[milis-salafy] Loyalitas dan Kebencian yang disyariatkan Islam (I)

 Ahad, 09 November 2003 - 05:13:42,  Penulis : Dr. Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan Kategori : Manhaj Loyalitas dan Kebencian yang
disyariatkan Islam (I)

1. Definisi al-wala' wal bara'

Wala' adalah kata mashdar dari fi'il "waliya" yang artinya dekat. Yang
dimaksud dengan wala' di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan
mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan
bertempat tinggal bersama mereka.

Sedangkan bara' adalah mashdar dari bara'ah yang berarti memutus atau
memotong. " artinya memotong pena. Maksudnya di sini ialah memutus hubungan
atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai
mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.

2. Kedudukan al-wala' wal bara' dalam islam

Di antara hak tauhid adalah mencintai ahlinya yaitu para muwahhidin, serta
memutuskan hubungan dengan para musuhnya yaitu kaum musyrikin. Allah
berfirman: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan
orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menu-naikan zakat,
seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Allah,
RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya
pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." (Al-Maidah: 55-56)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah
pemimpinbagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil
mereka men-jadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
zalim." (Al-Maidah: 51)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu
menjadi teman-teman setia ..." (Al-Mumtahanah: 1)

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi
sebagian yang lain." (Al-Anfal: 73)

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah tentang wajibnya loyalitas kepada
orang-orangmukmin, dan memusuhi orang-orang kafir; serta kewajiban
menjelaskan bahwa loyal kepada sesama umat Islam adalah kebajikan yang amat
besar, dan loyal kepada orang kafir adalah bahaya besar. 

Kedudukan al-wala' wal bara' dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah
taliiman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah : "Tali iman paling
kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR. Ibnu Jarir) 
Dan dengan al-wala' wal bara'-lah kewalian Allah dapat tergapai.

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu : "Siapa yang
mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala' karena Allah
danmemusuhi karena Allah maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Allah
hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman,
sekali pun banyak shalat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut.
Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi,
yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya." (HR.
Thabrani dalam Al-Kabir)

Maka jelaslah bahwa menjalin wala' atau loyalitas dan ukhuwah selain karena
Allah tidak ada gunanya di sisi Allah .

3. Mudahanah dan kaitannya dengan al-wala' wal bara'

Mudahanah artinya berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar
ma'ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau
ambisi pribadi. Maka berbaik hati, ber-murah hati atau berteman dengan ahli
maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak
melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah. 

Kaitan mudahanah dengan al-wala'wal bara' tampak dari arti dan definisi yang
kita paparkan tersebut, yaitu meninggalkan pengingkaran terhadap orang-orang
yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya. Bahkan sebaliknya ia
menyerah kepada mereka dan berpura-pura baik kepada mereka. Hal ini berarti
meninggalkan cinta karena Allah dan permusuhan karena Allah.

Bahkan ia semakin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak.
Maka orang penjilat atau mudahin seperti ini termasuk dalam firman Allah :
"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan
`Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu
melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar
yang mereka per-buat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka
per-buat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan
orang-orang yang kafir (musyrik)." (Al-Ma'idah: 78-80)

4. Mudarah serta pengaruhnya terhadap al-wala' wal bara'

Mudarah adalah menghindari mafsadah (kerusakan) dan kejaha-tan dengan ucapan
yang lembut atau meninggalkan kekerasan dan sikap kasar, atau berpaling dari
orang jahat jika ditakutkan kejahatannya atau terjadinya hal yang lebih
besardari kejahatan yang sedang dila-kukan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
"Sejahat-jahat kamu adalah orang-orang yang ditakuti manusia karena mereka
khawatir akan kejahatannya." (HR. Ibnu Abu Dunya dengan redaksi senada) 

Dari Aisyah radhiallaahu anha bahwasanya seorang laki-laki meminta izin
masukmenemui Nabi , seraya berkata, "Dia saudara yang jelek dalam keluarga".
Kemudian ketika orang itu masuk dan menghadap Nabi beliau berkata kepadanya
dengan ucapan yang lembut. Maka Aisyah berkata, "Engkau tadi berkata tentang
dia seperti apa yang engkau katakan". Maka Rasulullah bersabda,
'SesungguhnyaAllah membenci 'fuhsy' (ucapan keji) dan 'tafahuhusy' (berbuat
keji)." (HR. Ahmmad dalam Musnad )

Nabi telah berbuat mudarah dengan orang tadi ketika dia menemui Nabi -
padahal orang itu jahat - karena beliau menginginkan kemaslahatan agama.
Makahal itu menunjukkan bahwa mudarah tidak bertentangan dengan al-wala' wal
bara', kalau memang mengandung kemaslahatan lebih banyak dalam bentuk
menolakkejahatan atau menundukkan hatinya atau memperkecil dan memperingan
kejahatan.

Ini adalah salah satu metode dalam berdawah kepada Allah. Termasuk di
dalamnya adalah mudarah Nabi terhadap orang-orang munafik karena khawatir
akan kejahatan mereka dan untuk menundukkan hati mereka dan orang lain.

5. Beberapa contoh tentang setia dan memusuhi karena Allah

a. Sikap Nabi Ibrahim alaihissalam dan pengikutnya terhadap kaumnya yang
kafir. Allah berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik
bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan
dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan
telahnyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja'." (Al-Mutahanah: 4)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Allah berkata kepada hamba-hambaNya yang mukmin
yang diperintahkanNya untuk memerangi, memusuhi dan menjauhi orang-orang
kafir, "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim
dan orang-orang yang bersama dengan dia", maksudnya adalah
pengikut-pengikutnya yang mukmin.

"Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri
dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, kami
melepaskan diri dari kalian dan dari tuhan-tuhan yang kalian sembah selain
Allah.

"Kami ingkari (kekafiran) mu" , maksudnya dien-mu dan jalan-mu. 

"Dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat
selama-lamanya", maksudnya telah disyari'atkan per-musuhan dan kebencian
-mulai dari sekarang- antara kami dan kalian selama kalian tetap kafir. Maka
selamanya kami berlepas diri dari kalian serta membenci kalian. 

"Sampai kamu beriman kepada Allah saja" , maksudnya sampai kalian
mentauhidkan Allah semata, tanpa syirik dan membuang semua tuhan yang kalian
sembah bersamaNya.

Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa al-wala' wal bara' adalah ajaran Nabi
Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah menceritakan hal
tersebut agar kita mencontohnya. Dia berfirman, "Telah terdapat bagimu
teladan yang baik." Dan pada penutup ayat, Allah berfirman: "Sesungguhnya
pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada tela-dan yang baik bagimu; (yaitu)
bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari
Kemudian. Dan bara-ngsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah
Yang Mahakaya lagi terpuji." (Al-Mumtahanah: 6)

b. Sikap orang-orang Anshar terhadap saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin.

Allah berfirman: "Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan
telahberiman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka
mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka
(orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas
dirimereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan
itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)

Maksudnya, orang-orang yang tinggal di Darul Hijrah, yaitu Madinah, sebelum
kaum Muhajirin, dan kebanyakan mereka beriman sebelum Muhajirin, mereka
mencintai dan menyayangi orang-orang yang berhijrah kepada mereka, karena
kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, dengan membagikan harta benda mereka
tanpa merasa iri terhadap keutamaan yang diberikan kepada Muhajirin daripada
diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri juga sangat membutuhkan. 

Ini adalah puncak itsar (mengutamakan saudara) dan wala' kepada Allah
terhadap para penolong Rasulullah .

c. Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap kemunafikan
ayahnya yang berkata dalam salah satu pertempuran:

"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat
akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya." (Al-Munafiqun: 8)

Dia menginginkan al-a'azzu (orang yang kuat) adalah dirinya sedangkan
al-adzallu (yang lemah) adalah Rasulullah . Ia mengancam akan mengusir
Rasulullah dari Madinah. Maka ketika hal itu didengar oleh anaknya,
Abdullah,seorang mukmin yang taat dan jujur, dan dia mendengar bahwa
Rasulullah ingin membunuh ayahnya yang mengucapkan kata-kata penghinaan
tersebut, juga kata-kata lainnya, maka Abdullah menemui Rasulullah dan
berkata, 'Wahai Rasulullah, saya mendengar bahwa anda ingin membunuh
Abdullahbin Ubay, ayah saya. Jika anda benar-benar ingin melakukannya, maka
saya bersedia membawa kepalanya kepada anda". Maka Rasulullah bersabda,
"Bahkan kita akan bergaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal
bersama kita."

Maka tatkala Rasulullah dan para sahabat kembali pulang ke Madinah, Abdullah
bin Abdullah berdiri menghadang di pintu kota Madinah dengan menghunus
edangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya. Maka ketika ayahnya lewat,
iaberkata kepada ayahnya, "Mundur!" Ayahnya bertanya keheranan, "Ada apa
ini,jangan kurang ajar kamu!" Maka ia menjawab, "Demi Allah, jangan melewati
tempat ini sebelum Rasulullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz
(yang mulia) dan engkau adalah adz-dzalil (yang hina)." Maka ketika
Rasulullah datang padahal beliau berada di pasukan bagian belakang, Abdullah
bin Ubay mengadukan anaknya kepada beliau. Anak-nya, Abdullah berkata, "Demi
Allah wahai Rasulullah , dia tidak boleh memasuki kota sebelum Anda
mengizinkannya." Maka Rasulullah pun mengizinkannya, lalu Abdullah berkata,
"Karena Rasulullah mengizinkan maka lewatlah sekarang."

6. Menyayangi dan memusuhi para ahli maksiat

Penjelasan di atas adalah tentang pemberian wala' kepada sesama mukmin
sejatidan permusuhan kepada kafir sejati. Adapun golongan ketiga yaitu orang
mukmin yang banyak melakukan dosa besar, pada dirinya terdapat iman dan
kefasikan, atau iman dan kufur kecil yang tidak sampai pada tingkat murtad .
Bagaimana hukumnya dalam hal ini?!

Jawabannya adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi wala') dan
mu'adah (dimusuhi). Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena
kemaksiatannya dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada
kebaikan, melarangnya dari kemungkaran dan mengucilkannya bilamana
pengucilanitu memang membuatnya jera dan malu.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Apabila berkumpul pada diri seseorang
kebaikandan kejahatan, ketakutan dan kemaksiatan, atau sunnah dan bid'ah,
maka dia berhak mendapatkan permusuhan dan siksa sesuai dengan kadar
kejahatan yang ada padanya. Maka ber-kumpullah pada diri orang tersebut
hal-hal yang mewajibkan pemulia-an dan mengharuskan penghinaan. Maka dia
berhak mendapatkan ini dan itu. Seperti pencuri miskin; dia dipotong
tangannya karena mencuri, lalu ia diberi harta dari baitul mal yang bisa
mencukupinya. Ini-lah hukum asal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal
Jama'ah, ber-beda dengan Khawarij, Mu'tazilah dan orang-orang yang sepaham
dengan mereka. Mereka hanya mengelompokkan manusia dalam dua golongan:
orang-orang yang dapat pahala saja atau mendapat siksa saja." Ini sangatlah
jelas bagi masalah yang sangat penting ini. 

7. Menyambut dan ikut merayakan hari raya atau pesta orang-orang kafir serta
Berbelasungkawa dalam hari duka mereka

A. Hukum Menyambut dan Bergembira dengan Hari Raya Mereka

Sesungguhnya di antara konsekuensi terpenting dari sikap membenci
orang-orangkafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar
(perayaan) mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang
berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi
dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada baginda Rasul untuk meminta fatwa
karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat),
maka Nabi menyatakan kepadanya : "Apakah di sana ada berhala dari
berhala-hala orang Jahiliyah yang disembah?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau
bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari-hari
raya mereka?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatilah
nadzarmu,karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat
terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam." (HR. Abu Daud
dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan, tidak boleh menyembelih untuk Allah di tempat
yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang
kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka
dan menolong mereka di dalam menga-gungkan syi'ar-syi'ar mereka atau menjadi
wasilah yang menghantarkan kepada syirik. Begitupula ikut merayakan hari
raya(hari besar) mereka mengandung wala' kepada mereka dan mendukung mereka
dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya
mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makan-makanan sehubungan
dengan hari raya mereka. Dan di antaranya lagi ialah mempergunakan kalender
Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi
mereka. Karena itu para saha-bat menggunakan kalender Hijriyah sebagai
gantinya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak
diperbolehkan karena dua alasan: 
Pertama: Bersifat umum, sepertti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal
tersebut berarti mengikuti Ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan
tidak ada dalam kebiasaan salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan
dan meninggalkannya terdapat maslahat me-nyelisihi mereka. Bahkan seandainya
kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketepatan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihinya
telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah
kehi-langan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apa
pun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan kedua: karena hal itu adalah bid'ah yang diada-adakan. Alasan ini
jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya me-nyerupai mereka dalam hal
itu."

Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin bertasyabbuh
(menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti
makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti
bekerja dan beribadah atau pun yang lain-nya. Tidak halal mengadakan kenduri
atau memberi hadiah atau men-jual barang-barang yang diperlukan untuk hari
raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak atau pun yang lainnya
melakukan per mainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar
mereka pada hari itu. Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti
hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat
Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja
maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh .
Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas
maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap
kafir orang yang melakukan hal ter-sebut, karena dia telah mengagungkan
syi'ar-syi'ar kekufuran. Segolongan ulama mengatakan, "Siapa yang
menyembelihkambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka
seolah-olah dia menyembelih babi." Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa
yang mengikuti negara-negara 'ajam (non-Islam) dan melakukan perayaan Nairuz
dan Mihrajan serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum
bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat."

B. Hukum Ikut Merayakan Pesta, Walimah, Hari Bahagia atau Hari Duka Mereka
Dengan Hal-hal yang Mubah serta Berta'ziyah pada Musibah Mereka.

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahni'ah ) atau ucapan bela-sungkawa
(ta'ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala' dan
mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti
pengagungan (penghormatan) terhadap mereka. Maka hal itu diharamkan
berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaima-na haram mengucapkan salam
terlebih dahulu atau membuka jalan ba-gi mereka.

Ibnul Qayyim berkata, "Hendaklah berhati-hati jangan sampai terjerumus
sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha
mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, "Semoga Allah membahagiakan
kamu dengan agamamu", atau "memberkatimu dalam agamamu", atau berkata,
"Semoga Allah memuliakanmu". Kecuali jika berkata, "Semoga Allah
memuliakanmudengan Islam", atau yang senada dengan itu. Itu semua tahni'ah
dengan perkara-perkara umum. Tetapi jika tahni'ah dengan syi'ar-syi'ar kufur
yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan
mengatakan, "Selamat hari raya Natal" umpamanya atau "Berbahagialah dengan
hari raya ini" atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapkannya
selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman. Sebab
itusama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka
kepada salib; bahkan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada
memberikanselamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina
atau yang sebangsanya. 
Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari
keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang
yang melakukan bid'ah, maksiat atau pun kekufuran maka dia telah menantang
murka Allah. Para ulama wira'i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang
haram), mereka senantiasa menghindari tahni'ah kepada para pemimpin zhalim
atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen atau
mufti; demi untuk menghin-dari murka Allah dan laknatNya." 

Dari uraian tersebut jelaslah, memberi tahni'ah kepada orang-orang kafir
atashal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandung makna
yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni'ah atas
hari-hari raya mereka atau syi'ar-syi'ar mereka adalah haram hukumnya dan
sangat dikhawatirkan pelakunya jatuh pada kekufuran.

Dinukil dari Kitab Al Wala dan Al Bara, Edisi Indonesia ?Kitab Tauhid 1?
karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Mufti Lembaga Tetap
Kajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia. 

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=327[1] 

--- Links ---
   1 http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=327
============================================================================
Web Based Mailing List Salafy di http://webmail.salafy.or.id/
Alamat Email kirim ke Mailing List : "salafy @ freelists.org"
Free Webmail @ assalafi.ath.cx , @ assalafi.cjb.net , @ assalafi.mine.nu , @ 
assalafi.za.net , @ salafy.ath.cx, @ salafy.cjb.net , @ salafy.mine.nu , @ 
salafy.za.net , @ salafy.zzn.com , @ s.salafy.or.id , @ user.salafy.or.id 
----------------------------------------------------------------------------

Other related posts: