[ppi] [ppiindia] (e-media) Erika, "welcome to the jungle!"

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

(E-MEDIA) ERIKA, "WELCOME TO THE JUNGLE!"

Kawans,
Tulisan rekan Erika Panjaitan yang menceritakan pengalamannya sebagai 
reporter di sebuah stasiun tv swasta ternyata mendapat sambutan hangat 
dari rekan-rekan, tak cuma para wartawan, tapi juga praktisi PR, dan pelaku
komunikasi pemasaran. Ada mbak Baby di The Jakarta Post, bung Berthold
Sinaulan di Suara Pembaruan, mas Budi dan mas Atajudin di majalah 
Cakram, Febry di majalah Trust, bung Adam Rinaldi di Intermatrix, 
bung Farid Gaban di Pena Indonesia, bung Yon Daryono di Tribun Batam,
Ki Dotyi (mantan pemred sebuah majalah), praktisi PR David Yulianto 
Dewata, mas Yon Yon, dan tak ketinggalan mbak Hernani Sirikit.

Masih adakah opini dari kawan lainnya?


Salam MediaCare!


Radityo Djadjoeri

-----------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 13:35:52 +0700
From: Tertiani ZB Simanjuntak <baby@xxxxxxxxxxxxxxxxxx>

Erika, selamat datang di rimba liputan. 
 
Bagus juga sih kalo lebih banyak wartawan teve seperti rekan Erika yang
menyadari betapa beruntungnya dia. Lebih bagus lagi kalo bisa 
memanfaatkan "keberuntungan"nya untuk bisa melontarkan pertanyaan yang 
jawabannya sudah dinantikan oleh semua, baik wartawan lain dan audience.

Moga-moga Erika tidak menjadi seperti lain yang sangat-sangat 
memanfaatkan -- apa sih, ya, faktor psikologis, atau 'pokoknya-punya-
hard-evidence' barangkali -- keinginan narasumber untuk "masuk" teve. 

Mari Pangestu yang udah siap untuk pulang habis sidak pasar beberapa 
hari lalu saja bersedia turun dari mobil, balik lagi ke pasar, karena 
kru RCTI yang datang terlambat "perlu gambar".
 
Mari, kerja lagi 

-------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 04:00:26 +0100 (BST)
From: Berthold Sinaulan <bertholdsinaulan@xxxxxxxxx>

Wartawan televisi dapat prioritas? Mungkin memang. Saya sudah jadi 
wartawan sejak puluhan tahun sejak masa Orde Baru. Dalam beberapa acara, 
dulu kalau wartawan TV (waktu itu TVRI) belum datang, acara belum 
dimulai. Malahan pernah, acara tukar-menukar cenderamata dan bersalaman 
diulang hanya supaya bisa direkam wartawan TV.

Saya nggak tahu sekarang, karena sudah jarang liputan ke lapangan, 
atau kalau pun liputan, hanya untuk acara-acara yang "ringan" saja.
 
Berthold

-----------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 10:41:48 +0700
From: budi <budi@xxxxxxxxxxxx>

Hmmmm...jadi ingat di tahun 1999, saat itu SU MPR Fraksi PDIP melakukan
konferensi pers dengan pembicaranya Pak Kwiek. Saat sesi tanya jawab,
moderator konferensi pers lebih senang bila yang bertanya adalah 
stasiun TV dan media-media cetak nasional seperti Kompas dan Suara Pembaruan.

Setelah itu media-media lain dicuekin....dan saya ikut menjadi korban 
dari sikap diskriminasi sumber berita seperti itu. Nasib....

-----------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 00:39:11 +0000
From: Widi Asmoro <asmoro_w@xxxxxxxxx>

hehehhe.. kalo infotainment gimana... ???

**sambil liat2 ke atas**

---------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 13:15:54 +0700
From: Febry M <febry@xxxxxxxxxxxxxxxx>

Saya bisa merasa 'kegelisahan' yang dirasakan oleh rekan Erika Pandjaitan
(Erpand). Bisa jadi hal itu tak lepas dari unsur psikologis ybs. Jika 
tidak salah, Anda mengatakan baru sebulan menjadi reporter SCTV ya? 
Sudah pasti Anda merasa harus banyak belajar dari yang sudah berpengalaman 
(menurut saya, meski sudah sangat senior sekalipun, seorang wartawan 
harus tetap dan terus belajar sampai nyawa melepas badan). Itu juga 
yang bisa jadi membuat Erpand merasa jengah ketika tiba-tiba staff SBY
(yang waktu itu memang tengah membutuhkan dukungan media) memintanya 
untuk maju kedepan.

Namun, hal itu tidak terjadi ketika Anda menjadi wartawan televisi. 
Sebab, tipikal berita televisi (khususnya untuk konsumsi program berita
reguler yang hanya berdurasi 1 - 1,5 menit), memang hanya membutuhkan 
sekitar 2-3 kutipan langsung dari narasumber. Sisanya, tinggal 'nebeng'
pertanyaan yang ditanyakan wartawan cetak yang notabene membutuhkan 
informasi jauh lebih banyak ketimbang televisi.

Sudah dari sononya, nara sumber yang sedang 'gila' publikasi selalu 
ingin diwwcr dahulu oleh wartawan TV. Akibatnya, meski banyak wartawan
cetak dan radio yang sudah berkumpul jauh sebelum datangnya wartawan 
televisi, ada sejumlah sumber (tidak semuanya memang) yang 'tega' 
membiarkan rekan-rekan wartawan itu bengong hingga datangnya wartawan 
TV. 

Saya sendiri pernah mengalaminya sekitar tahun 2000. Waktu itu, saya 
sempat bekerja di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Suatu pagi 
saya ditelpon oleh seorang teman dotcom (tahun 2000 merupakan era
booming dotcom). Kita memang biasa liputan di Polda Metro. Waktu itu 
Polda lagi getol-getolnya menyidik kasus Buloggate. Dia berkata: "Feb,
lu cepetan dong kesini, udah ditunggu teman-teman tuh. Si Alex kagak 
mau ngomong kalo belum ada anak TV. Cepetan ya sekarang!!!" Padahal 
saya perkirakan baru sampai Polda Metro masih 1 jam lagi. Apa gak 
kasihan tuh.....

Dan sekarang, ditempat saya bekerja, saya masih melihat fenomena itu. 
Betapa terpinggirkannya teman-teman wartawan media cetak. Hal ini juga 
yang menurut saya, boleh jadi turut menyuburkan rasa tidak suka antara
wartawan cetak dengan wartawan teve.

---------------------------------------------------------
Date: Wed, 27 Oct 2004 02:14:12 +0700
From: Adam Rinaldi <adam@xxxxxxxxxxxxxxxxx>

Wah salut buat Erika,
Bicara lugas (meski bisa juga orang lain bilang curhat) seperti ini 
adalah pencerahan di tengah kebekuan.

Terapi seperti ini bukan hanya berguna untuk sesama wartawan, tetapi 
juga bagi para pengundangnya, entah itu biro iklan atau PR agency
atau apapun.

Tanggung jawab ada di pihak pengundang untuk memperhatikan spek 
kebutuhan masing2, seperti wartawan TV dan cetak, berbagai hal teknis 
dapat dilakukan dengan bijaksana, tanpa mengadakan pendahuluan kepada 
salah satunya dengan alasan yang paling pragmatis: coverage.

Memang bisa saja staff SBY tersebut tidak sengaja melakukan 
"diskriminasi" akses, akan tetapi dilihat dari cerita yang disampaikan,
hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, dan kadang menjadi sistematis.

Saya yakin kekhawatiran adanya rasa tidak suka antara wartawan cetak 
dan TV tidak akan tumbuh subur, karena sejatinya penyimpangan seperti 
ini adalah tanggung jawab nara sumber, organizer atau agencynya.

salam,
adam

Adam Rinaldi
d/a Yayasan Perspektif Baru
Perkantoran Duta Mas C2/19
Jl RS Fatmawati, Jakarta 12150

---------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 11:52:15 +0700
From: "y.dewata" <davidewata@xxxxxxxxxxxx>

Apakah memang begitu? Reporter dari media televisi lebih "diutamakan" 
daripada reporter media cetak (atau bahkan radio)?? Pengalaman saya 
selama ini melihat press conference atau rekan-2 reporter dalam mencari 
berita ke narasumber yang berhubungan dengan politik atau pemerintahan
kok nggak gitu ya? Saya sendiri bukan reporter. Hanya tugas saya 
membuat saya beberapa kali dalam posisi di tengah-tengah rekan-2 reporter :-)

Dan mengenai alasan tulisan Mbak Erika tidak dimuat redaksi buletin 
SCTV, terus terang ada beberapa yang mengganjal pikiran saya:

1. Bukannya wajar kalau diminta maju supaya dapat rekaman suara yang 
lebih baik? Beberapa kali saya melakukan press conference pun rekan-2 
wartawan TV juga meletakkan mic mereka di meja depan tanpa diminta. 
Saya justru melihatnya bukan sebagai suatu "pengistimewaan" reporter 
tv :-)

2. Saya nggak ngerti dengan tulisan Anda: "Saya tahu, hanya dengan 
memberi satu pertanyaan yang tepat, dengan gambar yang baik, jadilah 
sudah berita saya". Apakah cukup dengan satu pertanyaan saja maka 
berita sudah jadi? Sekali lagi saya bukan reporter, sehingga saya tidak
tahu mekanisme yang digunakan oleh rekan-2 reporter dalam memberikan 
pertanyaan. 

Dalam pengalaman saya, hanya satu kali mendapat satu pertanyaan saja 
dari rekan-2 reporter, itupun karena dia bilang sudah memiliki 
background data dari handout yang kami sebar saat itu, dan dia hanya 
perlu 1 klarifikasi dari saya. Apakah ini juga yang dialami Anda? 

Dalam artian Anda sudah mendapatkan gambaran berita dari beberapa 
pertanyaan rekan-2 reporter lainnya dan Anda hanya perlu menambahkan 1 
pertanyaan saja maka berita Anda sudah jadi?? 

Apakah "hanya" datang, memberikan pertanyaan, kemudian menggulung kabel
dan pergi? Tidak tertantang untuk menggali lebih dalam lagi dari 
narasumber? Apakah hanya wartawan cetak saja yang membutuhkan in-depth 
news? Apakah hanya dengan gambar (dan satu pertanyaan yang tepat) saja
sudah cukup bagi wartawan tv? Apakah bahasa gambar saja sudah cukup 
menjadi berita?

3. Ketika staf tersebut memotong pertanyaan reporter media cetak untuk 
memberi kesempatan kepada reporter tv, uhm...bukannya itu wajar? Yang 
tidak saya tangkap dari tulisan anda adalah gambaran berapa banyak 
wartawan cetak dan tv disana (?). 

Jika memang sudah banyak wartawan cetak yang bertanya, apakah ganjil 
jika kemudian wartawan tv diberi kesempatan bertanya? Dan dari apa yang
Anda tulis, kok saya melihat anda lebih bersikap pasif (tidak mengambil
posisi di depan seperti yang ditawarkan staf tsb.).

Please pardon my ignorance. With all due respect, arah tulisan Anda itu
nggak jauh-2 selain sebatas curhat.

Regards,
Yulianto Dewata

---------------------------------------------------
Date: Mon, 25 Oct 2004 13:59:57 -0700 (PDT)
From: hernani sirikit <hsirikit@xxxxxxxxx>

Tulisan Erica ini sederhana, tapi sangat menyentuh. Ini mengingatkan 
saya tahun 90, ketika jadi wartawan SCTV juga. Memang, kami selalu 
ditunggu dan mendapat prioritas. Sebagian wartawan TV Swasta 'merasa 
tak enak' dengan hal itu, tapi banyak yang 'keasyikan dan
menikmatinya'.

Perasaan Erica bahwa "kita ini jadi kecil, seperti sekrup, di sebuah 
mesin raksasa bernama SCTV. Orang melihat SCTV-nya, mereka tidak 
melihat pribadi reporter dan kameramannya", juga pernah saya rasakan.
Memang ada kerinduan untuk dikenali dan dihargai sebagai pribadi, bukan
sebagai pembawa microphone berlabel TV Swasta beken.

Salut Erica dengan kesungguh-sungguhan Anda menjadi semakin tertarik 
pada jurnalisme itu sendiri. Jangan putus asa. You'll be a great journalist.

Salam,

sirikit
--------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 06:06:01 +0000
From: faridgaban <faridgaban@xxxxxxxxx>

Setuju dengan Sirikit, pengakuan sederhana tapi menyentuh.

Mungkin menarik jika para wartawan muda (TV, radio, cetak) menulis 
pengalaman personal mereka seperti yang dilakukan Erica ini: 
kebanggan, kegalauan, proses belajar, pengalaman dramatis, lucu atau 
menyedihkan.

Jika dibukukan, kumpulan pengalaman personal itu bisa menjadi salah 
satu sumbangan menarik sejarah perkembangan pers era reformasi yang 
penuh paradoks.

Tentang kenapa TV sering diistimewakan:

Saya kira wajar jika para sumber berita mengistimewakan TV ketimbang 
media cetak. Sebagai wartawan cetak, saya sama sekali tidak iri dan 
minder. TV adalah medium paling digdaya dalam menyampaikan pesan. TV 
is power, TV is weapon. Jika media cetak hanya senapan, maka TV 
adalah rudal.

Tapi, itu baru satu sisi saja dari keping mata uang: POWER yang 
besar. Sisi lain dari keping yang sama, semestinya adalah: 
TANGGUNGJAWAB yang besar.

Dan Erica kini sudah mengecap "power" itu. Cukup baginya untuk 
mengingat apa jadinya jika "power" itu disalahgunakan. 

Atau jika "power" yang besar itu diserahkan kepada orang yang enggan 
mempelajari standar serta prosedur jurnalistik yang benar. 

Atau jika "power" itu diserahkan kepada orang (reproter, redaktur, 
produser) yang tidak merasa risau telah memproduksi acara seperti 
Buser.......

Salam,
Farid Gaban

---------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 13:02:27 +0700
From: atajudin <atajudin@xxxxxxxxxxxx>

Itulah kelebihannya televisi. Dulu ketika TVRI satu-satunya TV nasional
di zaman Soeharto, acara penting yang dilakukan pejabat pemda provinsi
atau kabupaten belum dimulai kalau reporter TVRI belum datang.
Jadi kesimpulannya.........simpulkan sendiri dah.

----------------------------------------------------------
Date: Mon, 25 Oct 2004 23:57:37 -0700 (PDT)
From: aku kangen <untuksetia@xxxxxxxxx>

Erika benar, saya bahkan pernah terhukum dengan keadaan seperti itu. 
Nara sumber tidak menghargai jurnalis sebagai sebuah pribadi atau 
kemampuan individual. tapi lebih soal insitusi...Dan itu mengerikan 
bagi jiwa-jiwa yang merdeka..!!!!
 
---jen

-----------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 06:26:10 -0700 (PDT)
From: yon yon <tak_kusangka2001@xxxxxxxxx>

Saya setuju dengan penilaian bahwa dalam konteks tertentu media visual
atau gambar memang lebih 'disenangi' oleh narasumber.  Meskipun kalo 
berbicara soal efektifitas penyampaian pesan sebenarnya keunggulan 
antara media cetak dan televisi masih debatable. Kalo pun ada pendapat 
kondisi saat ini media TV lebih disukai narasumber saya kira itu lebih
merupakan kondisi faktual realitas kehidupan pers Indonesia dan 
bukannya sesuatu keniscayaan bahwa mereka lebih hebat dibanding media 
lainnya. 

Saya kira semua media memiliki keunikan dan kelebihan sendiri2. Hal 
inilah yg seharusnya perlu dipahami oleh narasumber dan juga kawan2 
jurnalis. Ingin bukti? Tanya aja ke kawan lain di media non TV.
 
Terima kasih

----------------------------------------------------------
Date: Wed, 27 Oct 2004 03:44:06 +0700
From: KI DYOTI <kidyoti@xxxxxxxxxxxxxx>

Para elit politik Indonesia masih banyak yg belum mendalami peran dan 
dampak pers serta mendalami kelebihan dan kekurangan jika diadakan 
perbandingan antara tayangan tv dengan media cetak.

Media cetak akan terbaca lebih lengkap dibandingkan dengan wawancara 
tayangan tv. Nilai ingatan pemirsa TV dan pembaca media cetak, memiliki
dampak yang dapat berbeda (jadi belum tentu berbeda!). Hanya media 
cetak dapat disimpan dan lebih lama dapat dibaca (apalagi dengan 
pemuatan foto); namun kesan pemirsa TV bisa lebih "emosional" 
dibandingkan dengan membaca berita; mungkin foto membantu 
"meningkatkan" emosi pembaca media cetak.
 
Kedua-duanya perlu untuk mereka yang mengadakan promosi, baik di 
bidang politik, perdagangan, dan bidang-bidang lainnya.

KD

---------------------------------------------------------------
Date: Tue, 26 Oct 2004 10:00:13 -0700 (PDT)
From: yon daryono <yondaryono@xxxxxxxxx>

Erika mempertanyakan diri sendiri?
Bukan sebagai sesuatu yang baru bagi kita wartawan cetak mendengar 
fenomena tersebut.  Meskipun demikian saya sangat setuju dengan 
kejujuran yang terpancar darinya.

Seluruh sekat di dalam identitas siapa dan siapa dia menjadi lebih 
kukuh dibanding tembok Cina sekalipun. Fondasi yang dibangun Erika 
sangat kuat.  Pemaknaan diri di hadapan komunitas lain, patut mendapat
aplaus. Inilah cermin yang harus dilihat teman-teman di TV.

Bukan apa-apa, karena ibarat kereta api meluncur dengan cepat, pasti 
nanti akan berhenti di ujung rel. Entah apa yang akan terjadi di balik
rel itu? Kita semua tidak tahu! Itu yang akan dialami media TV.  Bisa 
jadi akan muncul sebuah bentuk media baru yang lebih "Spengtakuler
(bukan spektakuler, red). 

Meminjam istilah teman Febi Mahendra"  Spengtakuler itu melebihi apa 
yang disebut spektakuler. Nantinya media yang spektakuler seperti TV 
akan ditinggalkan.  Dan ada dua kemungkinan, kembali ke media cetak, 
yang bisa menyimpan data realis.  Yang bisa dilihat, diraba dan dibaca 
setiap saat.  Atau memasuki dunia maya? Yang terakhir ini mungkin lebih
"Spengsifik" (maaf sekali lagi pinjam istilah rekan Febi, red).

Dunia Maya telah mulai masuk ke dalam kehidupan kita para jurnalis.  
Berpikirlah Anda, bagaimana cara pengiriman berita jarak jauh saat ini?
Begitu mudah dan begitu nyata. Tidak lagi harus melalui kurir, types, 
atau petugas rugosing. Tuts di keybord bagaikan pembantu yang setia 
pada majikan. Menurut dan tak pernah membantah. Hal yang
sama juga pada kamera TV.

Terakhir ada dua kata yang bagi saya masih tetap menarik menyikapi 
tulisan Erika. Karena ternyata saya menangkap ada dua kata yang 
memiliki kekuatan untuk menarik saya ikut menulis ini.  
- Yaitu ERIKA dan MAYA

Sekali lagi ini bukan masalah jender.  Namun bunga-bunga di antara 
kata masih tetap ada pada feminisme.
 
Yon Daryono
Jurnalis di Tribun Batam

===============================================================
PENGAKUAN ERIKA PANJAITAN - REPORTER SCTV

Tadinya tulisan ini saya kirimkan ke redaksi buletin SCTV, ketika saya
baru sebulan bekerja disana. Tapi tidak dimuat tanpa alasan...

Salam... 

Erika Pandjaitan-Reporter SCTV

-------------------------------------

SEBULAN DI LIPUTAN 6 SCTV

"....saya ingin bergabung dengan institusi yang menjadi impian 
saya sebagai seorang jurnalis, Liputan 6 SCTV...", itulah kutipan isi 
surat lamaran yang saya tujukan kepada HRD SCTV pada saat melamar 
pekerjaan sebagai reporter. Pada saat saya membuat surat lamaran itu, 
Liputan 6 SCTV terlihat begitu bersinar di mata saya. 

Suatu sore, sehari setelah pemilu legislatif, ketika sedang berada di
jalan untuk meliput. Saya mendapat perintah dari korlip untuk datang ke
markas Tim Sukses SBY-Kala. Kabarnya disana ada penghitungan suara 
Partai Demokrat yang disaksikan langsung oleh SBY-Kala. Saya 
diinstruksikan untuk meliput suasana disana, sekaligus mewawancarai 
SBY-Kala mengenai perolehan suara mereka. Setiba saya di sana ternyata
sudah banyak wartawan dari media cetak dan online. Diantaranya bahkan 
media nasional yang selalu menjadi sumber isi kepala saya. "Udah 
wawancara SBY?", tanya saya pada seorang wartawan yang menurut ukuran 
saya terbilang senior. "Belum, kita-kita belum berani maju. SBY 
kelihatan cuek", jawabnya. "Tadi udah nyoba wawancara, tapi SBY belum 
bersedia. Kita coba wawancara dia sekarang yuk, dia pasti mau karena 
udah ada wartawan TV", sambung seorang wartawan yang lain. 

Akhirnya bersama-sama kami meghampiri SBY dan menyatakan niat kami.
Kemudian kami diterima disebuah ruang khusus. Beberapa orang wartawan 
segera mengambil posisi dekat SBY dan menyiapkan alat perekam. Saya dan
cameraman-pun segera menyiapkan peralatan. Tiba-tiba, setelah melihat 
ke name tag saya, seorang staf SBY mengatakan, "Erika pindah aja ke 
depan supaya suara Bapak dapat terekam dengan baik". Merasa tidak enak,
meski tertarik dengan penawaran itu, saya menolak. "Dari sinipun suara 
SBY dapat terekam dengan baik Pak," jawab saya, karena memang begitulah
keadaannya. 

Saat wawancara dimulai, saya menahan diri untuk tidak langsung bertanya, 
karena sudah ada rekan cetak yang bertanya lebih dahulu. Saya pikir, 
nanti saja, toh saya tidak dalam kondisi terancam akan kehilangan 
kesempatan melakukan wawancara. Saya tahu, hanya dengan memberi satu 
pertanyaan yang tepat, dengan gambar yang baik, jadilah sudah berita 
saya. Tapi tidak demikian dengan teman-teman di cetak yang membutuhkan 
informasi yang sifatnya depth. 

Ah... seringkali keberadaan name tag dan kamera, meski kamera itu 
entah on atau off, menjadi lebih penting bagi banyak orang. Untuk 
beberapa kasus malah lebih penting dibanding dengan dimulainya suatu 
acara tepat waktu atau bahkan kehadiran seorang pejabat di acara itu 
sendiri.

Tentu ini hanya segelintir perlakuan istimewa yang sering kali saya 
rasakan sebagai dampak menjadi wartawan TV. Kisah yang dari
segi 'kejar tayang' dapat dikatakan terasa manis, saya memang lebih 
suka mengingat hal yang manis-manis meski banyak rasa yang lain.
Tapi seringkali hal ini membuat saya merasa kecil dan bukan apa-apa. 

Terus terang saya berpikir, jika saya bukan seorang jurnalis televisi,
 kebetulan di liputan 6 SCTV, mungkinkah perlakuan istimewa sejenis 
yang lebih sering membuat saya jengah dibanding senang ini saya terima?
Di benak saya berjejalan banyak hal. Saya hanyalah seorang jurnalis 
yang beruntung, dibanding teman-teman di lokasi itu yang mungkin 
mempunyai kemampuan jurnalistik yang jauh lebih baik. Sudah 
seberkualitas itukah saya pribadi untuk mendapat prioritas? Jujur, 
saya rasa belum, saya masih harus banyak belajar. Tiba-tiba saya punya 
kerinduan untuk dihargai sebagai pribadi. 

Yang pasti, sebulan menjadi jurnalis di liputan 6 SCTV, pandangan 
telah berubah. Yang bersinar dimata saya bukanlah lagi Institusi ini. 
Tapi Jurnalisme itu sendiri...

Erika Pandjaitan-Reporter SCTV



Our Services:
Media Center - Media Monitoring - News Clipping Service - Publishing

Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare



-- 
_______________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] (e-media) Erika, "welcome to the jungle!"