[UntirtaNet] Bisnis ISP Lagi Lesu
- From: "Irianto, Yayan" <yayantea@xxxxxxxxxxxxx>
- To: <untirtanet@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 1 May 2002 14:06:43 -0400
BISNIS layanan penyedia jasa internet atau Internet Service Provider
(ISP) kini dikabarkan tengah lesu darah. Lesunya bisnis ISP ini terlihat
dari tutupnya dua perusahaan ISP yang cukup besar, yaitu Wawasan Nusantara
Network (Wasantara Net) dan Mega Net baru-baru ini. Penyebab kelesuan
bermacam-macam, dari masalah internal sampai persaingan yang dinilai kurang
sehat.
Dalam sejarahnya, booming bisnis ISP berjalan 1996 saat internet baru
diperkenalkan secara luas di Indonesia. Dalam buku Indonesia Cyber Industry
& Market (2001) terbitan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII)
dan Indonesia Internet Business Community (i2bc), dikatakan ISP pertama
lahir 1994 yaitu Indonet dan disusul kemudian oleh RadNet. Keduanya boleh
disebut sebagai pionir perusahaan ISP di Tanah Air.
Modal awal yang tidak terlalu mahal membuat usaha ini tampak
menjanjikan. Tahun 1996, pemerintah juga mengeluarkan lebih banyak izin
sehingga jumlah ISP bertambah menjadi 27 perusahaan. Tapi karena kekurangan
dalam soal infrastruktur telekomunikasi, hanya 15 yang bisa beroperasi.
Permasalahan sebagian selesai dengan dibuatnya Indonesia Internet
Exchange (IIX) sebagai gerbang koneksi internasional untuk ISP. Efek positif
IIX lainnya adalah mendorong suburnya domain Indonesia seperti co.id, or.id,
ac.id dan lainnya. Didorong maraknya bisnis dotcom, ISP mencapai puncaknya
sekitar tahun 2000 di mana tercatat sekitar 90 ISP beroperasi secara serius.
Namun, sejak 2001 bisnis ISP mulai melesu. Daya beli masyarakat yang
kian terbatas membuat pengeluaran untuk biaya langganan internet di
rumah-rumah dibatasi. Bermunculannya warung internet di berbagai pelosok
membuat orang juga lebih betah mengakses di tempat itu daripada
berlangganan.
Tak heran kalau kemudian ISP beralih membidik pasar korporat yang kian
menjanjikan. Tapi, pasar korporat biasanya sangat selektif dalam soal
kualitas layanan yang ditawarkan. ISP yang tidak sanggup terpaksa menyerah.
Apa sebenarnya yang membuat pengusaha ISP merasa kewalahan? Menurut
Andi Budimansyah yang mengelola Asia Net, masalahnya antara lain karena
banyak biaya yang cukup tinggi yang harus dikeluarkan dalam bisnis ini.
Misalnya biaya koneksi internasional yang bisa memakan sampai 60% dari total
biaya sendiri. Belum lagi soal persaingan yang dinilainya sekarang sudah
kurang sehat.
Sementara rekannya yang lain mencoba tetap optimistis. "Biayanya
memang cukup besar apalagi di saat krisis seperti sekarang. Tapi ini juga
tergantung komitmen perusahaan," demikian ungkapan pengusaha ISP lainnya,
Nanny Budiman dari Bitnet.
Kasus internal juga dapat membuat sebuah ISP gulung tikar. Seperti
dijelaskan Andi Yusgiantoro sebagai manajer Mega Net, kasus tutupnya Mega
Net terkait dengan pimpinan perusahaan yang dikatakannya tidak mengerti
bisnis. Sejak tahun ketiga dari dibukanya Mega Net sebenarnya perusahaan
sudah mulai mendapat keuntungan. Sayangnya, manajemen kemudian malah memilih
berekspansi ke perusahaan lain sehingga menambah biaya.
Dalam penilaian Ketua APJII Heru Nugroho, kelesuan terutama memang
terjadi di pasar ritel atau perumahan, tidak pada pasar korporat termasuk
warnet. Animo masyarakat menjadi pelanggan pasar ritel juga cenderung
menurun. Tapi meskipun ada gantinya, yaitu pasar korporat, bukan berarti ISP
terus bergairah atau mendapat rezeki nomplok. "Saat ISP harus masuk pasar
korporat, bisa dikatakan sebagian besar belum siap," kata Heru.
Dari 90-an ISP yang beroperasi, ungkap dia, sebagian besar sudah
menghentikan penjualan layanan ke publik. Mereka tetap beroperasi, tapi
lebih untuk mendukung grup perusahaannya sendiri. Sedangkan ISP besar
memilih menghentikan layanan pasar ritel. "Jadi, yang masih benar-benar
berfungsi seperti ISP mungkin tinggal sekitar 30,'' ujar Heru yang juga
memiliki sebuah ISP ini.
Heru menjelaskan masalah lainnya adalah soal perhitungan tarif yang
sudah berubah serta persaingan dengan keluarnya layanan Telkomnet Instan
dari Telkom. Seperti diketahui, Telkomnet menjanjikan koneksi yang lebih
murah tanpa perlu berlangganan. Menurut dia, cara-cara tersebut bisa merusak
iklim pasar. "Apakah fair antara perlakuan Telkom kepada ISP dengan
perlakuannya kepada Telkomnet Instan?" tanya dia.
Tidak adilnya persaingan ini, tambah Heru, juga terlihat dari kasus
bisnis ISP di Kalimantan. Mereka dikenai biaya berlangganan telepon oleh
Telkom sampai Rp300 ribu per bulan dari yang normalnya hanya Rp38 ribu. Yang
lebih disesalkannya adalah soal penetapan tarif yang tidak masuk akal semua.
Menghadapi kondisi tersebut, Heru mengatakan APJII sedang
mengonsolidasi para pemain ISP swasta menjelang Hari Telekomunikasi
Internasional Mei mendatang. Sebelumnya mereka juga sudah berupaya berdialog
dengan regulator supaya harga akses internet bagi masyarakat bisa
dipermurah.
Yang pasti, kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, bisa timbul
masalah lain yang cukup mengkhawatirkan. Misalnya bila ISP hanya menjual
kepada pasar korporat, berarti kesempatan masyarakat perumahan semakin
minim. Artinya, bisa timbul kesenjangan digital yaitu kesempatan mengakses
internet hanya bisa dinikmati pekerja kantoran saja.
sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002050200291483
===========================================================================
(C)opyright 1999-2002 UntirtaNet
Milis ini dikelola oleh alumni Universitas Tirtayasa Banten - Indonesia
dan terbuka untuk semua Civitas Academica Universitas Tirtayasa Banten
Untuk berlangganan, kirim email ke: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx, dengan
Subject 'Subscribe' atau lansung ke http://www.freelists.org/cgi-bin/list?
list_id=untirtanet Untuk kirim pesan: untirtanet@xxxxxxxxxxxxx
Please visit our Homepage: http://www.untirtanet.org
---------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [UntirtaNet] Bisnis ISP Lagi Lesu