus dikeluarkan untuk diperiksa secara detail. Tidak jarang,
p=
> > emeriksaan di tempat ini membuat antrean yang sangat panjang.
> >
> > Usai pemeriksaan itu bukan berarti setiap penumpang "bersih" dari
sangkaan
> =
> > teroris. Pemeriksaan diulang lagi saat memasuki pintu boarding, sebelum
m=
> > asuk ke badan pesawat. Pemeriksaan dengan metal detector kembali diulang
=
> > petugas dari perusahaan penerbangan secara acak bagi penumpang yang
dicur=
> > igai.
> >
> > Pemeriksaan superketat ini menjadi langganan bagi wartawan dari Asia
> Tengga=
> > ra ini setiap tiga hari pindah kota dengan menggunakan jasa penerbangan.
=
> > Meski pemeriksaan dilakukan secara acak, namun bagi para wartawan asal
As=
> > ia Tenggara ini tak pernah luput dari pemeriksaan.
> >
> >
> > ***
> > HANYA karena sebatang rokok, wartawan Kompas dan The Jakarta Post juga
> terp=
> > aksa mengenyam pengalaman tak nyaman, diperiksa mulai dari ujung rambut
h=
> > ingga ujung kaki oleh petugas bandara. Bahkan, kaus kaki yang harumnya
cu=
> > kup "semerbak" itu tak luput dari rabaan petugas.
> >
> > Ketika itu, wartawan The Jakarta Post Ridwan Max Sijabat tak tahan lagi
> den=
> > gan rasa asam di mulutnya, akibat lama tak merokok saat menunggu
keberang=
> > katan pesawat yang membawa rombongan wartawan Indonesia dari San
Fransisc=
> > o menuju Washington DC.
> >
> > Oleh karena di dalam bandara tak diperkenankan merokok, ia mengajak
untuk
> m=
> > erokok di luar bandara. Setelah habis sebatang rokok, kami pun kembali
ma=
> > suk ke dalam bandara. Namun rupanya, proses keluar bandara tak
sesederhan=
> > a ketika masuk lagi ke bandara. Kali ini, pemeriksaannya amat luar
biasa,=
> >  selain diperintahkan harus melepaskan jaket penghangat, kami berdua
haru=
> > s melepaskan kedua sepatu yang kami pakai untuk diselidiki. Urusan ini
me=
> > njadikan kami harus berhitung beribu kali untuk mengulangi pengalaman
itu=
> >  hanya karena sebatang rokok.
> >
> > Rupanya, pengalaman membuka sepatu ini tidak hanya dialami dua wartawan
> Ind=
> > onesia, tapi semua wartawan peserta program. Pengalaman ini akhirnya
menj=
> > adi bahan lelucon kami semua karena petugas bandara yang angker-angker
it=
> > u mau-maunya tahan dengan bau sepatu yang cukup menyengat itu.
> >
> >
> > ***
> > SAKING seringnya menghadapi pemeriksaan, hampir semua wartawan dari Asia
> Te=
> > nggara yang melakukan studi banding tentang media di AS selama sebulan
it=
> > u menjadi "ahli" dalam hal security screening, baik untuk dirinya
sendiri=
> >  maupun untuk orang lain.
> >
> > Salah satu yang menjadi ahli dalam bidang ini adalah Endah Dwisotyati,
> wart=
> > awati Suara Pembaruan Jakarta. Meski sering memberi nasihat dan disiplin
=
> > kuat untuk tidak membawa barang-barang terlarang, editor dari harian
sore=
> >  ini nyaris tak pernah luput dari pemeriksaan petugas setiap hendak
berpi=
> > ndah kota di AS.
> >
> > Keahliannya pun diperagakan di Bandara Narita Tokyo, 7 April 2002 ketika
> ro=
> > mbongan wartawan dari Indonesia hendak pulang ke Tanah Air. Di bandara
pa=
> > ling sibuk di dunia ini, Endah tetap menjadi sasaran petugas untuk
diperi=
> > ksa. Di tempat ini, ia mengajarkan kepada petugas bandara mengenai cara
p=
> > emeriksaan yang benar, mulai dari melepaskan jaket hingga pada
pemeriksaa=
> > n sepatu. "Saya harus mengajarkan tentang ini karena petugas di Tokyo
tam=
> > paknya belum begitu ahli dalam memeriksa penumpang seperti yang
dilakukan=
> >  petugas bandara di AS," ujarnya.
> >
> > Soal ketatnya pengamanan pada setiap bandara di AS diakui Jeff Pinneo,
> Pres=
> > ident and CEO Horizon Air dan Alaska Airlines. "Saya memahami apa yang
An=
> > da pikirkan. Ini dilakukan demi keamanan penerbangan," ujarnya.
> >
> > Pengamanan ketat merupakan mandat yang diberikan pemerintah negara
bagian
> k=
> > epada petugas keamanan transportasi (TSA) yang harus bertanggung jawab
te=
> > rhadap keselamatan penumpang.=20
> >
> > Tidak hanya di bandara, kata Pinneo, maskapai penerbangannya juga
berusaha
> =
> > menjaga keselamatan penerbangan di dalam pesawat selama perjalanan.
Untuk=
> >  itu, pilot maupun kru lainnya telah dilatih tentang keselamatan
penerban=
> > gan, termasuk menutup dengan rapat pintu kabin pilot guna mencegah
hal-ha=
> > l yang tak diinginkan. Pemerintah negara bagian mewajibkan persyaratan
it=
> > u hingga April 2003.
> >
> > Sebagai pengganti kompensasi ketidaknyamanan itu, seluruh petugas
Horizon
> A=
> > ir dan Alaska Airlines diminta untuk bersikap ramah terhadap setiap
penum=
> > pang. Bahkan, di Bandara Portland, Oregon, maskapai ini menyediakan
minum=
> > an kopi atau teh panas gratis kepada penumpang yang menggunakan jasa
pene=
> > rbangannya.
> >
> > Meski terasa sangat tak nyaman, ada rekan seperjalanan menyatakan
sepakat
> 1=
> > .000 persen atas ketatnya pengamanan itu. "Saya kira, pengamanan mereka
y=
> > ang sangat ketat, juga untuk kepentingan kita semua sebagai penumpang,"
u=
> > jarnya membela.
> >
> > Paling tidak, pengalaman yang bisa dipetik dalam perjalanan ke AS adalah
> ba=
> > gaimana bisa lolos dari sangkaan calon teroris. Ini bisa dimaklumi, AS
ya=
> > ng selama ini dikenal sebagai penjaga keamanan dunia, kini sedang trauma
=
> > dengan keamanan negaranya sendiri. Memang ironis. (Rusdi Amral)
> >
> >
> >
>
> --------------------------------------------------------------------------
> -=
> > -----
> >
> >
> > Demi Kenyamanandan Keamanan
> > KALAU memang tidak mau cari "penyakit", ikuti saja aturan standar
beberapa
> =
> > maskapai penerbangan asing, khususnya setelah peristiwa "Nine One One".
M=
> > isalnya edaran Singapore Airlines yang dengan santun menjelaskan
terhadap=
> >  dear valued customers-nya sehubungan dengan ketatnya pemeriksaan
keamana=
> > n di bandara.=20
> > Edaran itu menjelaskan, demi mengurangi rasa kenyamanan, sebaiknya calon
> pe=
> > numpang yakin tidak membawa semua benda tajam dan runcing ke dalam
kabin.=
> >  Misalnya pisau saku, kikir kuku jari, alat pembuka surat, pembuka tutup
=
> > botol, alat pembersih kuku, stik golf, pemukul bisbol atau cricket,
gunti=
> > ng kuku, pinset, pisau pencukur, dan lainnya. Benda tajam dan runcing
ini=
> > , pindahkan dari kabin. Simpan dalam koper atau tas yang sudah diperiksa
=
> > petugas bagasi.
> >
> > Juga setelah musibah World Trade Center itu, kontrol terhadap berat dan
> uku=
> > ran barang bawaan dalam kabin pun, makin ketat. Bagi penumpang kelas
satu=
> >  dan kelas khusus diperkenankan membawa dua barang bawaan,selama
ukuranny=
> > a tidak berlebihan dan berat pun tidak lebih dari tujuh kilogram per
buah=
> > . Bagi penumpang kelas ekonomi, hanya diperkenankan membawa satu barang
b=
> > awaan, berukuran tidak berlebihan dan tidak melebihi berat tujuh kilo
per=
> >  buah. Andaikan barang bawaan itu melanggar aturan yang ada, petugas di
g=
> > erbang berhak menolak barang bawaan kabin itu.
> >
> > Jadi, mau enak nyaman dan aman, jangan bawa barang besar dan
berat-berat,
> a=
> > palagi isinya penuh barang runcing dan tajam.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Yayan tea
> > --
> >
> >
> > ===============================================================
> > (C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
> > Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
> > dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
> > Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
> > Subject 'Subscribe' atau lansung ke
> http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
> > list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
> > Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
>
> --------------------------------------------------------------------------
> -
> > --
> >
> >
>
> --
>
> ===============================================================
> (C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
> Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
> dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
> Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
> Subject 'Subscribe' atau lansung ke
http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
> list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
> Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
> --------------------------------------------------------------------------
-
> --
>
>

--

===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: