[UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: "Entang Kusmana" <entangk@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 16 May 2002 07:56:01 +0700
Kalau Nine Irianto mah menjadi momok buat Irianto yah, he he.
----- Original Message -----
From: "yayantea" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
Sent: Tuesday, May 14, 2002 7:44 PM
Subject: [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
>
> Mungkin berita ini bagus buat referensi mas buyung
> yang mau lancong ke Atlanta ... :)
> ---------------------------------------------------
>
> KATA Nine One One, Nine Eleven atau September Eleven rupanya masih menjadi
=
> momok yang amat menakutkan bagi sebagian besar warga Amerika Serikat (AS)=
> , meski tragedi 11 September 2001 sudah delapan bulan berlalu.
>
> Tragedi yang diperkirakan menewaskan sekitar 2.872 orang itu di New York
da=
> n Pentagon itu begitu amat membekas, bahkan tetesan air mata masih saja m=
> engucur dari setiap orang yang mengunjungi Ground Zero, lokasi di mana du=
> a menara kembar World Trade Center (WTC) luluh lantak akibat serangan ter=
> oris.
>
> Paling tidak, suasana ini masih terasa kental saat 10 wartawan dari Asia
Te=
> nggara, termasuk Kompas mengunjungi New York dan enam negara bagian lainn=
> ya di AS, 9 Maret hingga 6 April 2002. Hampir semua surat kabar di negara=
> bagian itu menghiasi lembar korannya dengan profil dan potret korban tra=
> gedi itu, termasuk kenangan-kenangan manis dari keluarga yang ditinggalka=
> n.
>
> "Tragedi itu amat memilukan, sulit dilupakan bagi kami yang tertimpa
musiba=
> h ini. Hingga hari ini, suasana hati kami masih terasa pedih dan perih," =
> kenang Jo Flo, warga New York yang kehilangan tiga anggota keluarganya da=
> lam tragedi September Eleven itu.
>
> Tidak hanya Jo yang terus meratapi musibah itu, ribuan orang yang setiap
ha=
> ri mengunjungi Ground Zero ikut terpana dan terpaku menyaksikan barang pe=
> ninggalan korban, baik berupa foto korban, pakaian-pakaian yang masih ter=
> sisa, bercak darah, serta puisi-puisi dan bendera AS yang dipajang memanj=
> ang hingga ratusan meter, mulai dari salah satu blok di dekat Gereja St P=
> aul hingga lokasi Ground Zero.
>
> Bahkan, seorang wanita hanyut dengan emosional yang mendalam, ketika
merata=
> pi bunga-bunga yang berserakan pada sebuah taman di dekat lokasi tragedi =
> itu. "Saya ikut merasakan begitu kejamnya teroris itu. Saya tak habis pik=
> ir bagaimana peristiwa itu bisa terjadi," ujarnya sambil menahan isakan t=
> angisnya.
>
>
> ***
> TRAUMA memang masih menyelimuti Kota New York dan kota lainnya di AS.
Penga=
> manan superketat sangat mencolok di berbagai penjuru Kota New York, puluh=
> an aparat keamanan dengan senjata lengkap selalu siaga di penjuru kota it=
> u.
>
> Pemandangan yang sama juga ditemukan pada setiap bandar udara (bandara) di
=
> negeri Paman Sam itu. Wajah garang yang pelit senyum dengan senjata laras=
> panjang di punggung, serta mata liar yang selalu memandang curiga, menja=
> di pemandangan biasa pada 11 bandara yang dikunjungi 10 wartawan Asia Ten=
> ggara yang mengikuti program kunjungan internasional yang diselenggarakan=
> Departemen Luar Negeri AS itu.
>
> "Sejak tragedi itu, pengamanan di setiap bandara memang superketat. Alat
cu=
> kur pun haram masuk ke negeri ini, karena semua barang Anda akan diperiks=
> a dengan X-ray," ujar George Nassif, pendamping program itu kepada wartaw=
> an.
>
> Ia benar-benar meminta peserta program ini agar menaati pesannya itu,
kalau=
> tak ingin berurusan panjang dengan aparat keamanan bandara.
>
> Pesan ini langsung terbukti ketika wartawati Matichon Daily Newspaper
Bangk=
> ok, Monthip Thanasook, harus berurusan panjang dengan petugas Bandara La =
> Guardia, New York, sesaat rombongan wartawan ini akan meninggalkan New Yo=
> rk, menuju Tampa, Florida, 20 Maret 2002 lalu.
>
> Ia diperintahkan membongkar bagasi kopernya karena alat X-ray memberi
sinya=
> l lampu merah pertanda ditemukannya barang berbahaya di dalam koper warta=
> wati itu. Sejumlah penumpang US Airways 2594 menduga ia membawa pisau lip=
> at, atau gunting kuku yang sering terbawa di dalam koper, namun ternyata =
> mi mangkuk yang mengandung aluminium foil menjadi penyebabnya. Setelah mi=
> mangkuk itu dikeluarkan, alat X-ray tidak lagi memberikan sinyal lampu m=
> erah.
>
> Sebelum bagasi diperiksa X-ray, petugas di loket lapor lebih dulu
menginter=
> ogasi setiap penumpang. Pertanyaan yang selalu dilontarkan petugas adalah=
> apakah penumpang membawa barang berbahaya, apakah bagasi yang dibawa ter=
> dapat benda cair, semisal parfum atau bahan kimia lainnya, atau apakah ba=
> rang itu sepanjang hari bersama penumpang, serta adakah orang lain yang m=
> enitip sesuatu di bagasi tersebut. Meski pertanyaan itu cukup dijawab den=
> gan kata "yes" atau "no", tapi petugas biasanya tidak cukup puas, lalu me=
> merintahkan bagasi penumpang diperiksa ke meja X-ray.
>
> Setelah interogasi di loket lapor dan pemeriksaan X-ray beres, penumpang
pu=
> n belum bisa melenggang bebas menuju ruang tunggu. Beberapa petugas banda=
> ra dan petugas keamanan pun sudah menanti di pintu ruang tunggu dengan pe=
> ralatan metal detector.
>
> Bak seorang tersangka teroris, setiap penumpang yang melewati pintu itu
dim=
> inta untuk mengangkat kedua tangannya untuk diperiksa dengan alat tersebu=
> t. Bahkan, isi kantung yang berisi uang logam dan dompet berisi kartu kre=
> dit juga harus dikeluarkan untuk diperiksa secara detail. Tidak jarang, p=
> emeriksaan di tempat ini membuat antrean yang sangat panjang.
>
> Usai pemeriksaan itu bukan berarti setiap penumpang "bersih" dari sangkaan
=
> teroris. Pemeriksaan diulang lagi saat memasuki pintu boarding, sebelum m=
> asuk ke badan pesawat. Pemeriksaan dengan metal detector kembali diulang =
> petugas dari perusahaan penerbangan secara acak bagi penumpang yang dicur=
> igai.
>
> Pemeriksaan superketat ini menjadi langganan bagi wartawan dari Asia
Tengga=
> ra ini setiap tiga hari pindah kota dengan menggunakan jasa penerbangan. =
> Meski pemeriksaan dilakukan secara acak, namun bagi para wartawan asal As=
> ia Tenggara ini tak pernah luput dari pemeriksaan.
>
>
> ***
> HANYA karena sebatang rokok, wartawan Kompas dan The Jakarta Post juga
terp=
> aksa mengenyam pengalaman tak nyaman, diperiksa mulai dari ujung rambut h=
> ingga ujung kaki oleh petugas bandara. Bahkan, kaus kaki yang harumnya cu=
> kup "semerbak" itu tak luput dari rabaan petugas.
>
> Ketika itu, wartawan The Jakarta Post Ridwan Max Sijabat tak tahan lagi
den=
> gan rasa asam di mulutnya, akibat lama tak merokok saat menunggu keberang=
> katan pesawat yang membawa rombongan wartawan Indonesia dari San Fransisc=
> o menuju Washington DC.
>
> Oleh karena di dalam bandara tak diperkenankan merokok, ia mengajak untuk
m=
> erokok di luar bandara. Setelah habis sebatang rokok, kami pun kembali ma=
> suk ke dalam bandara. Namun rupanya, proses keluar bandara tak sesederhan=
> a ketika masuk lagi ke bandara. Kali ini, pemeriksaannya amat luar biasa,=
> selain diperintahkan harus melepaskan jaket penghangat, kami berdua haru=
> s melepaskan kedua sepatu yang kami pakai untuk diselidiki. Urusan ini me=
> njadikan kami harus berhitung beribu kali untuk mengulangi pengalaman itu=
> hanya karena sebatang rokok.
>
> Rupanya, pengalaman membuka sepatu ini tidak hanya dialami dua wartawan
Ind=
> onesia, tapi semua wartawan peserta program. Pengalaman ini akhirnya menj=
> adi bahan lelucon kami semua karena petugas bandara yang angker-angker it=
> u mau-maunya tahan dengan bau sepatu yang cukup menyengat itu.
>
>
> ***
> SAKING seringnya menghadapi pemeriksaan, hampir semua wartawan dari Asia
Te=
> nggara yang melakukan studi banding tentang media di AS selama sebulan it=
> u menjadi "ahli" dalam hal security screening, baik untuk dirinya sendiri=
> maupun untuk orang lain.
>
> Salah satu yang menjadi ahli dalam bidang ini adalah Endah Dwisotyati,
wart=
> awati Suara Pembaruan Jakarta. Meski sering memberi nasihat dan disiplin =
> kuat untuk tidak membawa barang-barang terlarang, editor dari harian sore=
> ini nyaris tak pernah luput dari pemeriksaan petugas setiap hendak berpi=
> ndah kota di AS.
>
> Keahliannya pun diperagakan di Bandara Narita Tokyo, 7 April 2002 ketika
ro=
> mbongan wartawan dari Indonesia hendak pulang ke Tanah Air. Di bandara pa=
> ling sibuk di dunia ini, Endah tetap menjadi sasaran petugas untuk diperi=
> ksa. Di tempat ini, ia mengajarkan kepada petugas bandara mengenai cara p=
> emeriksaan yang benar, mulai dari melepaskan jaket hingga pada pemeriksaa=
> n sepatu. "Saya harus mengajarkan tentang ini karena petugas di Tokyo tam=
> paknya belum begitu ahli dalam memeriksa penumpang seperti yang dilakukan=
> petugas bandara di AS," ujarnya.
>
> Soal ketatnya pengamanan pada setiap bandara di AS diakui Jeff Pinneo,
Pres=
> ident and CEO Horizon Air dan Alaska Airlines. "Saya memahami apa yang An=
> da pikirkan. Ini dilakukan demi keamanan penerbangan," ujarnya.
>
> Pengamanan ketat merupakan mandat yang diberikan pemerintah negara bagian
k=
> epada petugas keamanan transportasi (TSA) yang harus bertanggung jawab te=
> rhadap keselamatan penumpang.=20
>
> Tidak hanya di bandara, kata Pinneo, maskapai penerbangannya juga berusaha
=
> menjaga keselamatan penerbangan di dalam pesawat selama perjalanan. Untuk=
> itu, pilot maupun kru lainnya telah dilatih tentang keselamatan penerban=
> gan, termasuk menutup dengan rapat pintu kabin pilot guna mencegah hal-ha=
> l yang tak diinginkan. Pemerintah negara bagian mewajibkan persyaratan it=
> u hingga April 2003.
>
> Sebagai pengganti kompensasi ketidaknyamanan itu, seluruh petugas Horizon
A=
> ir dan Alaska Airlines diminta untuk bersikap ramah terhadap setiap penum=
> pang. Bahkan, di Bandara Portland, Oregon, maskapai ini menyediakan minum=
> an kopi atau teh panas gratis kepada penumpang yang menggunakan jasa pene=
> rbangannya.
>
> Meski terasa sangat tak nyaman, ada rekan seperjalanan menyatakan sepakat
1=
> .000 persen atas ketatnya pengamanan itu. "Saya kira, pengamanan mereka y=
> ang sangat ketat, juga untuk kepentingan kita semua sebagai penumpang," u=
> jarnya membela.
>
> Paling tidak, pengalaman yang bisa dipetik dalam perjalanan ke AS adalah
ba=
> gaimana bisa lolos dari sangkaan calon teroris. Ini bisa dimaklumi, AS ya=
> ng selama ini dikenal sebagai penjaga keamanan dunia, kini sedang trauma =
> dengan keamanan negaranya sendiri. Memang ironis. (Rusdi Amral)
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------------
-=
> -----
>
>
> Demi Kenyamanandan Keamanan
> KALAU memang tidak mau cari "penyakit", ikuti saja aturan standar beberapa
=
> maskapai penerbangan asing, khususnya setelah peristiwa "Nine One One". M=
> isalnya edaran Singapore Airlines yang dengan santun menjelaskan terhadap=
> dear valued customers-nya sehubungan dengan ketatnya pemeriksaan keamana=
> n di bandara.=20
> Edaran itu menjelaskan, demi mengurangi rasa kenyamanan, sebaiknya calon
pe=
> numpang yakin tidak membawa semua benda tajam dan runcing ke dalam kabin.=
> Misalnya pisau saku, kikir kuku jari, alat pembuka surat, pembuka tutup =
> botol, alat pembersih kuku, stik golf, pemukul bisbol atau cricket, gunti=
> ng kuku, pinset, pisau pencukur, dan lainnya. Benda tajam dan runcing ini=
> , pindahkan dari kabin. Simpan dalam koper atau tas yang sudah diperiksa =
> petugas bagasi.
>
> Juga setelah musibah World Trade Center itu, kontrol terhadap berat dan
uku=
> ran barang bawaan dalam kabin pun, makin ketat. Bagi penumpang kelas satu=
> dan kelas khusus diperkenankan membawa dua barang bawaan,selama ukuranny=
> a tidak berlebihan dan berat pun tidak lebih dari tujuh kilogram per buah=
> . Bagi penumpang kelas ekonomi, hanya diperkenankan membawa satu barang b=
> awaan, berukuran tidak berlebihan dan tidak melebihi berat tujuh kilo per=
> buah. Andaikan barang bawaan itu melanggar aturan yang ada, petugas di g=
> erbang berhak menolak barang bawaan kabin itu.
>
> Jadi, mau enak nyaman dan aman, jangan bawa barang besar dan berat-berat,
a=
> palagi isinya penuh barang runcing dan tajam.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yayan tea
> --
>
>
> ===============================================================
> (C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
> Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
> dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
> Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
> Subject 'Subscribe' atau lansung ke
http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
> list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
> Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
> --------------------------------------------------------------------------
-
> --
>
>
--
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: Irianto, Yayan
- References:
- [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: yayantea
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- » [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- » [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: Irianto, Yayan
- [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: yayantea