[ppi] [ppiindia] Termakan Janji, Buahkan Pesimistis
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 30 Jan 2005 22:30:51 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=154487
Senin, 31 Jan 2005,
Termakan Janji, Buahkan Pesimistis
Oleh Moh. Salman Hamdani
Pada 28 Januari 2005, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla
(SBY-JK) genap berumur 100 hari. Pelbagai penilaian perihal gagal atau
berhasilnya pemerintahan SBY dalam waktu 100 hari turut mewarnai pelbagai media
massa, forum diskusi, seminar, bahkan sampai di kedai kopi. Banyak di antara
mereka yang menilai bahwa pemerintahan SBY-JK tidak sejalan dan semulus dengan
progam 100 hari. Di sana-sini, banyak kendala dan persoalan untuk
mewujudkannya. Karena itu, SBY-JK dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan.
Sebenarnya, terlalu cepat dan prematur menilai berhasil atau tidaknya
pemerintah SBY-JK hanya dalam kurun waktu 100 hari. Masa itu sungguh sangat
pendek jika dibandingkan dengan intensnya ekspektasi rakyat serta semangat
komitmen dan janji pemerintah. Sebab, persoalan yang dihadapi pemerintah SBY-JK
begitu kompleks dan multidimensional, yang tidak hanya memerlukan waktu 100
hari untuk diselesaikan.
Pemerintah SBY-JK masih memiliki waktu cukup panjang untuk menyelesaikan dan
menuntaskan agenda-agenda pemerintah. Lima tahun masa jabatan kepresidenan
sangatlah tidak arif manakala direduksi menjadi 100 hari. Karena itu, kita
perlu mencermati secara komprehensif, tidak keburu-buru menyimpulkan atas
berhasil atau gagalnya pemerintahan SBY-JK.
Tetapi, persoalan di lapangan berbeda. Rakyat begitu antusias dan optimistis
dengan janji therapy shock selama 100 hari. Janji-janji yang tertuang dalam
program 100 hari pemerintah SBY itu membuat sebagai rakyat pesimistis dengan
masa depan pemerintah SBY.
Ada lima janji pemerintah SBY selama 100 hari pertama, yaitu penangkapan dalang
pengeboman (teroris) Dr Azhari dan Noordin Mohd Top, pengamanan serta
kelancaran pendistribusian BBM dan sembako pada Lebaran dan tahun baru,
penanganan ilegal logging (pencurian dan perdagangan kayu gelondongan ilegal),
membawa ke meja hijau kasus-kasus hukum yang selama ini tak bisa dibawa ke
pengadilan, terakhir, semua pejabat negara harus menyerahkan daftar kekayaan
seminggu setelah menjabat.
Program 100 hari itu -dalam banyak kesempatan- disampaikan SBY secara antusias
dan mampu menanamkan keyakinan dalam benak bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu
100 hari, pemerintah akan melakukan hal-hal yang mengejutkan, berpihak kepada
rakyat, dan membawa perubahan yang sangat mendasar.
Image building yang dibangun pemerintah melalui program 100 hari tersebut,
dalam banyak hal, justru menjadi bumerang bagi pemerintah SBY sendiri. Karena
itulah, SBY bersama timnya kini hendak merebut dan membangun kembali
kepercayaan rakyat yang mulai surut. Mereka menyatakan bahwa program 100 hari
tidaklah berdiri sendiri dan harus dilihat sebagai bagian dari tiga atau lima
tahun ke depan.
Pada prinsipnya, saya setuju dengan pernyataan pemerintah tersebut. Sebab,
pemerintah SBY tidak hanya berjangka 100 hari, tetapi tiga atau lima tahun ke
depan. Namun, jika program 100 hari yang telah dicanangkan pemerintah tidak
dijadikan standar keberhasilan atau gagalnya pemerintah, lalu akan dijadikan
apa?
Apakah program 100 hari itu hanya untuk menyakinkan dan menghipnotis kesadaran
bangsa Indonesia bahwa persoalan multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia
akan cepat terselesaikan?
Standar Jangka Pendek
Program 100 hari tetap dijadikan sebagai standar untuk mengukur, mengevaluasi
keberhasilan atau kegagalan pemerintah SBY. Hanya, itu bukan standar atas
keberhasilan atau kegagalan pemerintah selama lima tahun ke depan. Tetapi,
menjadi sebuah indikator tentang masa depan SBY dan keberpihakannya kepada
rakyat yang telah memilihnya secara langsung.
Karena itulah, bagi penulis, penilaian terhadap pemerintah SBY bukan diukur
dari tiga atau lima tahun pertama, tetapi 100 hari yang telah berlalu. Sebab,
sangatlah tidak masuk akal jika kita menilai dan mengevaluasi waktu dan masa
yang akan datang, yakni lima tahun ke depan.
Maka, melalui program 100 hari itu, rakyat Indonesia diharapkan bisa menilai
keberhasilan dan kegagalan dalam merealisasikan janji-janji dan agenda
pemerintah. Jika perlu, kita memberi batasan bahwa setiap 100 hari pemerintah
SBY-JK harus dievaluasi dan dinilai sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap
pemerintah.
Setelah program 100 hari tersebut berlalu, pengamatan dan kontrol terhadap
negara bukan berarti selesai. Banyak rakyat Indonesia yang tidak memahami bahwa
masih banyak agenda yang harus diselesaikan pasca-100 hari itu. Penilaian dan
pengamatan yang serta-merta bertumpu pada program 100 hari akan membuat kita
lalai dalam mengontrol dan mengevaluasi pemerintah ke depan. Karena itulah,
agar agenda pemerintah berjalan secara sistemik dan terukur, pemerintah
diharapkan membuat agenda-agenda dalam batas waktu tertentu.
Hal tersebut terasa sangat penting di tengah situasi bangsa dan negara yang
belum bangkit dari pelbagai persoalan multidimensi itu. Siapa pun yang memimpin
pemerintah di tengah keterpurukan ini, dia memerlukan energi yang tidak
sedikit. Mengungkap suatu persoalan di negara demokratis, terlebih transisi
demokrasi, tidak semudah dan sesederhana sistem otokrasi. Karena itu, kita
dihadapkan pada pilihan-pilihan yang problematis, tidak bisa hitam-putih dalam
memecahkan pelbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Komunikasi,
dialog, tindakan serbacepat dalam menyelesaikan persoalan yang sangat kompleks
tersebut menjadi sebuah harapan bagi kita semua.
* Moh. Salman Hamdani, koordinator Studi Kelompok Lentera Merah Surabaya
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Termakan Janji, Buahkan Pesimistis