(no subject)

Artikel – Kenapa Pusing Dengan Kelemahan Orang Lain?

Hore, Hari Baru! Teman-teman.

Biasanya orang pusing karena kelebihan orang lain. Mereka punya mobil baru, 
kita kesal. Mereka yang naik pangkat, kita yang sebal. Kelebihan apapun yang 
dimiliki orang lain, bisa membuat kita pusing tujuh keliling. Tapi, ada juga 
lho orang yang justru pusing karena orang lain mempunyai kelemahan. Emang ada? 
Oooh, banyak banget orang yang justru pusing gara-gara kelemahan orang lain. 
Emang Anda tidak pusing? Misalnya, ni ye; atasan kita pemarah, lha kok kita 
yang pusing? Teman kantor suka membolos, kita yang kesal. Pesaing terdekat kita 
senang menjilat atasan, malah kita yang jadi panas hati. Ternyata, lebih banyak 
orang yang pusing karena kelemahan orang lain daripada gara-gara kelebihan 
mereka. So, what? Hmmh, implikasinya banyak sekali lho...

Dikisahkan ada seorang guru kebijaksanaan yang memiliki 2 murid. Diakhir 
pelajaran, beliau menugaskan kedua muridnya untuk mengembara, sambil saling 
mengawasi satu sama lain. Sang guru ingin mengetahui siapa murid yang paling 
sedikit berbuat kesalahan. Di akhir pengembaraan, sang guru memanggil sang 
murid dan memberinya kesempatan untuk membeberkan kesalahan temannya. Murid 
pertama, menceritakan seluruh kesalahan temannya. Jumlahnya banyak sekali. Lalu 
tiba giliran murid kedua. Dihadapan gurunya dia berkata; ”Guru, teman saya ini 
melakukan kesalahan yang sama banyaknya dengan saya. Namun, mengingat begitu 
banyaknya kesalahan yang sudah saya lakukan; saya tidak punya lagi waktu untuk 
menceritakan kesalahan teman saya. Sekarang saya mohon diri untuk melakukan 
perbaikan.” Lalu sang murid pamit. Kepada murid pertama, sang guru memberi 
hadiah berupa segenggam emas sesuai yang dijanjikannya. Kepada murid kedua, 
sang guru memberikan seluruh hidupnya untuk menemaninya melakukan perbaikan. 
Perbaikan diri, hanya mendatangi orang-orang yang menyadari kelemahan dirinya 
sendiri, bukan mereka yang memusingkan diri dengan kesalahan dan kelemahan 
orang lain. Bagi Anda yang tertarik menemani saya membebaskan diri dari rasa 
pusing karena kelemahan orang lain, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 
prinsip Natural Intelligence berikut ini:1. Perbaiki diri sendiri terlebih 
dahulu. Anda masih ingat petunjuk keselamatan di pesawat terbang? Jika tekanan 
udara turun, segera gunakan masker oksigen. Jika ingin membantu orang lain, 
Anda sendirilah yang harus terlebih dahulu menggunakan masker oksigen itu. Sama 
dengan kelemahan-kelemahan yang kita saksikan. Tidak ada manusia yang tidak 
memiliki kelemahan. Semua kita begitu. Maka sebelum mengurusi kelemahan orang 
lain, sebaiknya kita terlebih dahulu membenahi kelemahan diri kita sendiri. 
Jika Anda mendahulukan masker oksigen orang lain, maka Anda sendiri yang mati, 
dan orang lain belum tentu tertolong. Jika Anda lebih mengurusi kekurangan 
orang lain, maka boleh jadi; Anda akan selamanya buruk. Padahal belum tentu 
orang lain itu berhasil Anda ajak untuk menjadi lebih baik. Orang yang diberi 
masker oksigen tidak akan berdebat; “Lha, kok Anda nyuruh saya pake masker? 
Anda sendiri tidak pake masker?” Dia akan langsung terima masker yang Anda 
sodorkan. Tapi, jika Anda mengajak orang lain untuk melakukan perbaikan 
sementara Anda sendiri masih kacau, maka dia akan berkata;”Ngacalah, kau!” Beda 
jika Anda sudah menunjukkan kesediaan untuk melakukan perbaikan. Anda bisa 
mengatakan; “my personal improvement is in progress. So, let’s do it together…”

