[ppi] [ppiindia] Ttg SBY-JK: pepesan kosong
- From: "Ikranagara" <ikra@xxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sun, 30 Jan 2005 00:57:45 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Saturday, January 29, 2005
Pepesan kosong dari Kastil Cikeas
Lembaga Studi dan Pengembangan "Kedaulatan Rakyat".
Tapi rupanya, begitulah jadinya. Namanya Susilo Bambang Yudoyono.
Sang "jagoan" peraih Adhimakayasa, predikat lulusan terbaik AKABRI
tahun 1973. Juga mengenyam pendidikan militer kesohor Amerika di
West Point. Bahkan merampungkan strata S3 di IPB dengan menggondol
cum laude lewat disertasinya tentang kesejahteraan petani di
pedesaan. Kini "jagoan" itu hijrah dari kastilnya di Cikeas ke
istana Merdeka, Presiden RI !
Edan =85 terpilih jadi presiden bukan lantaran prestasi akademiknya
tapi justru oleh kegantengannya, kegagahannya, kesopanannya,
kekalemannya, oleh popularisasi melalui sistem "Indonesian Idol ",
dsbnya yang melibatkan para pakar komunikasi profesional.
Syahdan, ketika sudah jadi presiden, ia membentuk kabinet yang
terdiri dari orang-orang nyentrik : Aburizal Bakrie si konglomerat
bermasalah, Sri Mulyani si cecunguk IMF, Andi Malarangeng si ABG
yang keberatan kumis dan sederetan "pasukan bodrex" dari negeri
antah berantah. Termasuk si Marie Pangestu itu ! Belum lagi
gerombolan petinggi-petinggi legislatif seperti Agung Laksono,
Ginanjar dan sohib-sohibnya.
Tentu saja, "kebijaksanaan" yang mereka telorkan makin jauh dari
harapan rakyat : BBM naik, subsidi untuk Rakyat dicabut, tarif-tarif
terus merangkak ke atas, dan jeritan Rakyat dianggapnya sebagai
simfoni sembilan Oda To Joy karya Beethoven yang dibiarkan meraung-
raung "merdu".
Setelah si Yusuf "Bethara" Kalla berhasil menjadi Ketua Golkar,
kini "jagoan" kita terkena "penyakit bengong". Sorot matanya yang
memang dari sononya sayu, kini makin pudar ronanya. Suntrut dan
kehilangan gairah senyum. Akronim SBY sekarang menjadi "Susilo
Bawahan Yusuf". Dan si Kalla pun makin sok dan mulai berani sesumbar
tanpa basa-basi : "Wajar toh, kalau BBM dinaikkan. Kan ini untuk
menjamin keberlangsungan pembangunan", ujarnya sambil menyeka kumis
Chaplin-nya.
Apalagi ketika musibah tsunami melanda Aceh dan Sumut. Kalla berubah
garang, sementara si "jagoan" makin kebingungan. Dan semua orang
tahu belaka. Rakyat Aceh kian menderita. Bantuan dari seluruh
penjuru negeri sampai seminggu cuma menumpuk di gudang, tidak mampu
disalurkan, dan korban dibiarkan kelaparan. Setidaknya 90.000 lebih
mayat bergelimpangan di seantero tempat, terabaikan dan membusuk dan
paling-paling kemudian dikuburkan masal tanpa kafan. Di sisi lain,
show of force armada AS dan kedatangan Collin Powell ke Aceh
disambut dengan kata-kata, "sahabat sejati". Astafirullah liladzim =85
Sekarang jelas terlihat, dan Rakyat pun menjadi sadar. Kalau dulu
rezim Suharto dijuluki rezim militer-fasis maka predikat apa yang
pantas menjadi sebutan rezim SBY ini ? SBY lahir dari gua-garba
militer dan dididik dari kancah candradimuka orba, kemudian Yusuf
Kalla dimakzulkan menjadi Ketua Golkar dari dukungan Aburizal dan
Surya Paloh yang pengusaha kapitalis, Prabowo yang militer serta
Agung Laksono yang Golkar dan Ketua DPR.
Nah, tak salah lagi, rezim yang berkuasa sekarang adalah rezim neo-
militer-fasis yang identik dengan neo-orba juga.
Orientasi pembangunan rezim ini makin gamblang berperspektif ke arah
neo-liberal. Keledai pun tahu bahwa ekonomi Indonesia kini
berorientasi ke pasar bebas. Coba saja, Sri Mulyani jelas-jelas
mengarahkan pendulum kepada kepentingan ekonomi swasta tanpa
menengok sedikit pun kepada ekonomi kerakyatan. Itu berarti bahwa
kepentingan ekonomi Rakyat ditempatkan pada urutan belakangan.
Artinya, kepentingan Rakyat berada pada urutan "nanti saja".
"Lho, bukankah sekarang pemerintah sedang getol-getolnya memberantas
korupsi ?" kata sementara orang yang belum sembuh dari penyakit
dungunya.
"Iya, ya benar. Saat ini para Bupati sedang blingsatan, pada takut.
Mereka lagi ramai-ramai mencari perlindungan paranormal. Biar
selamat dari jeratan korupsi," timpal temannya yang ikut-ikut
terimbas virus dungu.
"Wah, apa benar sih, pemerintah mampu memberantas korupsi ?,"
sanggah lainnya setengah bertanya.
"Pemberantasan korupsi bukan hal baru, bung", ujar temannya yang
lain lagi mulai kritis. "Nyatanya dari dulu tak ada hasilnya.
Bagaimana mungkin maling menangkap maling."
Memang demikian nyatanya. Banyak orang tidak yakin korupsi dapat
diberantas. Sejauh tidak adanya keberanian menerapkan konsep
pembuktian terbalik dan meninggalkan prinsip praduga tak bersalah
serta alasan ketakutan pada pelanggaran HAM, kejahatan korupsi
mustahil dapat diberantas sampai tuntas. Apalagi para "pemberantas
korupsi" ini masih berada dalam lingkup mafioso. Mereka maling juga.
Begitu naif bila kita beranggapan bahwa pemberantasan korupsi adalah
segala-galanya. Bukankah para penguasa dalam rezim neo-orba ini
makin jelas berperan sebagai komprador-komprador yang licin ? Mereka
ini senyatanya adalah para pengabdi setia kapitalis global.
Senyampang membiarkan berlangsungnya proses pembabatan hutan lewat
ilegal-logging (yang setiap hari merugikan negara sebesar Rp.83
milyar), mereka terus melestarikan penjarahan kekayaan bumi
Nusantara oleh tuan-tuan kapitalis global mereka. Lihatlah Freeport,
Inco, Buyat, Exon, Conoco, Shell, Mobiloil dan Multi National
Corporation lainnya. Sejauh kepentingan tuan-tuan mereka tidak
terusik, apa pedulinya dengan kepentingan Rakyat sendiri.
Mari kita sejenak merenung.
Rezim ini begitu takut menyakiti hati tuannya. Kasus bom Bali, bom
Marriot, bom Kuningan yang persoalannya sangat rumit, begitu
sigapnya mereka atasi, sementara kasus peracunan Munir yang sudah
jelas lokasinya, jelas saatnya dan jelas kronologisnya, begitu ogah-
ogahan mereka bertindak. Belum lagi kasus Buyat. Dengan getol mereka
berkelit mencari pembenaran. Fakta lapangan yang menunjukkan bukti
nyata penderitaan Rakyat, mereka kesampingkan begitu saja.
Bahkan dulu, sebelum sang "jagoan" jadi presiden, seorang menteri
nekat berani pasang badan berhadapan dengan Rakyat.
Tahukah anda, rezim ini tetap memberi peluang bersimaharajalelanya
impor gula, impor bawang putih, bawang merah, beras, jagung, kedelai
dan sebagainya, sementara para petani kita kelimpungan tak berdaya.
Sebaliknya impor pakaian-bekas yang justru mampu sedikit memberi
nafkah para pedagang kakilima, mereka larang mati-matian ?
Satu lagi, tahukah anda bahwa 70% pemasukan keuangan negara dalam
RAPBN berasal dari Rakyat melalui pajak dan 60% dari padanya
diperuntukkan membayar hutang, sementara Rakyat sendiri tidak pernah
menikmatinya ?
Jelas sudah, rezim neo-orba dengan sengaja telah menarik garis
demarkasi untuk berhadapan dengan Rakyat. Mereka di sana, kita di
sini. Mereka menindas, kita ditindas, termasuk menindas Rakyat yang
berani berlawan. Buktinya, kasus Bojong, kasus demo mahasiswa dan
kasus-kasus lainnya. Mereka beringas, Rakyat dilibas. Mentang-
mentang sudah punya kuasa !
Oke, bung. Tunggu saja hari pembalasan. Ketika Rakyat sudah
menyadari arti persatuan, ketika Rakyat sudah memiliki keberanian,
ketika Rakyat sudah tidak tahan lagi dan siap serta terpaksa harus
memanggul metraliyur untuk membela diri dan ketika rezim sudah makin
kebingungan.
Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tak perlu lagi menanti
mentari terbit di ufuk timur.
"Enjing bidal gamuruh. Saking nagari Wiroto. Obro busananiro. Lir
suryo wedaliro. Lumaksono magito-gitooooo !" begitu analoginya
seperti yang diucapkan Ki dalang NartoSabdo.
Dulu, melalui janji-janjinya, SBY merajutkan mimpi untuk kita =85
Gebrakan 100 hari sang "jagoan" nyatanya justru membangunkan kita
pada realita.
Yah, c u m a p e p e s a n k o s o n g !
--**--
Jakarta, medio Januari 2005.
Lembaga Studi dan Pengembangan "Kedaulatan Rakyat".
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources=20
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: