[ppi] [ppiindia] Undana: 44 Tahun belum publikasi 44 buku
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 31 Aug 2006 23:54:12 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/poskup/2006/09/01/edisi01/opini.htm
Undana: 44 Tahun belum publikasi 44 buku
Oleh Yusuf L Henuk * dan F Sanga **
TULISAN ini terwujud ketika kedua penulis bersepakat untuk mengangkat sebuah
tulisan ke media ini sebagai tanda ikut bersorak memperingati Ulang Tahun
Universitas Nusa Cendana (Undana) ke-44, tepatnya 1 September 2006. Pada hari
ini Undana melaksanakan wisuda diploma dua (D-2: 67), sarjana (S1: 551) dan
pascasarjana (S2: 11) berjumlah 629 wisudawan sebagai pertanda hasil panen dari
sebuah lahan ilmiah.
Visi dan misi Undana
Visi Undana pada era mutakhir adalah perguruan tinggi berwawasan global.
Berdasarkan visi ini, Undana membangun enam misi, yakni: (1) menyelenggarakan
pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas, yaitu
berakhlak, berbudi pekerti, mandiri, inovatif, kompetitif, sehat, berdisiplin,
dan menguasai ipteks; (2) menyelenggarakan penelitian untuk menghasilkan dan
mengembangkan ipteks yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan; (3)
menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat melalui pemanfaatan ipteks untuk
kemajuan dan kesejahteraan masyarakat; (4) mengembangkan dan meningkatkan mutu
pembinaan kemahasiswaan; (5) mengembangkan sistem manajemen yang dinamis dan
profesional, efektif, efisien dan akuntabel; dan (6) membina, meningkatkan, dan
mengembangkan kerja sama dengan lembaga lain, nasional maupun internasional.
Pendidikan dan pengajaran
Salah satu isu besar yang perlu disikapi oleh pihak Undana bahwa dalam proses
belajar mengajar kebanyakan dosen masih menggunakan bahan ajar yang dapat
dikategorikan sudah ketinggalan zaman (out of date). Isu ini dapat diterima
apabila (1) masih banyak dosen tetap mengandalkan rujukan materi kuliah dari
buku-buku tua yang digunakan semasa menjadi mahasiswa atau calon sarjana (S1);
(2) para dosen hanya rajin menulis bahan ajar untuk keperluan kuliah apabila
kegiatan bahan ajar muncul sebagai proyek; dan (3) pada umumnya bahan ajar yang
dihasilkan hanya sebatas memenuhi persyaratan sebagai laporan
pertanggunggjawaban keuangan belaka.
Kondisi ini terindikasi melalui banyak bahan ajar yang dihasilkan para dosen
hanya teratur rapi dan terkunci di lemari-lemari kaca dalam ruangan para dekan.
Semua bahan ajar ini bermanfaat sewaktu-waktu terutama ada pemeriksaan
daripusat. Kenyataan ini diperparah lagi dengan laporan di media massa nasional
bahwa minat menulis buku di kalangan dosen Undana sangat rendah, sehingga
perpustakaan universitas ini terasa 'kering'. Padahal seorang dosen dikenal
publik melalui tulisan-tulisannya, bukan karena ia seorang doktor atau
profesor. Bagaimana dia memberikan tugas kepada mahasiswa jika dosen sendiri
tidak membaca dan menulis? Sejumlah media massa telah menyiapkan kolom opini
pada setiap terbitannya, namun belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para
dosen Undana ("Kupang, Penulis Terbilang Penerbit Jarang": Media Indonesia,
Sabtu 11 Juni 2005: 8).
Sangat memiriskan jika dihayati bahwa Undana sebagai satu-satunya perguruan
tinggi negeri di NTT, yang memiliki 800 dosen, termasuk 9 guru besar. Kecuali
Alo Liliweri yang telah menulis buku sebanyak 24 judul, baru dua dosen Undana
yang telah menulis, masing-masing satu buku ("Kupang, Penulis Terbilang
Penerbit Jarang": Media Indonesia, Sabtu 11 Juni 2005: 8). Penulis pertama juga
telah memanfaatkan media ini untuk mengingat kepada para guru besar bahwa tugas
utama seorang guru besar sesuai UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
(UUGD) Pasal 49 Ayat 2, yaitu: "Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku
dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan
masyarakat". Kewajiban khusus ini tidak dipenuhi oleh banyak guru besar di
Indonesia sehingga masih saja terdengar sebutan GBHN: "Guru Besar Hanya Nama",
karena tidak satupun buku telah ditulis dan diterbitkan oleh mereka, walaupun
mereka telah lama menyandang gelar profesor. Kini, kedua penulis telah
menulis buku yang memiliki ISBN masing-masing sebanyak 8 dan 4 buah. Dengan
demikian, pada umur 44 tahun ini, ternyata Undana masih jauh dari 44 judul buku
untuk dipersembahkan kepada bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTT
khususnya.
Penelitian ilmiah
Istilah pembangunan dipahami sebagai perubahan terencana. Merencanakan suatu
perubahan apabila kondisi yang ada sudah tidak nyaman lagi. Apabila kondisinya
masih nyaman, mengapa harus merencanakan perubahan? Suatu rencana perubahan
hendaknya didesain berdasarkan hasil atau rekomendasi penelitian ilmiah.
Kegiatan penelitian ilmiah merupakan salah tugas pokok dari warga perguruan
tinggi. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya jika dikatakan bahwa Undana adalah
media utama bagi Pemerintah Daerah (Pemda) NTT untuk mendesain pembangunan di
daerah ini. Sejauh mana kerja sama antara pihak Undana dengan Pemda NTT,
kiranya perlu ditelaah kembali secara bersama. Suatu fakta menarik untuk
disampaikan bahwa pada saat ini Undana telah mempunyai kelayakan tenaga
akademik yang dapat membantu Pemda NTT dalam perencanaan pembangunan maupun
masyarakat NTT pada umumnya. Berdasarkan data terbarukelayakan tenaga akademik
di Undana untuk jenjang pendidikan S1 (352) - S2 (398) - S3 (58) dengan total
juml
ah sebanyak 808 orang.
Berdasarkan data tenaga akademik yang ada, terbukti bahwa keluaran pascasarjana
(S2 - S3) di Undana sekarang sebanyak 456 orang dari berbagai disiplin ilmu.
Mereka ini sudah layak membantu Pemda NTT apabila dibutuhkan karena
sekurang-kurangnya mereka telah memahami secara baik perbedaan antara masalah
dan kesulitan. Sebuah masalah membutuhkan pemecahan sedang sebuah kesulitan
membutuhkan strategi untuk mengatasinya. Sebuah kesulitan belum tentu
mengandung masalah tetapi sebuah masalah pasti mengandung sejumlah kesulitan.
Oleh sebab itu, memecahkan sebuah masalah adalah langkah strategis untuk
mengatasi sejumlah kesulitan. Dengan demikian, sebaiknya 'Renstra" mengandung
alternatif strategi dan teknik pemecahan masalah yang dihadapi pemerintah dan
masyarakat.
Secara obyektif dapat dikatakan bahwa selama ini kerja sama Undana dengan pihak
lain, khususnya Pemda NTT masih harus dibenahi. Secara institusi, Undana
menyadari bahwa untuk menciptakan mutu perguruan tinggi yang baik serta
berwawasan global, maka program kerja sama ini menjadi salah satu prioritas
dalam strategi pengembangan Undana ke depan. Kerja sama termaksud adalah dengan
pemerintah pusat maupun daerah, kerja sama dengan organisasi non pemerintah
serta lembaga lainnya baik di level nasional maupun internasional.
Dalam artikel penulis pertama berjudul "Profesi dosen: "publish or perish"
(Warta Undana, No. 040/April 2002: 6-7 & 11) telah terungkap kekesalan seorang
penyandang gelar Doctor of Philosophy" ("Ph.D") yang menyelesaikan studi di
luar negeri lalu kembali mengabdi di daerahnya, namun kurang mendapat perhatian
dari PTN tempat yang bersangkutan bekerja dan juga tidak dilirik sama sekali
oleh pemda setempat sehingga kepascasarjanaannya tidak teraplikasi sebagaimana
mestinya di tanah kelahiran sendiri. Apakah ke 456 dosen (magister, doktor, dan
profesor) di Undana mempunyai kekesalan yang sama terhadap Undana dan Pemda
NTT? Mari kita refleksikan!
Pada sisi lain, rekan kami, Laurensius Kian Bera, dari FKIP Undana dalam
artikelnya berjudul: "Perubahan Struktur dan Penguatan Jurusan/Program Studi"
(Warta Undana, No. 91 Juli 2006: 7), mengeluhkan tentang struktur dan sistem
pelayanan dalam Jurusan Bahasa dan Seni pada FKIP Undana. Suatu alasan yang ada
sekarang hanya menempatkan argumentasi pelayanan akademik yang cukup logis
dengan latar belakang struktur keilmuan serta sasaran belajar antara Program
Studi Bahasa Inggris dengan Program Studi Bahasa Indonesia yang cukup berbeda.
Keluhan ini menyimpan tuntutan akademis yang mengarah kepada profesionalisasi
dan spesifikasi. Kedua program studi ini mempunyai titik-temu hanya pada
linguistik umum sedangkan aspek ilmu kebahasaan yang lain sangat berbeda.
Apalagi hasil yang diharapkan ialah dua sosok guru bahasa yang berbedauntuk dua
mata pelajaran yang berlainan. Lebih jauh, kedua orang guru itu perlu memiliki
sikap dan perilaku berbeda pula berdasarkan intuisi dan sikap kebah
asaan. Keluhan seperti ini perlu segera diperhatikan oleh pihak pimpinan
Undana demi terciptanya kondisi Undana yang lebih baik lagi pada masa-masa
mendatang. Dirgahayu Undana ke-44!
* Penulis, kandidat guru besar di FAPET Undana
** Dosen FKIP Undana, Alumnus S3 UNAIR, Surabaya
--------------------------------------------------------------------------------
Gelar akademik: Antara prestasi dan prestise
(Catatan reflektif menyambut wisuda Undana)
Oleh Laurensius Kian Bera *
TANGGAL 1 September 2006 Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang pada
Ulang Tahunnya yang ke-44 kembali mewisuda 629 lulusan pasca sarjana, sarjana,
dan ahli madya. Pada hari yang istimewa ini para wisudawan dan wisudawati
secara resmi diberikan wewenang untuk menyandang predikat atau gelar akademik
baru sesuai dengan jenjang studi yang laluinya. Di satu sisi gelar ini
merupakan simbol prestasi, lebih-lebih bagi mereka yang telah bekerja keras dan
berjuang maksimal selama masa kuliah. Di sisi yang lain, gelar akademik sering
juga dipandang sebagai simbol prestise (gengsi). Artinya, tambah gelar tambah
gengsi, soal prestasi soal kedua.
Tulisan ini ingin menyoroti gelar akademik sebagai simbol prestasi di satu sisi
dan prestise di sisi lain dengan mencoba mencermati fenomena-fenomena yang
sedang berkembang di dalam masyarakat. Sasarannya hanya satu, yakni gelar
akademik tidak lagi disalah artikan atau disalah gunakan dan dengan demikian
diharapkan tercipta suatu budaya yang lebih mementingkan prestasi dari pada
prestise.
Prestasi
Pada hakekatnya gelar atau titel akademik adalah simbol prestasi, tanda
keberhasilan akademik seorang mahasiswa. Setelah berjuang (kuliah) dalam jangka
waktu tertentu, seorang mahasiswa akhirnya secara resmi dinyatakan layak untuk
menyandang suatu gelar baru. Dalam konteks kuliah, keberhasilan seorang
mahasiswa diukur dengan perubahan atau peningkatan dalam tiga aspek pokok,
yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. Indikator formal prestasi itu adalah
nilai atau IP (Indeks Prestasi) walaupun harus diakui bahwa nilai atau IP tidak
mutlak mewakili prestasi seseorang. Secara umum, prestasi kelulusan
dikategorikan dalam tiga tingkatan: lulus dengan predikat pujian (IPK 3,51 -
4,0),lulus dengan predikat sangat memuas (IPK 2,76 - 3,50), dan lulus dengan
predikat memuaskan (IPK 2,0 - 2, 75).
Prestasi tidak bisa dipisahkan dari proses. Artinya, kualitas kesarjanaan
seseorang lebih ditentukan oleh bagaimana dia mendayagunakan segala sumber yang
ada secara maksimal ketika masih di bangku kuliah. Dalam konteks ini, mari kita
coba melihat beberapa tipe mahasiswa yang menurut hemat saya cukup menentukan
kualitas yang dimaksud. Tipe pertama, mahasiswa yang cerdas, kreatif, serius,
bertanggung jawab, dan rajin mengikuti semua kegiatan akademis, baik yang
bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Kuliah betul-betul dilihat sebagai
kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya sehingga segala sumber daya yang
dimiliki termasuk uang dan waktu dimanfaatkan secara tepat-guna. Mahasiswa tipe
ini pada umumnya berprestasi luar biasa. Tipe kedua, mahasiswa yang sebenarnya
dalam hal potensi akademik cukup mampu tapi kurang serius (malas) dalam kuliah.
Waktu dan juga segala sumber daya yang dimiliki lebih banyak dihabiskan untuk
kegiatan-kegiatan yang tidak langsung berkaitan dengan
perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa tipe ini menunjukkan prestasi akademik
biasa-biasa saja. Mereka berprinsip nilai tidak menjamin keberhasilannya dalam
masyarakat kelak. Tipe ketiga, mahasiswa yang secara akademik kurang mampu
tetapi rajin dan serius dalam kuliah. Dalam keterbatasan yang ada mereka
berjuang maksimal dan biasanya prestasi yang diperoleh cukup baik. Tipe
keempat, mahasiswa yang secara akademik kurang mampu dan juga kurang serius
dalam kuliah. Mereka pada umumnya lulus dengan nilai pas-pasan. Prinsip dari
mahasiswa tipe ini adalah yang penting lulus/tamat dan memperoleh ijasah.
Memang harus diakui bahwa kualitas lulusan suatu Pendidikan Tinggi dipengaruhi
oleh banyak faktor. Namun demikian, menurut hemat saya faktor mahasiswalah yang
paling menentukan. Dalam kondisi yang tidak telalu menunjang sekalipun, seorang
mahasiswa masih bisa berprestasi kalau memang ada kemauan yang keras dan
motivasi yang tinggi. Dalam konteks ini pepata tua 'dimana ada kemauan disitu
ada jalan' masih sangat relevan.
Lebih jauh, prestasi dalam bentuk nilai atau IP harus juga nampak dalam
kualitas normatif seorang lulusan Pendidikan Tinggi yakni kemampuan berpikir
kritis, analitik, dan rasional; pengetahuan dan ketrampilan yang memadai
terutama dalam bidang ilmu yang digeluti; aklak, moral dan sikap yang baik dan
terpuji; kepekaan yang tinggi terhadap segala persoalan yang terjadi di dalam
masyarakat; dan wawasan yang luas dalam dunia yang semakin mengglobal. Menjadi
ironis dan patut dipertanyakan bila nilai atau IP yang diperoleh tidak
menggambarkan kualitas normatif yang riil seperti yang disebutkan di atas.
Prestise
Prestise atau prestige dalam bahasa Inggris berarti gengsi, wibawa, atau
martabat.Kenyataan menunjukkan bahwa gelar akademik tidak hanya dilihat sebagai
simbol prestasi akademik tetapi juga sebagai simbol prestise. Fenomena-fenomena
berikut ini dapat dijadikan bukti. Pertama, ada orang yang tanpa rasa malu
memilih jalan pintas, membeli gelar akademik yang ditawarkan oleh
lembaga-lembaga pendidikan yang tidak jelas status dan keberadaannya. Yang
penting baginya, gelar akan menaikkan status sosialnya, semakin banyak gelar
semakin tinggi prestisenya di masyarakat. Urusan 'isi' dari gelar akademik itu
bukan masalah. Kedua, ada kecendrungan masyarakat, kendati dalam jumlah yang
masih relatif kecil, untuk memilih kuliah pada universitas-universitas yang
memungkinkan mereka untuk gampang dan cepat tamat. Ketiga, gelar akademik
sering digunakan untuk tujuan yang tidak ada kaitannya dengan hal akademik atau
profesi seperti dalam surat undangan nikah atau pun yang lainnya. Untuk hal ya
ng satu ini sebenarnya sudah ditegaskan dalam Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia No 178/U/2001, Bab IV, pasal 12, butir 2 bahwa
gelar akademik dan sebutan professional hanya digunakan atau dicantumkan pada
dokumen resmi yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan pekerjaan. Keempat,
pesta (syukuran) wisuda yang jarang ditemukan di daerah lain tetapi mulai
membudaya di daerah ini. Sebenarnya kebiasaan syukuran ini mempunyai nilai
positip yakni (1) sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan karena keberhasilan itu
hanya mungkin terjadi dalam kasih dan cintaNya, (2) sebagai ungkapan
kebahagiaan, kebersamaan, dan kekeluargaan karena perjuangan yang panjang dan
melibatkan banyak pihak terutama keluarga sudah memberikan hasil. Namun bila
pesta atau syukuran itu berlebihan dan terkesan dipaksakan maka tujuan syukuran
itu patut dipertanyakan. Apalagi misalnya, ketika masih kuliah mahasiswa
tersebut tidak mampu membeli buku atau pun menfotokopi bahan kuliah karena ala
san ekonomi sementara untuk syukuran biaya tidak menjadi masalah.
Kembali pada topik tulisan ini, mendapat gelar akademik adalah suatu prestasi
yang membanggakan dan patut disyukuri. Namun demikian, kebanggaan dan syukur
itu bukan karena dan untuk suatu prestise, dan oleh karena itu perlu diletakan
pada tempat yang tepat dan diungkapkan lewat cara yang tepat pula.
Akhirnya bagi para wisudawan Undana periode September 2006, saya ucapkan
congratulations. Anda patut berbangga dan berbahagia karena Anda berprestasi.
Gelar akademik yang diraih adalah simbol prestasi, bukan prestise. Anda juga
pantas bersyukur atas jawaban Cinta Tuhan. Namun kebanggaan yang paling
sempurna, kebahagiaan yang paling sejati, dan syukur yang paling indah adalah
meneruskan dan mengamalkan apa yang diperoleh selama kuliah untuk kemajuan dan
kebaikan banyak orang. Semoga kebahagiaan dan syukur hari ini mampu menyalakan
semangat pengabdianmu.
* Penulis, dosen FKIP Undana, Kupang
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Undana: 44 Tahun belum publikasi 44 buku