2. Ambil peluang yang disembunyikannya. Seperti keping matauang, semua hal 
memiliki dua sisi yang saling berseberangan. Atasan atau rekan kerja Anda di 
kantor, mungkin mengecewakan Anda. Terserah Anda, mau memandangnya dari sisi 
yang mana. Anda boleh melihatnya sebagai ancaman; ”kalau begini terus, karir 
gua bisa terancam.” Atau dari sisi sebaliknya; ”nah, inilah peluang buat gue 
untuk menunjukkan siapa yang pantas mendapatkannya.” Saya mengajak Anda untuk 
melihatnya dengan cara kedua. Kalau Anda punya atasan yang ’kurang oke’ – 
misalnya – sebaiknya itu memacu Anda untuk menjadi pribadi yang oke, dong. 
Bukannya menggerutu dan mengomel terus. Toh akan ada saatnya ketika atasan Anda 
akan turun tahta. Bahkan, boleh jadi saat tidak terduga itu sudah dekat. Mana 
tahu? Daripada mengeluh terus, kan mending memastikan bahwa Anda sudah siap 
untuk saat penting itu. Jangan sampai kalau sudah jadi pejabat, ternyata Anda 
juga sama tidak oke-nya. Kolega Anda yang tidak oke? Nape elo yang sewot? Malah 
bagus untuk menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang lebih baik. Apapun yang 
Anda alami, selalu menyimpan peluang dan ancaman. Jika Anda ingin segalanya 
menjadi indah, ambil peluangnya.3. 

Antisipasi dampak negatifnya.Teman Anda, mungkin memang sedang merencanakan 
sesuatu untuk menjegal. Atasan Anda mungkin memang tidak adil. Baru mungkin, 
karena tidak ada bukti yang menyokong argumentasinya. Baru mungkin. Karena 
boleh jadi itu hanyalah perasaan Anda saja. Tetapi, bagaimana jika itu benar? 
Sekecil apapun kemungkinan itu, jika Anda sudah melihat gelagatnya maka patut 
untuk mengantisipasi dampak negatifnya. Dampak paling besarnya adalah efek 
kepada perasaan dan emosi Anda. Jika perilaku mereka berhasil membuat emosi 
Anda tidak stabil, mengomel, menggerutu, lalu bereaksi negatif; maka Anda 
kalah. Makanya, penting untuk menjaga agar jangan sampai emosi atau mental Anda 
terimbas dampaknya. Setelah itu, barulah Anda pikirkan dampaknya pada karir 
Anda. Baik keberlangsungannya, maupun perkembangannya. Anda bahkan bisa 
memetakan seberapa besar dampaknya yang mungkin terjadi. Dan sebelum itu 
terjadi, Anda sudah bisa melakukan antisipasi. Kebanyakan orang sibuk mengurusi 
perilaku negatif orang lain dengan melawan atau menentangnya. Padahal, itu 
hanya buang-buang waktu saja. Percuma. Mending Anda gunakan energi menggerutu 
itu untuk mengantisipasi dampak negatifnya bagi diri dan karir Anda. Sehingga 
jika hal itu terjadi, Anda tidak kaget lagi. Toh sudah bisa Anda perkirakan. 
Dan Anda, sudah punya exit stretegynya secara handal. Jika Anda mampu begitu, 
maka tak seorangpun bisa ’ngerjain’ Anda.

4. Tingkatkan kualitas hubungan dengan jaringan. Banyak orang yang mengabaikan 
pentingnya membangun jaringan dengan orang-orang dalam perusahaan. Ada yang 
karena sungkan. Malas. Atau merasa tidak ada perlunya. Sejak menjadi seorang 
salesman pada tingkatan paling rendah, saya sudah bisa punya akses kepada 
Presiden Direktur. Beliau bukan saudara saya. Bukan pula kenalan orang tua 
saya. Tapi saya menjadi satu-satunya karyawan dari level paling rendah yang 
bisa berkomunikasi dengan baliau. Mungkin itu agak ekstrim. Anda bisa membangun 
hubungan yang baik itu dengan rekan-rekan atau manager dari departemen lain. 
Pastikan dalam membangun hubungan itu Anda menunjukkan aspek-aspek positif dan 
unggul yang Anda miliki. Bukan untuk mengelabui, tapi untuk membiasakan diri 
tampil dengan performa yang tinggi. Jika Anda mempunyai hubungan yang bagus 
dalam jaringan di perusahaan Anda, maka sangat sulit untuk menjatuhkan Anda. 
Anggap saja atasan dan kolega Anda rada kurang fair pada Anda. Tapi hubungan 
bagus Anda di berbagai departemen lain, bisa menjadi benteng pelindung Anda. 
Bagaimana jika atasan dan kolega Anda justru orang-orang yang baik? Itu jauh 
lebih bagus lagi, kan? So, apapun kondisinya; cobalah untuk meningkatkan 
kualitas hubungan dengan jaringan di departemen lain di perusahaan Anda.

5. Terus berbaik sangkalah pada mereka. Penilaian Anda terhadap atasan atau 
teman bisa saja salah. Kalaupun mereka melakukannya, belum tentu disertai niat 
untuk menjatuhkan Anda. Jika atasan Anda bawel, misalnya. Atau menimpakan 
pekerjaan yang sulit hanya pada Anda. Boleh jadi itu bukan karena dia tidak 
sayang pada Anda. Mungkin memang begitu caranya untuk menggembleng Anda. 
Berburuk sangka para atasan yang seperti itu? Rugi, Anda. Teman yang Anda nilai 
tukang serobot itu. Belum tentu dia melakukannya untuk menyingkirkan Anda. Ini 
zaman persaingan ketat, bung. Segalanya mesti serba cepat. Serba lugas. Dan 
serba kompetitif. Menjadi orang yang gampang tersinggung di zaman ini rada 
tidak cocok. Orang ambisius sering terlihat arogan. Padahal bukan arogan. 
Orang-orang yang disiplin sering dikira galak. Orang-orang tegas sering dituduh 
tidak toleran. Berbaik sangkalah kepada mereka agar hati Anda lebih tenteram 
saat menghadapinya. Ada baiknya untuk mewaspadai kemungkinan perlakuan buruk 
orang lain pada kita. Tetapi, waspada tidak sama artinya dengan curiga. 
Tetaplah waspada, dan tetaplah berprasangka baik. Karena dengan begitu, Anda 
bisa tetap terjaga dari ancaman yang datang dari luar. Juga terjaga dari noda 
mental yang datang dari diri Anda sendiri. Dengan begitu, Anda tidak akan 
terpengaruh oleh sifat buruk yang menjadi kelemahan orang lain.

Kita mungkin sudah lama terbebas dari rasa iri atas kelebihan orang lain. Kita 
tidak merasa kesal lagi jika tetangga memberi hand phone baru, tv baru, atau 
mobil baru. Kita sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal itu. Tetapi, kita 
sering tidak sadar telah terpengaruh oleh kelemahan dan kekurangan orang lain. 
Padahal, ketika menemukan kelemahan orang lain melalui perilaku buruknya kepada 
kita; sebenarnya Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menjadi pribadi 
yang jauh lebih baik daripada mereka. So, mulai sekarang. Setiap 

kali melihat kelemahan orang lain, langsung setting mental Anda untuk mengambil 
hikmah darinya. Agar semakin hari, diri kita menjadi semakin baik. Sehingga 
suatu saat nanti, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari Berbagi Semangat!

DEKA - Dadang Kadarusman – 28 Oktober 2011Penulis buku ”Natural Intelligence 
Leadership” (Tahap editing di penerbit)Catatan Kaki:

Orang yang melakukan tindakan buruk dihadapan kita sebenarnya sedang 
mengatakan; ”tolong, jangan lakukan tindakan seperti ini...”

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung 
saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan 
Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Other related posts: