[ppi] [ppiindia] Warga mulai cari ubi hutan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Aug 2005 22:50:28 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indomedia.com/poskup/2005/08/27/edisi27/2708uta1.htm
Warga mulai cari ubi hutan
* Di Kecamatan Pandawai dan Haharu, Sumba Timur
* Untuk September dan Oktober tidak ada lagi stok makanan
Waingapu, PK
Bahaya kelaparan kini tengah mengintip seribuan warga Desa Waimbidi, Kecamatan
Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Tiga bulan terakhir, warga desa ini sudah
keluar masuk hutan mencari ubi hutan untuk dimakan sebagai pengganti nasi.
Warga setempat sudah kehabisan stok makanan (padi dan jagung) karena tanaman
mereka mengalami gagal panen dan gagal tanam.
Pemantauan Pos Kupang di Dusun Laindeha, Desa Waimbidi --sekitar 40 kilometer
arah timur Kota Waingapu-- Selasa (23/8), warga bergerombol masuk keluar hutan
yang terbentang di lereng bukit Laindeha, dekat kampung mereka. Tanpa
menghiraukan lereng yang terjal, warga yang terdiri dari laki-laki, perempuan,
bahkan anak-anak beramai-ramai mencari pangkal iwi (ubi hutan) di sela-sela
rumput ilalang. Maklum, di musim panas seperti sekarang, tumbuhan liar ini
sudah mati kering sehingga untuk menggali umbinya, harus dicari pokok (pangkal)
tumbuhan yang tumbuh merambat ini.
Setelah digali, iwi dikuliti kemudian direndam dalam sebuah kali kecil di desa
itu. Sekadar diketahui, jika salah diproses, iwi dapat memabukkan jika dimakan.
Beberapa lama setelah direndam, iwi diangkat kemudian dijemur sampai kering.
Untuk dimakan, iwi cukup direbus sampai masak. Bisa juga iwi yang sudah dijemur
kering itu ditumbuk menjadi tepung baru dimasak. Tepung iwi bisa dimasak campur
dengan beras atau bisa disimpan untuk musim paceklik bulan Oktober nanti.
Beberapa warga yang ditemui di hutan Kamobu, Dusun Laindeha, sekitar lima
kilometer dari pemukiman, mengaku, keadaan kali ini sama dengan empat tahun
lalu dimana mereka kelaparan sehingga terpaksa masuk hutan mencari ubi hutan
untuk dimakan.
"Kalau masih ada makanan, tentu kami tidak masuk hutan cari ubi. Tapi, karena
stok makanan sudah habis sehingga kami harus masuk hutan," tutur Jhoni Maramba
Tana, dibenarkan Domu Runuwali dan Jamalandu Tanah. Mereka mengakui, sudah tiga
bulan belakangan, warga setempat "berburu" ubi hutan. "Kita terpaksa tinggal di
hutan untuk menjaga ubi hutan yang masih dalam proses pengolahan. Jika tidak
dijaga, bisa saja ubi hutan yang kita sudah olah dimakan babi hutan," kata
Jhoni Maramba Tana.
Ia mengakui, stok makanan di rumahnya sudah tidak ada lagi untuk September
sampai Desember. Hal itu karena jagung yang ditanam pada musim hujan tahun
2004-2005, gagal panen karena panas berkepanjangan. "Stok makanan kita tidak
ada lagi. Jagung yang kita simpan dari tahun 2004 sudah habis sehingga harapan
sekarang semata-mata beras raskin per kepala keluarga 20 kilogram per dua bulan
dan ubi hutan untuk menjadi makanan selama belum panen," kata Jhoni Maramba
Tana.
Warga Waimbidi, kata mereka, adalah petani tadah hujan sehingga bergantung
penuh pada curah hujan. "Kalau tidak ada hujan, maka kita harapkan kutulak,
tapi kutulak belum musim. Sekarang tinggal sedikit pohon kesambi karena lebih
banyak sudah mati," katanya.
Ia juga mengakui, selain kutulak, ada pinang yang dapat menghasilkan uang,
namun nilainya sangat kecil sehingga tidak dapat mengatasi kebutuhan hidup
sehari-hari. Kalaupun ada. katanya, hasil penjualan pinang dipakai untuk
membeli raskin.
"Saat ini, pola makan masyarakat setempat sudah berubah dari makan tiga kali
sehari menjadi dua kali atau sekali sehari dengan makanan beras campur ubi
hutan. Tapi kalau pagi, makan ubi hutan begitu juga siang dan malam," katanya.
Sementara ternak, kata dia, kepemilikan untuk masing-masing kepala keluarga
bervariasi. "Ada tujuh KK yang punya sepuluh ekor sapi, sedangkan 100 lebih KK
lainnya hanya punya dua sampai empat ekor sapi atau kambing dan puluhan KK lain
tidak punya ternak," ujarnya.
Jamalanu Tana dan Domu Runuwali, mengakui, kondisi masyarakat setempat sudah
terancam bahaya kelaparan sehingga ancaman busung lapar pada anak-anak sangat
mungkin terjadi. Menurut mereka, pada Agustus tahun lalu, ada dua anak di
kampung mereka yang menderita busung lapar dan kebanyakan anak lainnya
menderita gizi buruk.
Di Kecamatan Haharu
Ancaman kelaparan tidak hanya dialami warga Desa Waimbidi, Kecamatan Pandawai.
Bahaya yang sama mengancam penghuni Desa Mbatapuhu dan Wunga di Kecamatan
Haharu.
Menurut anggota DPRD Sumtim, Hiwa Hambaronja, yang ditemui, Jumat (26/8), warga
di dua desa tersebut pun sudah masuk hutan mencari ubi hutan untuk dikonsumsi
sebagai makanan pengganti beras. Selain kekurangan makanan, masyarakat juga
kekurangan air bersih. Kondisi ini, dilukiskan Hiwa, sangat mendera masyarakat
di wilayah itu. Dikhawatirkan kondisi itu menimbulkan wabah penyakit yang bakal
menyerang warga setempat.
"Untuk mengambil air, warga harus menuju sungai yang letaknya beberapa
kilometer dari pemukiman penduduk. Itu pun harus menunggu antrean panjang dari
pagi hingga siang. Jika pergi pukul 14.00 Wita, kembali ke rumah pukul 19.00
Wita," kata Hiwa.
Padahal, kata dia, di Desa Wunga sudah dibangun 27 bak penampung air melalui
Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan GTZ. Namun bak-bak penampung air itu
belum diisi air. "Semestinya mobil tangki milik pemerintah dapat mengisi air ke
bak masyarakat untuk membantu warga. Bantuan ini harus dilakukan untuk
mengatasi krisis air," tegas Hiwa.
Selain Hiwa, aktivis Organisasi Rakyat (ORA) Opang Madangu, Oktavianus Landi,
juga mengakui kondisi masyarakat Desa Mbatapuhu sudah semestinya diintervensi
karena warga setempat sudah kekurangan makanan. "Masyarakat berminggu-minggu ke
hutan mencari iwi sebagai makanan mereka sehari-hari," katanya. (iva)
--------------------------------------------------------------------------------
Siapkan 100 ton beras
KEPALA Badan Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba
Timur (Sumtim), Ir. IB Putu Punia, mengatakan, pemerintah sudah mendeteksi
ancaman kelaparan yang bakal melanda warga di beberapa wilayah di Sumtim.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Sumtim menyiapkan 100 ton beras untuk 5.000
kepala keluarga (KK) di 35 desa yang tersebar di 11 kecamatan. Beras ini akan
disalurkan dalam bentuk proyek padat karya.
Ditemui di Waingapu, Jumat (26/8), Punia mengatakan, warga di 11 kecamatan yang
mendapatkan bantuan beras padat karya ini adalah warga di Kecamatan Haharu,
Matawai Lapawu, Umalulu, Rindi, Pahunga Lodu, Wulla Waijilu, Nggaha Ori Angu,
Pandawai, Kahaungu Eti, Paberiwai dan Tabundung.
"Bantuan 100 ton beras dari Propinsi NTT itu akan kita salurkan kepada
masyarakat di 35 desa yang diprioritaskan. Kita salurkan kepada warga di
desa-desa yang ancaman kelaparannya lebih tinggi. Intervensi pemerintah ini
merupakan bagian untuk mengatasi bencana busung lapar dan ancaman kelaparan
akibat rawan pangan. Walaupun bantuan itu belum mencukupi kebutuhan untuk semua
masyarakat miskin, kita berusaha memberi perhatian," kata Punia di ruang
kerjanya didampingi stafnya, Ismail.
Ramalan kondisi rawan pangan, kata Punia, akan terjadi pada bulan Oktober
karena pada bulan itu masyarakat akan diterpa krisis air bersih sehingga
pemerintah pada posisi siap untuk membantu. "Saat ini, debit air kita sudah
turun terutama di Kecamatan Haharu dan Kecamatan Pandawai, karena itu posisi
pemerintah siap untuk membantu," katanya.
Selain bantuan beras, kata Punia, Pemkab Sumtim juga telah merancang usulan
yang ditujukan kepada Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT, berupa bantuan bibit
tanaman untuk musim tanam Oktober 2005 hingga Maret 2006 mendatang. Bantuan
yang diusulkan nanti berupa bibit padi, jagung dan kacang tanah. "Jadi analisis
kebutuhan yang akan kita ajukan ke propinsi, yakni 43 ton padi, 18,78 ton
kacang dan 185,82 ton jagung. Permintaan ini diukur dari luas lahan pertanian
warga se-Sumtim 17.510 hektar dari 25.216 KK yang memiliki lahan pertanian.
Sementara KK yang terkena langsung akibat gagal tanam dan gagal panen sebanyak
19.164 KK dan terkena dampak tidak ada makanan 6.752 KK," kata Punia. (iva)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Warga mulai cari ubi hutan