[ppi] [ppiindia] Tenaga Kerja Negara Agraris dan Maritim
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 26 Apr 2004 13:39:40 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/26/opi01.html
Tenaga Kerja Negara Agraris dan Maritim
Oleh Mohamad Soerjani
Bangsa Indonesia dikaruniai Tuhan suatu negara kepulauan (maritim) besar
dengan wilayah darat yang kaya raya dan lautan seluas hampir tiga kali lebih
luas dari daratan dengan sumber daya laut yang tak terkira. Demikian kayanya
sehingga menjadi incaran para nelayan asing yang mencuri ikan kita atau
menadah kayu curian. Di samping itu juga cukup banyak sumber daya alam
negara ini yang lebih ditawarkan di pasar global ketimbang dikonsumsi atau
dimanfaatkan bangsa sendiri yang berjumlah hampir 220 juta jiwa ini. Terlalu
banyak hasil negara ini yang mendahulukan ekspor (ikan, kayu, mineral,
energi, dan sebagainya) karena daya beli rakyat kita yang sebagian besar
(terutama para petani dan nelayan) tergolong miskin.
Masalahnya, mampukah pendidikan kita menghasilkan lulusan untuk menjadi
tenaga kerja profesional yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dalam menelaah
kebutuhan pasar ini, sepanjang yang kita amati, diartikan secara sempit:
tenaga kerja yang laku di pasar. Pendidikan kita seharusnya juga
menghasilkan profesional yang tahu apa (barang dan jasa) yang dibutuhkan
masyarakat (baca: pasar), sehingga lulusannya adalah mereka yang menciptakan
lapangan kerja, guna memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini baik
untuk diri sendiri maupun terutama untuk membuka peluang bagi tenaga lain
yang diserapnya atau diajak bergotong-royong. Jadi tidak hanya menciptakan
pembantu, buruh atau "budak", tetapi membuka kesempatan menjadi partner
kerja.
Agraris dan Maritim
Salah satu ironi besar yang perlu mendapat perhatian adalah pendidikan kita
yang kurang sesuai dengan predikat sebagai negara agraris dan maritim,
padahal petani dan nelayannya miskin. Kita terpancing untuk memikirkan apa
yang dirisaukan oleh Ali Khomsan ("Quo Vadis SDM Pertanian Kita?" Kompas, 15
Maret 2004) dan Syaiful Bahri ("Kegagalan Pembangunan Pertanian di
Indonesia", Kompas, 15 Maret 2004). Menangapi kedua kolom itu, di sini
penulis menyampaikan analisis yang mudah-mudahan melengkapinya.
Sebagai negara agraris pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor pembangunan
dan keterlibatan tenaga kerja tahun 2002 ringkasnya adalah sebagai berikut.
Tenaga kerja di bidang pertanian (termasuk nelayan, peternak, dan
sebagainya) pada tahun 2000 jumlahnya 44.528.000 (± 45%) tetapi sumbangan
untuk pertumbuhan ekonomi (% GDB) hanya ± 18%, atau rasio GDB/tenaga kerja
hanya 0,4 dan terpuruk menjadi yang terendah no. 9 dibandingkan
berturut-turut dengan pertambangan, bisnis/keuangan, listrik/gas/air,
industri manufaktur, konstruksi, transportasi, perdagangan dan pelayanan
umum (urutan rasio no. 1 sampai 8).
Pembangunan memerlukan dukungan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya
Manusia (SDM). Dalam suatu telaah pada tahun 1993 pembangunan Indonesia
tidak sustainable, karena eksploitasi SDA kita mencapai 17-18% dari GDB,
sedang yang kita peroleh untuk biaya pembangunan hanya 15%. Jadi setiap
tahun ada pengurasan SDA yang tidak sesuai dengan makna hasilnya untuk
negara dan bangsa ini.
Untuk itu diperlukan dua pendekatan: efisiensi pemanfaatan SDA (antara lain
berupa penghematan, pemakaian kembali, reparasi, daur ulang, dan
sebagainya). Di sisi lain peningkatan SDM yang mengerti dan memahami
(know-how), serta mempunyai kompetensi teknologi dan manajerial dalam
memproses nilai tambah sumber daya alam kita. Jadi produk primer pertanian
dan hasil laut, perlu diproses dalam agroindustri maupun marineindustri.
Contoh yang sederhana: ikan tidak dijual mentah, tetapi sebagai ikan peda,
ikan asin, kerupuk, petis, dan sebagainya; rumput laut tidak diekspor
mentah, tetapi diproses dulu secara sederhana sebagai jeli, dodol, jus, atau
melalui teknologi yang lebih canggih dapat dikembangkan industri untuk
menghasilkan karagen, pengemulsi, obat-obatan, dan sebagainya.
Dengan demikian karena ada kesibukan dan kebutuhan akan tenaga kerja di
bidang pertanian dan kelautan, petani dan nelayan kita mendapatkan perolehan
(pendapatan) lebih sehingga dapat mengkonsumsi SDA sendiri sebelum diekspor.
Ekspor tentu penting, tetapi jangan mendahulukan ekspor sebelum berupaya
meningkatkan pemasarannya untuk dikonsumsi secukupnya di dalam negeri
sendiri.
Kita memang boleh mengacungkan jempol pada naiknya sumbangan devisa negara
dari sektor pertanian maupun perikanan, karena itu pun tidak salah, tetapi
hendaknya diekspor setelah petani atau nelayan kita sendiri kecukupan.
Pendidikan
Ada pengajar Fakultas Pertanian yang mengeluh, karena negara kita yang
agraris jumlah sarjana pertaniannya hanya 0,3% dari seluruh sarjana yang
jumlahnya 4,7%. Keluhan berikutnya adalah setelah lulus sebagai sarjana
pertanian pun tidak bersedia menjadi petani. Bahkan ada julukan bahwa ada
jurusan atau fakultas di perguruan tinggi yang diberi predikat sebagai
jurusan atau fakultas "serba-bisa". Demikian pula siswa pendidikan
perikanan, ternyata dalam kenyataan juga belum tentu berminat untuk menjadi
nelayan.
Kalau pemberdayaan petani dan/atau nelayan kecil dan menengah harus
dilaksanakan, maka perlu dilengkapkan kembali pendidikan kompetensi dan
keterampilan teknik pertanian dan teknik perikanan bagi mereka yang
tidak/belum mampu menempuh pendidikan tinggi. Hendaknya mereka diberi
kesempatan memperoleh pendidikan secukupnya seperti dulu SPM - Sekolah
Pertanian Menengah sesudah Sekolah Dasar (SD). Jadi perlu diperbanyak adanya
SMK Perikanan atau Sekolah Menengah Perikanan dan Kelautan. Di samping itu
juga ada jenjang Sekolah Pertukangan (zaman Hindia Belanda namanya
Ambachtschool) setelah SD, lalu ada Sekolah Teknik (Technischeschool) dan
sebagainya.
Di Papua Nugini dilaksanakan sistem pendidikan yang perlu dipertimbangkan
penerapannya untuk Indonesia. Di SD, petani unggulan setempat yang berhasil
telah diundang sebagai guru tamu untuk memberi penjelasan keberhasilannya
dalam budi daya pertanian; bahkan murid-murid diajak ke kebun untuk melihat
bagaimana dia bertani. Demikian pula peternak ikan yang berhasil meneruskan
keberhasilannya kepada murid-murid SD.
Cara ini diharapkan akan memotivasi anak-anak, agar mereka tertarik untuk
terjun ke bidang pertanian atau perikanan, seandainya tidak sempat
meneruskan pendidikan pada jajaran yang lebih tinggi. Pengabdian di bidang
pertanian maupun perikanan memang bukan pekerjaan profesional yang berdasi,
tetapi yang membuat kotornya tangan untuk mencukupi kebutuhan dan
kelangsungan kehidupan seseorang dan keluarganya.
Penulis adalah pengajar pada Institut Pendidikan dan Pengembangan
Lingkungan.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Tenaga Kerja Negara Agraris dan Maritim