[ppi] [ppiindia] TNI Netral?
- From: "ranggaweuni" <elhambra@xxxxxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Sun, 25 Apr 2004 00:24:39 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
TNI Netral?
(secuil opini ttg SBY dan klik2 dalam TNI + elite politik terkini)
Ya jelas nggak. Mungkin Ryamizard sendiri netral karena faksi dia
memang kecil. Dia nggak ada ketrampilan untuk menggalang faksi
sendiri. Hubungan dia dengan Megawati (karena bapaknya Brigjend
Ryacudu adalah Soekarnoist), nggak menjamin dia akan terus maju.
Ryamizard tahu bahwa dia nggak akan jadi Panglima TNI. Sementara,
sekarang ini pertentangan antara dia dengan Endriatono semakin
memuncak. Awalnya adalah soal Pam Obvitnas, dimana Endriartono ambil
posisi bahwa TNI harus lepaskan diri. Tapi, Ryamizard nggak setuju.
Kedua, soal proyek Raiders. Ada sepuluh Yon Raiders baru dibentuk.
Endriartono ingin kalau Kasum TNI yang mengontrol
Raiders ini, karena Kasum TNI yang mengendalikan semua operasi
tempur. Tapi Ryamizard, karena merasa bahwa dia yang bikin, maka dia
yang harus kendaliken. Kayaknya, pertentangan antara Mabes TNI dan
TNI-AD ini sudah
nggak bisa didamaikan. Hanya aja, nggak ada yang memperhatikan.
Eksesnya sampai kemana-mana.
Dibalik pertentangan ini, secara diam-diam muncul faksi SBY didalam
tentara yang semakin hari semakin kuat dan semakin besar peranannya.
Sekarang, saya kira, faksi SBY sudah sangat kuat. Nggak bisa lagi
ditandingin. SBY punya dukungan "keluarga" di TNI, baik keluarga inti
maupun keluarga batih. Dari keluarga inti. Panglima
Divisi II Kostrad sekarang, Mayjen Erwin Sujono kabarnya adalah juga
menantunya Sarwo Edhie. Thus, Erwin adalah ipar dari SBY (sama
seperti Kiki Syahnakri dengan Arie Kumaat; mantan Kabakin yang sama-
sama mengawini anak bekas gubernur Sulut; GH Mantik). Kabar (yang ini
malah sangat bagus) lain yang terdengar adalah bahwa Erwin Sudjono
adalah keturunan Cina dan menjadi salah satu dari sedikit sekali
keturunan Cina yang berhasil naik ke jajaran elit TNI AD. Dia pernah
satu kelas dengan Djoko Santoso. Selain itu, ada juga "keluarga"
lain. Wakasad sekarang, Letjen TNI Djoko Santoso (Klas 14 -- 1975)
adalah orangnya SBY. Demikian juga Pangdam Jaya, Mayjen TNI Agustadi
SP (kelas 13 -- 1974). Semua orang ini, seperti juga SBY, adalah
orang-orang
Kostrad. Ditengah konflik Endriartono-Ryamizard, SBY juga berhasil
menempatkan Brigjen Suroyo Gino (kelas 15; 1976) untuk jadi Wapang
Koops di Aceh, menggantikan Brigjen Safzen Noerdin yang dari Marinir
itu. Selain itu, masih ada Letjen Sudi Silalahi, yang sedang menunggu
surat pemecatannya dari sekretaris Menko Polkam. Sebelum mendalam ke
soal-soal TNI dan keterlibatannya dalam Pemilu Presiden nanti, kita
lihat dulu profil SBY ini.
Ada yang sangat aneh disini. Ditengah carut marutnya wajah TNI,
dimana hampir semua perwira TNI punya dosa, ada satu orang
yang "tidak berdosa" dan tidak bisa dituntut tanggungjawab apapun.
Orang ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Orang ini sangat cerdik,
sangat trampil membangun images, selain itu juga licik dan sangat
oportunistik. SBY menjadi Kasdam saat Peristiwa 27 Juli. Tapi sampai
saat ini tangannya dianggap bersih. Dia menjadi Aster Kasum TNI saat
kerusuhan di Timtim. Kemudian, saat dia menjadi Menko Polkam, dia
mencoba negosiasi damai dengan GAM. Namun dia juga menjadi otak dari
darurat militer di Aceh, menjadi otak dari operasi
militer di Papua. Dia juga tampil dalam wajah "damai" karena berhasil
meredam konflik-konflik komunal terutama di Ambon dan Maluku. Namun
benarkah SBY sebersih ini? Ada banyak kebetulan yang tidak saling
berkaitan sehingga mengundang tanda tanya dari seorang tentara ini.
Pertama, semua orang-orang dari faksi SBY adalah alumni Ambon. Sebut
saja Sudi Silalahi. Pada tahun 2000, Sudi Silalahi memfasilitasi
keberangkatan Laskar Jihad ke Ambon sekalipun Gus Dur sebagai
presiden waktu itu sudah
berusaha keras mencegahnya. Djoko Santoso adalah orang yang
berperanan "mendamaikan" Ambon. Kehadirannya disana bersama dengan
sekitar 20an batalyon TNI dan Brimob membantu mendinginkan suasana.
Selanjutnya, Djoko digantikan oleh Agustadi yang kemudian
menggantikannya juga sebagai Pangdam Jaya. Reputasi bagus dibangun
SBY didaerah-daerah konflik.
Kedua, SBY rupa-rupanya memanfaatkan betul momentum-momentum, yang
entah dia ciptakan sendiri atau kebetulan terjadi namun berguna untuk
kepentingannya. Di Indonesia, wajah SBY tampil hampir setiap hari.
Bahkan sebelum dia mengundurkan diri, kantor Menko Polkam punya
beberapa iklan tayangan masyarakat, dengan SBY disana menyapa rakyat
kecil. Sementara orang sibuk berebut untuk jadi Calon Presiden, SBY
di iklan itu sibuk dengan orang kecil. Menurut orang, momentum
terbesarnya adalah ketika ia mundur dari kabinet. Namun menurut saya,
momentum terbesarnya adalah ketika berhasil mendudukkan orang-
orangnya pada posisi-posisi penting di TNI-AD. Ini terjadi sangat
sistematis.
Ketiga, sama seperti di Ambon, SBY juga tampil dengan wajah lain di
Aceh. Dia melakukan negosiasi dengan GAM. Namun dia pula yang
merancang penerapan darurat militer. Dia pula, sebagai Menko Polkam,
yang mengontrol kebijakan di Aceh. Dia menempatkan Bambang Dharmono
disana, ketika gagal, Bambang, yang kabarnya orangnya Endriartono,
digantikan oleh George Toisutta yang lebih dekat ke Ryamizard. SBY
cukup kuat dan punya gigi setelah mendudukkan Brigjen Suroyo Gino
sebagai Wapang Koops. Namun, ada momentum yang tepat. Bulan depan,
darurat militer akan berakhir. Jelas akan ada evaluasi. Militer jelas
sudah gagal total disana. Raiders yang katanya berkekuatan 3 kali
lipat infanteri biasa, ternyata hanya pepesan kosong. Tidak ada
petinggi GAM yang tertangkap. Bahkan TNI tidak berhasil membebaskan
sandera Ferry Santoro yang sudah hampir setahun "dilindungi" oleh
GAM. Nah, disini, ada kebetulan lagi, SBY mundur dari Menko Polkam
sehingga tidak bisa lagi diminta pertanggungan jawab atas semua
kegagalan di Aceh.
Semua fenomena ini unik. SBY selalu nampak sebagai kekecualian,
bersinar sendirian ditengah-tengah lumpur tinja yang melanda TNI.
Kebetulan? Wallahu 'alam! Tampaknya karir SBY ini benar-
benar "carefully crafted."
Langkah-langkahnya dirancang secara sistematis. Momentum demi
momentum dimanfaatkannya. Ada kabar bahwa anak-anak buah SBY di
tentara sudah mulai giat mengkampanyekan dia untuk jadi presiden.
Partai demokrat menang di daerah-daerah perkotaan serta di daerah-
daerah dekat tangsi-tangsi Kostrad! Dukungan untuk SBY muncul dari
banyak orang. Bahkan Bill Liddle, Professor ilmu politik dari Ohio
State University (OSU), sudah berkampanye untuk SBY. Liddle
menempatkan banyak anak didiknya di dalam dunia politik Indonesia dan
sekarang Liddle mungkin sudah menjadi ilmuwan asing yang paling
berpengaruh terhadap politik Indonesia. Salah satu murid Liddle, yang
sekarang sedang belajar di OSU, adalah orang (yang katanya) masuk
lingkaran dalam SBY. Murid yang lain ada di lingkaran Megawati, dan
masih banyak yang ada di birokrasi, di lingkaran politisi Islam, dan
lain sebagainya. Jika SBY benar-benar naik, apa efeknya untuk
tentara? Tentara Indonesia tidak akan mampu merebut kekuasaan melalui
jalan kudeta. Itu sudah pasti. Perpecahan didalam sedemikian hebat
dan sudah sejak jaman Soeharto sengaja dipelihara klik-klik yang
demikian. Satu-satunya jalan adalah merebut kekuasaan dengan jalan
demokrasi. SBY adalah pembuka jalan ini. Dilihat dalam konteks
sekarang ini, tidak ada jendral yang
punya pengaruh sebesar dan sedalam SBY di dalam tubuh tentara.
Kekuatannya terutama ada di Kostrad serta di beberapa Kodam yang
strategis. Pesaing SBY paling-paling adalah Ryamizard, yang basis
kekuatan diluarnya adalah PDI-P, yang sekarang sedang keok.
