[ppi] [ppiindia] Z.. AFIF : Kaum Buruh Aceh Berhak Merayakan Hari Buruh

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

KAUM BURUH ACEH BERHAK MERAYAKAN HARI BURUH 

( Oleh: Z. Afif )


DI ACEH dewasa ini jumlah kaum buruh bukan hanya 
bertambah secara kwantitas, melainkan juga mening-
kat secara kwalitas. Dulu kaum buruh di Aceh hanya 
terdiri dari pekerja yang menggunakan tenaga jasmani-
nya  (pok-seumpom = dukung banting) saja di perkebun-
an, pelabuhan, dalam pabrik-pabrik atau bidang pe-
ngangkutan darat. 

Tetapi dengan tumbuhnya industri moderen karena 
telah beroperasi modal asing di bidang perminyakan 
dan gas di Aceh, maka terjadi sedikit perkembangan 
dengan mulai adanya buruh orang Aceh yang memiliki 
ketrampilan dalam mengendalikan mesin-mesin, 
pekerja di laboratorium dan lain-lain. Namun,  ini 
belum menjadi pertanda bahwa masyarakat Aceh secara 
sosial dan ekonomi sudah maju dan makmur. Juga secara 
politik itu bukan  sebagai pertanda sudah terwujud 
suatu kehidupan yang demokratis. Buruh dapat dikatakan 
bernafas lega kalau sudah terpecahkan gaji minimumnya 
yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya yang layak, 
cukup sandang, pangan dan papan (perumahan), dapat 
membiayai sekolah anaknya paling tidak hingga selesai 
SMU/SLA. 

Belum lagi yang menyangkut jaminan keamanan kerja, 
kesehatan dan pengobatan, libur hamil tua dan 
bersalin bagi perempuan, dana dan hak pensiun, THR, 
dan lain-lain. Tersediakan tempat rekreasi dan olah-
raga di lingkungan pabrik atau perusahaan. Ada fasi-
litas kegiatan kebudayaan, kesenian dan pendidikan 
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kaum 
buruh. Kemudian terjamin hak politiknya, yaitu mem-
bangun Serikat Buruh tanpa campur tangan penguasa 
dan majikan. 


Polarisasi di Aceh 

NAMUN suatu kenyataan pula, orang Aceh tidak mudah 
mendapatkan pekerjaan di  bidang tehnik dan adminis-
trasi di kilang-kilang moderen milik modal asing atau 
pemodal dari Jakarta. Mereka merekrut tenaga dari luar 
Aceh, dengan meremehkan tenaga dan pengetahuan orang 
Aceh, bukannya mereka mendidik tenaga-tenaga dari ka-
langan orang Aceh agar lebih terampil di bidangnya. 
Karena itu orang Aceh merasa diketepikan di bumi mi-
liknya sendiri. Kebijaksanaan itu juga sepengetahuan 
penguasa pusat - Jakarta. Ini nyata suatu politik 
ketidakadilan dan diskriminasi. Tidak berniat mema-
jukan Aceh, melainkan semata-mata untuk mengurasnya. 

Di sisi lain, di samping memang bertambah kaum cen-
dekiawan Aceh, tetapi masih lemah kemampuannya dalam 
mempersatukan diri dan mengorganisasi dengan baik 
massa rakyat lapisan bawah - kaum buruh, tani, nela-
yan dan golongan miskin lainnya. 

Kaum ulama sejak diberlakukan berdirinya MUI 
lebih-lebih setelah operasi militer dan pemberlakuan 
Darurat Militer, berkesan peranannya melayu dan tidak  
bersatu-padu, sehingga rakyat merasa kehilangan 
pembimbingnya. Sementara itu di pedesaan terjadi 
polarisasi yang parah. Kaum miskin bertambah. Tani 
miskin dan buruh tani membiak, sebaliknya pemusatan 
tanah kepada golongan minoritas (tani kaya dan tuan 
tanah) semakin berkembang. Kaum tani juga dimiskinkan 
akibat harus mengungsi, menghindar dari sweeping dan 
operasi militer ke kampung-kampung, sehingga tanah 
garapannya terlantar tak dapat digarap atau tak dapat 
dipetik panennya. 


Dukung-Mendukung Pengusaha dan Pemandu Kendaraan 

OPERASI militer TNI/Brimob sejak Operasi Jaring Merah 
hingga Darurat Militer sekarang ini bertujuan tunggal 
menghabisi manusia Aceh yang kritis (apakah itu GAM 
atau bukan, semuanya disebut separatis!), yaitu kekua-
tan yang  ingin menentukan nasib sendiri bagi Aceh. 
Yang menarik, selama berlangsung beraneka macam nama 
operasi itu adalah munculnya berkali-kali pemogokan 
kaum buruh kendaraan bermotor. Pemogokan itu dilakukan 
oleh para supir yang memandu kendaraan pengangkutan 
barang-barang kebutuhan masyarakat Aceh dari Medan 
dan yang mengantarkan barang-barang dari Aceh ke Medan 
melalui jalur lalu lintas pantai utara dan pantai Se-
latan Aceh. Pemogokan itu dilakukan sebagai protes 
terhadap pungli (pungutan liar) yang dilakukan oleh 
pos-pos TNI dan polisi/Brimob sepanjang jalan raya 
mulai dari perbatasan Aceh dengan Langkat di pantai 
utara hingga ke Banda Aceh. 

Sepanjang jalan itu  terdapat tidak kurang dari  
38 pos sejenis itu. Bayangkan, kalau setiap pos 
"murah hati" mengutip dari setiap supir Rp.20.000. 
Sedangkan pos yang tidak "murah hati" menguras setiap 
supir paling tidak Rp.50.000. Berapa uang masuk ke 
kocek aparat negara RI itu, kalau setiap hari paling 
tidak ada 100 truk angkutan barang lewat, belum lagi 
bis umum dan kendaraan pribadi lainnya? Maka mencipta-
kan   Aceh tidak aman menjadi ajang cari rezeki TNI, 
polisi/Brimob yang dikirim Rezim Jakarta. 

Yang dirugikan dalam kejahatan aparat negara RI itu 
bukan hanya pemandu kendaraan, melainkan juga pemilik 
kendaraan atau perusahaan pengangkutan dan pengusaha 
pemilik barang-barang yang diangkut. Maka itu pengusa-
ha dan pemilik alat angkutan juga mengajukan protes 
kepada aparat negara RI, yaitu kepada Kapolda dan 
mendukung protes dari para supir. Ujung-ujungnya, ting-
kah laku alat negara kiriman Jakarta itu juga merugikan 
rakyat/masyarakat Aceh, karena efeknya ialah, harga 
barang-barang naik. 

Tetapi, Abdullah Puteh, kader Golkar, sang gubernur utu-
san Rezim Jakarta itu, dengan hati beku dan mata rabun  
mengoceh bahwa kenaikan harga barang-barang karena pemo-
gokan para pemandu kendaraan. Karena itu,  insinyur te-
tasan ITB itu, tak menampakkan wajah cendekiawannya dalam 
melihat hakikat gejala sosial-ekonomi (pasar) dengan benar. 
Dia tidak mau tahu terhadap pangkal penyebabnya, yaitu ke-
kuasaan penindas dari Jakarta, yang merajai Aceh, di mana 
Abdullah Puteh sendiri bagiannya. Belakangan ini Abdullah 
Puteh diopsi oleh masyarakat supaya diperiksa, karena 
menggelapkan dana yang harus dibagikan kepada masyarakat. 
Pengadilan menanti izin dari Presiden Megawati untuk me-
manggil pemakai kupiah Meukutop Gubernur Nanggroe Aceh 
Darussalam itu. 

"Cukop kanjai! Peumalee-malee bangsa Aceh mantong (Aib 
sangat! Bikin malu-malu bangsa Aceh saja),"  reaksi 
suara  dari  Aceh   yang   penulis hubungi.Tak tahu 
apakah mata syariah Islam cukup tajam menilik kedeki-
an moral itu sebagaimana rasa gelisahnya melihat 
inong tak berjilbab? 


Yang disebut aparat keamanan berseragam polisi, Brimob 
dan TNI adalah makhluk yang paling memalapetakakan para 
supir khususnya, rakyat Aceh umumnya. Hal ini menjadi 
bukti tak terbantahkan terjadi juga di seluruh Indonesia. 
Tetapi karena media pers di Aceh diperlakukan oleh 
Penguasa Darurat Militer sebagai penyiar relisnya, 
maka dalam lembaran penerbitannya takkan ada baris-baris 
pemberitaan sweeping dan pungli sepanjang jalan raya. 
Orang pulang naik haji, setelah turun pesawat di Banda 
Aceh, untuk pulang ke Lhokseumawe atau Langsa harus 
melalui udara. Begitu diberitahukan kepada penulis 
melalui telefon dari Banda Aceh. 

"Mengapa tidak jalan darat?" 
"Sweeping dan pungli di mana-mana?" jawaban dari 
seberang. 

Itulah wajah operasi terpadu yang diciptakan TNI 
bersama polisi/Brimob di Aceh. Terpadu antara laras 
bedil dan pangli. Memang, Aceh surga bagi TNI dan 
polisi/Brimob dengan pelestarian operasi baik terpadu 
maupun tidaknya, dapat rezeki haram dan mempercepat 
kenaikan pangkat. 


DI SEBUAH negara yang demokratis, berkeadilan sosial 
dan menghargai hak-hak warga negaranya dan hak asasi 
manusia umumnya,  sudah selayaknya hak kaum buruh pun 
dijamin dan dilindungi oleh negara dan pemerintah. 
Negara dan pemerintah tidak mungkin ada tanpa rakyat, 
tanpa kaum pekerja. Tetapi di Indonesia, negara yang 
mencongkakkan diriNYA berdasarkan Pancasila dan TNI 
membuihkan mulutnya sebagai "pembela Pancasila", 
jangankan kaum buruh mendapat jaminan perlindungan 
negara dan aparatnya, malah kaum pekerja itu menjadi 
sasaran empuk penindasan dan pemerasan dari negara dan 
aparatnya - polisi, Brimob, TNI, pejabat dan entah 
siluman apalagi. Lihat saja nasib Tenaga Kerja (TKI/TKW) 
yang dikirim - juga diperdagangkan - ke luar negeri 
dan mendapat perlakuan sewenang-wenang dari majikannya 
di negeri tempat mereka bekerja, tidak mendapat perlin-
dungan  dan pembelaan dari penguasa negara ber-Pancasila 
itu. 

Rakyat Aceh, sebagai rakyat pekerja sudah selayaknya 
merayakan Hari Buruh Internasional 1 Mei sesuai dengan 
syarat-syarat yang dipunyainya kini, karena kegiatan 
ini merupakan hak demokratis kaum pekerja, maka perlu 
dilakukan secara damai. Jika Penguasa Darurat Militer 
di Aceh akan melarang kegiatan yang menjunjung tinggi 
nilai, moral dan peradaban yang manusiawi ini, berarti 
mereka bukan saja menyatakan diri antidemokrasi, 
melainkan nyata-nyata berjiwa fasis. 

BEKENAAN dengan Hari Besar  Kaum Buruh Internasional 
1 Mei tahun ini, para perantau Aceh se Skandinavia 
(Sweden, Norwegia dan Denmrak) akan keluar dalam satu 
barisan dan bergabung dengan masyarakat Stockholm dalam 
satu mars besar. Mereka menghimbau masyarakat Aceh di 
mana pun berada untuk ambil bagian dalam acara penting 
itu dan bersama-sama menuntut: "Hapuskan Darurat Militer 
di Aceh; Pulihkan hak demokrasi rakyat Aceh; Bebaskan 
dari tahanan para aktivis demokratis Aceh; buka 
pengadilan untuk mengadili perwira-perwira dan jenderal-
jenderal TNI yang bertanggung jawab dalam pelanggaran 
HAM dan pembunuhan massal sejak DOM hingga sekarang; 
Bersihkan Aceh dari para koruptor; Para ulama dan 
cendekiawan bersatulah dan pimpinlah rakyat dalam 
perjuangan menegakkan kembali martabat, marwah dan 
tamadun Aceh warisan Endatu!' 



Macao,   25   April   2004.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: