[UntirtaNet] Agar Nomor IP tidak Habis

      Agar Nomor IP tidak Habis

      KARENA semakin banyak peralatan yang tersambung ke internet,
dibutuhkan pula perubahan terhadap bentuk protokol yang mengatur lalu lintas
komunikasi internet. Sayangnya, Internet Protocol versi 6 atau IPv6 sebagai
pengganti IPv4 sampai sekarang masih belum siap dioperasionalisasi.

      Gara-garanya, mungkin karena Amerika Serikat dan Internet Engineering
Task Force atau IETF belum siap berpindah dari IPv4. Amerika ini adalah
pemilik alamat IPv4 yang cukup besar sedang IETF merupakan badan standar
yang bertanggung jawab mendesain transisi ke IPv6.

      Alamat IP ini secara sederhananya mirip dengan nomor telepon. Kalau
kita mau berbicara dengan pihak lain, kita perlu menghubungi nomor telepon
yang bersangkutan. Satu-satunya perbedaan dengan IP adalah kita memakai
komputer atau peralatan internet-enabled lainnya untuk tersambung dengan
nomor tujuan. Tiap peralatan diberi tanda identifikasi 32 bit yang
membedakan antara pengirim dan penerima supaya koneksi di internet dapat
berlangsung.

      Masalahnya persediaan alamat IPv4 ini semakin berkurang setiap
harinya. Dengan banyaknya alamat yang dimiliki pihak AS, kelangkaan tersebut
terutama dirasakan di Asia dan Eropa. Menurut Internet news.com, AS
menjalankan alamat IP terbanyak di dunia yaitu sekitar 3.012.735.145 alamat.

      Bandingkan dengan negara seperti Cina dan Korea Selatan. Meskipun
faktanya ada 1,3 miliar penduduk di negara tersebut dibandingkan 275 juta di
Amerika Serikat, Cina dan Korea Selatan hanya diberi alamat sejumlah
38.527.336 dan 23.559.640 buah.

      Dengan kata lain, AS menguasai 22% dari kombinasi populasi Cina dan
Korea Selatan, sementara Cina dan Korea Selatan hanya mendapat dua persen
untuk lingkup nama milik Amerika.

      Melonjaknya permintaan lingkup nama sendiri bersumber dari begitu
cepatnya pertumbuhan peralatan bergerak internet-enabled seperti PDA
(personal digital assistant) dan ponsel digital 3G. Untuk mengakses
internet, masing-masing peralatan membutuhkan sebuah alamat IP.

      Nomor IP akan habis

      Kathryn Korostoff sebagai pimpinan firma peneliti Sage Research
memprediksi alamat dalam bentuk IPv4 akan habis pada dua atau tiga tahun
mendatang, seiring meningkatnya popularitas ponsel digital dan PDA di
Amerika. Beberapa negara, meliputi Cina dan India, bahkan sekarang sudah
mengalami kehabisan tempat IPv4.

      Muncullah IPv6, sebuah teknologi yang memakai identifier 128-bit untuk
membedakan pengirim dan penerima. Sementara alamat IPv4 dengan empat
kumpulan blok 8-bit (misalnya 238.17.159.4) tidak mampu menyediakan
transmisi yang aman dan sebagainya, IPv6 mampu mengatasinya karena terdiri
dari 16 kumpulan blok.

      IETF sendiri sebagai pembangun jalan transisi IPv4 ke IPv6 tidak
tinggal diam. Namun, Maret lalu mereka menghentikan proses pengembangan
semua tools migrasi IPv6 dengan alasan teknologinya perlu diperbaiki.

      Selama ini banyak tools dipakai untuk memindahkan paket dari
lingkungan IPv4 ke IPv6 secara bolak-balik. Standar populer yang beroperasi
di kedua alamat IP yaitu dual stacking memiliki lebih dari delapan tools
sedangkan standar lainnya, IP tunneling, memunyai lebih dari lima. IETF
menganggap perlu menguji semua tools sebelum mengeluarkan persetujuan.

      IETF sudah mengatakan akan membuka pengembangan tools untuk IPv6 pada
musim panas ini dan berharap adopsi IPv6 di seluruh dunia akan terjadi
beberapa tahun kemudian. Para pengkritiknya menilai penghentian pengembangan
tadi bisa mematikan inovasi sekaligus menunda pemecahan masalah alamat IP
yang sebenarnya sekarang mulai dijalankan. Cina dan India yang sudah
kehabisan alamat IP sendiri sudah mulai bermigrasi ke IPv6.

      Korostoff berpendapat perlunya lebih banyak insentif untuk membujuk
pihak AS mengadopsi IPv6 secara lebih cepat. Soalnya, tidak seperti Cina dan
India, Negara Paman Sam itu tidak memiliki insentif yang sama untuk pindah
ke teknologi yang belum teruji keandalannya. AS baru mulai merasa penting
bila kelangkaan alamat IP telah sampai memengaruhi bisnis dan konsumennya.

      "Banyak ynag berpikir permintaan alamat IP datang dari konsumen yang
membutuhkan untuk e-mail. Padahal jelas sekarang makin banyak pebisnis
menggunakan peralatan bergeraknya dalam pekerjaan sehari-hari," ujar
Korostoff.


http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?ID=2002071023513994

Attachment: spacer.gif
Description: GIF image

Other related posts: