[ppi] [ppiindia] Z.. AFIF : Kaum Buruh Aceh Berhak Merayakan Hari Buruh
- From: "Rondang Erlina Marpaung" <rondang@xxxxxxxxxxxx>
- To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 26 Apr 2004 23:09:34 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
KAUM BURUH ACEH BERHAK MERAYAKAN HARI BURUH
( Oleh: Z. Afif )
DI ACEH dewasa ini jumlah kaum buruh bukan hanya
bertambah secara kwantitas, melainkan juga mening-
kat secara kwalitas. Dulu kaum buruh di Aceh hanya
terdiri dari pekerja yang menggunakan tenaga jasmani-
nya (pok-seumpom = dukung banting) saja di perkebun-
an, pelabuhan, dalam pabrik-pabrik atau bidang pe-
ngangkutan darat.
Tetapi dengan tumbuhnya industri moderen karena
telah beroperasi modal asing di bidang perminyakan
dan gas di Aceh, maka terjadi sedikit perkembangan
dengan mulai adanya buruh orang Aceh yang memiliki
ketrampilan dalam mengendalikan mesin-mesin,
pekerja di laboratorium dan lain-lain. Namun, ini
belum menjadi pertanda bahwa masyarakat Aceh secara
sosial dan ekonomi sudah maju dan makmur. Juga secara
politik itu bukan sebagai pertanda sudah terwujud
suatu kehidupan yang demokratis. Buruh dapat dikatakan
bernafas lega kalau sudah terpecahkan gaji minimumnya
yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya yang layak,
cukup sandang, pangan dan papan (perumahan), dapat
membiayai sekolah anaknya paling tidak hingga selesai
SMU/SLA.
Belum lagi yang menyangkut jaminan keamanan kerja,
kesehatan dan pengobatan, libur hamil tua dan
bersalin bagi perempuan, dana dan hak pensiun, THR,
dan lain-lain. Tersediakan tempat rekreasi dan olah-
raga di lingkungan pabrik atau perusahaan. Ada fasi-
litas kegiatan kebudayaan, kesenian dan pendidikan
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kaum
buruh. Kemudian terjamin hak politiknya, yaitu mem-
bangun Serikat Buruh tanpa campur tangan penguasa
dan majikan.
Polarisasi di Aceh
NAMUN suatu kenyataan pula, orang Aceh tidak mudah
mendapatkan pekerjaan di bidang tehnik dan adminis-
trasi di kilang-kilang moderen milik modal asing atau
pemodal dari Jakarta. Mereka merekrut tenaga dari luar
Aceh, dengan meremehkan tenaga dan pengetahuan orang
Aceh, bukannya mereka mendidik tenaga-tenaga dari ka-
langan orang Aceh agar lebih terampil di bidangnya.
Karena itu orang Aceh merasa diketepikan di bumi mi-
liknya sendiri. Kebijaksanaan itu juga sepengetahuan
penguasa pusat - Jakarta. Ini nyata suatu politik
ketidakadilan dan diskriminasi. Tidak berniat mema-
jukan Aceh, melainkan semata-mata untuk mengurasnya.
Di sisi lain, di samping memang bertambah kaum cen-
dekiawan Aceh, tetapi masih lemah kemampuannya dalam
mempersatukan diri dan mengorganisasi dengan baik
massa rakyat lapisan bawah - kaum buruh, tani, nela-
yan dan golongan miskin lainnya.
Kaum ulama sejak diberlakukan berdirinya MUI
lebih-lebih setelah operasi militer dan pemberlakuan
Darurat Militer, berkesan peranannya melayu dan tidak
bersatu-padu, sehingga rakyat merasa kehilangan
pembimbingnya. Sementara itu di pedesaan terjadi
polarisasi yang parah. Kaum miskin bertambah. Tani
miskin dan buruh tani membiak, sebaliknya pemusatan
tanah kepada golongan minoritas (tani kaya dan tuan
tanah) semakin berkembang. Kaum tani juga dimiskinkan
akibat harus mengungsi, menghindar dari sweeping dan
operasi militer ke kampung-kampung, sehingga tanah
garapannya terlantar tak dapat digarap atau tak dapat
dipetik panennya.
Dukung-Mendukung Pengusaha dan Pemandu Kendaraan
OPERASI militer TNI/Brimob sejak Operasi Jaring Merah
hingga Darurat Militer sekarang ini bertujuan tunggal
menghabisi manusia Aceh yang kritis (apakah itu GAM
atau bukan, semuanya disebut separatis!), yaitu kekua-
tan yang ingin menentukan nasib sendiri bagi Aceh.
Yang menarik, selama berlangsung beraneka macam nama
operasi itu adalah munculnya berkali-kali pemogokan
kaum buruh kendaraan bermotor. Pemogokan itu dilakukan
oleh para supir yang memandu kendaraan pengangkutan
barang-barang kebutuhan masyarakat Aceh dari Medan
dan yang mengantarkan barang-barang dari Aceh ke Medan
melalui jalur lalu lintas pantai utara dan pantai Se-
latan Aceh. Pemogokan itu dilakukan sebagai protes
terhadap pungli (pungutan liar) yang dilakukan oleh
pos-pos TNI dan polisi/Brimob sepanjang jalan raya
mulai dari perbatasan Aceh dengan Langkat di pantai
utara hingga ke Banda Aceh.
Sepanjang jalan itu terdapat tidak kurang dari
38 pos sejenis itu. Bayangkan, kalau setiap pos
"murah hati" mengutip dari setiap supir Rp.20.000.
Sedangkan pos yang tidak "murah hati" menguras setiap
supir paling tidak Rp.50.000. Berapa uang masuk ke
kocek aparat negara RI itu, kalau setiap hari paling
tidak ada 100 truk angkutan barang lewat, belum lagi
bis umum dan kendaraan pribadi lainnya? Maka mencipta-
kan Aceh tidak aman menjadi ajang cari rezeki TNI,
polisi/Brimob yang dikirim Rezim Jakarta.
Yang dirugikan dalam kejahatan aparat negara RI itu
bukan hanya pemandu kendaraan, melainkan juga pemilik
kendaraan atau perusahaan pengangkutan dan pengusaha
pemilik barang-barang yang diangkut. Maka itu pengusa-
ha dan pemilik alat angkutan juga mengajukan protes
kepada aparat negara RI, yaitu kepada Kapolda dan
mendukung protes dari para supir. Ujung-ujungnya, ting-
kah laku alat negara kiriman Jakarta itu juga merugikan
rakyat/masyarakat Aceh, karena efeknya ialah, harga
barang-barang naik.
Tetapi, Abdullah Puteh, kader Golkar, sang gubernur utu-
san Rezim Jakarta itu, dengan hati beku dan mata rabun
mengoceh bahwa kenaikan harga barang-barang karena pemo-
gokan para pemandu kendaraan. Karena itu, insinyur te-
tasan ITB itu, tak menampakkan wajah cendekiawannya dalam
melihat hakikat gejala sosial-ekonomi (pasar) dengan benar.
Dia tidak mau tahu terhadap pangkal penyebabnya, yaitu ke-
kuasaan penindas dari Jakarta, yang merajai Aceh, di mana
Abdullah Puteh sendiri bagiannya. Belakangan ini Abdullah
Puteh diopsi oleh masyarakat supaya diperiksa, karena
menggelapkan dana yang harus dibagikan kepada masyarakat.
Pengadilan menanti izin dari Presiden Megawati untuk me-
manggil pemakai kupiah Meukutop Gubernur Nanggroe Aceh
Darussalam itu.
"Cukop kanjai! Peumalee-malee bangsa Aceh mantong (Aib
sangat! Bikin malu-malu bangsa Aceh saja)," reaksi
suara dari Aceh yang penulis hubungi.Tak tahu
apakah mata syariah Islam cukup tajam menilik kedeki-
an moral itu sebagaimana rasa gelisahnya melihat
inong tak berjilbab?
Yang disebut aparat keamanan berseragam polisi, Brimob
dan TNI adalah makhluk yang paling memalapetakakan para
supir khususnya, rakyat Aceh umumnya. Hal ini menjadi
bukti tak terbantahkan terjadi juga di seluruh Indonesia.
Tetapi karena media pers di Aceh diperlakukan oleh
Penguasa Darurat Militer sebagai penyiar relisnya,
maka dalam lembaran penerbitannya takkan ada baris-baris
pemberitaan sweeping dan pungli sepanjang jalan raya.
Orang pulang naik haji, setelah turun pesawat di Banda
Aceh, untuk pulang ke Lhokseumawe atau Langsa harus
melalui udara. Begitu diberitahukan kepada penulis
melalui telefon dari Banda Aceh.
"Mengapa tidak jalan darat?"
"Sweeping dan pungli di mana-mana?" jawaban dari
seberang.
Itulah wajah operasi terpadu yang diciptakan TNI
bersama polisi/Brimob di Aceh. Terpadu antara laras
bedil dan pangli. Memang, Aceh surga bagi TNI dan
polisi/Brimob dengan pelestarian operasi baik terpadu
maupun tidaknya, dapat rezeki haram dan mempercepat
kenaikan pangkat.
DI SEBUAH negara yang demokratis, berkeadilan sosial
dan menghargai hak-hak warga negaranya dan hak asasi
manusia umumnya, sudah selayaknya hak kaum buruh pun
dijamin dan dilindungi oleh negara dan pemerintah.
Negara dan pemerintah tidak mungkin ada tanpa rakyat,
tanpa kaum pekerja. Tetapi di Indonesia, negara yang
mencongkakkan diriNYA berdasarkan Pancasila dan TNI
membuihkan mulutnya sebagai "pembela Pancasila",
jangankan kaum buruh mendapat jaminan perlindungan
negara dan aparatnya, malah kaum pekerja itu menjadi
sasaran empuk penindasan dan pemerasan dari negara dan
aparatnya - polisi, Brimob, TNI, pejabat dan entah
siluman apalagi. Lihat saja nasib Tenaga Kerja (TKI/TKW)
yang dikirim - juga diperdagangkan - ke luar negeri
dan mendapat perlakuan sewenang-wenang dari majikannya
di negeri tempat mereka bekerja, tidak mendapat perlin-
dungan dan pembelaan dari penguasa negara ber-Pancasila
itu.
Rakyat Aceh, sebagai rakyat pekerja sudah selayaknya
merayakan Hari Buruh Internasional 1 Mei sesuai dengan
syarat-syarat yang dipunyainya kini, karena kegiatan
ini merupakan hak demokratis kaum pekerja, maka perlu
dilakukan secara damai. Jika Penguasa Darurat Militer
di Aceh akan melarang kegiatan yang menjunjung tinggi
nilai, moral dan peradaban yang manusiawi ini, berarti
mereka bukan saja menyatakan diri antidemokrasi,
melainkan nyata-nyata berjiwa fasis.
BEKENAAN dengan Hari Besar Kaum Buruh Internasional
1 Mei tahun ini, para perantau Aceh se Skandinavia
(Sweden, Norwegia dan Denmrak) akan keluar dalam satu
barisan dan bergabung dengan masyarakat Stockholm dalam
satu mars besar. Mereka menghimbau masyarakat Aceh di
mana pun berada untuk ambil bagian dalam acara penting
itu dan bersama-sama menuntut: "Hapuskan Darurat Militer
di Aceh; Pulihkan hak demokrasi rakyat Aceh; Bebaskan
dari tahanan para aktivis demokratis Aceh; buka
pengadilan untuk mengadili perwira-perwira dan jenderal-
jenderal TNI yang bertanggung jawab dalam pelanggaran
HAM dan pembunuhan massal sejak DOM hingga sekarang;
Bersihkan Aceh dari para koruptor; Para ulama dan
cendekiawan bersatulah dan pimpinlah rakyat dalam
perjuangan menegakkan kembali martabat, marwah dan
tamadun Aceh warisan Endatu!'
Macao, 25 April 2004.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Z.. AFIF : Kaum Buruh Aceh Berhak Merayakan Hari Buruh