[ppi] [ppiindia] TEMANKU GATOT

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Temanku, Gatot
 

Di bulan Oktober itu setelah beberapa hari aku diperkenankan pulang oleh Polisi 
semenjak  "diamankan"di kantor Polisi Jogjakarta selama hampir 2 minggu bersama 
teman-teman - menyusul peristiwa pemukulan terhadap para anggota IPPI di SMA 
Teladan setelah tragedi G30S terjadi - aku berjumpa dengan Gatot di rumah 
Nenekku, yang sekaligus merupakan rumah pondokanku di kampung Joyonegaran. 
Bapak Ibu belum lama telah pindah ke Jakarta, sehingga aku dan adikku Dina yang 
ketika itu menghadapi ujian akhir SMP dan SMA ditinggal sementara untuk 
menyelesaikan sekolah.

 

Saat itu aku sudah duduk di klas III SMA,  sedangkan Gatot baru saja masuk klas 
I SMA. Ketika peristiwa G30S itu meledak, sama seperti halnya semua remaja 
seumurku waktu itu, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami hanya 
tahu melalui siaran radio ataupun koran, bahwa di Jakarta telah terjadi 
percobaan perebutan kekuasaan Presiden Soekarno oleh Dewan Jendral. Bahwa di 
situ dinyatakan PKI terlibat, sama sekali tak masuk dalam pikiran remajaku, 
karena aku merasa tak punya kepentingan apa pun. Bahkan tetap tak begitu peduli 
kalau dalam perkembangan lebih lanjut PKI dinyatakan terlibat dalam kudeta 
tersebut. Tak ada urusannya bahwa aku harus percaya atau tidak. Kalaupun  toh 
ada peranan PKI di situ, akupun tak merasa heran. Saya pikir dalam gerakan 
politik, hal itu biasa saja. Bukan sesuatu yang istimewa benar. Tetapi yang aku 
tetap tak pernah percaya kalau saya mendengar dan membaca berita bahwa Gerwani, 
organisasi wanita yang dianggap underbouw-nya PKI, melakukan pen
 yiksaan dan pembunuhan sekejam itu dengan "pesta genjer-genjer" terhadap 
jendral-jendral. Bicara tentang Gerwani sama saja aku berbicara tentang Ibuku. 
Karena aku tahu sedikit-sedikit tentang Ibu yang juga menjadi anggota Gerwani. 
Mana mungkin ibuku, seorang guru yang baik yang sangat dicintai murid-muridnya 
melakukan tindakan sekeji itu? Tak mungkin pula aku mempunyai Ibu yang berwajah 
ganda seperti Frankenstein. Aku yakin Ibuku adalah orang yang terbaik di dunia 
ini. Mungkin lantaran baru pertama kali aku mengalami terlibat dalam peristiwa 
politik luar biasa semacam itu, maka terus terang aku tak punya ide apa-apa. 
Beberapa hal  yang menghubungan peristiwa itu denganku dan keluargaku, adalah 
kebetulan aku menjadi anggota aktif IPPI di sekolahku di mana aku menjadi salah 
satu pengurusnya dan ayahku yang aku ketahui sebagai pengurus pusat PGRI Non 
Vaksentral, yang kemudian dituduh berafiliasi dengan PKI. 

 

Gatot adalah anak tetangga sebelah rumah. Sama dengan Bapakku, profesi ayah 
Gatot juga sebagai guru di Taman Siswa yang berasal dari kota Babat Jawa Timur. 
Keluarganya dikenal agak kaku, kurang menyenangkan dalam bergaul. Ayahnya 
bertemperamen tinggi dan galak. Teman-teman kampung semua tahu hal itu karena 
cukup sering kami mendengar jeritan dan tangisan Gatot dan adik-adiknya dihajar 
oleh Bapak atau Ibunya di rumahnya karena mungkin kenakalannya. Gatot dan 
adik-adiknya, yang umumnya laki-laki dikenal juga  sebagai anak yang usilan, 
pemberani dan ekstra aktif. Barangkali sifat itu menurun dari sifat ayahnya 
yang temperamental itu.  Gatot anak kedua setelah kakaknya yang perempuan. Ia 
bertubuh ramping dan atletis dengan rambut yang keriting melengkapi kelakiannya 
yang ganteng. Siku tangan kirinya cacat karena waktu kecil pernah jatuh. 
Teman-teman tak jarang memanggilnya Gatot Ceko, meniru nama tokoh pewayangan 
Cakil yang bertangan ceko. 

Dalam pergaulan teman-teman sekampung, hirarkinya agak junior, karena usianya 
lebih muda dari kami yang umumnya sebaya. Makanya dia sering disuruh-suruh 
tanpa dia bisa menolak. Tapi Gatot adalah anak yang baik, tak pernah ia 
bersikap aneh dalam kelompok kami. Dalam tim sepakbola kampung, dia selalu 
bertindak sebagai penyerang karena memang dia pintar memainkan bola yang sering 
merepotkan lawannya. Yang aku ingat itu lah hobi utama Gatot. Ia memang sangat 
keranjingan sepakbola.

 

Sore di bulan Oktober itu suasana kampung Joyonegaran masih tenang-tenang saja, 
namun aku mulai merasakan suatu ketegangan yang mulai merambat di tengah 
ketidakjelasan apa yang sesungguhnya terjadi tentang peristiwa besar di Jakarta 
itu.  Aku merasa setiap orang tetangga-tetanggaku diam-diam mulai lebih 
memperhatikanku. Kalau aku berjumpa terasa matanya menyorot lebih tajam 
menyelidik ataupun mencurigai. Suatu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. 
Tapi aku tak peduli. Sungguh mati aku tak punya pendapat apapun tentang 
peristiwa besar tersebut. Ketika sekelompok teman-temanku di SMA Teladan 
memukuli aku karena aku anggota IPPI, tidaklah aku tanggapi dengan gentar. Hati 
remajaku masih riang-riang saja menerima keadaan itu. Tak ada rasa galau atau 
rasa apa pun yang menakutkan, seolah semua berjalan seperti biasa. Aku tak 
menerimanya dengan rasa getir sebagai orang "kalah". Peristiwa di SMA Teladan 
itu adalah peristiwa yang pertama kali meledak di kota Jogjakarta yang berkait d
 engan kejadian di Jakarta itu, sehingga pasti telah menjadi bahan omongan 
masyarakat Jogjakarta. 

Di sore yang temaram itu ketika satu-satu lampu jalanan mulai menyala, aku 
duduk berdua dengan Gatot di ujung gang Gledegan itu di amben bambu  yang 
biasanya kalau pagi dipakai jualan gudeg, sambil menikmati pemandangan sore 
jalan Wirogunan. Sadar kami mempunyai ayah yang beraliran sama dalam pilihan 
politik, Gatot nampak nervous ketika gencar menanyakan peristiwa SMA Teladan 
yang menimpaku itu. Nampak ada nada kekawatiran bahwa apa yang telah terjadi 
pada diriku akan menimpanya juga suatu saat.

 

"Sebaiknya apa yang harus kulakukan, Tok?" tanya Gatot. Aku pun tak tahu 
sebenarnya harus menjawab apa. Tak begitu yakin  dan entah datang dari mana 
kujawab, "Begini saja, sebaiknya besok kamu ikut aku saja ke kantor Polisi, 
kamu  lapor saja bersama saya."  Tapi  wajah Gatot tak menampakkan reaksi 
menolak atau mengiyakan. Hening sejenak, dibawa oleh perasaan kami 
masing-masing. Tapi tak lama kami lalu terlibat pembicaraan lain topik hangat 
para remaja waktu itu. Apalagi sebenarnya aku duduk di situ, sesungguhnya 
menunggu pacarku, yang tak jauh rumahnya dari aku duduk bercengkerama dengan 
Gatot. Biasanya sore-sore begini, ia lewat untuk beberapa keperluan. Maka 
kadang fokus perhatianku pecah antara ngobrol dengan Gatot dan harapanku 
menjumpai pacarku.

 

Malam mulai merambat, aku lalu kembali ke pondokanku. Biasanya aku telah 
ditunggu makan malam oleh Nenek yang begitu penuh perhatian terhadapku. Apalagi 
setelah kejadian aku tak  pulang ke rumah selama 2 minggu itu,  membuat beliau 
tambah kawatiran terhadapku. Beberapa kecrewetan beliau sebagai nasehat 
terpaksa aku dengarkan dengan takzim. Sejak itu kalau aku makan pun sering 
beliau duduk di sampingku menunggu.

 

Esok hari seperti biasa setiap hari aku harus mel ke Kantor Polisi. Tapi ketika 
melewati rumahnya Gatot tak nampak mau ikut sesuai saranku kemarin. Aku pergi 
sendiri naik sepeda. Berita tentang "kudeta PKI" makin seru dan panas. Tersiar 
kabar beberapa kelompok organisasi pemuda yang dulu berlawanan sengit dengan 
organisasi yang dianggap  pengikut PKI, sekarangt mulai  melakukan razia 
"menciduk" pemuda-pemuda yang berlawanan aliran itu. Tapi aku tetap tidak 
mengerti dan  tetap tenang saja, meski tak dapat kututupi terkadang terselip 
juga rasa kawatir. Belum kusadari bahwa peristiwa itu akan berakibat panjang 
bagi hidup keluargaku kelak. 

