[UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: "yayantea" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 14 May 2002 08:44:44 -0400
Mungkin berita ini bagus buat referensi mas buyung
yang mau lancong ke Atlanta ... :)
---------------------------------------------------
KATA Nine One One, Nine Eleven atau September Eleven rupanya masih menjadi =
momok yang amat menakutkan bagi sebagian besar warga Amerika Serikat (AS)=
, meski tragedi 11 September 2001 sudah delapan bulan berlalu.
Tragedi yang diperkirakan menewaskan sekitar 2.872 orang itu di New York da=
n Pentagon itu begitu amat membekas, bahkan tetesan air mata masih saja m=
engucur dari setiap orang yang mengunjungi Ground Zero, lokasi di mana du=
a menara kembar World Trade Center (WTC) luluh lantak akibat serangan ter=
oris.
Paling tidak, suasana ini masih terasa kental saat 10 wartawan dari Asia Te=
nggara, termasuk Kompas mengunjungi New York dan enam negara bagian lainn=
ya di AS, 9 Maret hingga 6 April 2002. Hampir semua surat kabar di negara=
bagian itu menghiasi lembar korannya dengan profil dan potret korban tra=
gedi itu, termasuk kenangan-kenangan manis dari keluarga yang ditinggalka=
n.
"Tragedi itu amat memilukan, sulit dilupakan bagi kami yang tertimpa musiba=
h ini. Hingga hari ini, suasana hati kami masih terasa pedih dan perih," =
kenang Jo Flo, warga New York yang kehilangan tiga anggota keluarganya da=
lam tragedi September Eleven itu.
Tidak hanya Jo yang terus meratapi musibah itu, ribuan orang yang setiap ha=
ri mengunjungi Ground Zero ikut terpana dan terpaku menyaksikan barang pe=
ninggalan korban, baik berupa foto korban, pakaian-pakaian yang masih ter=
sisa, bercak darah, serta puisi-puisi dan bendera AS yang dipajang memanj=
ang hingga ratusan meter, mulai dari salah satu blok di dekat Gereja St P=
aul hingga lokasi Ground Zero.
Bahkan, seorang wanita hanyut dengan emosional yang mendalam, ketika merata=
pi bunga-bunga yang berserakan pada sebuah taman di dekat lokasi tragedi =
itu. "Saya ikut merasakan begitu kejamnya teroris itu. Saya tak habis pik=
ir bagaimana peristiwa itu bisa terjadi," ujarnya sambil menahan isakan t=
angisnya.
***
TRAUMA memang masih menyelimuti Kota New York dan kota lainnya di AS. Penga=
manan superketat sangat mencolok di berbagai penjuru Kota New York, puluh=
an aparat keamanan dengan senjata lengkap selalu siaga di penjuru kota it=
u.
Pemandangan yang sama juga ditemukan pada setiap bandar udara (bandara) di =
negeri Paman Sam itu. Wajah garang yang pelit senyum dengan senjata laras=
panjang di punggung, serta mata liar yang selalu memandang curiga, menja=
di pemandangan biasa pada 11 bandara yang dikunjungi 10 wartawan Asia Ten=
ggara yang mengikuti program kunjungan internasional yang diselenggarakan=
Departemen Luar Negeri AS itu.
"Sejak tragedi itu, pengamanan di setiap bandara memang superketat. Alat cu=
kur pun haram masuk ke negeri ini, karena semua barang Anda akan diperiks=
a dengan X-ray," ujar George Nassif, pendamping program itu kepada wartaw=
an.
Ia benar-benar meminta peserta program ini agar menaati pesannya itu, kalau=
tak ingin berurusan panjang dengan aparat keamanan bandara.
Pesan ini langsung terbukti ketika wartawati Matichon Daily Newspaper Bangk=
ok, Monthip Thanasook, harus berurusan panjang dengan petugas Bandara La =
Guardia, New York, sesaat rombongan wartawan ini akan meninggalkan New Yo=
rk, menuju Tampa, Florida, 20 Maret 2002 lalu.
Ia diperintahkan membongkar bagasi kopernya karena alat X-ray memberi sinya=
l lampu merah pertanda ditemukannya barang berbahaya di dalam koper warta=
wati itu. Sejumlah penumpang US Airways 2594 menduga ia membawa pisau lip=
at, atau gunting kuku yang sering terbawa di dalam koper, namun ternyata =
mi mangkuk yang mengandung aluminium foil menjadi penyebabnya. Setelah mi=
mangkuk itu dikeluarkan, alat X-ray tidak lagi memberikan sinyal lampu m=
erah.
Sebelum bagasi diperiksa X-ray, petugas di loket lapor lebih dulu menginter=
ogasi setiap penumpang. Pertanyaan yang selalu dilontarkan petugas adalah=
apakah penumpang membawa barang berbahaya, apakah bagasi yang dibawa ter=
dapat benda cair, semisal parfum atau bahan kimia lainnya, atau apakah ba=
rang itu sepanjang hari bersama penumpang, serta adakah orang lain yang m=
enitip sesuatu di bagasi tersebut. Meski pertanyaan itu cukup dijawab den=
gan kata "yes" atau "no", tapi petugas biasanya tidak cukup puas, lalu me=
merintahkan bagasi penumpang diperiksa ke meja X-ray.
Setelah interogasi di loket lapor dan pemeriksaan X-ray beres, penumpang pu=
n belum bisa melenggang bebas menuju ruang tunggu. Beberapa petugas banda=
ra dan petugas keamanan pun sudah menanti di pintu ruang tunggu dengan pe=
ralatan metal detector.
Bak seorang tersangka teroris, setiap penumpang yang melewati pintu itu dim=
inta untuk mengangkat kedua tangannya untuk diperiksa dengan alat tersebu=
t. Bahkan, isi kantung yang berisi uang logam dan dompet berisi kartu kre=
dit juga harus dikeluarkan untuk diperiksa secara detail. Tidak jarang, p=
emeriksaan di tempat ini membuat antrean yang sangat panjang.
Usai pemeriksaan itu bukan berarti setiap penumpang "bersih" dari sangkaan =
teroris. Pemeriksaan diulang lagi saat memasuki pintu boarding, sebelum m=
asuk ke badan pesawat. Pemeriksaan dengan metal detector kembali diulang =
petugas dari perusahaan penerbangan secara acak bagi penumpang yang dicur=
igai.
Pemeriksaan superketat ini menjadi langganan bagi wartawan dari Asia Tengga=
ra ini setiap tiga hari pindah kota dengan menggunakan jasa penerbangan. =
Meski pemeriksaan dilakukan secara acak, namun bagi para wartawan asal As=
ia Tenggara ini tak pernah luput dari pemeriksaan.
***
HANYA karena sebatang rokok, wartawan Kompas dan The Jakarta Post juga terp=
aksa mengenyam pengalaman tak nyaman, diperiksa mulai dari ujung rambut h=
ingga ujung kaki oleh petugas bandara. Bahkan, kaus kaki yang harumnya cu=
kup "semerbak" itu tak luput dari rabaan petugas.
Ketika itu, wartawan The Jakarta Post Ridwan Max Sijabat tak tahan lagi den=
gan rasa asam di mulutnya, akibat lama tak merokok saat menunggu keberang=
katan pesawat yang membawa rombongan wartawan Indonesia dari San Fransisc=
o menuju Washington DC.
Oleh karena di dalam bandara tak diperkenankan merokok, ia mengajak untuk m=
erokok di luar bandara. Setelah habis sebatang rokok, kami pun kembali ma=
suk ke dalam bandara. Namun rupanya, proses keluar bandara tak sesederhan=
a ketika masuk lagi ke bandara. Kali ini, pemeriksaannya amat luar biasa,=
selain diperintahkan harus melepaskan jaket penghangat, kami berdua haru=
s melepaskan kedua sepatu yang kami pakai untuk diselidiki. Urusan ini me=
njadikan kami harus berhitung beribu kali untuk mengulangi pengalaman itu=
hanya karena sebatang rokok.
Rupanya, pengalaman membuka sepatu ini tidak hanya dialami dua wartawan Ind=
onesia, tapi semua wartawan peserta program. Pengalaman ini akhirnya menj=
adi bahan lelucon kami semua karena petugas bandara yang angker-angker it=
u mau-maunya tahan dengan bau sepatu yang cukup menyengat itu.
***
SAKING seringnya menghadapi pemeriksaan, hampir semua wartawan dari Asia Te=
nggara yang melakukan studi banding tentang media di AS selama sebulan it=
u menjadi "ahli" dalam hal security screening, baik untuk dirinya sendiri=
maupun untuk orang lain.
Salah satu yang menjadi ahli dalam bidang ini adalah Endah Dwisotyati, wart=
awati Suara Pembaruan Jakarta. Meski sering memberi nasihat dan disiplin =
kuat untuk tidak membawa barang-barang terlarang, editor dari harian sore=
ini nyaris tak pernah luput dari pemeriksaan petugas setiap hendak berpi=
ndah kota di AS.
Keahliannya pun diperagakan di Bandara Narita Tokyo, 7 April 2002 ketika ro=
mbongan wartawan dari Indonesia hendak pulang ke Tanah Air. Di bandara pa=
ling sibuk di dunia ini, Endah tetap menjadi sasaran petugas untuk diperi=
ksa. Di tempat ini, ia mengajarkan kepada petugas bandara mengenai cara p=
emeriksaan yang benar, mulai dari melepaskan jaket hingga pada pemeriksaa=
n sepatu. "Saya harus mengajarkan tentang ini karena petugas di Tokyo tam=
paknya belum begitu ahli dalam memeriksa penumpang seperti yang dilakukan=
petugas bandara di AS," ujarnya.
Soal ketatnya pengamanan pada setiap bandara di AS diakui Jeff Pinneo, Pres=
ident and CEO Horizon Air dan Alaska Airlines. "Saya memahami apa yang An=
da pikirkan. Ini dilakukan demi keamanan penerbangan," ujarnya.
Pengamanan ketat merupakan mandat yang diberikan pemerintah negara bagian k=
epada petugas keamanan transportasi (TSA) yang harus bertanggung jawab te=
rhadap keselamatan penumpang.=20
Tidak hanya di bandara, kata Pinneo, maskapai penerbangannya juga berusaha =
menjaga keselamatan penerbangan di dalam pesawat selama perjalanan. Untuk=
itu, pilot maupun kru lainnya telah dilatih tentang keselamatan penerban=
gan, termasuk menutup dengan rapat pintu kabin pilot guna mencegah hal-ha=
l yang tak diinginkan. Pemerintah negara bagian mewajibkan persyaratan it=
u hingga April 2003.
Sebagai pengganti kompensasi ketidaknyamanan itu, seluruh petugas Horizon A=
ir dan Alaska Airlines diminta untuk bersikap ramah terhadap setiap penum=
pang. Bahkan, di Bandara Portland, Oregon, maskapai ini menyediakan minum=
an kopi atau teh panas gratis kepada penumpang yang menggunakan jasa pene=
rbangannya.
Meski terasa sangat tak nyaman, ada rekan seperjalanan menyatakan sepakat 1=
.000 persen atas ketatnya pengamanan itu. "Saya kira, pengamanan mereka y=
ang sangat ketat, juga untuk kepentingan kita semua sebagai penumpang," u=
jarnya membela.
Paling tidak, pengalaman yang bisa dipetik dalam perjalanan ke AS adalah ba=
gaimana bisa lolos dari sangkaan calon teroris. Ini bisa dimaklumi, AS ya=
ng selama ini dikenal sebagai penjaga keamanan dunia, kini sedang trauma =
dengan keamanan negaranya sendiri. Memang ironis. (Rusdi Amral)
---------------------------------------------------------------------------=
-----
Demi Kenyamanandan Keamanan
KALAU memang tidak mau cari "penyakit", ikuti saja aturan standar beberapa =
maskapai penerbangan asing, khususnya setelah peristiwa "Nine One One". M=
isalnya edaran Singapore Airlines yang dengan santun menjelaskan terhadap=
dear valued customers-nya sehubungan dengan ketatnya pemeriksaan keamana=
n di bandara.=20
Edaran itu menjelaskan, demi mengurangi rasa kenyamanan, sebaiknya calon pe=
numpang yakin tidak membawa semua benda tajam dan runcing ke dalam kabin.=
Misalnya pisau saku, kikir kuku jari, alat pembuka surat, pembuka tutup =
botol, alat pembersih kuku, stik golf, pemukul bisbol atau cricket, gunti=
ng kuku, pinset, pisau pencukur, dan lainnya. Benda tajam dan runcing ini=
, pindahkan dari kabin. Simpan dalam koper atau tas yang sudah diperiksa =
petugas bagasi.
Juga setelah musibah World Trade Center itu, kontrol terhadap berat dan uku=
ran barang bawaan dalam kabin pun, makin ketat. Bagi penumpang kelas satu=
dan kelas khusus diperkenankan membawa dua barang bawaan,selama ukuranny=
a tidak berlebihan dan berat pun tidak lebih dari tujuh kilogram per buah=
. Bagi penumpang kelas ekonomi, hanya diperkenankan membawa satu barang b=
awaan, berukuran tidak berlebihan dan tidak melebihi berat tujuh kilo per=
buah. Andaikan barang bawaan itu melanggar aturan yang ada, petugas di g=
erbang berhak menolak barang bawaan kabin itu.
Jadi, mau enak nyaman dan aman, jangan bawa barang besar dan berat-berat, a=
palagi isinya penuh barang runcing dan tajam.
Yayan tea
--
===============================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [UntirtaNet] Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: ali rohman
- [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: Entang Kusmana
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- » [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- » [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- [UntirtaNet] Tragedi WTC dikaitkan dengan surat At-taubah
- From: ali rohman
- [UntirtaNet] Re: Buka Sepatu Sebelum Masuk ke "Paman Sam"
- From: Entang Kusmana