Endriatono tidak punya power apa-apa ke dalam TNI-AD karena memang
dia nggak ada klik. Dulu dia masuk ke bilangannya Wiranto, namun
menjauh dari Wiranto setelah tahu naik jadi Panglima TNI. Kekuasaan
Prabowo di Kopassus sudah dihabisin. Mainnya Prabowo ke Golkar hanya
untuk menganggu agar Wiranto tidak naik. Rivalitas lama dalam wadah
baru. Kalau Golkar pasang Wiranto, pertarungan akan menjadi seru
karena ada dua jendral jadi capres. Namun, orang Golkar saya kira
tidak sebodoh itu.
Kalau Wiranto jadi Presiden, Indonesia akan sangat terkucil dari
dunia internasional. Reputasinya sebagai jagal di Timor-Timur sampai
saat ini masih menggantung dan akan ada kemungkinan pengadilan
internasional
didirikan. Yang mencemaskan dari SBY adalah backing dari tentara yang
ia miliki. Ini tidak main-main. Kalau dia naik, saya kira, Golkar
akan mudah dia pegang. PDI-P jelas akan tersingkir. Partai-partai
Islam akan tetap jadi
oposisi. Kembali ke soal pokok. Akankah TNI netral dalam pemilu
mendatang? Saya rasa tidak. Mereka sangat berkepentingan akan naiknya
SBY. Mereka juga tahu, Amerika, karena kepentingannya, lebih suka SBY
yang naik. Tentara Indonesia sudah terlalu lama terisolasi. SBY akan
jadi, seperti sajak awal di Bumi Manusia-nya Pram, "Ini hanya langkah
awal dari sebuah perjalanan yang panjang." Ini yang paling
mencemaskan saya. Beberapa
keterangan/tanggapan lanjut:
Tapi kesan saya sikap TNI dalam Pemilu-04 yang baru lalu itu memang
berubah. Ada 3 pertanyaan. (1) Apakah nggak ada hal lain yang lebih
mendasar untuk menjelaskan perubahan sikap itu?
Pertama, soal klik. Ini nggak bisa dianggap enteng. Di Indonesia,
inilah yang paling menentukan. Ini akan sangat berpengaruh pada pola
aliansi. Kembali ke pertanyaan: Apakah sikap TNI pada tahun 2004 ini
merupakan
perubahan signifikan? Saya kira, tidak juga. Pemilu legislatif, tidak
penting untuk TNI karena mulai tahun ini mereka harus hengkang dari
semua privelege politik itu. Nggak ada gunanya main di legislatif.
Yang lebih mendasar sekarang adalah cari pijakan kuat dan kuasai yang
paling atas (presiden). TNI TIDAK netral dan TIDAK AKAN PERNAH
NETRAL. Mereka ngeliat sekali kemana angin berhembus. Dengan kekuatan
SBY yang sekarang, TNI akan jadi kekuatan yang "the last resort"
tetapi yang dimainkan duluan adalah kartu sipilnya. Aliansi Golkar-
Demokrat saya kira pasti jadi. Cuman, disini masalahnya: Apakah si
Akbar mau ngalah. Kalau Wiranto sih, bagi saya, kartu mati. Kalau mau
ancur-ancuran: Golkar pasang Wiranto, Demokrat pasang SBY. Nah, itu
baru tarung, tentara lawan tentara. Scenario ini tampaknya the least.
(2) Kalau memang para penggede TNI masih mau main politik lewat
pemilu, tapi TNI-nya sendiri netral, apakah itu nggak lebih baik?
Ini pertanyaan berbau "oknum." Biasanya, kalau tentara atau Orba
membela diri, selalu bilang "Bukan TNI-nya yang salah tapi oknumnya!"
Tapi ini, soalnya adalah soal sistemik. TNI masih punya Aster, masih
punya kekuatan
territorial, dari pusat ke desa-desa. Mereka bisa pakai ini dalam
keadaan mendesak. Kapan mereka bisa netral kalau semua peralatan
untuk main politik mereka punya semua. Kegagalan terbesar reformasi
adalah gagalnya menghapus struktur territorial ini. Struktur ini,
kerja dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Dandim punya kerja
sampingan illegal logging, setor ke komandan atasan, kemudian dari
atasan datang kenaikan pangkat, network, dan lain sebagainya. Ini
levelnya sistemik! Bukanindividual. Ingat kasus pendongkelan Gus Dur.
Kalau Ryamizard nggak ngarahken moncong senjata ke istana, GD nggak
akan turun.
(3) Faktor-faktor apa yang harus kita amati untuk melihat, atau
persisnya ngecek, apakah TNI netral?
Kalau mau serius, lihat berapa jumlah caleg-caleg yang punya aliansi
dengan militer (pensiunan, anak tentara, punya hubungan bisnis, dll).
Memang mereka secara institutional bilang netral. Tapi institusi
militer itu anggotanya
berapa sih? 600 ribu! Keluarganya kan boleh nggak netral. Nah, disini
letak soalnya. Sulit mengatakan TNI netral tanpa melihat side-effects
dari kehadiran TNI. Terus terang, sulit juga bagi saya membayangkan
TNI nggak
netral. Mental mereka nggak disitu.
[Catatan: Ini keterangan dari seorang teman yg sudah lama jadi da
watcher ABRI-TNI - trims]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] TNI Netral?