[milis-salafy] Serial Tafsir Al Quran - Surat Al Baqarah ayat 4
- From: "abusalman" <ana@xxxxxxxxxxxxxx>
- To: salafy@xxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 04 Nov 2003 03:32:49 GMT
Selasa, 04 November 2003 - 22:17:38, Penulis : Syaikh Abdurrahman bin
Nashir as Sa?di Kategori : Tafsir_AlQuran Serial Tafsir Al Quran - Surat Al
Baqarah ayat 4
Tafsir Al Quran Surat Al Baqarah 4
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
æÇáøóÐöíäó íõÄúãöäõæäó ÈöãóÇ ÃõäÒöáó Åöáóíúßó æóãóÇ ÃõäÒöáó ãöä ÞóÈúáößó
æóÈöÇáÂÎöÑóÉö åõãú íõæÞöäõæäó
artinya : Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur'an) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS Al Baqarah, ayat 4).
Selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
æÇáÐíä íÄãäæä ÈãÇ ÇäÒá Çáíß
"Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau" .
Ciri orang yang bertaqwa adalah mereka itu beriman kepada apa yang
diturunkankepada engkau (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Yang
dimaksud apa yang diturunkan kepada engkau, yakni Al quran dan As sunnah.
Dalil yang menunjukkkan bahwa öAs sunnah merupakan termasuk yang Allah
turunkan kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah firman Allah
dalam ayat lain :
æÇäÒá Çááå Úáíß ÇáßÊÇÈ æÇáÍßãÉ (ÇáäÓÇÁ : 113)
"Dan Allah menurunkan kepada engkau Al Kitab dan Al Hikmah" (An Nisa :113)
Al-Kitab yakni Al-Quran sedangkan Al-Hikmah berarti Assunnah. Syaikh
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah mengatakan "Maka orang-orang
yang bertaqwa, mereka beriman kepada seluruh yang dibawah oleh Rasul
(Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), dan tidak membeda-bedakan
sebagian yang Allah turunkan kepada beliau, masuk akal maupun tidak masuk
diakal. Tidak seperti orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, yaitu
menerima segala sesuatu yang sesuai dengan akalnya dan menolak yang tidak
sesuai dengan akalnya, ataupun menerima yang sesuai dengan hawa nafsunya
lalumenolak yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.
Mereka ini (orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya), beriman kepada
sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain. Ada beberapa hal yang
menyebabkan seseorang terjatuh dalam perkara penolakan terhadap sebagian
yangdibawa oleh Rasululllah Shalallahu Alaihi Wasalam. Di antaranya adalah
menolaknya atau mentakwil, menyimpangkan kepada selain apa yang Allah
Subhanahu Wa Ta'ala kemudian Rosul-Nya kehendaki.
Contohnya pada perkara asma dan sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka ahli
takwil atau ahli ta'til tidak mau beriman kepada sebagian atau seluruh asma
dan sifat Allah. Maka mereka tidak termasuk pada ciri orang-orang yang
bertaqwa yaitu mengimani segala sesuatu yang diturunkan secara
keseluruhannya.
Sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan ahli bid'ah, mereka itu mentakwil
nash-nash yang menunjukkkan kepada selain dari yang mereka ucapkan. Seperti
mentakwil sifat Allah tangan dengan kekuatan/ kekuasaan. Hal ini berarti
orang tersebut beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian
yanglainnya. Dia mengimani lafadz yang terdapat Al-Quranul Karim namun tidak
mengimani yang terkandung dalam lafadz tersebut.
Hasil takwil yang mereka lakukan adalah tidak membenarkan terhadap maknanya
meski mereka membenarkan lafadznya. Maka pada hakikatnya mereka tidak
berimankepadanya dengan keimanan yang hakiki.
Dari sini, para ulama dari generasi ke generasi selalu memperingatkan umat
dari bid'ah dan ahli bidah, mendidik umat dengan aqidah yang benar,
mengajarkan perkara asma wa sifat Allah kepada umat agar mereka tidak jatuh
ke dalam perkara ini, yaitu menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya.
Seperti yang dilakukan oleh ahli takwil atau ta'til dari kalangan Jahmiyah,
Mu'tazilah, Asy'ariah, atau Maturidiyah dan golongan sesat lainnya. Ada juga
neo mu'tazilah yang menamakan dirinya dengan nama Hizbut Tahrir. Agar bisa
berjalan di akal mereka yang rusak, yang mereka beriman kepada sebagian dan
tidak beriman kepada sebagian yang lain.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
æãÇ ÇäÒá ãä ÞÈáß
"dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum engkau".
Dan mereka pun beriman kepada segala sesatu yang diturunkan kepada sebelummu
(Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Berarti keimanan yang dimaksud
adalah beriman kepada kitab-kitab terdahulu yang diturunkan kepada para nabi
dan rasul sebelum diutusnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Dan
terkandung di dalamnya keimanan kepada kitab-kitab berarti beriman kepada
rasul-rasul yang kitab-kitab itu diturunkan kepadanya. Dan beriman pula yang
terkandung pada kitab tersebut. Beriman kepada kitab-kitab itu secara khusus
(nama kitabnya dan kepada siapa diturunkannya) ini adalah kekhususan pada
orang-orang yang beriman. Maka mereka itu beriman kepada seluruh kitab-kitab
samawiyah, yang diturunan kepada para nabi dan rosul sebelum Nabi Shalallahu
Alaihi Wasalam.
Dan mereka beriman pula kepada seluruh rasul, tidak membeda-bedakan sebagian
kepada sebagian yang lainnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menerangkan bahwa maksudnya adalah
beriman secara rinci tatakala Allah menyebutkan secara terperinci akan
namanya, kitab yang yang diwahyukan kepadanya dan umat yang dia diutus
kepadanya. Dan bagaimana pula dakwahnya, maka kita wajib beriman secara
terperinci pula. Tatkala Allah hanya menyebutkan secara global, maka kita
beriman secara global pula.
Syaikh Utsaimin mengambil dalil sebagaimana yang Allah firmankan di dalam
surat Mukmin ayat 78 :
"Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu,
sebagiandi antara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan sebagian mereka
ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu.."
Selanjutnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
æÈÇáÇÎÑÉ åã íæäæä
"Dan kepada perkara akhirat, mereka beriman (yaqin)"
Ini merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa berikutnya. Disebutkannya
al-Akhirah [ÇáÇÎÑÉ] merupakan nama yang mencakup segala sesuatu yang akan
terjadi setelah terjadinya kematian. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menyebutkan segala rinci dan secara berurutan di dalam kitab Aqidah Al
Wasithiyah perkara yang terjadi di akhirat, mencakup fitnah kubur, nikmat
kubur, adzab kubur, yang tidak diyakini oleh hizbut tahrir dengan dalih
hadistnya ahad.
Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengkhususkan penyebutan perkara akhirat
secarakhusus setalah menyebutkan perkara-perkara umum. Seperti Allah
Subhanahu Wa Ta'ala menyatakan beriman kepada Al-Kitab, ini berarti beriman
kepada segala sesuatu yang dikhabarkan di dalam Al-Kitab diantaranya
termasukperkara akhirat.
Perkara akhirat disebutkan secara khusus setelah perkara umum, karena iman
kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman. Selanjutnya karena perkara
akhirat ini merupakan faktor pendorong yang paling besar seorang itu
mempunyai semangat untuk beramal. Sebagaimana para sahabat ridwanallahu
alailih ajmain.
Mereka bertanya kepada Rasulullah " Ya Rasulullah bagaiaman kalau saya mati
di medan jihad?"
Rasul Shalallahu Alaihi wasalam menjawab " Kamu di Surga".
