[ppi] [ppiindia] koran masuk sekolah
- From: "ibnuaviciena" <ibnuaviciena@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 21 Sep 2004 03:28:08 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
KORAN MASUK SEKOLAH
Rajin Membaca Banyak Tahu, Malas Membaca Sok Tahu!
Esai: Ibnu Adam Aviciena
Ngomongin Indonesia, dari sisi manapun, memang memprihatinkan. Negeri=20
ini dituduh sebagai negeri tempat lahirnya teroris. Australia bahkan=20
menyatakan Indonesia sebagai negara yang paling berbahaya bagi=20
negaranya. Pendidikan? Wah, bikin pusing. Untuk bisa sekolah SD harus=20
mengeluarkan uang ratusan ribu. Apalagi yang perguruan tingginya,=20
nyampe puluhan juta. Sementara pendapatan masyarakat sangat kecil,=20
jauh dari cukup untuk memasukan anaknya ke sekolah.=20
Berbicara prestasi juga sama menyedihkannya. Negara kita ini, menurut=20
Human Development Index pada 2003, hanya menempati posisi ke-112 dari=20
175 negara. Sedangkan menurut The Politic Economic Risk Constitution,=20
Indonesia menempati posisi paling buncit, yaitu pringkat ke-12 dari=20
12 negara. Belum lagi kalau kita mau mempersoalkan mutu guru. Satu=20
guru SD, menurut hasil penelitian Badan Pusat Statistik, itu harus=20
mengajar 22 orang.=20
Keterpurukan bekas jajahan Belanda ini mengundang perhatian banyak=20
pihak. Misalkan saja Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Komunitas=20
tersebut selama tiga hari, yaitu 15-17 September, menyeleggarakan=20
seminar dan lokakarya di Sukabumi, tepatnya di Grand Hotel Pakidulan.=20
Semiloka yang mengusung permasalahan minat baca ini dibuka oleh H=20
Mahtum Mastoem, SE, MBA, Ketua Pelaksana Harian Serikat Penerbit=20
Surat Kabar (SPS Pusat).
Acara yang disponsori oleh News in Education (NiE) Indonesia, World=20
Association of Newspaper (WAN) dan Serikat Penerbit Surat (SPS)=20
mengundang pembicara Kukuh Sanyoto, Sabarudiin Tain, Drs H Dadang=20
Daily, Msi; Maulana Wahid Fauzi, dan Dr H Iim Wasliman, MPd, Msi.=20
Kukuh Sanyoto, direktur eks NiE Indonesia yang memaparkan Peran NiE=20
dan KMBI dalam Menyiapkan Pembaca Masa Depan menyampaikan betapa=20
rendahnya minat baca orang Indonesia. "Orang Indonesia lebih banyak=20
menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk membeli=20
koran," jelasnya.
Sebuah langkah yang sangat bagus sudah dimulai oleh WAN di Norwegia=20
dengan terbitkannya buku yang bernama paspor untuk siswa SD=97bisa juga=20
SMP dan SMA. Buku seukuran kartu pos ini berisi tugas-tugas yang=20
fleksibel. Tiap tugas dirancang untuk bisa diselesaikan selama satu=20
minggu. Semuanya berhubungan dengan koran. Salah satu contoh tugas=20
pada buku itu ialah siswa diminta menuliskan tiga buah judul artikel=20
yang menarik hatinya.=20
Tentu saja agar siswa mampu menuliskan tiga buah judul artikel ia=20
harus membacanya terlebih dahulu. Di kelas, mereka nanti diminta=20
mempresentasikan apa yang diketahuinya dari tiga tulisan tersebut.=20
Proses semacam ini diharapkan pembelajaran yang holistik bisa=20
tercapai. Karena, betul kata pembicara, semua bagian koran bisa=20
dijadikan bahan pelajaran. Dari mulai iklan, surat pembaca, berita,=20
esai, dan yang lainnya. Anak bisa memeriksa mana kata baku dan mana=20
yang tidak, tatabahasa, majas, penggunaan tanda baca. Kalau ia sudah=20
mengerti teori desain, desain iklan bisa dikomentari juga.
Mari perhatikan kalimat-kalimat berikut yang ada pada halaman 8 buku=20
paspor ini: "Siapa nama tokoh/idola yang kamu baca di surat kabar=20
hari ini, dan kamu ingin berjumpa denganya. Nama tokoh/idola.......=20
(Seandainya kamu berjumpa) Ajukan kepada tokoh/idola itu tiga buah=20
pertanyaan: 1. .........2. ...... 3. ..... Kemudian coba kamu=20
bayangkan, sekiranya terjadi suatu peristiwa hebat di sekolahmu=20
(misalkan sekolahmu juara olimpiade matematika tingkat nasional).=20
Atau sesuatu yang menyedihkan terjadi di sekolahmu (misalkan=20
sekolahmu bocor waktu hujan).
Seandainya kamu seorang "wartawan cilik" untuk Majalah Sekolah, apa=20
bentuk pertanyaan yang akan kamu ajukan kepada tokoh/idola tersebut=20
berkaitan dengan kedua peristiwa yang menimpa sekolahmu itu?
Tuliskan di kertas yang lain sejumlah pertanyaan untuk tokoh itu, dan=20
buatlah wawancara dengan teman sekelas (misalkan, jadikan temanmu itu=20
sebagai tokoh/idola tersebut? Kemudian cek, bagaimana hasil wawancara=20
tersebut!"
Yang tidak kalah menarik, di setiap halaman buku saku itu dicantumkan=20
kalimat mutiara yang menggugah. Misalkan kata-kata Ali bin Abi=20
Thalib, Mahatma Ghandi, dan lain sebagainya. Contoh: Kepuasan=20
terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah=20
kemenangan yang hakiki (Mahatma Gandhi).
Sabarudin Tain yang menjadi pembicara bersama Kukuh Sanyoto=20
menjelaskan bahwa bangsa tanpa minat baca sangat berbahaya. "Anah-
anak bangsa akan tertinggal dalam segala aspek, lahirnya masyarakat=20
berbudaya rendah, egois, sulit menerima perubahan dan primitif, tidak=20
kritis dan emosional," katanya. Katua Komunitas Minat Baca Indonesia=20
(KMBI) Pusat ini menerangkan penyebab tidak adanya minta baca.=20
Beberapa penyebab itu antara lain lingkungan yang tidak mendukung,=20
sarana bacaan yang terbatas dan tidak menarik, serta rendahnya minat=20
dan daya beli.
Selain itu Sabarudin juga membandingkan jumlah surat kabar dengan=20
penduduknya. Beberapa negara yang dijadikan perbandingan tersebut=20
ialah Jepang, Srilanka, Singapura, Malaysia, Filipina, India, dan=20
Indonesia. Perbandingan surat kabar Jepang yang diterbitkan dengan=20
jumlah penduduknya pada 1991 adalah 1:1,73. Artinya hampir setiap=20
orang Jepang membaca satu koran. Angka yang tidak jauh berbeda=20
terjadi pada tahun berikutnya, 1994 dan 1995, yaitu 1:1,74. Dari=20
semua negara tersebut tadi, Jepang merupakan yang paling gemar=20
membaca media massa. Berikutnya Singapura, Srilanka, Malaysia,=20
Filipina, lalu India. Sedangkan Indonesia ada pada urutan terakhir.=20
Perbandingannyapun mencengangkan: 1:35,5; 1:40,2; dan 1: 41,8 untuk=20
tahun 1991, 1994, dan 1995. Angka-angka itu sederhananya bisa=20
dipahami sebagai ukuran tinggi rendahnya minat baca negara masing-
masing.
Koran Masuk Sekolah
KMBI Sukabumi merupakan satu dari sepuluh KMBI yang ada. Sembilan=20
KMBI berikutnya masing-masing: KMBI DKI Jakarta, KMBI Banten, KMBI=20
Bandung, KMBI Semarang, KMBI Yogyakarta, KMBI Surabaya, KMBI Lampung,=20
KMBI Riau, dan KMBI Bali. KMBI sendiri didirikan pada 23 Januari=20
2004, hasil seminar "Meningkatkan Minat Baca" yang diadakan oleh SPS=20
dengan dukungan WAN di Merak, Banten. Program komunitas ini sejalan=20
dengan program Newspaper in Education (NiE) atau Koran Masuk Sekolah=20
(KMS), yaitu meningkatkan minat baca di seluruh lapisan masyarakat=20
Indonesia.
KMBI memang menarik. Komunitas yang ada sejak 10 bulan lalu itu=20
memiliki visi: terbentuknya masyarakat berbudaya membaca sejak dini=20
guna membentuk bangsa yang cerdas dan kritis untuk kesejahteraan umat=20
manusia; dan memunyai misi: membentuk komunitas gemar membaca sejak=20
dini dari semua tingkatan usia, jenjang pendidikan, di seluruh=20
pelosok Indonesia guna melahirkan bangsa yang cerdas. Sementara=20
mottonya, meski pendek, tetapi menghentak: rajin membaca banyak tahu,=20
malas membaca sok tahu.
Radar Yunior=20
Saya adalah salah seorang peserta semiloka tadi dari Radar Banten.=20
Yang mendapat undangan sebetulnya bukan saya, melainkan Maulana Wahid=20
Fauzi, redaktur Radar Yunior. Radar Yunior ialah suplemen Radar=20
Banten Sabtu yang mengupas permasalahan remaja, terutama pendidikan.=20
Di Radar Banten saya baru dua bulan magang. Maulana Wahid Fauzi atau=20
lebih dikenal dengan Siuzi yang menjadi pembicara mengajak saya.=20
Sebelum di Radar Banten saya pernah di LKBN Antara Serang dan Tabloid=20
Wisata. Keduanya ditinggalkan karena semester 4 dan 6 masih sibuk=20
kuliah.
Radar Yunior, meski tak sehebat koran-koran Malaysia dan Singapura,=20
untuk Banten atau bisa juga untuk Indonesia cukup luar biasa. Walau=20
hanya terbit mingguan, sebagai suplemen ia sudah mendekati konsep=20
koran masuk sekolah. Halaman pertama, liputan utama, membahas masalah=20
remaja yang lagi aktual seperti seputar pelarangan film remaja dan=20
PON beberapa waktu lalu. Halaman dua: Jendela Sekolah (berisi profil=20
sekolah dan karya siswanya seperti puisi, cerpen, atau sejenisnya),=20
Kiprah Dindik (berisi program dinas pendidikan provinsi yang=20
berhubungan dengan remaja), Profil (berisi profil klab, komunitas,=20
orang, atau yang lainnya selama berhubungan dengan remaja). Halaman=20
tiga: Dongeng, Asal Kamu Tahu (berisi pengetahuan umum semisal=20
tentang listerik, hujan, dan lain-lain), Komik, Si Raban (berupa=20
kartun), dan komik kiriman pelajar. Halaman empat: Jalan-Jalan=20
(berisi tulisan tentang tempat-tempat bernilai sejarah dan wisata di=20
Banten).=20
Yang membedakan suplemen ini dengan suplemen remaja koran nasional=20
adalah selain dari gaya penulisan yang meremaja, juga waratwannya=20
yang terjun langsung ke lapangan, ke sekolah-sekolah menemui pelajar=20
menanyakan langsung bagaimana pendapat mereka tentang peristiwa yang=20
lagi hot di provinsi Banten, provinsi koran lokal berada dan pelajar=20
bersekolah.
Awalnya, seperti juga dengan masalah apapun, Radar Yunior kurang=20
dikenal. Bertanya ke siswa ini, apakah tahu Radar Yunior, ia gelang=20
kepala. Bertanya ke yang satunya, dijawab tidak tahu. Sekarang,=20
pertanyaan itu tidak usah ditanyakan. Ajukan saja pertanyaan ke=20
pedagang koran di loper pada pukul 9 atau 10. "Ada Radar Banten=20
(Yunior)?". Kemungkinan jawabannya, "Sudah habis...." **
Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang aktif di Rumah Dunia dan=20
Sanggar Sastra Serang. Buku barunya yang akan segera keluar adalah=20
Matahati Matahari: Mana Bidadari yang Pernah Kuminta? (Penerbit=20
Beranda) dan Panggil Aku Bunga (Penerbit GIP).
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] koran masuk sekolah