[ppi] [ppiindia] Terbaik Bagi TNI, Terbaik Bagi Muslim?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 28 Apr 2004 01:16:45 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.republika.co.id/ASP/kolom.asp?kat_id=16
Selasa, 27 April 2004
Terbaik Bagi TNI, Terbaik Bagi Muslim?
Oleh :
Fahmi AP Pane
Pengamat Masalah Politik
Fenomena maraknya tokoh militer dicalonkan sebagai presiden atau wapres, serta
kuatnya dukungan keluarga besar TNI kepada partai dan figur politik tertentu
sehingga meraih suara di luar dugaan, mencuatkan pertanyaan kritis: apakah yang
terbaik dari dan untuk TNI, bermakna sama dan sebangun dengan umat Islam?
Bagaimanapun, jawabannya amat penting karena umat Islam bagian terbesar negeri
ini. Merekalah yang telah mengorbankan harta, raga, dan jiwa demi meraih
kemerdekaan. Bahkan, umatlah yang di barisan terdepan dalam mempertahankan
rahmat Yang Maha Kuasa itu di saat-saat terkritis, seperti pemberontakan
G30S/PKI, serta perlawanan terhadap rekolonisasi oleh Belanda dan sekutunya
dari Inggris dan Amerika Serikat (AS) tahun 1945-1949. Ironisnya, kaum Muslimin
yang paling menderita secara politik, ekonomi, dan sosial, malah dikorbankan
demi meraih simpati negara-negara imperialis Barat.
Sejujurnya, agaknya figur-figur militer yang muncul di kancah politik saat ini
tidaklah sebaik yang disangka banyak orang dan citranya di media massa. Karir
militer dan politik mereka sedikit banyak terbantu oleh patron mereka, apakah
orangtua, mertua, keluarga istri, dan bekas atasan. Ada pula patron dari
konglomerat, bahkan kapitalis dan pemerintah asing.
Walau bukan satu-satunya faktor, setidaknya patron menjadi katalis untuk naik
pangkat dan atau untuk menduduki kesatuan-kesatuan strategis, baik komando
teritorial besar dan berpengaruh, seperti Kodam Jaya, Diponegoro, dan
Brawijaya, serta posisi di komando utama, semacam Kopassus dan Kostrad. Bekas
kesatuan adalah modal besar jika seorang purnawirawan ingin berkiprah di
politik dan bisnis. Sulitlah menyebut pencapaian banyak perwira saat ini murni
dari prestasi, kompetensi, dan integritas pribadi.
Misalnya, Jenderal (purn Hor) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menantu
mantan komandan RPKAD (kini Kopassus), yakni Jenderal (purn) Sarwo Edy Wibowo.
Lalu, Letjen (purn) Prabowo Subianto, putra tokoh ekonomi Orde Baru dan politik
di masa Orde Lama, Sumitro Djojohadikusumo. Terlalu sulit membayangkan beliau
yang lulusan AKABRI 1974 dapat meraih bintang tiga di saat beberapa lulusan
terbaik AMN 1970 masih bintang satu, andai saat itu bukan menantu presiden
Soeharto.
Apalagi, sampai terjadi perubahan status Kopassus dan Kostrad untuk memuluskan
kenaikan pangkat dan karir Prabowo. Awalnya, Kopassus dipimpin bintang satu
naik status menjadi dipimpin jenderal berbintang dua, sementara Kostrad
dipimpin letjen, yang awalnya mayjen. Ataupun Jenderal (purn) Wiranto, yang
meraih karir lewat jalur ajudan presiden, seperti Try Sutrisno. Hubungannya
dengan keluarga bekas atasan tetap terjalin. Tampaknya, itu wujud konsistensi
posisinya tanggal 20 Mei 1998. Selanjutnya, Jenderal (purn Hor) Agum Gumelar
yang bermertua Letjen Achmad Tahir, orang dalam lingkaran Soeharto dan tokoh
LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia). Tak hanya sukses mengikuti jejak
mertua di bidang militer dan intelijen, Agum pun menjadi Menhub yang
melanjutkan karir mertua sebagai Menparpostel.
Yang sangat dikhawatirkan adalah jika benar merekalah yang terbaik dari TNI,
maka sulit dibayangkan mereka mampu memimpin negara ini tanpa dukungan
patronnya.
Biasanya itu menuntut balas budi, baik bagi patronnya maupun yang dekat dengan
patron dan si perwira. Terjadilah pengambilan keputusan di luar mekanisme
resmi, mengikutkan personel di luar pejabat resmi, dan demi kepentingan pribadi
patron dan kliennya. Karena terbiasa berprestasi didukung patron, mereka pun
menciptakan sistem serupa. Mereka menjadi patron bagi orang lain, termasuk para
pejabat negara. Hubungan antarpejabat dan birokrat menjadi bias dan tergantung
dekat tidaknya dengan sang patron, bukan karena prestasi dan kompetensi.
Para jenderal itu juga terlihat bagus ketika pidato soal persatuan dan kesatuan
Indonesia. Begitu hebatnya seakan-akan tidak seorang pun di luar militer mampu
melakukannya. Tapi, kita pun tahu persatuan di antara mereka sendiri kerap
lenyap ketika ada kepentingan duniawi. Di tingkat bawah ada kasus pembunuhan
Dirut PT Asaba, di tingkat atas ada kasus 27 Juli 1996 sebagai puncak
pertarungan memperutkan kursi ketua umum PDI, dan tragedi Mei 1998. Dulu ada
peristiwa 17 Oktober 1952, atau G30S/PKI yang sedikit banyak melibatkan
pertentangan antarjenderal dan antarangkatan. Fenomena scorpion generals masih
terjadi.
Perbaikan TNI justru baru tampak dilakukan Panglima TNI Jenderal Endriartono
Sutarto. Secara tegas, beliau melarang anggotanya ikut-ikutan berpolitik
praktis dan dipakai jenderal purnawirawan. Beliau pun meminta tidak lagi
dipenuhi permintaan pengamanan oleh swasta, termasuk perusahaan tambang asing,
meski itu tidak secara eksplisit. Pengamanan hanya atas perintah negara. Tarto
terlihat serius menerapkan netralitas TNI. Beliau pun melarang anggotanya
menggunakan hak pilih dalam pemilu, bahkan keluarga anggota TNI walau kemudian
dianulir. Sayang, belum ada jaminan itu akan dilanjutkan dan tidak ditentang
secara diam-diam. Salah satu buktinya, pembunuhan Dirut Asaba dilakukan oleh
anggota TNI. Lainnya, pungli di daerah konflik, pembekingan atas bisnis ilegal,
seperti perjudian, pelacuran, pengawalan swasta, dan sebagainya.
Ringkas kata, hampir semua tokoh militer di politik saat ini sebenarnya gagal
membina anak buahnya di militer. Sulit juga rasanya mencari alasan bahwa mereka
akan mampu membina rakyatnya, baik sipil maupun militer, andai meraih mandat
memerintah. Dengan gaya komando terhadap mereka yang telah dididik berdisiplin
tinggi saja gagal, apalagi bila bercara demokratis terhadap mereka yang telah
dididik sejak bangku SD untuk berpikir dan bersikap kritis. Semakin sulit
membayangkan jika para jenderal itu diminta bersikap negarawan seperti Khalifah
Umar bin Khattab. Tegas, keras, berwibawa, dan berkepemimpinan kuat, namun
tidak seorang pun rakyatnya ketakutan jika tidak melakukan kesalahan.
Hal-hal di atas kiranya cukup mengawali penilaian objektif dan adil tentang
setiap jenderal yang terjun di politik. Yakni, bagaimana proses menjadi
jenderal dan meraih berbagai jabatan politik dan bisnis. Lalu, prestasinya
ketika masih berdinas aktif. Juga kemampuan dalam menyatukan personel. Jika
mereka tidak bagus dalam ketiganya, saya kira kita harus realistis untuk tidak
lagi menganggap bahwa militer identik dengan kehebatan memerintah. Bahwa benar
seorang jenderal patut diperhitungkan dalam perpolitikan Indonesia dan tidak
sekali-kali dianggap sebagai kanak-kanak. Namun, benar pula bahwa tidak setiap
jenderal memiliki syarat cukup dan perlu untuk dianggap calon pemimpin ideal.
Meski begitu, sebagai umat Islam kita dididik bersikap optimis. Bahwa masa lalu
seseorang tak selalu memperburuk masa depannya. Ada proses tobat, perbaikan,
dan perombakan diri. Dalam hal ini, jajaran TNI, termasuk para perwira menengah
dan pertama, perlu memikirkan kemandirian dalam mengatur karir dan pangkat
seseorang. Intervensi penguasa ke militer dan politik berbasis militerisme ala
Orde Baru terbukti bukan hanya membahayakan umat Islam, tapi juga membuat TNI
belum mampu menyumbangkan perwira terbaiknya kepada bangsa ini yang tidak
bermodal patron.
Justru, mereka yang selama ini bekerja sama dengan TNI di era Orde Baru telah
berkali-kali terbukti membahayakan Indonesia, bahkan seenaknya menginjak-injak
kemerdekaan kita. Misal, tanggal 3 Juli 2003 beberapa pesawat F-18 Hornet AS
bermanuver beberapa jam di perairan dan udara Indonesia bersama kapal induk USS
Carl Vinson. Mereka bahkan sempat mencoba mengunci posisi dan siap menembak
pesawat TNI AU sebagai bukti permusuhan dan keangkuhan AS. Mereka pun ingin
menjadikan Selat Malaka sebagai perairan yang bebas dimasuki, setidaknya
militer mereka memimpin patroli.
Di samping itu, ideologi dan sistem kapitalisme Barat yang disebarkan dan
diterapkan lewat agen-agen Barat telah merontokkan perekonomian Indonesia,
termasuk perbankan. Akibatnya, hingga kini kita tergantung kepada utang luar
negeri, walau mempunyai alam kaya raya. Yang menguasai tambang-tambang
strategis pun adalah negara yang mendorong TNI memusuhi umat Islam di era Orde
Baru. Bukankah perusahaan AS, Inggris, Australia, dan Prancis yang menguasai
tambang minyak di Riau dan Kepulauan Riau, tambang gas di Aceh, Papua, dan
Kalimantan Timur, serta tambang emas di G Grasberg, Papua? Ironisnya, sebagian
anggota militer tidak menyadari bahwa kekayaan terbesar itu tidak dinikmati
bangsanya sendiri. Mereka menjaga aset-aset itu agar selalu mengalirkan hasil
alam Indonesia ke negara asing, terutama lewat Singapura, untuk kemudian
memodali kekuatan asing menghina, mengobrak-abrik, dan menjajah kita.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Terbaik Bagi TNI, Terbaik Bagi Muslim?