Maka langsung menuju ke medan laga sampai Allah Subhanahu Wa Ta'ala
menjemputajalnya dalam keadaan syahid.
Bagaimana semangatnya Abu Dujanah tatkala menerima pedang yang ditawarkan
oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wasalam, saat itu Rasul mengatakan " Siapa
yang mau mengambil pedang ini". Para sahabat menyatakan, "Saya..saya ya
Rasulullah". Kemudian beliau bertanya lagi "Siapa yang mau mengambil pedang
ini dan menunaikan haqnya." Tidak ada yang mengambil pedang itu kecuali Abu
Dujanah , Tidak mungkin hal tersebut dilakukan kecuali oleh orang yang
berimat kepada hari akhirat.
Di samping itu perkara beriman kepada akhirat intu merupakan faktor
pendorongseseorang itu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sebagaimana tatkala seorang anak gadis yang ibunya janda yang mata
pencahariannya adalah menjual susu. Tatkala ibunya mempunyai ide yang jelek,
untuk menambahkan air sehingga bisa diperoleh laba yang lebih besar, yang
tidak akan diketahui oleh Amiril Mukminin Umar bin Khattab.
Kemudian Anak perempuan tersebut menyatakan "Memang amiril mukminin tidak
mengetahuinya akan tetapi sesembahan Amiril Mukminin". Maka tidak mungkin
inidiperbuat kecuali orang tersebut beriman kepada Allah
Bagaiamana keadaan salah satu dari tiga orang yang terperangkap di dalam gua
yang di dalam amalan sebelumnya dia mempunya minat kepada anak pamannya.
Orang laki-laki itu sudah berada di cabang keempat anggota tubuh wanita
tersebut. Lalu wanita tersebut mengatakan "Bertaqwalah kamu kepada Allah,
tidak boleh melakukan hal itu kecuali dengan haqnya". Maka lelaki itu
langsung meninggalkannya. Tidak mungkin melakukan hal tersebut melainkan
orang memiliki yang rasa takut terhadap perkara-perkara yang akan terjadi di
akhirat nanti.
Demikian pula orang tersebut saat melakukan amalan-amalan. Yang berat
menjadiringan bagi dirinya. Yang sunnah menjadi mudah untuk dilakukan,
dikarenakan iman. Sesungguhnya untuk melakukan perkara-perkara tersebut
adalah mudah bagi siapa yang Allah mudahkan. Suatu tanda seseorang itu
dimudahkan melakukakan amalan-amalan, adalah dia memiliki keyakinan terhadap
masalah akhirat.
Sedangkan keyakinan di dalam firman Allah [æÈÇáÇÎÑÉ åã íæÞäæä], berarti ilmu
yang sempurna yang tidak terdapat di dalamnya keraguan, kebimbangan, yang
inimengharuskan melakukan berbagai macam amalan. Tetapi kalau orang itu
tidakpunya keyakinan, maka dia akan ragu dan bimbang saat mendapatkan
syubuhat.
Wallahu Alam bissowab
(Kitab Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Penulis Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as Sa?di. Dibahas oleh Ustadz Muhammad Ikhsan,
Pimpinan Ponpes Difa?anis Sunnah, Sewon, Bantul setiap hari Kamis pukul
16.00? 17.30 di Masjid Al Hasanah, depan Mirota Kampus Jogjakarta.)
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=316[1]
--- Links ---
1 http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=316
============================================================================
Web Based Mailing List Salafy di http://www.salafy.or.id/layanan.php
Alamat Email kirim ke Mailing List : "salafy@xxxxxxxxxxxxx"
Free Webmail @salafy.cjb.net, @assalafi.cjb.net, @s.salafy.or.id,
@user.salafy.or.id, @salafy.za.net, @assalafi.za.net, @salafy.zzn.com.
----------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [milis-salafy] Serial Tafsir Al Quran - Surat Al Baqarah ayat 4