 

Sejak sore Gatot sudah berada di kamarku, sambil bermain gitar ia makin tak 
bisa menyembunyikan rasa resahnya dengan perkembangan baru. Beberapa kali ia 
mencoba menegaskan lagi kepadaku. Tapi tetap aku tak punya jawaban yang pasti 
kecuali tetap saran untuk ikut saja ke kantor polisi untuk lapor. Ketika malam 
mulai menyergap, kesunyian kampungku mulai hadir di kamarku. Aku bersiap 
merebahkan tubuhku untuk tidur-tiduran sambil membaca.  Gatot seperti tak tahu 
apa yang harus dilakukan, lamat-lamat masih menyanyikan senandung lagu yang 
lagi populer waktu itu.   Dia masih belum ingin pulang ke rumahnya. Tiba-tiba 
entah darimana datangnya, kegaduhan memecah keheningan. Pintu rumah terdengar 
dibanting dengan kasar. Pintu kamar ngejeblak. Aku bangkit kaget ketika 
beberapa sosok orang berpakaian hitam dengan muka yang ditutupi tiba-tiba masuk 
ke kamarku. Mereka memakai jas hujan warna hitam. Dengan tegang aku mengamati 
orang tersebut tapi aku tak dapat melihat dengan jelas wajah merek
 a. Mereka menyebut-nyebut namaku dengan keras. Tapi yakin mereka bukan 
tentara. Aku lantas segera sadar, razia "cidukan" oleh kelompok pemuda-pemuda 
telah terjadi di kampung Joyonegaran. Aku dan Gatot digiring, tetapi sebelum ke 
luar, entah bagaimana tiba-tiba pikiranku mendorongku untuk segera bisa 
menunjukkan surat Tanda Lapor Diri Polisi yang ada di meja belajarku kepada 
mereka. Aku dilepas. Tetapi Gatot dibawa mereka. Dalam keremangan malam aku 
nanar mengikuti kepergian Gatot dengan diam terlendot berbagai perasaan. Dalam 
hatiku aku mengatakan, andaikata saja kemarin Gatot mengikuti saranku untuk 
ikut lapor ke polisi, barangkali nasibnya tidak begini. Ternyata itu lah 
pertemuanku terakhir kali dengan Gatot.

 

Bertahun-tahun lama kemudian aku tak pernah mendengar lagi tentang kabar Gatot. 
Sesekali dalam hatiku aku masih mengingat Gatot. Setelah aku pindah di Jakarta, 
dari beberapa kabar yang aku peroleh Gatot ternyata termasuk sebagai tapol yang 
dikirim ke Pulau Buru. Hati kecilku berontak tidak menerima perlakuan 
ketidakadilan itu. Siapakah Gatot itu, sehingga masuk kategori tapol yang 
berbahaya sehingga harus dikirim ke Pulau Buru? Dia hanya seorang anak kecil, 
remaja muda yang baru lulus SMP, yang pasti tak tahu apa-apa tentang peristiwa 
itu. Paham pun pasti tidak, seperti umumnya masyarakat Indonesia yang masih  
gelap gulita tentang terjadinya tragedi nasional itu.  Kalau pun toh ada 
hirarki posisi Gatot masih berada di bawahku. Aku lebih "berharga" dan 
"berbahaya" ketimbang dia untuk dikirim ke Pulau Buru. Aku mulai sadar rezim 
pemerintah sekarang memang sungguh kejam sekali. 

 

Suatu sore sekitar tahun 1990an, aku membaca fotokopi bukunya Pramudya Ananta 
Toer "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", hatiku tersentak ketika mataku nanar membaca 
nama Gatot telah dibantai dan diberondong bren hingga mati oleh tentara di 
Pulau Buru. Nafasku serasa berhenti tak percaya atas apa yang kubaca. Tapi 
penjelasan dalam buku Pramudya makin meyakinkan, iya tak salah lagi, dia lah 
Gatot Widodo anaknya Pak Wijayakarto, temanku. Dia dibunuh tentara pada tanggal 
16 November 1973 ketika sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat kampnya di 
Pulau Buru.

 

Hatiku menggigil bergetar, aku menangis. Buku yang kubaca basah oleh air 
mataku. Gatot tak pernah akan kujumpai lagi di dunia ini. Selamat jalan. Gatot. 

 

Jakarta, Agustus 2003

----------------------

Arjo Pilang

 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: