[ppi] [ppiindia] Tewas dengan Rekomendasi Neolib
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 22 Oct 2005 01:35:24 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/22/opini/2145886.htm
Tewas dengan Rekomendasi Neolib
SUKO WIDODO
Menarik sekali mengamati polemik Effendi Gazali lewat tulisan Bersama Kita Bisa
(Menderita) (Kompas, 10/10/2005) dan tanggapan Menkominfo Sofyan Djalil melalui
artikel Harga BBM dan Masa Depan Indonesiaâ?? (Kompas, 12/10/2005).
Menurut analisis Komunikasi Partisipatif, jelas Effendi Gazali benar; namun di
sisi lain, Menkominfo pun tidak salah. Pak Menteri memang belum pernah menekuni
ilmu komunikasi, dan bisa jadi, saat ini Pak Menteri cuma sekadar salah
â??masuk kamarâ?? (baca: departemen).
Sebagai seorang pengajar dan peneliti, saya mahfum betul, amat sukar untuk
berbicara tentang kekhususan konteks ekonomi, sosial, budaya, dan komunikasi
politik suatu negara. Terlebih jika seorang mahasiswa (bahkan sesama kolega
dosen dan peneliti) tidak bersungguh-sungguh mendalami hubungan antara ilmu
komunikasi dan Teori-teori Kritis atau bahkan pada sisi tertentu Teologi
Pembebasan. Tentunya kita maklum pula bahwa Teori- teori Komunikasi Pembangunan
dan Advokasi Kontemporer juga dibangun dengan meminjam sana-sini beberapa pilar
utama teori-teori tersebut.
Saya bisa membayangkan bahwa Menkominfo mempunyai latar belakang pendidikan
yang lengkap: hukum, ekonomi, dan diplomasi (hubungan internasional). Dan kini,
langsung atau tidak, dia bergaul atau berada di sekitar para menteri lengkap
dengan pakar dan staf ahlinya, yang sebagian besar juga bergelar PhD dengan
aliran yang sering disingkat menjadi Neoliberalisme (Neolib).
Memakan korban
Tulisan ini tidak bermaksud mengurai panjang lebar tentang tumbuh dan
berkembangnya, serta asumsi-asumsi dasar Neolib. Yang ingin dilihat justru
konteks implementasinya yang dilakukan di Indonesia, yang belakangan menurut
hemat saya sudah memakan korban yang tidak sedikit, langsung ataupun tidak.
Kenaikan harga BBM Maret dan Oktober ini selalu dihubungkan dengan dua kata
sakral harga pasar. Kaum Neolib memang percaya pada legitimasi pasar bahwa
pasar bebas adalah prekondisi yang esensial bagi terlaksananya sebuah
distribusi yang adil untuk kesejahteraan dan demokrasi politik (lihat Hudson,
1999). Karena penyerahan diri pada peranan pasar itu, maka mereka langsung
ataupun tidak meminta pemotongan pengeluaran-pengeluaran publik untuk
pelayanan-pelayanan sosial. Atas nama efisiensi yang lebih besar, berbagai
BUMN, pengelolaan barang dan jasa, sebaiknya diserahkan pada investor-investor
swasta. Kemudian, mereka juga umumnya mengeliminasi konsep the public good atau
community dan menggantinya dengan konsep individual responsibility. Tentu
setiap orang bisa menekankan sisi keutamaan lain dari Neolib yang dia anggap
penting.
Melihat prinsip-prinsip di atas, sekilas tampak bahwa Neolib di Indonesia
merupakan varian tersendiri. Lihatlah betapa mereka juga menyediakan Dana
Kompensasi Kenaikan Harga BBM bagi masyarakat miskin yang dirancang dengan
cermat berdasarkan 14 kriteria menentukan gakin (keluarga miskin). Bahkan
mereka bermurah hati untuk menyediakan sekaligus tiga bulan di depan dikalikan
Rp 100.000.
Patokannya minyak tanah
Kenaikan minyak tanah yang hampir tiga kali lipat adalah wajah asli Neolib di
balik selubung lainnya. Dalam hal ini, Effendi Gazali benar. Tentu pemerintah
melalui doktor pemuja pasarnya bisa segera mengatakan, kenaikan minyak tanah
itu sudah ditutupi dengan dana kompensasi yang cukup besar tersebut. Lalu
dimulailah hitung-hitungan bahwa satu keluarga miskin menghabiskan X liter
minyak tanah per bulan sehingga hanya membutuhkan subsidi dari dana kompensasi
sebesar Rp 30.000 saja, atau Rp 90.000 per tiga bulan. Mereka lupa bahwa pasar
versi mereka tak pernah perfect dan berlaku sama di semua negara.
Kini harga kebutuhan di pasaran sudah melejit jauh di atas hitung-hitungan
mereka. Bahkan, pada kenyataannya minyak tanah dijual di pasaran sampai 300
persen dibandingkan dengan harga sebelum BBM dinaikkan (sehingga salah satu
pilar hitung-hitungan mereka mestinya sudah roboh). Belum lagi kalau rakyat
miskin ternyata lebih tertarik membelanjakan uangnya untuk rokok, baju Lebaran,
biaya mudik, dan lain sebagainya. Tentu kaum Neolib bisa mengatakan itulah
salahnya kelompok yang tidak cerdas, justru karena itu mereka harus dididik
dengan keras oleh patokan harga-harga pasar!
Effendi Gazali, dalam beberapa seminar yang saya ikuti, berulang kali
memprediksi, skema kompensasi kenaikan harga BBM dan kriterianya yang tidak
dimasyarakatkan dengan baik serta ketergesa-gesaan, sama dengan meletakkan bom
waktu di bawah karpet. Sekarang hal itu sudah terbukti dan pemerintah mulai
menuai badainya! Jumat lalu (14/10), Warinem (84) dan Wadiman (75) tewas ketika
antre pembagian dana kompensasi BBM di Banyuwangi dan Demak. Itu baru ketika
antre mengambil uangnya, belum lagi berjuta persoalan salah penilaian, salah
kasih kartu, penjualan kartu, penyunatan, dan sebagainya.
Kini tinggal satu harapan pada Presiden SBY, paling tidak seimbangkanlah
kombinasi menteri bidang perekonomian dengan mereka yang tidak terlalu atau
punya alternatif pemikiran di luar Neolib. Sementara Menkominfo, cobalah
bergaul dengan kelompok-kelompok penggerak LSM serta akademisi komunikasi yang
membuka wacana Anda lebih luas daripada semua yang diklaim fundamental dalam
artikel Anda.
SUKO WIDODO Direktur Pusat Kajian Komunikasi Unair, Mantan Fellow VIP (Visitor
International Program) dengan Fokus Demokratisasi Media di AS
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Tewas dengan Rekomendasi Neolib