[UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"

Mungkin berita ini bagus buat referensi mas buyung
yang mau lancong ke Atlanta ... :)
---------------------------------------------------

KATA Nine One One, Nine Eleven atau September Eleven rupanya masih menjadi =
momok yang amat menakutkan bagi sebagian besar warga Amerika Serikat (AS)=
, meski tragedi 11 September 2001 sudah delapan bulan berlalu.

Tragedi yang diperkirakan menewaskan sekitar 2.872 orang itu di New York da=
n Pentagon itu begitu amat membekas, bahkan tetesan air mata masih saja m=
engucur dari setiap orang yang mengunjungi Ground Zero, lokasi di mana du=
a menara kembar World Trade Center (WTC) luluh lantak akibat serangan ter=
oris.

Paling tidak, suasana ini masih terasa kental saat 10 wartawan dari Asia Te=
nggara, termasuk Kompas mengunjungi New York dan enam negara bagian lainn=
ya di AS, 9 Maret hingga 6 April 2002. Hampir semua surat kabar di negara=
 bagian itu menghiasi lembar korannya dengan profil dan potret korban tra=
gedi itu, termasuk kenangan-kenangan manis dari keluarga yang ditinggalka=
n.

"Tragedi itu amat memilukan, sulit dilupakan bagi kami yang tertimpa musiba=
h ini. Hingga hari ini, suasana hati kami masih terasa pedih dan perih," =
kenang Jo Flo, warga New York yang kehilangan tiga anggota keluarganya da=
lam tragedi September Eleven itu.

Tidak hanya Jo yang terus meratapi musibah itu, ribuan orang yang setiap ha=
ri mengunjungi Ground Zero ikut terpana dan terpaku menyaksikan barang pe=
ninggalan korban, baik berupa foto korban, pakaian-pakaian yang masih ter=
sisa, bercak darah, serta puisi-puisi dan bendera AS yang dipajang memanj=
ang hingga ratusan meter, mulai dari salah satu blok di dekat Gereja St P=
aul hingga lokasi Ground Zero.

Bahkan, seorang wanita hanyut dengan emosional yang mendalam, ketika merata=
pi bunga-bunga yang berserakan pada sebuah taman di dekat lokasi tragedi =
itu. "Saya ikut merasakan begitu kejamnya teroris itu. Saya tak habis pik=
ir bagaimana peristiwa itu bisa terjadi," ujarnya sambil menahan isakan t=
angisnya.


***
TRAUMA memang masih menyelimuti Kota New York dan kota lainnya di AS. Penga=
manan superketat sangat mencolok di berbagai penjuru Kota New York, puluh=
an aparat keamanan dengan senjata lengkap selalu siaga di penjuru kota it=
u.

Pemandangan yang sama juga ditemukan pada setiap bandar udara (bandara) di =
negeri Paman Sam itu. Wajah garang yang pelit senyum dengan senjata laras=
 panjang di punggung, serta mata liar yang selalu memandang curiga, menja=
di pemandangan biasa pada 11 bandara yang dikunjungi 10 wartawan Asia Ten=
ggara yang mengikuti program kunjungan internasional yang diselenggarakan=
 Departemen Luar Negeri AS itu.

"Sejak tragedi itu, pengamanan di setiap bandara memang superketat. Alat cu=
kur pun haram masuk ke negeri ini, karena semua barang Anda akan diperiks=
a dengan X-ray," ujar George Nassif, pendamping program itu kepada wartaw=
an.

Ia benar-benar meminta peserta program ini agar menaati pesannya itu, kalau=
 tak ingin berurusan panjang dengan aparat keamanan bandara.

Pesan ini langsung terbukti ketika wartawati Matichon Daily Newspaper Bangk=
ok, Monthip Thanasook, harus berurusan panjang dengan petugas Bandara La =
Guardia, New York, sesaat rombongan wartawan ini akan meninggalkan New Yo=
rk, menuju Tampa, Florida, 20 Maret 2002 lalu.

Ia diperintahkan membongkar bagasi kopernya karena alat X-ray memberi sinya=
l lampu merah pertanda ditemukannya barang berbahaya di dalam koper warta=
wati itu. Sejumlah penumpang US Airways 2594 menduga ia membawa pisau lip=
at, atau gunting kuku yang sering terbawa di dalam koper, namun ternyata =
mi mangkuk yang mengandung aluminium foil menjadi penyebabnya. Setelah mi=
 mangkuk itu dikeluarkan, alat X-ray tidak lagi memberikan sinyal lampu m=
erah.

Sebelum bagasi diperiksa X-ray, petugas di loket lapor lebih dulu menginter=
ogasi setiap penumpang. Pertanyaan yang selalu dilontarkan petugas adalah=
 apakah penumpang membawa barang berbahaya, apakah bagasi yang dibawa ter=
dapat benda cair, semisal parfum atau bahan kimia lainnya, atau apakah ba=
rang itu sepanjang hari bersama penumpang, serta adakah orang lain yang m=
enitip sesuatu di bagasi tersebut. Meski pertanyaan itu cukup dijawab den=
gan kata "yes" atau "no", tapi petugas biasanya tidak cukup puas, lalu me=
merintahkan bagasi penumpang diperiksa ke meja X-ray.

Setelah interogasi di loket lapor dan pemeriksaan X-ray beres, penumpang pu=
n belum bisa melenggang bebas menuju ruang tunggu. Beberapa petugas banda=
ra dan petugas keamanan pun sudah menanti di pintu ruang tunggu dengan pe=
ralatan metal detector.

Bak seorang tersangka teroris, setiap penumpang yang melewati pintu itu dim=
inta untuk mengangkat kedua tangannya untuk diperiksa dengan alat tersebu=
t. Bahkan, isi kantung yang berisi uang logam dan dompet berisi kartu kre=
dit juga harus dikeluarkan untuk diperiksa secara detail. Tidak jarang, p=
emeriksaan di tempat ini membuat antrean yang sangat panjang.

Usai pemeriksaan itu bukan berarti setiap penumpang "bersih" dari sangkaan =
teroris. Pemeriksaan diulang lagi saat memasuki pintu boarding, sebelum m=
asuk ke badan pesawat. Pemeriksaan dengan metal detector kembali diulang =
petugas dari perusahaan penerbangan secara acak bagi penumpang yang dicur=
igai.

Pemeriksaan superketat ini menjadi langganan bagi wartawan dari Asia Tengga=
ra ini setiap tiga hari pindah kota dengan menggunakan jasa penerbangan. =
Meski pemeriksaan dilakukan secara acak, namun bagi para wartawan asal As=
ia Tenggara ini tak pernah luput dari pemeriksaan.


***
HANYA karena sebatang rokok, wartawan Kompas dan The Jakarta Post juga terp=
aksa mengenyam pengalaman tak nyaman, diperiksa mulai dari ujung rambut h=
ingga ujung kaki oleh petugas bandara. Bahkan, kaus kaki yang harumnya cu=
kup "semerbak" itu tak luput dari rabaan petugas.

Ketika itu, wartawan The Jakarta Post Ridwan Max Sijabat tak tahan lagi den=
gan rasa asam di mulutnya, akibat lama tak merokok saat menunggu keberang=
katan pesawat yang membawa rombongan wartawan Indonesia dari San Fransisc=
o menuju Washington DC.

Oleh karena di dalam bandara tak diperkenankan merokok, ia mengajak untuk m=
erokok di luar bandara. Setelah habis sebatang rokok, kami pun kembali ma=
suk ke dalam bandara. Namun rupanya, proses keluar bandara tak sesederhan=
a ketika masuk lagi ke bandara. Kali ini, pemeriksaannya amat luar biasa,=
 selain diperintahkan harus melepaskan jaket penghangat, kami berdua haru=
s melepaskan kedua sepatu yang kami pakai untuk diselidiki. Urusan ini me=
njadikan kami harus berhitung beribu kali untuk mengulangi pengalaman itu=
 hanya karena sebatang rokok.

Rupanya, pengalaman membuka sepatu ini tidak hanya dialami dua wartawan Ind=
onesia, tapi semua wartawan peserta program. Pengalaman ini akhirnya menj=
adi bahan lelucon kami semua karena petugas bandara yang angker-angker it=
u mau-maunya tahan dengan bau sepatu yang cukup menyengat itu.


***
SAKING seringnya menghadapi pemeriksaan, hampir semua wartawan dari Asia Te=
nggara yang melakukan studi banding tentang media di AS selama sebulan it=
u menjadi "ahli" dalam hal security screening, baik untuk dirinya sendiri=
 maupun untuk orang lain.

Salah satu yang menjadi ahli dalam bidang ini adalah Endah Dwisotyati, wart=
awati Suara Pembaruan Jakarta. Meski sering memberi nasihat dan disiplin =
kuat untuk tidak membawa barang-barang terlarang, editor dari harian sore=
 ini nyaris tak pernah luput dari pemeriksaan petugas setiap hendak berpi=
ndah kota di AS.

