[breaktime-corner] Lika-liku Dunia Tenaga Kerja di Luar Negeri
- From: "gunawan prakoso" <gunawan.prakoso@xxxxxxxxx>
- To: <tea-corner@xxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 18 Apr 2012 20:44:39 +0700
Mr.Pecut : Hidup adalah Pilihan ....Jadi TKI adalah pilihan, tapi bukan
Paksaan J
Hidup adalah Ibadah ( Jasmen Purba ) ..............
Kerja adalah Ibadah ........hehehee
Lika-liku Dunia Tenaga Kerja di Luar Negeri
Description: Description: 1334751095852924649
Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kususnya di luar negeri dari dulu
sampai saat ini terus saja berlanjut. Satu kasus selesai, puluhan kasus lain
menyusul. Siapa yang salah? TKI, penyalur, pemerintah, majikan atau negara
penempatan TKI itu sendiri? Malasnya pemerintah belajar dari kasus-kasus
sebelumnya membuat nasib para TKI selalu memprihatinkan. Sebutan "Pahlawan
Devisa" sama sekali tidak ada gunanya buat para TKI. Seandainya saja di
negara ini lowongan pekerjaan berlimpah seperti halnya sumber daya alam,
mungkin cerita dan derita TKI di luar negeri tidak akan ada.
Saat seseorang memilih untuk mencari nafkah ke luar negeri, tentu banyak
pertimbangan yang telah dia pikirkan masak-masak sebelum keputusan
benar-benar diambil dan berkata "iya, aku akan bekerja ke luar negeri demi
masa depan dan untuk keluarga tercinta." Sekali lagi, bukan hal yang mudah
mengambil keputusan ini. Jauh dari keluarga dan hidup di negara asing,
bertemu dan berkumpul setiap hari dengan orang asing juga berkomunikasi
dengan bahasa asing. TKI sampai detik ini selalu identik dengan orang-orang
yang pendidikannya rendah, terbelakang, bahkan ada yang bilang kampungan.
Benarkah demikian? Ahk, tidak juga. Buktinya, banyak kok TKI/ BMI yang
sukses sekolah di luar negeri di sela-sela pekerjaannya di rumah majikan.
Di berbagai media tanah air maupun di blog-blog yang dikelola sendiri banyak
sekali bertebaran tulisan tentang BMI. Banyak yang memuji, namun tak sedikit
juga yang mengolok, mencaci, bahkan menghujat, mengata-ngatai para TKI/ TKW/
BMI bodoh, norak, tak berpendidikan, kampungan dan kata-kata kasar lainnya.
Sedih dan miris dan saat ada yang mengatakan seorang BMI wanita ke luar
negeri hanya untuk mencari sensasi dan bahkan ada yang bilang sengaja untuk
menjual diri. Begitu kompleksnya masalah dunia ketenagakerjaan kita ini dan
entah sampai kapan akan berakhir. Sampai tahun 2012, jumlah Buruh Migran
Indonesia (BMI) yang ada di Hong Kong saja telah mencapai angka 150.600
lebih dan 99% kesemuanya adalah kaum wanita.
Mungkin dunia ini benar-benar sudah terbalik. Bagaimana angka 150 ribu lebih
itu adalah kaum wanita yang menjadi tulang punggung keluarganya dan
kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Ini baru di negara Hong Kong, belum
negara lain yang menjadi tujuan para TKW seperti Taiwan, Singapura, Malaysia
dan negara Timur Tengah. Lalu kemana para suami mereka?
Di daerah saya sendiri, susul menyusul para suami menduda karena istri
mereka pergi ke luar negeri dan si suami tinggal di rumah untuk mengurus
anak menggantikan peran istri. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal
ini. Kebutuhan yang semakin meningkat menjadi alasan utama salah satu dari
pasangan ini memilih untuk mencari pemasukan dan salah satunya memilih untuk
bekerja ke luar negeri. Iming-iming gaji menjadi daya tarik tersendiri dan
kadang mengenyampingkan resiko saat sudah berada di luar negeri.
Masalah baru kadang muncul setelah dolar demi dolar terkirim ke kampung
halaman mereka. Suami yang bertanggung jawab pasti akan mengelola uang yang
diterima dari istri dengan baik. Menggunakan seperlunya saja dan menyimpan
sisanya dalam tabungan. Namun tidak sedikit juga yang begitu uang terkirim
langsung habis di tangan suami untuk keperluan yang tidak jelas, bahkan ada
yang nyata-nyata untuk bermain dengan wanita lain.
Tingginya Angka Perceraian di Kalangan BMI
Tidak bisa dipungkiri, banyak dari pasangan BMI yang rumah tangganya
berujung di Pengadilan Agama. Di Hong Kong sendiri untuk tahun 2011 saja,
KJRI menangani berkas perceraian sebanyak 1.022. Miris.
Tahun 2001, saat masih sekolah yang kebetulan saya magang di kantor
Pengadilan Agama kota saya, setiap bulan kasus perceraian yang masuk
mendekati angka 100 dan kebanyakan kasus yang masuk adalah pasangan dari
pihak istri yang menjadi TKI di luar negeri. Tahun 2001 TKI wanita yang ke
luar negeri tidak sebanyak saat ini. Masih ingat dalam ingatan saya saat
duduk di bangku SMK. Selama 3 tahun berturut-turut teman sebangku saya
adalah orang yang sama. Dia sering curhat ke saya tentang ibunya yang
menjadi BMI di Hong Kong sejak dia masih SMP kelas 1. Sering berkeluh
tentang kerinduannya dengan sang ibu yang hanya 2 tahun sekali bisa dia
rasakan. Sering bercerita tentang sepinya rumah karena hanya ada dia dan
adiknya sedang bapaknya sering berada di luar rumah entah untuk apa. Kabar
terakhir yang saya dengar, bapaknya sering membawa pulang teman wanita ke
rumah sedang hubungan antara ibu-bapaknya sudah tidak sebaik dulu lagi.
Ini hanya satu contoh. Beberapa bulan yang lalu saat saya pulang kampung,
banyak cerita serupa yang saya dengar dari orang di kampung saya. Banyak
pertanyaan yang mereka ajukan ke saya sampai saya bingung untuk menjawabnya.
"Sayang sekali kalau tiap bulan kirim duit tapi dihabiskan suaminya. Kasian
anaknya tidak diurus, bapaknya sibuk main di luar terus. Kenapa tidak suruh
pulang saja, merawat anak dan bekerja seadanya di kampung." dan berbagai
ungkapan lain yang rata-rata karena kasihan dengan pihak istri yang bekerja
di luar negeri sedang keluarganya menggunakan uang kiriman seenaknya
sendiri.
Saya bukan ahli ekonomi apalagi psikologi, tapi melihat fenomena yang
terjadi dalam keluarga BMI membuat saya miris dan sedih. Memang tidak ada
yang memaksa kami-kami ini untuk menjadi TKI/ TKW di luar negeri, semua
adalah pilihan kami sendiri dengan alasan yang jelas yaitu "ketiadaan
lapangan kerja yang memadai di daerah kami dan desakan kebutuhan setiap hari
yang semakin tinggi."
__
Tahun ini atau beberapa bulan lagi akan ada kelulusan tingkat SMA/ SMK. Bisa
dibayangkan berapa ratus ribu bahkan juta anak muda yang tidak ada biaya
melanjutkan kuliah akan menjadi pengangguran. Saya sendiri tidak berharap
adik-adik kelas saya ini ikut-ikutan pergi ke luar negeri menjadi TKI/ TKW,
selain umur belum mencukupi, pengalaman mereka juga belum ada. Jangan sampai
hal ini dijadikan ladang empuk oleh PJTKI untuk mengeruk keuntungan.
Tidak perlu ditutup-tutupi bahwa banyak sekali PJTKI yang mendatangi
sekolah-sekolah tingkat SMA/ SMK untuk merekrut para siwsinya dengan
iming-iming gaji besar dengan bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Umur dan
pengalaman bukan soal bagi mereka, semua bisa diatur. Gaji tinggi tapi
resiko juga tinggi apalagi umur dan pengalaman tidak mencukupi.
Semoga hal sepele ini menjadi perhatian pihak yang berwenang. Hentikan
ekpsor besar-besaran tenaga kerja ke luar negeri.

Other related posts: