[ppi] [ppiindia] Terorisme, Tirani Kata, dan Stigmatisasi Islam
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 29 Jul 2005 23:47:15 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** Jum'at, 29
Juli 2005
OPINI
Terorisme, Tirani Kata, dan Stigmatisasi Islam
* *Adian Saputra, Ketua Umum Forum Kerja Sama Alumni Rohis (FKAR) SMA-SMK
se-Bandar Lampung
Tidak lama setelah bom meledak di London, Inggris, beberapa waktu lalu,
Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan Al Qaeda berada di belakang semua
itu. Begitu juga dengan pengeboman di Mesir yang menewaskan delapan puluhan
orang. Presiden Hosni Mubarak juga menuduh Al Qaeda berada di belakangnya.
Opini dunia kemudian serta-merta tergiring pada pandangan itu.
Sampai-sampai dugaan yang belum mendasar ini menjadi bahan mereka menempelkan
stigma pada Islam.
Isu yang sekarang berkembang ini bukanlah cerita dan barang baru. Sejak
zaman mulai dikuasai teknologi modern, hal-ihwal semacam ini menjadi bumbu
keseharian kehidupan kaum muslimin. Bahkan, hampir di setiap tempat atau
negara, yang namanya Islam selalu saja pada posisi yang dipojokkan.
Semua nilai kejahatan kemudian dilekateratkan kepada bangunan Islam. Umat
dan nilai-nilai asasi Islam kemudian menjadi sasaran tembak yang paling empuk
melalui pemberitaan media massa. Dengan demikian, persepsi masyarakat dunia
juga akhirnya ikut terpengaruh. Jika hal ini kemudian mendominasi semua bentuk
informasi yang menyebar sampai seluruh negeri, semua yang menikmati akses
informasi itu tentu punya persepsi yang tidak jauh berbeda dengan apa yang
mereka nikmati.
Akar Sejarah yang Panjang
Menyimak semua tragedi yang terjadi sepanjang zaman memang tidak bisa
dilepaskan dengan akar sejarah. Sejarah yang kemudian menjungkirbalikkan fakta
yang terungkap dalam liputan dan tulisan-tulisan yang dibuat sedemikian rupa.
Sejak masa Perang Salib, tidak bisa dimungkiri permusuhan atau
perseteruan antara Islam dan non-Islam menjadi sesuatu yang sering muncul.
Pelajaran-pelajaran yang diterima anak-anak nonmuslim di hampir semua benua,
terutama Eropa, mengajarkan sejarah yang pahit atas kekalahan raja-raja Eropa
di tangan Salahudin al Ayyubi.
Kenangan pahit inilah yang kemudian menjadi kurikulum tersendiri yang
dipelajari anak-anak Barat di sekolah-sekolah mereka. Maka, dimulailah proses
transfer pengetahuan kepada mereka. Pada akhirnya, mereka memiliki semangat
membalaskan apa yang pernah diderita moyang-moyang mereka.
Meskipun tidak sepenuhnya tidak tertarik dengan sejarah masa lalu yang
kelam, paling tidak ini memberikan peringatan tersendiri. Bukan apa-apa. Yang
namanya pengetahuan akan mengendap pada basis pikiran dasar seseorang yang acap
disebut paradigma.
Ketika paradigma ini menjadi satu-satunya alat untuk mengukur baik-buruk,
tentu noda hitam atas Islam, menjadi kekhasan bagi cara mereka berpikir. Dengan
kata lain, kebencian yang ditanamkan dalam pelajaran yang didapatkan melalui
literatur, makin dalam tertanam.
Intinya, pengetahuan atas sejarah orang-orang terdahulu akan memengaruhi
cara pandang mereka terhadap Islam. Jika sebagian besar otak mereka dipenuhi
kesan negatif terhadap Islam, sikap yang muncul juga sama dan sebangun dengan
hal itu.
Jika pengetahuan akan Islam mereka berangkat pada pijakan yang objektif,
demikian pula yang akan mereka terapkan dalam keseharian. Namun, dalam dunia
yang semakin mengglobal, kondisi ini sangat sulit diwujudkan.
Akhirnya, Islam berada pada pengetahuan mereka yang salah. Maka, Islam
kemudian identik--atau diidentikkan--dengan terorisme, fundamentalisme, bom
bunuh diri, pengacau keamanan, pengacau upaya perdamaian, dan sebagainya.
Tirani Kata
Tak ayal, yang namanya bahasa memiliki pengaruh yang sangat kuat. Bahasa
menjadi alat komunikasi yang bisa dimengerti semua orang. Bahasa menjadi modal
tersendiri bagi semua orang untuk mentransformasikan gagasannya kepada orang
lain.
Dalam ilmu bahasa, bahasa selalu dilukiskan sistem lambang arbitrer yang
digunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasi diri yang memiliki kriteria semantik. Sebab, kegiatan
berbahasa memiliki fungsi semantis tertentu yang butir-butirnya antara lain
wujud dalam pemilihan kata dan dalam penataan kalimat dan wacana yang harus
tepat.
Jika tidak, gagasan yang disampaikan, informasinya bisa menyimpang.
Selain itu, informasi yang disampaikan juga harus logis, memiliki keselarasan
hubungan, dan kesatuan gagasan. Dalam bahasa retorika, harus memiliki
koherensi, kohesi, dan unity. Bahasa juga membantu manusia dalam mengartikan
sesuatu hal dari dunia luar baik secara objektif maupun imajinatif.
Dari beragam pendapat para ahli, setidak-tidaknya ada tiga unsur utama
yang menjadi perhatian. Pertama, bahasa sebagai sistem tanda atau sistem
lambang. Kedua, bahasa sebagai alat komunikasi. Ketiga, bahasa digunakan
kelompok manusia atau masyarakat.
Karena bahasa berfungsi semantik, dalam bahasa juga dikenal ada makna.
Makna sebuah kata sering diartikan sebagai arti, maksud atau panggilan yang
diberikan kepada sesuatu bentuk kebahasan.
Bahkan, ada anggapan, suatu bentuk atau bunyi, bukan bahasa jika tidak
punya makna. Makna sebuah kata menjadi garapan ilmu semantik. Dalam bahasa
Arab, ilmu tentang makna ('ilmu almaani) merupakan bagian 'ilmu balaghah
(rhetoric), sejajar kedudukannya dengan 'ilmu bad'i dan bayan.
Makna makin kompleks ketika ia kehilangan kemerdekaannya, yakni saat
kepentingan si pengguna bahasa mendominasi. Malahan, memerkosanya. Jika ini
kondisinya, bahasa tidak lagi menunjukkan eksistensinya yang asasi. Namun, ia
berubah wujud menjadi alat kepentingan seseorang atau komunitas dalam kerangka
global.
Maka, ketika subjektivitas dalam pemaknaan suatu bahasa telah dominan,
kemungkinan makna bisa menjadi alat propaganda. Harap dicatat dengan baik: Alat
propaganda. Ketika sudah sampai pada titik ini, inilah yang disebut dengan
tirani kata (Abdi Sumaiti, 2002).
Standar ganda yang kerap digunakan Barat--banyak terwakilkan Amerika
Serikat--menjadi alat manipulasi dalam hubungannya dengan dunia Islam. Dalam
literatur Islam, pemaknaan sebuah kata atau bahasa harus jelas parameternya,
yaitu Islam itu sendiri, yang terbahasakan dalam Alquran dan sunah.
Kedua hal inilah yang kemudian menjadi alat ukur dan standardisasi baik
dan buruknya. Ada pula dua jenis makna yang dapat kita kenal; lughawi dan
istilahi. Secara prinsip, kedua jenis makna ini tidak boleh bertentangan satu
dengan yang lainnya. Bahkan, harus melengkapi dan menyempurnakan. Menurut Imam
Ghazali, seseorang yang berupaya memberikan makna pada kata atau bahasa
tertentu, ia harus menghadirkan dua makrifat.
Sementara, Muhammad Quthub menegaskan seluruh istilah Alquran menggunakan
makna tertentu terhadap lafal-lafal tertentu yang tidak dipahami hanya melalui
lughawi, kecuali setelah diketahui pengkhususan maknanya oleh Alquran. Meskipun
demikian, pengkhususan ini tidak keluar dari kerangka umum lafal tersebut.
Standar ganda dalam memandang dan menilai sesuatu merupakan pencerminan
orang-orang munafik. Dalam Islam, kemunafikan ini harus dikecam dan dijauhi.
Bahkan, dalam konteks tertentu, kemunafikan ini harus diperangi sebagaimana
layaknya melawan orang-orang kafir. Luar biasa.
Saya jadi ingat tokoh munafik sewaktu zaman Rasulullah saw.: Abdulah bin
Ubay bin Salul. Kini, peran itu tergantikan rezim dunia seperti AS,
kroni-kroni, dan semua kompatriotnya.
Secara amat gamblang, kita bisa melihat bagaimana kelihaian AS dan
negara-negara sekutunya dalam membuat standar ganda dan pemaknaan yang berbeda
terhadap posisi umat Islam.
Menurut Rasyid Ghanusyi, ulama di Tunisia, Barat kini sedang
mempersiapkan Tatanan Dunia Baru yang bukan saja menyadari kekuatan Islam atau
berusaha menghabiskan kekhalifahan, memecah belah negeri, tetapi mereka
merencanakan yang lebih jauh daripada itu semua.
Jika melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam globe Islam, kita
bisa melihatnya dengan jelas. Pertama, terkait dengan minoritas muslim di
berbagai negara yang jumlahnya mencapai sepertiga jumlah umat Islam dunia.
Barat berusaha menghabisinya dengan ethnic cleansing di Bosnia- Herzegovina,
Chechnya, Azerbaijan, dan sebagainya.
Kedua, terkait dengan jantung dunia Islam. Dalam hal ini Barat
memperlakukan kaum muslimin hingga mereka tidak betah dan terusir dari
negerinya.
Ghanusyi mengatakan jika kedua konspirasi ini berhasil, cukup menjadikan
kaum muslimin sebagai umat pengungsi abadi dan terus-menerus dilanda kelaparan.
Stigma
Dalam The World Dictionary, stigma berarti tanda aib atau sesuatu yang
ternoda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia, stigma berarti ciri negatif yang
menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.
Pemaknaan suatu kata yang tadi dibahas menjadi alat mujarab penstigmaan
terhadap tubuh umat Islam. Dengan beragam label yang ada di kamus, Islam
kemudian dilekatkan dengan hal-hal tersebut.
Maka, bangunan Islam yang ada sekarang ini dipenuhi dengan tempelan
stigma-stigma.
Realitas umat Islam kemudian dipotret Barat dengan noda-noda yang
pastinya hitam. Kepentingan politik dan bisnis menjadi dasar penstigmaan atas
Islam. Upaya-upaya ini kemudian menjadi kejadian yang sangat mengerikan.
Alija Izetbegovic, mantan Presiden Bosnia- Herzegovina, menyebutnya
kebudayaan massa yang dicirikan pembagian yang tegas antara produsen dan
konsumen benda-benda kebudayaan. Akibat stigma, orang harus pandai-pandai
mengartikan kejadian tertentu. Noam Chomsky dalam Menguak Tabir Terorisme
Internasional mengatakan kita kini memiliki dua dunia; dunia sebenarnya dan
dunia yang terbentuk dalam pikiran.
Dunia riil dan dunia newspeak. Nih contoh gampangnya. Jika negara Arab
menerima usulan "perdamaian" Barat, mereka disebut moderat. Jika menolak,
mereka disebut ekstremis. Kalau ada kata ekstremis, yang ada dalam kepala kita
adalah Hamas (organisasi perjuangan bangsa Palestina), Hizbullah, Al Fatah
(sayap militer PLO), dan yang sebangsa dengan itu.
Terorisme mulanya kata yang berarti tindakan kekerasan yang disertai
sadisme. Kini, ia berubah makna. Ya karena sudah subjektif tadi. Dalam Kamus
Adikuasa, terorisme berarti tindakan protes yang dilakukan negara-negara atau
kelompok-kelompok kecil. Pembunuhan atas beberapa orang Irael disebut terorisme.
Namun, pembantaian kaum muslimin di kamp pengungsian Sabra dan Satila
oleh Zionis Israel, bukan disebut terorisme. Itu disebut tindakan mendahului
(preemptive). Jika beberapa warga Palestina mengarahkan pesawat penumpang ke
tujuan tertentu, tindakan itu disebut pembajakan (hijacking). Namun, jika
angkatan laut Israel menembaki kapal kecil milik kaum muslimin Lebanon dan
menggiringnya seperti sekawanan kambing, itu disebut penangkapan (interception).
Standar ganda ini tentunya sangat didukung dengan media massa. Media
massa Barat sepakat untuk menjadikan mereka alat pemberi stigma pada tubuh
Islam.
Saking berpengaruhnya media massa, mereka juga acap membuat rekayasa
tertentu agar menjadi hal bombastis untuk diwartakan. Sebab, media massa memang
memiliki kekuasaan yang luar biasa. Mungkin, inilah salah satu ide dasar
penggarapan film James Bond yang dibintangi Pierce Brosnan bertajuk "Tomorrow
Never Dies".
Film yang bercerita bos media massa yang mengadu domba Cina dan Inggris
dengan peluncuran misilnya. Kekerasan-kekerasan politik yang terjadi langsung
saja dilekateratkan dengan nama Islam. Pengeboman WTC, revolusi Iran, ledakan
bom di London, pengeboman di Mesir, pengeboman pesawat terbang Panam, semua
dilekatkan dengan Islam.
Lantas, muncul pula nama-nama seperti islamic terorist, islamic
extremist, atau islamic fundamentalist. Pokoknya, Islam digambarkan sebagian
orang biang kerok dan biang keladi kekisruhan yang muncul di dunia ini. Sedikit
saja ada kejadian yang berdarah-darah, hampir bisa dipastikan "orang-orang
garis keras"--istilah ini juga dari media massa Barat--yang dijadikan kambing
hitam.
So, akhirnya, komunitas Islam akan merasa jengah dengan identitas
keislamannya. Identitas Islam kemudian menjadi sesuatu yang disembunyikan.
Inilah kondisi rendah diri yang dialami kaum muslimin era mutakhir ini.
Jika ini yang terjadi, pasti ada dampak negatifnya. Pertama, ia akan
terkagum-kagum dengan adat, agama, kebiasaan, karakter, dan perilaku Barat.
Kedua, ia akan membenci apa saja yang datangnya dari Islam.
Kalau itu yang terjadi, stigma terhadap nilai-nilai Islam benar-benar
sudah terpatri. Semuanya ini kemudian bermuara pada sebuah istilah ghazwul
fikri dalam bahasa Arab atau ghazwul fikir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Wallahualam bissawab.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hutmq0b/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122680839/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Take
a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: