[ppi] [ppiindia] Sudah Banyakkah Yang Mati, Kawan?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 31 Jul 2005 22:01:37 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.indomedia.com/bpost/082005/1/opini/opini1.htm
Sudah Banyakkah Yang Mati, Kawan?
Oleh: Pribakti B
Teman saya, seorang dokter spesialis kandungan seperti halnya saya, tergolong
baru di Jakarta. Sekarang praktiknya sangat menanjak, barangkali bisa juga
disebut 'meroket' sesuai perkembangan zaman antariksa saat ini.
Saya bisa menyimpulkan seperti itu, karena dia baru saja mengganti mobilnya
dengan yang lebih gres dan handphone model terbarunya semakin kerap berbunyi
walau ia mengaku setiap ada panggilan degup jantungnya semakin keras berdetak.
Saya dengar dia hampir menguasai semua praktik bidan yang ada di kawasan dengan
radius jarak tempuh mobilnya maksimum sekitar satu jam perjalanan, diantar
sopir dari rumah mewahnya ke lokasi praktik bidan atau rumah sakit swasta.
Begitu hebatkah dia? Oo ... tentu saja.
Terus terang, saya melihat dia hebat, bukan apa-apa tapi karena penghasilannya
juga baik sesuai harapannya. Belum lama ini saya bertemu dengan dia di sebuah
pertemuan ilmiah, kepada saya dia banyak bercerita tentang kehidupan baru yang
dijalaninya. Menurut dia, yang paling berkesan dalam menghadapi persalinan
bukan setelah dia menerima uang. Melainkan, setelah menerima kenyataan bahwa
hari ini harus ada lagi perempuan yang mati di depan matanya.
Agaknya dari sisi ini, dia belum puas dan akan tetap terus tidak puas, seperti
kehidupannya yang makin hari makin berlari kencang, berkejar-kejaran dengan
bayangan yang dibuatnya sendiri. Sudah banyakkah yang mati di tanganmu, kawan?
Dia menggelengkan kepalanya pelan. Mungkin tidak tahu atau tidak mau tahu,
tidak pernah tahu atau mungkin sudah sedemikian banyaknya yang mati, kita pun
mungkin tak perlu tahu. Tapi alangkah kagetnya saya ketika dia membeberkan
sebuah rahasia, sebuah catatan khusus yang dia simpan sendiri yang memuat
daftar yang disebutnya sebagai 'dosa'. Ternyata dia mencatat dan hafal betul
yang mati di depannya, sekian perempuan dalam satu tahun dan tahu persis
penyebabnya karena dia mencoba menganalisis setiap kasus kematian dan
memilahnya sendiri. "Saya merasa belum berperan menurunkan angka kesakitan dan
kematian pasien saya. Itu adalah kegagalan saya yang sebenar-benarnya, walau
saya semakin kaya saja," katanya sambil menerawang. Entah apa yang dirasakan.
Saya tidak tahu persis.
Tragedi
Tidak seperti teman saya tadi. Harus diakui, kebanyakan dari kita belum bisa
menjawab mengapa banyak perempuan yang melahirkan di negeri ini harus mati di
saat hamil dan melahirkan. Padahal dari zamannya Kartini --siapa pun tahu--
yang juga mati karena melahirkan anak pertamanya adalah tragedi tetap yang
terus dialami ribuan perempuan Indonesia setiap tahun.
Amat sedikit di antara kita yang tahu, kematian ibu melahirkan saat ini di
Indonesia tercatat berada di angka 307 dari setiap 100.000 kelahiran hidup,
sebagian besar adalah kematian yang sebetulnya dapat dihindari. Itulah
sebabnya, bukan kebetulan bila masalah kesehatan ibu melahirkan menjadi agenda
penting di pemerintahan SBY -Kalla.
Anehnya, meskipun Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia sudah menurun dibandingkan
dengan tahun 2000 yang besarannya 396. Tetapi angka 307 tetap tinggi untuk
ukuran Asia Tenggara karena Vietnam dan Filipina telah mencapai angka 160 dan
170, itu pun pada 2000. Entah sekarang. Tapi besar kemungkinan jauh lebih kecil
lagi. Yang penting tapi justru jarang diketahui, bahwa sesungguhnya AKI
signifikan untuk menunjukkan tingkat pembangunan manusia suatu bangsa sehingga
tingginya AKI dapat menjadi indikator belum meratanya kesejahteraan itu,
seperti ditunjukkan laporan Indonesia Human Development Report 2005. (Kompas,11
April 2005)
Untuk tingkat dunia misalnya, pada Hari Kesehatan Sedunia 7 April lalu,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan laporan tahunan mereka dengan
fokus pada kesehatan ibu dan anak. Laporan berjudul The World Health Report
2005 Make Every Mother And Child Count, berfokus pada upaya menyelamatkan ibu
dari kematian karena kehamilan, saat dan setelah melahirkan, menyelamatkan bayi
yang baru lahir serta menyelamatkan balita dari kematian yang sebetulnya dapat
dicegah.
Lalu, untuk tingkat Indonesia, bagaimana bu menteri?
Dilupakan
Begitulah orang kita. Orang yang mati di sini memang mudah untuk dilupakan,
terutama oleh pembunuh atau orang-orang yang menyukuri kematiannya. Namun
barangkali bagi keluarga mereka, kematian demi kematian tidak mudah dilupakan
begitu saja. Ia merupakan catatan yang terus tergurat dalam lembar kemajuan
pembangunan kesehatan secara keseluruhan, seperti sejauh mana kita memberikan
peran untuk menumpas kematian dan kesakitan, khususnya ibu dan anak di negeri
ini.
Banyak dokter spesialis kandungan dan anak bahkan subspesialis dilahirkan dari
sekolah terbaik. Entah dia untuk siapa, karena ternyata masih banyak juga
mereka menjadi korban di luar tembok rumah sakit, rumah atau klinik bersalin.
Seperti kata guru besar saya dalam pidato orasinya, sebetulnya seorang dokter
spesialis kandungan itu hanya berperan menyelamatkan ibu hamil yang datang ke
tempat praktiknya. Sementara ibu lain yang jauh lebih banyak jumlahnya dan
tidak bisa merangkak mencapai ruang praktik mati di tengah jalan, atau harus
mati di tempat tanpa sentuhan apa-apa. Tragis memang.
Sementara kita hanya pandai berdebat sambil tidak henti-henti menyalahkan si
ibu yang tidak memeriksakan diri selama kehamilannya, datang terlambat dan
sebagainya. Yang lebih konyol masih ada pejabat Depkes nyerocos, semua ini
katanya karena dalih teknologi yang belum terserap sempurna, atau belum
tersedia sarana.
Memang kematian demi kematian ibu melahirkan akan sangat mudah terlupakan. Akan
tetapi peristiwa tersebut tidak mudah sirna bagi mereka yang berada di pihak
kematiannya, seperti ibu atau bapak si bayi, atau suami dan keluarga bila si
ibu yang harus pergi mendahului. Sekarang terserah kita, ke sisi mana akan
berpihak.
Dokter Spesialis Kandungan RSUD Ulin,
tinggal di Banjarmasin
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hocl0nf/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122847304/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Sudah Banyakkah Yang Mati, Kawan?