[breaktime-corner] Relawan, Apa Adanya dan Adanya Apa
- From: "gunawan prakoso" <gunawan.prakoso@xxxxxxxxx>
- To: <tea-corner@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 14 Mar 2012 14:28:27 +0700
Relawan, Apa Adanya dan Adanya Apa
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=1-33.
jpg> Description: Description: Photobucket
Gunung Merapi, nama yang tak asing lagi di telinga kita tentang gunung
paling aktif tersebut. 26 oktober 2010, letusan tersebesar semenjak 100
tahun terakhir dengan ratusan korban jiwa dan jutaan korban benda. Erupsi
yang hampir sebulan lebih dengan tanda tanya besar, kapan selesainya",
menjadikan daya tarik tersendiri. Merapi adalah fenomena alam tentang
gejolak perut bumi yang meronta ingin melepaskan tekanan ke permukaan. Wedus
gembel, dan material vulkanik lain adalah konsekwensi logis dari aktivitas
tersebut. Disanalah daya tarik Merapi setiap kali bergejolak dan ingin
menepati janjinya.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=2-28.
jpg> Description: Description: Photobucket
Dari sebuah pesan media cetak "tolong cari gambar Merapi dari sudut lain",
mampir di surat elektronik. Lantas dengan perlengkapan fotografi mencoba
mencari sudut pandang lain dari Merapi yang kebanyakan orang tak mau lirik.
Sisi utara dan timur laut menjadi sasaran empuk untuk mengabadikan fenomena
alam tersebut. Dengan radius sekitar 4-6km dari puncak Merapi, yang
jelas-jelas adalah zona berbahaya, tetapi dari lokasi tersebut masih
tenang-tenang saja. Disaat dari puncak merapi terjadi erupsi, terlihat
dengan jelas dan dekat sekali. Mata dan kepala menjadi saksi serta kemera
terus merekam setiap kejadian. Sungguh senang sekali disaat momen-momen
berharga tersebut ada dan nyata didepan mata.
Senja itu disaat Sang Surya masuk keperaduaanya, dan Merapi masih saja
dengan aksi erupsinya. Tidak ada yang berubah dengan Merapi, begitu juga
dengan penduduk sekitar yang masih tenang-tenang saja. Petang berganti
malam, di langit nampak awan semakin tebal dan menghitam. Dalam pikiran,
sepertinya akan turun hujan sebab gemuruh petir bersahut-sahutan. Diluar
prediksi orang yang tak mengerti tentang kondisi alam. Sirine meraung-raung,
kentongan bertalu-talu, teriakan "merapi meletus" saling bersahutan,
kepanikan ada dimana-mana. Malam yang tenang berubah menjadi malam mencekam,
penuh dengan kepanikan.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=3-27.
jpg> Description: Description: Photobucket
Sekuat-kuatnya manusia, malam itu adalah malam paling menakutkan. Di puncak
merapi, halilintar bersahutan, cahaya merah keluar dan menyembur dari
puncaknya, disertai suara gemuruh. Listrik padam, yang ada hanyalah
kegelapan disertai hujan abu vulkanik dan histeria warga. Dibalik ketakutan
dan kepanikan warga, kaki tiga penyangga kamera tetap berdiri tegak sambil
terus merekam apa yang terjadi malam itu. Didalam benak, adalah ini adalah
momen-momen berharga sepanjang maasa yang orang lain jarang saksikan dan
rekam. Ini bakalan menjadi mahal harganya saat masuk dalam ranah bisnis,
walau hanya lewat selembar gambar. Semua berlari, semua pergi, semua
mengungsi, kini hanya berdiri seorang diri demi sebuah ego.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=5-17.
jpg> Description: Description: Photobucket
Dalam benak ini betapa serakahnya diri ini, bersuka cita akan sebuah momen
diatas penderitaan, ketakutan dan kepanikan warga. Jika di asumsikan, tak
ubahnya dengan film "Kingkong", dimana kesrakahan momen harus mengorbankan
segala-galanya. Memang benar-benar bodoh pada malam itu, bukannya membantu
malah terus memotret hingga pagi. Seoalah tak ingin ada moment yang terlewat
sedikitpun dan harus mendapatkan. Kesrakahan akan sebuah momem istimewa
membutakan hati, bahwa disana ribuan nyawa yang berteriak minta tolong.
Bodohnya diri ini, dengan kemara terus melukis cahaya dari mereka yang
terkena bencana.
Akhirnya runtuh juga ego ini, dan kemera masuk dalam peraduannya. Tak
berarti apa-apa ini gambar, sebab sudah banyak yang seperti saya, bahkan
lebih bagus, lebih hangat dan lebih jelas. Apalah arti imbalan dari media
dari selembar gambar, dibandingkan dengan tangisan anak-anak kecil dan
kepanikan orang-orang dewasa. Pagi itu, berbekal bekal yang tersisa mencoba
untuk turun tangan langsung di lokasi. Lewat situs jejaring pertemanan
mencoba kontak satu dengan yang lainnya. Memang jika niat baik itu tulus dan
iklas di kerjakan, ada-ada saja bantuan yang datang.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=5a.jp
g> Description: Description: Photobucket
Pagi itu di posko Candi Sari, sekitar 2000 lebih pengungsi berdatangan.
Kantor kelurahan yang saat itu yang tidak siap menerima kedatangan
pengungsi, begitu panik disaat ribuan orang datang dengan truk dan sepeda
motor. Jarak dari puncak Merapi sekitar 15Km, walau belum masuk zona aman
tetapi dirasa aman karena sudah tidak ada pilihan lagi untuk mengungsi. Pagi
itu, mereka yang datang mengungsi hanya berbekal apa yang menempel di badan
mereka dan apa yang mereka genggam. Sungguh suasan yang memprihatinkan, dan
seolah semua orang tak bisa berbuat apa-apa hingga bantuan datang.
Mengharapkan bantun datang, seolah mustahil karena tak ada yang tahu ada
posko pengungsian di lereng tenggara Gunung Merbabu. Sambil menunggu bantuan
dari teman-teman datang, bersama penduduk dan pemuda setempat mencoba
mencari solusi bagaimana mengatasi permasalahan yang ada. Saat itu pengungsi
yang masih di pelataran balai desa dengan wajah dan tubuh penuh dengan abu
vulkanik diarahkan menuju kamar mandi umum untuk bersih-bersih. Disaat yang
bersamaan, kami menyiapkan tempat untuk mereka istirahat di dalam balai desa
yang bisa menampung satusan penduduk. Penduduk yang tak kebagian tempat lalu
diarahkan ke rumah-rumah penduduk sekitar untuk di ungsikan sementara. Dapur
darurat sudah berdiri di pojok balai desa, dengan bahan makanan seadanya
mencoba mencukupi kebutuhan pengungsi.
Hanya lewat pesan singkat, dan situ jejaring sosial mencoba untuk menggapai
rekan-rekan yang jauh disana untuk mencari bantuan. Siang itu, dari
komunikasi mulut kemulut, ponsel ke ponsel dan dunia maya, datanglah bantuan
baik makanan, minuman, selimut, masker dan obat-obatan. Namun, yang terjadi
adalah kericuhan, kekacauan karena semua pengungsi berebut. Kami tak berdaya
menghadapi hampir 2000 pengungsi yang saling berebut, saling dorong, dan
benar-benar kacau saat itu. Hanya tatapan mata saja yang ada saat itu tanpa
bisa berbuat apa-apa. Sebuah pelajaran berharga kami dapat siang itu.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=9-2.j
pg> Description: Description: Photobucket
Sebelumnya perkenalkan, kami adalah segerombolan mahasiswa yang belum
sekalipun menghadapi dan berada di lokasi bencana. Kami hanya ingin
mengabdikan diri pada kemanusiaan, namun tak tahu harus bagaimana. Berjalan
sambil berjalan, itulah yang terjadi pada saya dan rekan-rekan. Siang itu,
pelajaran berharga kami peroleh dan segera kami berkumpul untuk saling
berdiskusi. Sepakat, kantor pak Lurah kami jadi kan posko dan semua bantuan
yang masuk harus masuk posko dulu. Cibiran dan kesan negatif melekat pada
kami yang sesaat harus menahan bantuan untuk pengungsi. Di luar kantor
penduduk sudah siap-siap untuk mendapatkan bantuan, kami yang didalam dengan
dus-dus mien instant, botol air mineral dan bahan-bahan lain penuh dengan
ketakutan.
Butuh keberanian untuk menghadapi jumlah yang masa yang banyak, bagaimana
harus berdialog, negosiasi dan dengan tetap berempati. Dari hati kemi
mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kami, beserta apa yang kami lakukan
kedepannya. Ternyata argumen kami diterima dan semua kembali dengan tertib
ketempatnya masing-masing. Sekarang tugas berat menanti kami, bagaimane
mendistribusikan bantuan serta menjaga agar tetap terus ada. Bukan perkara
mudah menghidupi 2000 orang dengan jumlah kami yang tak lebih dari 10 orang
ini. Memang beban berat ada dipundak kami bagaimana mengawal dan menjalankan
aksi kemanusiaan ini.
Pekerjaan dimulai pukul 4 pagi, kami harus bangun mempersiapkan makan pagi
buat pengungsi. Kami laki-laki, tak tahu apa yang harus dilakukan pagi itu.
Akhirnya menyerah pada keadaan, kami hanya bisa menyediakan alat dan bahan
masak, sekarang silahkan ibu-ibu dan remaka putri dari pengungsi yang
mengolahnya menjadi makanan. Pagi hari, kami membagikan makananan kecil dan
susu kepada anak-anak di pengungsian dan mengajari mereka tertib serta
budaya antri. Setelah makan sarapan, kami bersama pemuda dan bapak-bapak di
pengungsian mencoba membenahi fasilitas dipengungsian terutama berkenaan
dengan sanitasi. Kami mahasiswa yang setiap hari berkutat dengan alat tulis,
kali ini harus memegang cangkul untuk menggali dan membuat WC umum. Kami
yang biasa berkutat dengan laboratorium di kampus kini harus bisa mendisain
kamar mandi umum, dapur umum beserta aliran airnya. Apa yang kami kerjakan,
adalah apa yang pertama kali kami lakukan dan harus turun dilapangan.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=6-11.
jpg> Description: Description: Photobucket
Menjelang siang, kami kembali disibukan lagi dengan urusan makanan untuk
pengungsi. Berbagai masukan dari warga yang mengungsi kami dengar dan coba
carikan solusinya. "kami tidak suka makanan kaleng/ikan kaleng, kami tidak
suka dengan daging dalam kemasan", akhirnya akal kami dapat. Makanan
sesuaikan dengan budaya makan penduduk setempat. Kami turun ke pasar untuk
membeli sayuran, ikan asin, kerupuk dan menu-menu penduduk desa. Alhasil apa
yang kami lakukan mendapat respon yang baik, sebab alergi terhadap makanan
kaleng sudah tidak ada lagi dan tidak ada lagi makanan yang terbuang
gara-gara asing di lidah pengungsi.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=7-5.j
pg> Description: Description: Photobucket
Lantas bagaimana dengan nasib kami, yah kami sudah terbiasa dengan kondisi
apa adanya dan adapanya apa. karena kami semua sebagian besar anak kost,
jadi tak ambil pusing dangan yang namanya makan dan tidur. Apa yang didepan
mata bisa kami makan tanpa ada masalah, bahkan lebih mewah dari menu
keseharian kita di kost. Seperti biasa kami makan dalam satu lembar kertas
makanan, dan kita santap bersama, itulah keseharian kami. Tak ada masalah
bagi kami tentang apa yang akan kita makan dan tidur dimana, yang pasti
semboyan kita "apa adanya dan adanya apa".
Tak terasa hampir 1 bulan Merapi masih belum dinyatakan aman, dan pengungsi
belum diperbolehkan pulang. Kami bertekad terus mengawal dan melayani mereka
hingga pulang. Konsekuensi logis kami adalah berbenturan dengan studi kami.
Namun kebijakan kampus membuat kami bernafas lega. Belajar jarak jauh dengan
bantuan internet, itu yang kami lakukan. Tugas dan belajar kami lakukan
lewat email, sehingga bisa kami kerjakan dimana dan kapan saja.
Hampir 2 bulan kami bersama sekitar 2000 penduduk Gunung Merap sisi Utara
yang mengungsi di Candi Sari, Ampel Boyolali. Kebersamaan, kehangatan dan
keakraban sudah tercipta antara kami yang menyebut diri sebagai relawan,
dengan pengungsi dan penduduk setempat. Ada ikatan emosional, disaat kami
dipertemukan dalam suasana mengerikan dan mencekam. Kini kami harus
berpisah, disaat pengungsi bersiap untuk pulang kekampung halamannya
masing-masing. Jabat tangah haru menghiasi perpisahan kami, setelah hampir 2
bulan dalam satu atap kebersamaan. Tak ada yang istimewa dari pertemuan dan
perpisahan tersebut, tetapi banyak pelajaran berharga dari kami anak kampus
yang baru belajar tentang kehidupan dan kemanusiaan.
<http://s933.photobucket.com/albums/ad180/dhave29/?action=view¤t=RELAW
AN-MERAPI-V4.jpg> Description: Description: Photobucket
Dalam pesan dalam kotak masuk surat elektronik, "mana foto Merapi..?", dan
sampai sekarang belum terjawab pertanyaan dari media tersebut. Kini foto
Merapi sudah menghiasi sampul sebuah buku berjudul "Relawan Merapi,Berbagi
Jejak Kebersamaan untuk Anak Negeri" yang "100% for Charity". Itu yang bisa
kami lakukan dan berikan.









Other related posts:
- » [breaktime-corner] Relawan, Apa Adanya dan Adanya Apa - gunawan prakoso