Keahliannya pun diperagakan di Bandara Narita Tokyo, 7 April 2002 ketika ro=
mbongan wartawan dari Indonesia hendak pulang ke Tanah Air. Di bandara pa=
ling sibuk di dunia ini, Endah tetap menjadi sasaran petugas untuk diperi=
ksa. Di tempat ini, ia mengajarkan kepada petugas bandara mengenai cara p=
emeriksaan yang benar, mulai dari melepaskan jaket hingga pada pemeriksaa=
n sepatu. "Saya harus mengajarkan tentang ini karena petugas di Tokyo tam=
paknya belum begitu ahli dalam memeriksa penumpang seperti yang dilakukan=
 petugas bandara di AS," ujarnya.

Soal ketatnya pengamanan pada setiap bandara di AS diakui Jeff Pinneo, Pres=
ident and CEO Horizon Air dan Alaska Airlines. "Saya memahami apa yang An=
da pikirkan. Ini dilakukan demi keamanan penerbangan," ujarnya.

Pengamanan ketat merupakan mandat yang diberikan pemerintah negara bagian k=
epada petugas keamanan transportasi (TSA) yang harus bertanggung jawab te=
rhadap keselamatan penumpang.=20

Tidak hanya di bandara, kata Pinneo, maskapai penerbangannya juga berusaha =
menjaga keselamatan penerbangan di dalam pesawat selama perjalanan. Untuk=
 itu, pilot maupun kru lainnya telah dilatih tentang keselamatan penerban=
gan, termasuk menutup dengan rapat pintu kabin pilot guna mencegah hal-ha=
l yang tak diinginkan. Pemerintah negara bagian mewajibkan persyaratan it=
u hingga April 2003.

Sebagai pengganti kompensasi ketidaknyamanan itu, seluruh petugas Horizon A=
ir dan Alaska Airlines diminta untuk bersikap ramah terhadap setiap penum=
pang. Bahkan, di Bandara Portland, Oregon, maskapai ini menyediakan minum=
an kopi atau teh panas gratis kepada penumpang yang menggunakan jasa pene=
rbangannya.

Meski terasa sangat tak nyaman, ada rekan seperjalanan menyatakan sepakat 1=
.000 persen atas ketatnya pengamanan itu. "Saya kira, pengamanan mereka y=
ang sangat ketat, juga untuk kepentingan kita semua sebagai penumpang," u=
jarnya membela.

Paling tidak, pengalaman yang bisa dipetik dalam perjalanan ke AS adalah ba=
gaimana bisa lolos dari sangkaan calon teroris. Ini bisa dimaklumi, AS ya=
ng selama ini dikenal sebagai penjaga keamanan dunia, kini sedang trauma =
dengan keamanan negaranya sendiri. Memang ironis. (Rusdi Amral)



---------------------------------------------------------------------------=
-----


Demi Kenyamanandan Keamanan
KALAU memang tidak mau cari "penyakit", ikuti saja aturan standar beberapa =
maskapai penerbangan asing, khususnya setelah peristiwa "Nine One One". M=
isalnya edaran Singapore Airlines yang dengan santun menjelaskan terhadap=
 dear valued customers-nya sehubungan dengan ketatnya pemeriksaan keamana=
n di bandara.=20
Edaran itu menjelaskan, demi mengurangi rasa kenyamanan, sebaiknya calon pe=
numpang yakin tidak membawa semua benda tajam dan runcing ke dalam kabin.=
 Misalnya pisau saku, kikir kuku jari, alat pembuka surat, pembuka tutup =
botol, alat pembersih kuku, stik golf, pemukul bisbol atau cricket, gunti=
ng kuku, pinset, pisau pencukur, dan lainnya. Benda tajam dan runcing ini=
, pindahkan dari kabin. Simpan dalam koper atau tas yang sudah diperiksa =
petugas bagasi.

Juga setelah musibah World Trade Center itu, kontrol terhadap berat dan uku=
ran barang bawaan dalam kabin pun, makin ketat. Bagi penumpang kelas satu=
 dan kelas khusus diperkenankan membawa dua barang bawaan,selama ukuranny=
a tidak berlebihan dan berat pun tidak lebih dari tujuh kilogram per buah=
. Bagi penumpang kelas ekonomi, hanya diperkenankan membawa satu barang b=
awaan, berukuran tidak berlebihan dan tidak melebihi berat tujuh kilo per=
 buah. Andaikan barang bawaan itu melanggar aturan yang ada, petugas di g=
erbang berhak menolak barang bawaan kabin itu.

Jadi, mau enak nyaman dan aman, jangan bawa barang besar dan berat-berat, a=
palagi isinya penuh barang runcing dan tajam. 
 




 
 
 
 

 

Yayan tea
--


===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia 
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten 
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan  
Subject 'Subscribe' atau lansung ke  http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------

Other related posts: