[ppi] [ppiindia] Z. Afif : MERAYAKAN 1 MEI SEBAGAI HAK DEMOKRATIS KAUM PEKERJA

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **


MERAYAKAN 1 MEI SEBAGAI HAK DEMOKRATIS 
KAUM PEKERJA 


( Oleh : Z. Afif) 



Hari Perjuangan dan Kemenangan


PADA tanggal 1 Mei tahun ini sebagaimana setiap 
tahun sebelumnya, kaum buruh di seluruh dunia akan 
merayakan Hari Besarnya, sebagai salah satu hak 
demokratisnya. Hari 1 Mei sebenarnya bukan hanya 
Hari Besar Kaum Buruh Internasional yang membanting 
tulang di kilang-kilang minyak atau pabrik-pabrik, 
melainkan Hari Besar Rakyat Pekerja yang membanting 
tulang untuk memproduksi barang-barang  bagi kebutu-
han masyarakat dan untuk mendapatkan upah bagi meng-
hidupi dirinya dan keluarganya. Sebagian dari peng-
hasilan pajak negara mengucur dari perahan tenaga 
mereka. 

Hari Besar 1 Mei , menjadi juga Hari Raya bagi tenaga 
kerja "model baru", yaitu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) 
dengan TKW-nya (Tenaga Kerja Wanita), suatu kekuatan 
yang dikirim bahkan diperdagangkan ke luar negeri un-
tuk membanting tulang sebagai pembantu rumah tangga, 
pekerja bangunan, dan lain-lainnya. Mereka pun menja-
di penghasil devisa untuk negara. 



SELAMA berabad-abad kaum pekerja ini bekerja siang 
malam, sampai-sampai lebih dari 12 jam sehari, tanpa 
mendapatkan imbalan yang sepadan, sehingga bangkit 
kesadaran mereka berlawan, menuntut keadilan. Pada 
tahap pertama perlawanan mereka dalam bentuk menja-
dikan perkakas produksi, mesin-mesin sebagai sasa-
ran perusakan.  Kemudian kesadaran menuntut keadi-
lan dan berlawan itu terus tumbuh,  dan pada akhir-
nya  mereka menyedari bahwa nasib buruk yang menimpa 
mereka bukanlah alat-alat dan perkakas produksi, 
melainkan majikan, penguasa atau pemilik alat dan 
perkakas produksi itu. 

Kaum majikan telah menguras tenaga kaum pekerja dan 
mengisap dengan nyaman hasil kerjanya dalam bentuk 
nilai lebih. Oleh karena itu kaum pekerja menjadi 
sadar bahwa kepada majikan itulah perlawanan harus 
ditujukan. Yang dimaksud dengan perlawanan di sini 
adalah memperjuangkan hak-haknya dan keadilan dalam 
soal syarat-syarat kerja dan upah yang layak dari 
majikan. Mereka menuntut upah yang adil, kenaikan 
upah sesuai dengan tenaga dan waktu yang telah 
dipakai untuk berproduksi, syarat kerja yang baik, 
penurunan jam kerja, ruang kerja yang sehat, jaminan 
keamanan kerja, jaminan kesehatan dan pengobatan, 
jangka waktu libur untuk perempuan hamil menjelang 
dan sesudah bersalin, dan lain-lain. 

Karena tuntutan-tuntutan yang layak dan manusiawi 
itu tidak mendapat tanggapan yang baik dari para 
majikan, maka kaum pekerja meningkatkan bentuk per-
juangannya menjadi pemogokan umum yang diikuti 
puluhan ribu kaum buruh industri dan ini meletus 
pertama kali pada tgl.1 Mei 1886 di Amerika Serikat. 
Berkat perjuangan melalui pemogokan  yang menyebar 
ke berbagai industri, ke berbagai kota dan meluas 
ke berbagai benua di seluruh dunia, akhirnya kaum 
pekerja telah memperoleh penurunan  jam kerja me-
njadi delapan jam sehari, sedangkan di negeri-negeri 
industri maju telah diberlakukan ketentuan gaji 
atau upah minimum dan lima hari kerja dalam sepekan. 

Semua itu merupakan kemenangan perjuangan yang di-
lakukan oleh kaum pekerja sendiri dengan mengor-
ganisasi persatuan dan menggalang setiakawan (so-
lidaritas) dalam wadah serikat kaum pekerja atau 
serikat buruh di bengkel-bengkel, pabrik-pabrik 
dan setiap lapangan kerja. Dengan demikian pemo-
gokan merupakan senjata kaum pekerja untuk mem-
perjuangkan hak-hak dan tuntutan-tuntutan adilnya. 
Pemogokan bukanlah menjadi tujuannya. Perjuangan 
itu belum selesai, karena masih banyak masalah-
masalah yang menyangkut kepentingan, tuntutan adil, 
hak-hak asasi manusia kaum pekerja diabaikan bahkan 
dilanggar oleh kaum majikan dan penguasa seperti 
penggusuran, dan belum sungguh-sungguh diwujudkan 
pelaksanaan upah minimum di seluruh Indonesia, 
lebih-lebih kehidupan yang dialami kaum pekerja di 
Papua, Maluku, Poso di bawah pentrapan "keamanan" 
dan Aceh di bawah Operasi Darurat Militer. 


JADI jelas kiranya, Perayaan 1 Mei sebagai Hari Besar 
Buruh Internasional, bukanlah kreasi Karl Marx, kaum 
Marxis atau komunis.  Karl Marx dengan pandangan 
filsafat Materialisme Dialektika dan Histori meneli-
ti, menstudi dan menganalisis proses bangkitnya gera-
kan buruh dan akar sosialnya, sehingga didapatkannya 
kesimpulan bahwa kaum buruh sebagai salah satu kelas 
sosial  dan gerakan buruh merupakan bagian dari bebe-
rapa faktor yang mendorong maju perkembangan masyara-
kat moderen.  Karena itu peranan kaum buruh sebagai 
tenaga produktif masyarakat sangat penting, sehingga 
beralasanlah kalau tokoh penting di bidang ilmu so-
sial dan filsafat moderen itu berseru: 
     
      - KAUM BURUN SELURUH DUNIA BERSATULAH! - 



Merayakan 1 Mei Hak Demokratis Kaum Buruh 


KAUM penguasa militer, golongan oligarki, kapitalis 
birokrat serta kroni-kroni atau pendukung-pendukung-
nya di Republik Indonesia mengharamkan perayaan Hari 
Buruh 1 Mei. Sikap ini  sesungguhnya menentang per-
juangan adil kaum pekerja dan tidak menghargai hasil 
perjuangannya yang mengangkat derajat kemanusiaan 
serta memperbaiki taraf hidup kaum pekerja. Sikap 
dan tindakan mereka yang tidak demokratis dan tidak 
manusiawi itu terhadap kaum pekerja merupakan inti-
sari dari tindakan menentang perjuangan menegakkan 
harkat kemanusiaan, yang berarti juga menentang pe-
negakan hak asasi manusia pada umumnya. 


Penolakan atau penentangan terhadap kegiatan meraya-
kan Hari Buruh Internasional 1 Mei , secara picik  
juga didalihkan karena Hari Buruh dapat digunakan 
sebagai bentuk perjuangan klas dan "akan mengganggu 
keamanan dan ketertiban masyarakat". Perjuangan klas 
bukan sesuatu yang diada-adakan, melainkan muncul ka-
rena timbulnya klas-klas sosial yang saling bertenta-
ngan posisi dan kepentingannya. Perjuangan klas bukan 
berlaku sepihak dari klas  pekerja, melainkan pertama-
tama dari kaum majikan, klas kapitalis. Kaum buruh 
adalah pemilik tenaga kerja dan yang menjual tenaga 
kerjanya. Majikan adalah pemilik modal yang memerlu-
kan tenaga kerja dan dengan modalnya dapat memperla-
kukan tenaga kerja sesuai dengan kepentingannya men-
cari untung atau laba yang sebesar-sebesarnya. Pemi-
lik modal memiliki dan menguasai alat produksi. Me-
reka merupakan klas kapitalis. Manusia yang tidak 
memiliki modal dan alat produksi, menjual tenaganya 
pada pemilik modal dan alat produksi. Mereka  adalah 
klas  pekerja. Dengan demikian dua klas berhadap-
hadapan menuntut dan membela kepentingannya masing-
masing. Yang satu menuntut keadilan, yang lain me-
nuntut dan mengeruk keuntungan. Inilah sesungguhnya 
yang menimbulkan bentuk perjuangan klas. 

Bentuk perjuangan klas ini bisa berlangsung secara 
demokratis dan damai, yaitu dengan perundingan anta-
ra kedua pihak itu. Tetapi kalau majikan tidak me-
ngindahkan tuntutan layak dan adil kaum buruh, maka 
perjuangan itu bisa meningkat menjadi pemogokan. Ka-
lau dengan pemogokan juga tak berhasil, maka  perju-
angan bisa menjadi antagonis, sehingga dapat terjadi 
tindakan spontan yang tak diharapkan dari kaum buruh, 
yaitu  pendudukan kantor majikan dan perusakan mesin, 
dstnya. 

Pemogokan adalah salah satu hak demokratis yang harus 
diperoleh kaum buruh untuk menuntut dan membela baik 
kepentingan maupun keadilannya. Pemogokan bukan hanya 
sebagai hak asasi dan keadilan bagi kaum buruh , me-
lainkan salah satu senjatanya dalam memperjuangkan na-
sibnya yang layak sebagai kaum dan manusia pekerja yang 
memproduksikan barang-barang bagi keperluan masyarakat. 

Menghadapi tuntutan dan perjuangan kaum buruh itu, ka-
um majikan sering menggunakan alat penekan, melakukan 
intrik, memecah belah kaum buruh dan serikat buruh, 
menyogok polisi dan tentara untuk menindas kaum buruh, 
menangkap bahkan membunuh aktivisnya seperti yang di-
lakukan terhadap Marsinah di Kediri - Jawa Timur, ak-
tivis buruh di Medan, dll.  Nasib buruk dan langka per-
lindungan hukum juga dialami para TKW. Penulis men-
dengar langsung keluh-kesah TKW di Hongkong, kala 
penulis menemui mereka pada bulan Januari yang lalu 
di Victoria Park. Oleh karena itu, sangat penting 
dalam setiap bengkel, pabrik dan proyek kerja, di 
negeri mana pun berada, kaum buruh, kaum pekerja meng-
galang setia kawan seerat-eratnya, memperkokoh 
persatuan, membentuk dan mengkonsolidasi organisasi 
kesatuan buruh. 



Kaum Pekerja Patut Mewaspadai Masa Depan 

SITUASI di seluruh Nusantara akhir-akhir ini, mela-
lui Pemilu dapat dilihat bahwa tidak ada satu partai 
pun dari  partai-partai yang mendapat suara di atas 
satu juta yang mewakili kepentingan kaum buruh atau 
kaum pekerja. Hal ini dapat ditelusuri melalui 
cuap-cuapnya dalam berkampanye dan dalam programnya. 
Adakah dari partai-partai itu yang menjanjikan akan 
melaksanakan hukum terhadap pelaku pelanggaran HAM 
dari kalangan perwira TNI? Adakah partai yang menjan-
jikan akan melarang penggusuran rumah rakyat dan 
akan menyediakan lahan dan rumah bagi yang telah 
kena gusur secara paksa? Adakah yang menjanjikan be-
bas biaya sekolah hingga SMU/SLTA untuk anak-anak 
yang orang tuanya tidak mampu atau miskin? Mengapa 
mereka tidak peduli terhadap masalah-masalah Papua, 
Ambon, Poso, Kalimantan dan Aceh? Jangan lupa, 
PDI-P dengan Megawatinya, banyak janji masa Pemilu 
1999, tetapi hanya tinggal dalam peti simpanannya. 

Sekarang kaum pekerja menghadapi masa kampanye pemili-
han capres dan cawapres. Kita lihat bermunculan  para 
jenderal yang justru terlibat dalam pelanggaran HAM, 
memperdagangkan diri sebagai calon pemimpin penguasa 
RI. Mereka adalah ahli waris Orde Baru Suharto yang 
sangat parah KKN-nya. Kita tak lupa bahwa  militer 
memberlakukan politik massa mengambang, yang mencabut 
hak-hak demokrasi dari kaum buruh, kaum tani, kaum 
nelayan, rakyat miskin dari berbagai golongan dan 
lapisan baik agama maupun etnis. Orde Baru dengan 
kekuatan militer yang disangga Golkar telah menja-
lankan teror dalam berbagai peristiwa yang belum di-
selesaikan secara hukum. Militer menjadi alat penin-
das terhadap rakyat dalam setiap gerakan yang menun-
tut keadilan dan demokrasi.  Menelusuri proses Kudeta 
Militer atas Pemerintah Sukarno, akan tampak bahwa   
para Jenderal TNI-AD lebih dulu membentuk Golkar, 
Soksi, Kosgoro, Pemuda Pancasila untuk memukul dan 
menghancurkan organisasi dan gerakan massa rakyat 
pekerja. Begitu pula setelah berdiri Orde Baru 
dibentuk  Korpri, FSBI, Dharma Wanita, dan 
lain-lain. 

Berkuasanya militer berarti akan berlaku terhadap rak-
yat disiplin militer juga, yaitu tunduk kepada peme-
gang komando tunggal, bukan kepada undang- undang dan 
hukum sipil. Partriakalisme akan dikukuhkan. Maka 
produk-produk semacam Kopkamtib, dan peraturan-
peraturan yang menegasi konstitusi akan berkembang 
biak. Kodim, Koramil, Babinsa akan menjadi lembaga 
yang mengontrol bupati, camat dan lurah. Dwifungsi 
yang telah dipertahankan di Aceh dalam jabatan camat, 
akan dikembangkan ke wilayah lainnya manakala militer 
berkuasa. Selama masa Megawati berkuasa di bawah baya-
ngan militer, di mana Menteri Koordinator Polkam dan 
Menteri Dalam Negeri dipegang militer, telah dimekar-
kan wilayah dengan diperbanyak provinsi, kabupaten, 
kecamatan dan pedesaan, sehingga badan jenjang komando 
militer semakin beranak-piyut. Bila Presidennya kelak 
militer, badan komando itu akan merupakan basis 
kekuasannya yang ampuh, dan kekuasaan sipil berada 
di bawah diktenya. 


BERSAMAAN dengan merayakan Hari Buruh Internasional, 
setiap rakyat pekerja, seluruh etnis dan golongan 
masyarakat sangat penting mewaspadai bahayanya pemu-
lihan rezim militer, suatu rezim otoriter. - 


Macao, 24 April 2005. 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: