[ppi] [ppiindia] TNI Netral?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
TNI Netral?
(secuil opini ttg SBY dan klik2 dalam TNI + elite politik terkini)

Ya jelas nggak. Mungkin Ryamizard sendiri netral karena faksi dia 
memang kecil. Dia nggak ada ketrampilan untuk menggalang faksi 
sendiri. Hubungan dia dengan Megawati (karena bapaknya Brigjend 
Ryacudu adalah Soekarnoist), nggak menjamin dia akan terus maju. 
Ryamizard tahu bahwa dia nggak akan jadi Panglima TNI. Sementara, 
sekarang ini pertentangan antara dia dengan Endriatono semakin 
memuncak. Awalnya adalah soal Pam Obvitnas, dimana Endriartono ambil 
posisi bahwa TNI harus lepaskan diri. Tapi, Ryamizard nggak setuju. 
Kedua, soal proyek Raiders. Ada sepuluh Yon Raiders baru dibentuk. 
Endriartono ingin kalau Kasum TNI yang mengontrol
Raiders ini, karena Kasum TNI yang mengendalikan semua operasi 
tempur. Tapi Ryamizard, karena merasa bahwa dia yang bikin, maka dia 
yang harus kendaliken. Kayaknya, pertentangan antara Mabes TNI dan 
TNI-AD ini sudah
nggak bisa didamaikan. Hanya aja, nggak ada yang memperhatikan. 
Eksesnya sampai kemana-mana.

Dibalik pertentangan ini, secara diam-diam muncul faksi SBY didalam 
tentara yang semakin hari semakin kuat dan semakin besar peranannya. 
Sekarang, saya kira, faksi SBY sudah sangat kuat. Nggak bisa lagi 
ditandingin. SBY punya dukungan "keluarga" di TNI, baik keluarga inti 
maupun keluarga batih. Dari keluarga inti. Panglima
Divisi II Kostrad sekarang, Mayjen Erwin Sujono kabarnya adalah juga 
menantunya Sarwo Edhie. Thus, Erwin adalah ipar dari SBY (sama 
seperti Kiki Syahnakri dengan Arie Kumaat; mantan Kabakin yang sama-
sama mengawini anak bekas gubernur Sulut; GH Mantik). Kabar (yang ini 
malah sangat bagus) lain yang terdengar adalah bahwa Erwin Sudjono 
adalah keturunan Cina dan menjadi salah satu dari sedikit sekali 
keturunan Cina yang berhasil naik ke jajaran elit TNI AD. Dia pernah 
satu kelas dengan Djoko Santoso. Selain itu, ada juga "keluarga" 
lain. Wakasad sekarang, Letjen TNI Djoko Santoso (Klas 14 -- 1975) 
adalah orangnya SBY. Demikian juga Pangdam Jaya, Mayjen TNI Agustadi 
SP (kelas 13 -- 1974). Semua orang ini, seperti juga SBY, adalah 
orang-orang
Kostrad. Ditengah konflik Endriartono-Ryamizard, SBY juga berhasil 
menempatkan Brigjen Suroyo Gino (kelas 15; 1976) untuk jadi Wapang 
Koops di Aceh, menggantikan Brigjen Safzen Noerdin yang dari Marinir 
itu. Selain itu, masih ada Letjen Sudi Silalahi, yang sedang menunggu 
surat pemecatannya dari sekretaris Menko Polkam. Sebelum mendalam ke 
soal-soal TNI dan keterlibatannya dalam Pemilu Presiden nanti, kita 
lihat dulu profil SBY ini. 

Ada yang sangat aneh disini. Ditengah carut marutnya wajah TNI, 
dimana hampir semua perwira TNI punya dosa, ada satu orang 
yang "tidak berdosa" dan tidak bisa dituntut tanggungjawab apapun. 
Orang ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Orang ini sangat cerdik, 
sangat trampil membangun images, selain itu juga licik dan sangat 
oportunistik. SBY menjadi Kasdam saat Peristiwa 27 Juli. Tapi sampai 
saat ini tangannya dianggap bersih. Dia menjadi Aster Kasum TNI saat 
kerusuhan di Timtim. Kemudian, saat dia menjadi Menko Polkam, dia 
mencoba negosiasi damai dengan GAM. Namun dia juga menjadi otak dari 
darurat militer di Aceh, menjadi otak dari operasi
militer di Papua. Dia juga tampil dalam wajah "damai" karena berhasil 
meredam konflik-konflik komunal terutama di Ambon dan Maluku. Namun 
benarkah SBY sebersih ini? Ada banyak kebetulan yang tidak saling 
berkaitan sehingga mengundang tanda tanya dari seorang tentara ini.

Pertama, semua orang-orang dari faksi SBY adalah alumni Ambon. Sebut 
saja Sudi Silalahi. Pada tahun 2000, Sudi Silalahi memfasilitasi 
keberangkatan Laskar Jihad ke Ambon sekalipun Gus Dur sebagai 
presiden waktu itu sudah
berusaha keras mencegahnya. Djoko Santoso adalah orang yang 
berperanan "mendamaikan" Ambon. Kehadirannya disana bersama dengan 
sekitar 20an batalyon TNI dan Brimob membantu mendinginkan suasana. 
Selanjutnya, Djoko digantikan oleh Agustadi yang kemudian 
menggantikannya juga sebagai Pangdam Jaya. Reputasi bagus dibangun 
SBY didaerah-daerah konflik.

Kedua, SBY rupa-rupanya memanfaatkan betul momentum-momentum, yang 
entah dia ciptakan sendiri atau kebetulan terjadi namun berguna untuk 
kepentingannya. Di Indonesia, wajah SBY tampil hampir setiap hari. 
Bahkan sebelum dia mengundurkan diri, kantor Menko Polkam punya 
beberapa iklan tayangan masyarakat, dengan SBY disana menyapa rakyat 
kecil. Sementara orang sibuk berebut untuk jadi Calon Presiden, SBY 
di iklan itu sibuk dengan orang kecil. Menurut orang, momentum 
terbesarnya adalah ketika ia mundur dari kabinet. Namun menurut saya, 
momentum terbesarnya adalah ketika berhasil mendudukkan orang-
orangnya pada posisi-posisi penting di TNI-AD. Ini terjadi sangat 
sistematis.

Ketiga, sama seperti di Ambon, SBY juga tampil dengan wajah lain di 
Aceh. Dia melakukan negosiasi dengan GAM. Namun dia pula yang 
merancang penerapan darurat militer. Dia pula, sebagai Menko Polkam, 
yang mengontrol kebijakan di Aceh. Dia menempatkan Bambang Dharmono 
disana, ketika gagal, Bambang, yang kabarnya orangnya Endriartono, 
digantikan oleh George Toisutta yang lebih dekat ke Ryamizard. SBY 
cukup kuat dan punya gigi setelah mendudukkan Brigjen Suroyo Gino 
sebagai Wapang Koops. Namun, ada momentum yang tepat. Bulan depan, 
darurat militer akan berakhir. Jelas akan ada evaluasi. Militer jelas 
sudah gagal total disana. Raiders yang katanya berkekuatan 3 kali 
lipat infanteri biasa, ternyata hanya pepesan kosong. Tidak ada 
petinggi GAM yang tertangkap. Bahkan TNI tidak berhasil membebaskan 
sandera Ferry Santoro yang sudah hampir setahun "dilindungi" oleh 
GAM. Nah, disini, ada kebetulan lagi, SBY mundur dari Menko Polkam 
sehingga tidak bisa lagi diminta pertanggungan jawab atas semua 
kegagalan di Aceh.

Semua fenomena ini unik. SBY selalu nampak sebagai kekecualian, 
bersinar sendirian ditengah-tengah lumpur tinja yang melanda TNI. 
Kebetulan? Wallahu 'alam! Tampaknya karir SBY ini benar-
benar "carefully crafted."
Langkah-langkahnya dirancang secara sistematis. Momentum demi 
momentum dimanfaatkannya. Ada kabar bahwa anak-anak buah SBY di 
tentara sudah mulai giat mengkampanyekan dia untuk jadi presiden. 
Partai demokrat menang di daerah-daerah perkotaan serta di daerah-
daerah dekat tangsi-tangsi Kostrad! Dukungan untuk SBY muncul dari 
banyak orang. Bahkan Bill Liddle, Professor ilmu politik dari Ohio 
State University (OSU), sudah berkampanye untuk SBY. Liddle 
menempatkan banyak anak didiknya di dalam dunia politik Indonesia dan
sekarang Liddle mungkin sudah menjadi ilmuwan asing yang paling 
berpengaruh terhadap politik Indonesia. Salah satu murid Liddle, yang 
sekarang sedang belajar di OSU, adalah orang (yang katanya) masuk 
lingkaran dalam SBY. Murid yang lain ada di lingkaran Megawati, dan 
masih banyak yang ada di birokrasi, di lingkaran politisi Islam, dan 
lain sebagainya. Jika SBY benar-benar naik, apa efeknya untuk 
tentara? Tentara Indonesia tidak akan mampu merebut kekuasaan melalui 
jalan kudeta. Itu sudah pasti. Perpecahan didalam sedemikian hebat 
dan sudah sejak jaman Soeharto sengaja dipelihara klik-klik yang 
demikian. Satu-satunya jalan adalah merebut kekuasaan dengan jalan 
demokrasi. SBY adalah pembuka jalan ini. Dilihat dalam konteks 
sekarang ini, tidak ada jendral yang
punya pengaruh sebesar dan sedalam SBY di dalam tubuh tentara. 
Kekuatannya terutama ada di Kostrad serta di beberapa Kodam yang 
strategis. Pesaing SBY paling-paling adalah Ryamizard, yang basis 
kekuatan diluarnya adalah PDI-P, yang sekarang sedang keok. 
Endriatono tidak punya power apa-apa ke dalam TNI-AD karena memang 
dia nggak ada klik. Dulu dia masuk ke bilangannya Wiranto, namun 
menjauh dari Wiranto setelah tahu naik jadi Panglima TNI. Kekuasaan 
Prabowo di Kopassus sudah dihabisin. Mainnya Prabowo ke Golkar hanya 
untuk menganggu agar Wiranto tidak naik. Rivalitas lama dalam wadah 
baru. Kalau Golkar pasang Wiranto, pertarungan akan menjadi seru 
karena ada dua jendral jadi capres. Namun, orang Golkar saya kira 
tidak sebodoh itu.
Kalau Wiranto jadi Presiden, Indonesia akan sangat terkucil dari 
dunia internasional. Reputasinya sebagai jagal di Timor-Timur sampai 
saat ini masih menggantung dan akan ada kemungkinan pengadilan 
internasional
didirikan. Yang mencemaskan dari SBY adalah backing dari tentara yang 
ia miliki. Ini tidak main-main. Kalau dia naik, saya kira, Golkar 
akan mudah dia pegang. PDI-P jelas akan tersingkir. Partai-partai 
Islam akan tetap jadi
oposisi. Kembali ke soal pokok. Akankah TNI netral dalam pemilu 
mendatang? Saya rasa tidak. Mereka sangat berkepentingan akan naiknya 
SBY. Mereka juga tahu, Amerika, karena kepentingannya, lebih suka SBY 
yang naik. Tentara Indonesia sudah terlalu lama terisolasi. SBY akan 
jadi, seperti sajak awal di Bumi Manusia-nya Pram, "Ini hanya langkah 
awal dari sebuah perjalanan yang panjang." Ini yang paling 
mencemaskan saya. Beberapa
keterangan/tanggapan lanjut:

Tapi kesan saya sikap TNI dalam Pemilu-04 yang baru lalu itu memang 
berubah. Ada 3 pertanyaan. (1) Apakah nggak ada hal lain yang lebih 
mendasar untuk menjelaskan perubahan sikap itu?

Pertama, soal klik. Ini nggak bisa dianggap enteng. Di Indonesia, 
inilah yang paling menentukan. Ini akan sangat berpengaruh pada pola 
aliansi. Kembali ke pertanyaan: Apakah sikap TNI pada tahun 2004 ini 
merupakan
perubahan signifikan? Saya kira, tidak juga. Pemilu legislatif, tidak 
penting untuk TNI karena mulai tahun ini mereka harus hengkang dari 
semua privelege politik itu. Nggak ada gunanya main di legislatif. 
Yang lebih mendasar sekarang adalah cari pijakan kuat dan kuasai yang 
paling atas (presiden). TNI TIDAK netral dan TIDAK AKAN PERNAH 
NETRAL. Mereka ngeliat sekali kemana angin berhembus. Dengan kekuatan 
SBY yang sekarang, TNI akan jadi kekuatan yang "the last resort" 
tetapi yang dimainkan duluan adalah kartu sipilnya. Aliansi Golkar-
Demokrat saya kira pasti jadi. Cuman, disini masalahnya: Apakah si 
Akbar mau ngalah. Kalau Wiranto sih, bagi saya, kartu mati. Kalau mau 
ancur-ancuran: Golkar pasang Wiranto, Demokrat pasang SBY. Nah, itu 
baru tarung, tentara lawan tentara. Scenario ini tampaknya the least.

(2) Kalau memang para penggede TNI masih mau main politik lewat 
pemilu, tapi TNI-nya sendiri netral, apakah itu nggak lebih baik?

Ini pertanyaan berbau "oknum." Biasanya, kalau tentara atau Orba 
membela diri, selalu bilang "Bukan TNI-nya yang salah tapi oknumnya!" 
Tapi ini, soalnya adalah soal sistemik. TNI masih punya Aster, masih 
punya kekuatan
territorial, dari pusat ke desa-desa. Mereka bisa pakai ini dalam 
keadaan mendesak. Kapan mereka bisa netral kalau semua peralatan 
untuk main politik mereka punya semua. Kegagalan terbesar reformasi 
adalah gagalnya menghapus struktur territorial ini. Struktur ini, 
kerja dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Dandim punya kerja 
sampingan illegal logging, setor ke komandan atasan, kemudian dari 
atasan datang kenaikan pangkat, network, dan lain sebagainya. Ini 
levelnya sistemik! Bukanindividual. Ingat kasus pendongkelan Gus Dur. 
Kalau Ryamizard nggak ngarahken moncong senjata ke istana, GD nggak 
akan turun.

(3) Faktor-faktor apa yang harus kita amati untuk melihat, atau 
persisnya ngecek, apakah TNI netral?

Kalau mau serius, lihat berapa jumlah caleg-caleg yang punya aliansi 
dengan militer (pensiunan, anak tentara, punya hubungan bisnis, dll). 
Memang mereka secara institutional bilang netral. Tapi institusi 
militer itu anggotanya
berapa sih? 600 ribu! Keluarganya kan boleh nggak netral. Nah, disini 
letak soalnya. Sulit mengatakan TNI netral tanpa melihat side-effects 
dari kehadiran TNI. Terus terang, sulit juga bagi saya membayangkan 
TNI nggak
netral. Mental mereka nggak disitu. 

[Catatan: Ini keterangan dari seorang teman yg sudah lama jadi da 
watcher ABRI-TNI - trims]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: