[ppi] [ppiindia] Undana: 44 Tahun belum publikasi 44 buku

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/poskup/2006/09/01/edisi01/opini.htm

Undana: 44 Tahun belum publikasi 44 buku

Oleh Yusuf L Henuk * dan F Sanga **

TULISAN ini terwujud ketika kedua penulis bersepakat untuk mengangkat sebuah 
tulisan ke media ini sebagai tanda ikut bersorak memperingati Ulang Tahun 
Universitas Nusa Cendana (Undana) ke-44, tepatnya 1 September 2006. Pada hari 
ini Undana melaksanakan wisuda diploma dua (D-2: 67), sarjana (S1: 551) dan 
pascasarjana (S2: 11) berjumlah 629 wisudawan sebagai pertanda hasil panen dari 
sebuah lahan ilmiah.

Visi dan misi Undana

Visi Undana pada era mutakhir adalah perguruan tinggi berwawasan global. 
Berdasarkan visi ini, Undana membangun enam misi, yakni: (1) menyelenggarakan 
pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas, yaitu 
berakhlak, berbudi pekerti, mandiri, inovatif, kompetitif, sehat, berdisiplin, 
dan menguasai ipteks; (2) menyelenggarakan penelitian untuk menghasilkan dan 
mengembangkan ipteks yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan; (3) 
menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat melalui pemanfaatan ipteks untuk 
kemajuan dan kesejahteraan masyarakat; (4) mengembangkan dan meningkatkan mutu 
pembinaan kemahasiswaan; (5) mengembangkan sistem manajemen yang dinamis dan 
profesional, efektif, efisien dan akuntabel; dan (6) membina, meningkatkan, dan 
mengembangkan kerja sama dengan lembaga lain, nasional maupun internasional.

Pendidikan dan pengajaran

Salah satu isu besar yang perlu disikapi oleh pihak Undana bahwa dalam proses 
belajar mengajar kebanyakan dosen masih menggunakan bahan ajar yang dapat 
dikategorikan sudah ketinggalan zaman (out of date). Isu ini dapat diterima 
apabila (1) masih banyak dosen tetap mengandalkan rujukan materi kuliah dari 
buku-buku tua yang digunakan semasa menjadi mahasiswa atau calon sarjana (S1); 
(2) para dosen hanya rajin menulis bahan ajar untuk keperluan kuliah apabila 
kegiatan bahan ajar muncul sebagai proyek; dan (3) pada umumnya bahan ajar yang 
dihasilkan hanya sebatas memenuhi persyaratan sebagai laporan 
pertanggunggjawaban keuangan belaka.

Kondisi ini terindikasi melalui banyak bahan ajar yang dihasilkan para dosen 
hanya teratur rapi dan terkunci di lemari-lemari kaca dalam ruangan para dekan. 
Semua bahan ajar ini bermanfaat sewaktu-waktu terutama ada pemeriksaan 
daripusat. Kenyataan ini diperparah lagi dengan laporan di media massa nasional 
bahwa minat menulis buku di kalangan dosen Undana sangat rendah, sehingga 
perpustakaan universitas ini terasa 'kering'. Padahal seorang dosen dikenal 
publik melalui tulisan-tulisannya, bukan karena ia seorang doktor atau 
profesor. Bagaimana dia memberikan tugas kepada mahasiswa jika dosen sendiri 
tidak membaca dan menulis? Sejumlah media massa telah menyiapkan kolom opini 
pada setiap terbitannya, namun belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para 
dosen Undana ("Kupang, Penulis Terbilang Penerbit Jarang": Media Indonesia, 
Sabtu 11 Juni 2005: 8).

Sangat memiriskan jika dihayati bahwa Undana sebagai satu-satunya perguruan 
tinggi negeri di NTT, yang memiliki 800 dosen, termasuk 9 guru besar. Kecuali 
Alo Liliweri yang telah menulis buku sebanyak 24 judul, baru dua dosen Undana 
yang telah menulis, masing-masing satu buku ("Kupang, Penulis Terbilang 
Penerbit Jarang": Media Indonesia, Sabtu 11 Juni 2005: 8). Penulis pertama juga 
telah memanfaatkan media ini untuk mengingat kepada para guru besar bahwa tugas 
utama seorang guru besar sesuai UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen 
(UUGD) Pasal 49 Ayat 2, yaitu: "Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku 
dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan 
masyarakat". Kewajiban khusus ini tidak dipenuhi oleh banyak guru besar di 
Indonesia sehingga masih saja terdengar sebutan GBHN: "Guru Besar Hanya Nama", 
karena tidak satupun buku telah ditulis dan diterbitkan oleh mereka, walaupun 
mereka telah lama menyandang gelar profesor. Kini, kedua penulis telah
  menulis buku yang memiliki ISBN masing-masing sebanyak 8 dan 4 buah. Dengan 
demikian, pada umur 44 tahun ini, ternyata Undana masih jauh dari 44 judul buku 
untuk dipersembahkan kepada bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTT 
khususnya.

Penelitian ilmiah

Istilah pembangunan dipahami sebagai perubahan terencana. Merencanakan suatu 
perubahan apabila kondisi yang ada sudah tidak nyaman lagi. Apabila kondisinya 
masih nyaman, mengapa harus merencanakan perubahan? Suatu rencana perubahan 
hendaknya didesain berdasarkan hasil atau rekomendasi penelitian ilmiah. 
Kegiatan penelitian ilmiah merupakan salah tugas pokok dari warga perguruan 
tinggi. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya jika dikatakan bahwa Undana adalah 
media utama bagi Pemerintah Daerah (Pemda) NTT untuk mendesain pembangunan di 
daerah ini. Sejauh mana kerja sama antara pihak Undana dengan Pemda NTT, 
kiranya perlu ditelaah kembali secara bersama. Suatu fakta menarik untuk 
disampaikan bahwa pada saat ini Undana telah mempunyai kelayakan tenaga 
akademik yang dapat membantu Pemda NTT dalam perencanaan pembangunan maupun 
masyarakat NTT pada umumnya. Berdasarkan data terbarukelayakan tenaga akademik 
di Undana untuk jenjang pendidikan S1 (352) - S2 (398) - S3 (58) dengan total 
juml
 ah sebanyak 808 orang.

Berdasarkan data tenaga akademik yang ada, terbukti bahwa keluaran pascasarjana 
(S2 - S3) di Undana sekarang sebanyak 456 orang dari berbagai disiplin ilmu. 
Mereka ini sudah layak membantu Pemda NTT apabila dibutuhkan karena 
sekurang-kurangnya mereka telah memahami secara baik perbedaan antara masalah 
dan kesulitan. Sebuah masalah membutuhkan pemecahan sedang sebuah kesulitan 
membutuhkan strategi untuk mengatasinya. Sebuah kesulitan belum tentu 
mengandung masalah tetapi sebuah masalah pasti mengandung sejumlah kesulitan. 
Oleh sebab itu, memecahkan sebuah masalah adalah langkah strategis untuk 
mengatasi sejumlah kesulitan. Dengan demikian, sebaiknya 'Renstra" mengandung 
alternatif strategi dan teknik pemecahan masalah yang dihadapi pemerintah dan 
masyarakat.

Secara obyektif dapat dikatakan bahwa selama ini kerja sama Undana dengan pihak 
lain, khususnya Pemda NTT masih harus dibenahi. Secara institusi, Undana 
menyadari bahwa untuk menciptakan mutu perguruan tinggi yang baik serta 
berwawasan global, maka program kerja sama ini menjadi salah satu prioritas 
dalam strategi pengembangan Undana ke depan. Kerja sama termaksud adalah dengan 
pemerintah pusat maupun daerah, kerja sama dengan organisasi non pemerintah 
serta lembaga lainnya baik di level nasional maupun internasional.

Dalam artikel penulis pertama berjudul "Profesi dosen: "publish or perish" 
(Warta Undana, No. 040/April 2002: 6-7 & 11) telah terungkap kekesalan seorang 
penyandang gelar Doctor of Philosophy" ("Ph.D") yang menyelesaikan studi di 
luar negeri lalu kembali mengabdi di daerahnya, namun kurang mendapat perhatian 
dari PTN tempat yang bersangkutan bekerja dan juga tidak dilirik sama sekali 
oleh pemda setempat sehingga kepascasarjanaannya tidak teraplikasi sebagaimana 
mestinya di tanah kelahiran sendiri. Apakah ke 456 dosen (magister, doktor, dan 
profesor) di Undana mempunyai kekesalan yang sama terhadap Undana dan Pemda 
NTT? Mari kita refleksikan!

Pada sisi lain, rekan kami, Laurensius Kian Bera, dari FKIP Undana dalam 
artikelnya berjudul: "Perubahan Struktur dan Penguatan Jurusan/Program Studi" 
(Warta Undana, No. 91 Juli 2006: 7), mengeluhkan tentang struktur dan sistem 
pelayanan dalam Jurusan Bahasa dan Seni pada FKIP Undana. Suatu alasan yang ada 
sekarang hanya menempatkan argumentasi pelayanan akademik yang cukup logis 
dengan latar belakang struktur keilmuan serta sasaran belajar antara Program 
Studi Bahasa Inggris dengan Program Studi Bahasa Indonesia yang cukup berbeda. 
Keluhan ini menyimpan tuntutan akademis yang mengarah kepada profesionalisasi 
dan spesifikasi. Kedua program studi ini mempunyai titik-temu hanya pada 
linguistik umum sedangkan aspek ilmu kebahasaan yang lain sangat berbeda. 
Apalagi hasil yang diharapkan ialah dua sosok guru bahasa yang berbedauntuk dua 
mata pelajaran yang berlainan. Lebih jauh, kedua orang guru itu perlu memiliki 
sikap dan perilaku berbeda pula berdasarkan intuisi dan sikap kebah
 asaan. Keluhan seperti ini perlu segera diperhatikan oleh pihak pimpinan 
Undana demi terciptanya kondisi Undana yang lebih baik lagi pada masa-masa 
mendatang. Dirgahayu Undana ke-44!

* Penulis, kandidat guru besar di FAPET Undana

** Dosen FKIP Undana, Alumnus S3 UNAIR, Surabaya




--------------------------------------------------------------------------------

Gelar akademik: Antara prestasi dan prestise

(Catatan reflektif menyambut wisuda Undana)

Oleh Laurensius Kian Bera *

TANGGAL 1 September 2006 Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 
Ulang Tahunnya yang ke-44 kembali mewisuda 629 lulusan pasca sarjana, sarjana, 
dan ahli madya. Pada hari yang istimewa ini para wisudawan dan wisudawati 
secara resmi diberikan wewenang untuk menyandang predikat atau gelar akademik 
baru sesuai dengan jenjang studi yang laluinya. Di satu sisi gelar ini 
merupakan simbol prestasi, lebih-lebih bagi mereka yang telah bekerja keras dan 
berjuang maksimal selama masa kuliah. Di sisi yang lain, gelar akademik sering 
juga dipandang sebagai simbol prestise (gengsi). Artinya, tambah gelar tambah 
gengsi, soal prestasi soal kedua.

Tulisan ini ingin menyoroti gelar akademik sebagai simbol prestasi di satu sisi 
dan prestise di sisi lain dengan mencoba mencermati fenomena-fenomena yang 
sedang berkembang di dalam masyarakat. Sasarannya hanya satu, yakni gelar 
akademik tidak lagi disalah artikan atau disalah gunakan dan dengan demikian 
diharapkan tercipta suatu budaya yang lebih mementingkan prestasi dari pada 
prestise.

Prestasi

Pada hakekatnya gelar atau titel akademik adalah simbol prestasi, tanda 
keberhasilan akademik seorang mahasiswa. Setelah berjuang (kuliah) dalam jangka 
waktu tertentu, seorang mahasiswa akhirnya secara resmi dinyatakan layak untuk 
menyandang suatu gelar baru. Dalam konteks kuliah, keberhasilan seorang 
mahasiswa diukur dengan perubahan atau peningkatan dalam tiga aspek pokok, 
yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. Indikator formal prestasi itu adalah 
nilai atau IP (Indeks Prestasi) walaupun harus diakui bahwa nilai atau IP tidak 
mutlak mewakili prestasi seseorang. Secara umum, prestasi kelulusan 
dikategorikan dalam tiga tingkatan: lulus dengan predikat pujian (IPK 3,51 - 
4,0),lulus dengan predikat sangat memuas (IPK 2,76 - 3,50), dan lulus dengan 
predikat memuaskan (IPK 2,0 - 2, 75).

Prestasi tidak bisa dipisahkan dari proses. Artinya, kualitas kesarjanaan 
seseorang lebih ditentukan oleh bagaimana dia mendayagunakan segala sumber yang 
ada secara maksimal ketika masih di bangku kuliah. Dalam konteks ini, mari kita 
coba melihat beberapa tipe mahasiswa yang menurut hemat saya cukup menentukan 
kualitas yang dimaksud. Tipe pertama, mahasiswa yang cerdas, kreatif, serius, 
bertanggung jawab, dan rajin mengikuti semua kegiatan akademis, baik yang 
bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Kuliah betul-betul dilihat sebagai 
kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya sehingga segala sumber daya yang 
dimiliki termasuk uang dan waktu dimanfaatkan secara tepat-guna. Mahasiswa tipe 
ini pada umumnya berprestasi luar biasa. Tipe kedua, mahasiswa yang sebenarnya 
dalam hal potensi akademik cukup mampu tapi kurang serius (malas) dalam kuliah. 
Waktu dan juga segala sumber daya yang dimiliki lebih banyak dihabiskan untuk 
kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkaitan dengan
  perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa tipe ini menunjukkan prestasi akademik 
biasa-biasa saja. Mereka berprinsip nilai tidak menjamin keberhasilannya dalam 
masyarakat kelak. Tipe ketiga, mahasiswa yang secara akademik kurang mampu 
tetapi rajin dan serius dalam kuliah. Dalam keterbatasan yang ada mereka 
berjuang maksimal dan biasanya prestasi yang diperoleh cukup baik. Tipe 
keempat, mahasiswa yang secara akademik kurang mampu dan juga kurang serius 
dalam kuliah. Mereka pada umumnya lulus dengan nilai pas-pasan. Prinsip dari 
mahasiswa tipe ini adalah yang penting lulus/tamat dan memperoleh ijasah.

Memang harus diakui bahwa kualitas lulusan suatu Pendidikan Tinggi dipengaruhi 
oleh banyak faktor. Namun demikian, menurut hemat saya faktor mahasiswalah yang 
paling menentukan. Dalam kondisi yang tidak telalu menunjang sekalipun, seorang 
mahasiswa masih bisa berprestasi kalau memang ada kemauan yang keras dan 
motivasi yang tinggi. Dalam konteks ini pepata tua 'dimana ada kemauan disitu 
ada jalan' masih sangat relevan.

Lebih jauh, prestasi dalam bentuk nilai atau IP harus juga nampak dalam 
kualitas normatif seorang lulusan Pendidikan Tinggi yakni kemampuan berpikir 
kritis, analitik, dan rasional; pengetahuan dan ketrampilan yang memadai 
terutama dalam bidang ilmu yang digeluti; aklak, moral dan sikap yang baik dan 
terpuji; kepekaan yang tinggi terhadap segala persoalan yang terjadi di dalam 
masyarakat; dan wawasan yang luas dalam dunia yang semakin mengglobal. Menjadi 
ironis dan patut dipertanyakan bila nilai atau IP yang diperoleh tidak 
menggambarkan kualitas normatif yang riil seperti yang disebutkan di atas.

Prestise

Prestise atau prestige dalam bahasa Inggris berarti gengsi, wibawa, atau 
martabat.Kenyataan menunjukkan bahwa gelar akademik tidak hanya dilihat sebagai 
simbol prestasi akademik tetapi juga sebagai simbol prestise. Fenomena-fenomena 
berikut ini dapat dijadikan bukti. Pertama, ada orang yang tanpa rasa malu 
memilih jalan pintas, membeli gelar akademik yang ditawarkan oleh 
lembaga-lembaga pendidikan yang tidak jelas status dan keberadaannya. Yang 
penting baginya, gelar akan menaikkan status sosialnya, semakin banyak gelar 
semakin tinggi prestisenya di masyarakat. Urusan 'isi' dari gelar akademik itu 
bukan masalah. Kedua, ada kecendrungan masyarakat, kendati dalam jumlah yang 
masih relatif kecil, untuk memilih kuliah pada universitas-universitas yang 
memungkinkan mereka untuk gampang dan cepat tamat. Ketiga, gelar akademik 
sering digunakan untuk tujuan yang tidak ada kaitannya dengan hal akademik atau 
profesi seperti dalam surat undangan nikah atau pun yang lainnya. Untuk hal ya
 ng satu ini sebenarnya sudah ditegaskan dalam Keputusan Menteri Pendidikan 
Nasional Republik Indonesia No 178/U/2001, Bab IV, pasal 12, butir 2 bahwa 
gelar akademik dan sebutan professional hanya digunakan atau dicantumkan pada 
dokumen resmi yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan pekerjaan. Keempat, 
pesta (syukuran) wisuda yang jarang ditemukan di daerah lain tetapi mulai 
membudaya di daerah ini. Sebenarnya kebiasaan syukuran ini mempunyai nilai 
positip yakni (1) sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan karena keberhasilan itu 
hanya mungkin terjadi dalam kasih dan cintaNya, (2) sebagai ungkapan 
kebahagiaan, kebersamaan, dan kekeluargaan karena perjuangan yang panjang dan 
melibatkan banyak pihak terutama keluarga sudah memberikan hasil. Namun bila 
pesta atau syukuran itu berlebihan dan terkesan dipaksakan maka tujuan syukuran 
itu patut dipertanyakan. Apalagi misalnya, ketika masih kuliah mahasiswa 
tersebut tidak mampu membeli buku atau pun menfotokopi bahan kuliah karena ala
 san ekonomi sementara untuk syukuran biaya tidak menjadi masalah.

Kembali pada topik tulisan ini, mendapat gelar akademik adalah suatu prestasi 
yang membanggakan dan patut disyukuri. Namun demikian, kebanggaan dan syukur 
itu bukan karena dan untuk suatu prestise, dan oleh karena itu perlu diletakan 
pada tempat yang tepat dan diungkapkan lewat cara yang tepat pula.

Akhirnya bagi para wisudawan Undana periode September 2006, saya ucapkan 
congratulations. Anda patut berbangga dan berbahagia karena Anda berprestasi. 
Gelar akademik yang diraih adalah simbol prestasi, bukan prestise. Anda juga 
pantas bersyukur atas jawaban Cinta Tuhan. Namun kebanggaan yang paling 
sempurna, kebahagiaan yang paling sejati, dan syukur yang paling indah adalah 
meneruskan dan mengamalkan apa yang diperoleh selama kuliah untuk kemajuan dan 
kebaikan banyak orang. Semoga kebahagiaan dan syukur hari ini mampu menyalakan 
semangat pengabdianmu.

* Penulis, dosen FKIP Undana, Kupang


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: