[ppi] [ppiindia] TEMANKU GATOT
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 31 Mar 2004 15:31:10 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Temanku, Gatot
Di bulan Oktober itu setelah beberapa hari aku diperkenankan pulang oleh Polisi
semenjak "diamankan"di kantor Polisi Jogjakarta selama hampir 2 minggu bersama
teman-teman - menyusul peristiwa pemukulan terhadap para anggota IPPI di SMA
Teladan setelah tragedi G30S terjadi - aku berjumpa dengan Gatot di rumah
Nenekku, yang sekaligus merupakan rumah pondokanku di kampung Joyonegaran.
Bapak Ibu belum lama telah pindah ke Jakarta, sehingga aku dan adikku Dina yang
ketika itu menghadapi ujian akhir SMP dan SMA ditinggal sementara untuk
menyelesaikan sekolah.
Saat itu aku sudah duduk di klas III SMA, sedangkan Gatot baru saja masuk klas
I SMA. Ketika peristiwa G30S itu meledak, sama seperti halnya semua remaja
seumurku waktu itu, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami hanya
tahu melalui siaran radio ataupun koran, bahwa di Jakarta telah terjadi
percobaan perebutan kekuasaan Presiden Soekarno oleh Dewan Jendral. Bahwa di
situ dinyatakan PKI terlibat, sama sekali tak masuk dalam pikiran remajaku,
karena aku merasa tak punya kepentingan apa pun. Bahkan tetap tak begitu peduli
kalau dalam perkembangan lebih lanjut PKI dinyatakan terlibat dalam kudeta
tersebut. Tak ada urusannya bahwa aku harus percaya atau tidak. Kalaupun toh
ada peranan PKI di situ, akupun tak merasa heran. Saya pikir dalam gerakan
politik, hal itu biasa saja. Bukan sesuatu yang istimewa benar. Tetapi yang aku
tetap tak pernah percaya kalau saya mendengar dan membaca berita bahwa Gerwani,
organisasi wanita yang dianggap underbouw-nya PKI, melakukan pen
yiksaan dan pembunuhan sekejam itu dengan "pesta genjer-genjer" terhadap
jendral-jendral. Bicara tentang Gerwani sama saja aku berbicara tentang Ibuku.
Karena aku tahu sedikit-sedikit tentang Ibu yang juga menjadi anggota Gerwani.
Mana mungkin ibuku, seorang guru yang baik yang sangat dicintai murid-muridnya
melakukan tindakan sekeji itu? Tak mungkin pula aku mempunyai Ibu yang berwajah
ganda seperti Frankenstein. Aku yakin Ibuku adalah orang yang terbaik di dunia
ini. Mungkin lantaran baru pertama kali aku mengalami terlibat dalam peristiwa
politik luar biasa semacam itu, maka terus terang aku tak punya ide apa-apa.
Beberapa hal yang menghubungan peristiwa itu denganku dan keluargaku, adalah
kebetulan aku menjadi anggota aktif IPPI di sekolahku di mana aku menjadi salah
satu pengurusnya dan ayahku yang aku ketahui sebagai pengurus pusat PGRI Non
Vaksentral, yang kemudian dituduh berafiliasi dengan PKI.
Gatot adalah anak tetangga sebelah rumah. Sama dengan Bapakku, profesi ayah
Gatot juga sebagai guru di Taman Siswa yang berasal dari kota Babat Jawa Timur.
Keluarganya dikenal agak kaku, kurang menyenangkan dalam bergaul. Ayahnya
bertemperamen tinggi dan galak. Teman-teman kampung semua tahu hal itu karena
cukup sering kami mendengar jeritan dan tangisan Gatot dan adik-adiknya dihajar
oleh Bapak atau Ibunya di rumahnya karena mungkin kenakalannya. Gatot dan
adik-adiknya, yang umumnya laki-laki dikenal juga sebagai anak yang usilan,
pemberani dan ekstra aktif. Barangkali sifat itu menurun dari sifat ayahnya
yang temperamental itu. Gatot anak kedua setelah kakaknya yang perempuan. Ia
bertubuh ramping dan atletis dengan rambut yang keriting melengkapi kelakiannya
yang ganteng. Siku tangan kirinya cacat karena waktu kecil pernah jatuh.
Teman-teman tak jarang memanggilnya Gatot Ceko, meniru nama tokoh pewayangan
Cakil yang bertangan ceko.
Dalam pergaulan teman-teman sekampung, hirarkinya agak junior, karena usianya
lebih muda dari kami yang umumnya sebaya. Makanya dia sering disuruh-suruh
tanpa dia bisa menolak. Tapi Gatot adalah anak yang baik, tak pernah ia
bersikap aneh dalam kelompok kami. Dalam tim sepakbola kampung, dia selalu
bertindak sebagai penyerang karena memang dia pintar memainkan bola yang sering
merepotkan lawannya. Yang aku ingat itu lah hobi utama Gatot. Ia memang sangat
keranjingan sepakbola.
Sore di bulan Oktober itu suasana kampung Joyonegaran masih tenang-tenang saja,
namun aku mulai merasakan suatu ketegangan yang mulai merambat di tengah
ketidakjelasan apa yang sesungguhnya terjadi tentang peristiwa besar di Jakarta
itu. Aku merasa setiap orang tetangga-tetanggaku diam-diam mulai lebih
memperhatikanku. Kalau aku berjumpa terasa matanya menyorot lebih tajam
menyelidik ataupun mencurigai. Suatu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Tapi aku tak peduli. Sungguh mati aku tak punya pendapat apapun tentang
peristiwa besar tersebut. Ketika sekelompok teman-temanku di SMA Teladan
memukuli aku karena aku anggota IPPI, tidaklah aku tanggapi dengan gentar. Hati
remajaku masih riang-riang saja menerima keadaan itu. Tak ada rasa galau atau
rasa apa pun yang menakutkan, seolah semua berjalan seperti biasa. Aku tak
menerimanya dengan rasa getir sebagai orang "kalah". Peristiwa di SMA Teladan
itu adalah peristiwa yang pertama kali meledak di kota Jogjakarta yang berkait d
engan kejadian di Jakarta itu, sehingga pasti telah menjadi bahan omongan
masyarakat Jogjakarta.
Di sore yang temaram itu ketika satu-satu lampu jalanan mulai menyala, aku
duduk berdua dengan Gatot di ujung gang Gledegan itu di amben bambu yang
biasanya kalau pagi dipakai jualan gudeg, sambil menikmati pemandangan sore
jalan Wirogunan. Sadar kami mempunyai ayah yang beraliran sama dalam pilihan
politik, Gatot nampak nervous ketika gencar menanyakan peristiwa SMA Teladan
yang menimpaku itu. Nampak ada nada kekawatiran bahwa apa yang telah terjadi
pada diriku akan menimpanya juga suatu saat.
"Sebaiknya apa yang harus kulakukan, Tok?" tanya Gatot. Aku pun tak tahu
sebenarnya harus menjawab apa. Tak begitu yakin dan entah datang dari mana
kujawab, "Begini saja, sebaiknya besok kamu ikut aku saja ke kantor Polisi,
kamu lapor saja bersama saya." Tapi wajah Gatot tak menampakkan reaksi
menolak atau mengiyakan. Hening sejenak, dibawa oleh perasaan kami
masing-masing. Tapi tak lama kami lalu terlibat pembicaraan lain topik hangat
para remaja waktu itu. Apalagi sebenarnya aku duduk di situ, sesungguhnya
menunggu pacarku, yang tak jauh rumahnya dari aku duduk bercengkerama dengan
Gatot. Biasanya sore-sore begini, ia lewat untuk beberapa keperluan. Maka
kadang fokus perhatianku pecah antara ngobrol dengan Gatot dan harapanku
menjumpai pacarku.
Malam mulai merambat, aku lalu kembali ke pondokanku. Biasanya aku telah
ditunggu makan malam oleh Nenek yang begitu penuh perhatian terhadapku. Apalagi
setelah kejadian aku tak pulang ke rumah selama 2 minggu itu, membuat beliau
tambah kawatiran terhadapku. Beberapa kecrewetan beliau sebagai nasehat
terpaksa aku dengarkan dengan takzim. Sejak itu kalau aku makan pun sering
beliau duduk di sampingku menunggu.
Esok hari seperti biasa setiap hari aku harus mel ke Kantor Polisi. Tapi ketika
melewati rumahnya Gatot tak nampak mau ikut sesuai saranku kemarin. Aku pergi
sendiri naik sepeda. Berita tentang "kudeta PKI" makin seru dan panas. Tersiar
kabar beberapa kelompok organisasi pemuda yang dulu berlawanan sengit dengan
organisasi yang dianggap pengikut PKI, sekarangt mulai melakukan razia
"menciduk" pemuda-pemuda yang berlawanan aliran itu. Tapi aku tetap tidak
mengerti dan tetap tenang saja, meski tak dapat kututupi terkadang terselip
juga rasa kawatir. Belum kusadari bahwa peristiwa itu akan berakibat panjang
bagi hidup keluargaku kelak.
Sejak sore Gatot sudah berada di kamarku, sambil bermain gitar ia makin tak
bisa menyembunyikan rasa resahnya dengan perkembangan baru. Beberapa kali ia
mencoba menegaskan lagi kepadaku. Tapi tetap aku tak punya jawaban yang pasti
kecuali tetap saran untuk ikut saja ke kantor polisi untuk lapor. Ketika malam
mulai menyergap, kesunyian kampungku mulai hadir di kamarku. Aku bersiap
merebahkan tubuhku untuk tidur-tiduran sambil membaca. Gatot seperti tak tahu
apa yang harus dilakukan, lamat-lamat masih menyanyikan senandung lagu yang
lagi populer waktu itu. Dia masih belum ingin pulang ke rumahnya. Tiba-tiba
entah darimana datangnya, kegaduhan memecah keheningan. Pintu rumah terdengar
dibanting dengan kasar. Pintu kamar ngejeblak. Aku bangkit kaget ketika
beberapa sosok orang berpakaian hitam dengan muka yang ditutupi tiba-tiba masuk
ke kamarku. Mereka memakai jas hujan warna hitam. Dengan tegang aku mengamati
orang tersebut tapi aku tak dapat melihat dengan jelas wajah merek
a. Mereka menyebut-nyebut namaku dengan keras. Tapi yakin mereka bukan
tentara. Aku lantas segera sadar, razia "cidukan" oleh kelompok pemuda-pemuda
telah terjadi di kampung Joyonegaran. Aku dan Gatot digiring, tetapi sebelum ke
luar, entah bagaimana tiba-tiba pikiranku mendorongku untuk segera bisa
menunjukkan surat Tanda Lapor Diri Polisi yang ada di meja belajarku kepada
mereka. Aku dilepas. Tetapi Gatot dibawa mereka. Dalam keremangan malam aku
nanar mengikuti kepergian Gatot dengan diam terlendot berbagai perasaan. Dalam
hatiku aku mengatakan, andaikata saja kemarin Gatot mengikuti saranku untuk
ikut lapor ke polisi, barangkali nasibnya tidak begini. Ternyata itu lah
pertemuanku terakhir kali dengan Gatot.
Bertahun-tahun lama kemudian aku tak pernah mendengar lagi tentang kabar Gatot.
Sesekali dalam hatiku aku masih mengingat Gatot. Setelah aku pindah di Jakarta,
dari beberapa kabar yang aku peroleh Gatot ternyata termasuk sebagai tapol yang
dikirim ke Pulau Buru. Hati kecilku berontak tidak menerima perlakuan
ketidakadilan itu. Siapakah Gatot itu, sehingga masuk kategori tapol yang
berbahaya sehingga harus dikirim ke Pulau Buru? Dia hanya seorang anak kecil,
remaja muda yang baru lulus SMP, yang pasti tak tahu apa-apa tentang peristiwa
itu. Paham pun pasti tidak, seperti umumnya masyarakat Indonesia yang masih
gelap gulita tentang terjadinya tragedi nasional itu. Kalau pun toh ada
hirarki posisi Gatot masih berada di bawahku. Aku lebih "berharga" dan
"berbahaya" ketimbang dia untuk dikirim ke Pulau Buru. Aku mulai sadar rezim
pemerintah sekarang memang sungguh kejam sekali.
Suatu sore sekitar tahun 1990an, aku membaca fotokopi bukunya Pramudya Ananta
Toer "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", hatiku tersentak ketika mataku nanar membaca
nama Gatot telah dibantai dan diberondong bren hingga mati oleh tentara di
Pulau Buru. Nafasku serasa berhenti tak percaya atas apa yang kubaca. Tapi
penjelasan dalam buku Pramudya makin meyakinkan, iya tak salah lagi, dia lah
Gatot Widodo anaknya Pak Wijayakarto, temanku. Dia dibunuh tentara pada tanggal
16 November 1973 ketika sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat kampnya di
Pulau Buru.
Hatiku menggigil bergetar, aku menangis. Buku yang kubaca basah oleh air
mataku. Gatot tak pernah akan kujumpai lagi di dunia ini. Selamat jalan. Gatot.
Jakarta, Agustus 2003
----------------------
Arjo Pilang
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] TEMANKU GATOT