[ppi] [ppiindia] tidak perlu ada kekerasan lagi dan teror bom di Irak
- From: "peace" <hutan007@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sat, 24 Jan 2004 17:45:27 -0000
** ppi-india **
Perlu adanya ajakan secara dialog moral dan solusi pada para
gerilyawan untuk menghentikan perlawanan. Pasukan AS hanya melakukan
apa yang harus dilakukan. Sama seperti perjuangan para gerilyawan
menentang agresi. Tetapi kekerasan berlangsung sama sekali tidak
membantu penyelesaian masalah. Tetap membawa korban yang sia sia
termasuk masyarakat Irak dan dua pihak pun.
Apakah kekerasan ini berlangsung sudah dapat dibenarkan selama
bentuk bukan penyelesaian masalah? ini dapat merupakan kedendaman dan
kebencian yang bertentangan dengan ajaranNya. Bagi kita semua, apa
yang perlu dilakukan penyelesaian masalah di Irak untuk kebersamaan
dan keadilan?
Tunjuklah rasa kemampuan menyelesaikan masalah yang menyangkut
keselamatan dan tujuan hidup masyarakat.
wassalam dan pendapat,
-----------------------------------------------------
Bom Mobil Tewaskan Dua Orang Di Kota Samarra, Irak
SAMARRA, IRAK--MIOL: Bom mobil meledak hari Sabtu di pusat kota
Samarra, Irak, yang rentan bergejolak, menewaskan sedikitnya dua
warga Irak dan melukai sedikitnya 33 orang, termasuk tujuh tentara AS.
Ledakan di luar gedung dewan kota dan dekat markabesar polisi itu
memecahkan kaca sejumlah mobil di kota itu, yang terletak di
daerah "segitiga Muslim Sunni", 100 kilometer utara Baghdad.
Kapten Jennifer Knight dari Batalion Polisi Militer ke-720 mengatakan
di tempat kejadian bahwa dua orang tewas dan 33 orang yang lain luka-
luka. Ia menjelaskan tujuh dari mereka yang luka-luka itu adalah
tentara AS yang sedang mengerjakan urusan sipil di kota itu. Mereka
terkena kaca yang berterbangan, kendati luka mereka tidak berat,
tambah Knight.
Ledakan itu menurut AFP terjadi di luar gedung pengadilan di Samarra.
Polisi setempat, Kolonel Hazem Khoder, mengatakan bom disembunyikan
di dalam mobil Toyota putih yang diparkir di depan gedung pengadilan
di daerah yang ramai saat itu.
Gerilyawan secara teratur menyerang polisi Irak, sering melalui
serangan bom mobil terhadap pos polisi. Warga Irak lain yang dianggap
bekerjasama dengan pasukan pendudukan pimpinan AS juga diserang.
Pada 14 Januari, pasukan AS mengatakan, mereka telah membunuh delapan
gerilyawan dalam bakutembak di dekat kota itu.
Pada hari yang sama di Samarra mereka melaporkan penangkapan empat
kemenakan laki-laki Izzat Ibrahim ad-Duri, orang nomor dua dalam
pemerintahan Saddam Hussein.
Duri, mantan wakil pemimpin Dewan Komando Revolusi yang memerintah
Irak, merupakan bekas pejabat Irak yang paling dicari tentara AS
setelah penangkapan Saddam bulan lalu. Duri, yang kepalanya berhadiah
10 juta dolar AS bagi siapa saja yang dapat membawanya, diduga
sebagai dalang serangan anti-koalisi.
Di Washington, Gedung Putih tetap "ngotot" mencari senjata pemusnah
massal di Irak, kendati pejabat yang memimpin pemburuan senajta maut
itu telah lengser dari jabatannya dan menyatakan keraguannya tentang
penemuan senjata itu.
"Saya pikir, senjata itu ada," kata David Kay dalam wawancara lewat
telefon hari Jumat setelah mengundurkan diri.
"Apa yang tiap orang bicarakan adalah tumpukan (senjata) yang
diproduksi setelah Perang Teluk berakhir (1991), dan saya pikir,
program produksi skala-besar pada 1990-an tidak ada."
Pengunduran diri Kay telah diperkirakan sebelumnya tapi komentarnya
akan meningkatkan tekanan pada Presiden George W. Bush dan PM Inggris
Tony Blair soal alasan pembenaran mereka untuk perang.
Sejak agresi AS bulan Maret lalu, 507 tentara AS mati di Irak,
sedikitnya 349 dari mereka tewas dalam tugas. Dalam insiden fatal
terakhir Jumat malam, helikopter Kiowa AS jatuh di Irak utara
menewaskan dua awaknya.
Tentara AS dalam pernyataannya mengatakan, jatuhnya pesawat itu
sedang diselidiki.
AS menyalahkan pendukung setia mantan presiden Saddam Hussein dan
gerilyawan Islam atas banjir serangan mematikan terhadap pasukan
pendudukan dan warga Irak yang bekerjasama dengan mereka.
Para pejabat AS Jumat mengatakan tentara pasukan khusus telah
menangkap Husam al-Yemeni, anggota utama kelompok Ansar al-Islam,
yang dituduh Washington telah terlibat dalam serangan atas pasukan
Amerika di Irak.
Pencarian
Meskipun ada komentar Kay, pemerintah AS dan Inggris mengatakan
mereka tidak akan menghentikan pencarian atas arsenal senjata
pemusnah massal.
"Kami tetap yakin bahwa Dewan Survei Irak akan mengungkap kebenaran
soal rejim Saddam Hussein, program senjata pemusnah rejim itu," kata
jurubicara Gedung Putih Scott McClellan. Seorang jurubicara Blair
mengatakan: "Sikap kami tidak berubah."
Para senator Demokrat yang beroposisi menggunakan komentar Kay
sebagai pemanasan kampanye pemilihan presiden.
"Intelijen kita tampaknya salah dalam soal senjata Irak, dan
pemerintah menambah kesalahan itu dengan membesar-besarkan ancaman
nuklir dan hubungan Irak dengan al-Qaeda," kata Senator John
Rockefeller. "Akibatnya, AS membayar harga yang sangat mahal."
Kay digantikan bekas pemeriksa senjata PBB Charles Duelfer, yang
sebelumnya menyatakan keraguannya bahwa senjata penghancur massal itu
akan ditemukan di Irak.
Percekcokan Politik
Kontroversi baru soal alasan untuk perang di Irak itu muncul ketika
penguasa pendudukan di Irtak berusaha menyelamatkan peta jalan untuk
menyerahkan kembali kedaulatan pada rakyat Irak untuk menghadapi
meluasnya tuntutan pemilihan dini.
Berdasarkan rencana asli yang didukung AS, kaukus regional akan
memilih majelis Irak sementara pada akhir Mei dan majelis itu akan
menunjuk pemerintah sementara yang akan mengambil alih kedaulatan
pada akhir Juni. Pemilihan penuh akan menyusul tahun 2005.
Namun Ayatollah Ali al-Sistani, ulama Syiah yang sangat dihormati,
mengatakan pemilihan harus diadakan lebih cepat untuk memilih
pemerintah Irak yang berdaulat, dan banyak rakyat Irak yang mendukung
tuntutan itu.
Setelah mencemooh PBB karena gagal mendukung perang di Irak,
Washington kini mendesak Sekjen PBB Kofi Annan mengirim tim ke Irak
untuk menentukan apakah pemilihan dini dapat diselenggarakan, dengan
harapan langkah tersebut akan mengakhiri kontroversi baru itu.
"Kami mengharapkan jawaban segera dari PBB soal permintaan itu," kata
McClellan.
Para pejabat AS optimistis PBB akan mengirim tim. Annan, yang sedang
melakukan lawatan ke Eropa, diperkirakan akan mengumumkan segera
keputusannya hari Senin.
PBB mengatakan tim keamanan yang beranggotakan dua orang itu tiba di
Irak untuk bertemu dengan pemerintah pimpinan AS tentang kembalinya
staf PBB ke Irak di masa mendatang. PBB menarik staf internasional
keluar dari Irak tahun lalu setelah dua serangan bom bunuh diri di
markas PBB di Baghdad.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] tidak perlu ada kekerasan lagi dan teror bom di Irak