[ppi] [ppiindia] Tewas dengan Rekomendasi Neolib

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** 
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/22/opini/2145886.htm 
 

Tewas dengan Rekomendasi Neolib 

SUKO WIDODO 



Menarik sekali mengamati polemik Effendi Gazali lewat tulisan Bersama Kita Bisa 
(Menderita) (Kompas, 10/10/2005) dan tanggapan Menkominfo Sofyan Djalil melalui 
artikel Harga BBM dan Masa Depan Indonesiaâ?? (Kompas, 12/10/2005).

Menurut analisis Komunikasi Partisipatif, jelas Effendi Gazali benar; namun di 
sisi lain, Menkominfo pun tidak salah. Pak Menteri memang belum pernah menekuni 
ilmu komunikasi, dan bisa jadi, saat ini Pak Menteri cuma sekadar salah 
â??masuk kamarâ?? (baca: departemen).

Sebagai seorang pengajar dan peneliti, saya mahfum betul, amat sukar untuk 
berbicara tentang kekhususan konteks ekonomi, sosial, budaya, dan komunikasi 
politik suatu negara. Terlebih jika seorang mahasiswa (bahkan sesama kolega 
dosen dan peneliti) tidak bersungguh-sungguh mendalami hubungan antara ilmu 
komunikasi dan Teori-teori Kritis atau bahkan pada sisi tertentu Teologi 
Pembebasan. Tentunya kita maklum pula bahwa Teori- teori Komunikasi Pembangunan 
dan Advokasi Kontemporer juga dibangun dengan meminjam sana-sini beberapa pilar 
utama teori-teori tersebut.

Saya bisa membayangkan bahwa Menkominfo mempunyai latar belakang pendidikan 
yang lengkap: hukum, ekonomi, dan diplomasi (hubungan internasional). Dan kini, 
langsung atau tidak, dia bergaul atau berada di sekitar para menteri lengkap 
dengan pakar dan staf ahlinya, yang sebagian besar juga bergelar PhD dengan 
aliran yang sering disingkat menjadi Neoliberalisme (Neolib).

Memakan korban

Tulisan ini tidak bermaksud mengurai panjang lebar tentang tumbuh dan 
berkembangnya, serta asumsi-asumsi dasar Neolib. Yang ingin dilihat justru 
konteks implementasinya yang dilakukan di Indonesia, yang belakangan menurut 
hemat saya sudah memakan korban yang tidak sedikit, langsung ataupun tidak.

Kenaikan harga BBM Maret dan Oktober ini selalu dihubungkan dengan dua kata 
sakral harga pasar. Kaum Neolib memang percaya pada legitimasi pasar bahwa 
pasar bebas adalah prekondisi yang esensial bagi terlaksananya sebuah 
distribusi yang adil untuk kesejahteraan dan demokrasi politik (lihat Hudson, 
1999). Karena penyerahan diri pada peranan pasar itu, maka mereka langsung 
ataupun tidak meminta pemotongan pengeluaran-pengeluaran publik untuk 
pelayanan-pelayanan sosial. Atas nama efisiensi yang lebih besar, berbagai 
BUMN, pengelolaan barang dan jasa, sebaiknya diserahkan pada investor-investor 
swasta. Kemudian, mereka juga umumnya mengeliminasi konsep the public good atau 
community dan menggantinya dengan konsep individual responsibility. Tentu 
setiap orang bisa menekankan sisi keutamaan lain dari Neolib yang dia anggap 
penting.

Melihat prinsip-prinsip di atas, sekilas tampak bahwa Neolib di Indonesia 
merupakan varian tersendiri. Lihatlah betapa mereka juga menyediakan Dana 
Kompensasi Kenaikan Harga BBM bagi masyarakat miskin yang dirancang dengan 
cermat berdasarkan 14 kriteria menentukan gakin (keluarga miskin). Bahkan 
mereka bermurah hati untuk menyediakan sekaligus tiga bulan di depan dikalikan 
Rp 100.000.

Patokannya minyak tanah

Kenaikan minyak tanah yang hampir tiga kali lipat adalah wajah asli Neolib di 
balik selubung lainnya. Dalam hal ini, Effendi Gazali benar. Tentu pemerintah 
melalui doktor pemuja pasarnya bisa segera mengatakan, kenaikan minyak tanah 
itu sudah ditutupi dengan dana kompensasi yang cukup besar tersebut. Lalu 
dimulailah hitung-hitungan bahwa satu keluarga miskin menghabiskan X liter 
minyak tanah per bulan sehingga hanya membutuhkan subsidi dari dana kompensasi 
sebesar Rp 30.000 saja, atau Rp 90.000 per tiga bulan. Mereka lupa bahwa pasar 
versi mereka tak pernah perfect dan berlaku sama di semua negara.

Kini harga kebutuhan di pasaran sudah melejit jauh di atas hitung-hitungan 
mereka. Bahkan, pada kenyataannya minyak tanah dijual di pasaran sampai 300 
persen dibandingkan dengan harga sebelum BBM dinaikkan (sehingga salah satu 
pilar hitung-hitungan mereka mestinya sudah roboh). Belum lagi kalau rakyat 
miskin ternyata lebih tertarik membelanjakan uangnya untuk rokok, baju Lebaran, 
biaya mudik, dan lain sebagainya. Tentu kaum Neolib bisa mengatakan itulah 
salahnya kelompok yang tidak cerdas, justru karena itu mereka harus dididik 
dengan keras oleh patokan harga-harga pasar!

Effendi Gazali, dalam beberapa seminar yang saya ikuti, berulang kali 
memprediksi, skema kompensasi kenaikan harga BBM dan kriterianya yang tidak 
dimasyarakatkan dengan baik serta ketergesa-gesaan, sama dengan meletakkan bom 
waktu di bawah karpet. Sekarang hal itu sudah terbukti dan pemerintah mulai 
menuai badainya! Jumat lalu (14/10), Warinem (84) dan Wadiman (75) tewas ketika 
antre pembagian dana kompensasi BBM di Banyuwangi dan Demak. Itu baru ketika 
antre mengambil uangnya, belum lagi berjuta persoalan salah penilaian, salah 
kasih kartu, penjualan kartu, penyunatan, dan sebagainya.

Kini tinggal satu harapan pada Presiden SBY, paling tidak seimbangkanlah 
kombinasi menteri bidang perekonomian dengan mereka yang tidak terlalu atau 
punya alternatif pemikiran di luar Neolib. Sementara Menkominfo, cobalah 
bergaul dengan kelompok-kelompok penggerak LSM serta akademisi komunikasi yang 
membuka wacana Anda lebih luas daripada semua yang diklaim fundamental dalam 
artikel Anda.

SUKO WIDODO Direktur Pusat Kajian Komunikasi Unair, Mantan Fellow VIP (Visitor 
International Program) dengan Fokus Demokratisasi Media di AS


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: