[ppi] [ppiindia] Studi Murah ke Luar Negeri: Cobalah Rusia

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

Belajar ke Rusia, Mengapa Tidak? 


KETIKA Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membeli empat pesawat Sukhoi (dua 
SU-27 dan dua SU-30) serta sejumlah helikopter dari Rusia, beberapa pengamat 
menilai, pendulum pilihan alat-alat militer agaknya mengarah kembali ke negeri 
itu. Disebut mengarah kembali karena hingga tahun 1965, Pemerintah Indonesia 
pernah menjalin kerja sama (termasuk militer) dengan Rusia. Dasar pemikiran 
yang lain, kecanggihan teknologi yang dimiliki pesawat-pesawat buatan Rusia itu 
tidak kalah dengan pesawat-pesawat tempur F-16 buatan Amerika Serikat.

MEMANG, kecanggihan teknologi yang dimiliki Rusia sudah dikenal sejak lama. 
Dalam bidang penjelajahan ruang angkasa, misalnya, Pemerintah Rusia sudah mampu 
meluncurkan satelit tak berawak, jauh sebelum Amerika Serikat melakukannya. 
Begitu pula pengiriman manusia ke ruang angkasa, Rusia bisa disebut sebagai 
sang pemula.

Kemajuan teknologi (tidak hanya dalam bidang mesin perang dan penjelajahan 
ruang angkasa) yang dimiliki Rusia tentu tidak lepas dari peran pendidikan 
tinggi yang dimiliki. Bahkan, dari antara 100 perguruan tinggi negeri yang 
kebanyakan berada di bagian barat Rusia, seperti Krasnodar, Rostov, 
Nizkliniynovgorod, Ryazanj, dan lain-lain, ada yang memiliki reputasi 
internasional. Universitas Negeri Moskwa (Moskovskjy Gosudarstvennjy 
Universitet imeni Lomonosova/MGU), misalnya, disebut-sebut sebagai universitas 
negeri tertua dan menempati peringkat ke tiga di dunia dalam hal reputasi.

"Itu sebabnya, sampai sekarang, Rusia masih menjadi salah satu negeri tujuan 
untuk pendidikan bagi sejumlah orang. Mahasiswa asing yang kini belajar di 
Rusia kebanyakan berasal dari Afrika, China, India, Malaysia, dan Vietnam. Dari 
Indonesia amat sedikit, bahkan boleh disebut sedikit sekali. Sekarang ini, 
jumlah mahasiswa dari Malaysia ada ribuan, begitu juga dari China, India, atau 
Vietnam. Sedangkan total mahasiswa dari Indonesia sekitar 100 orang. Padahal, 
hingga tahun 1959/1960, ada banyak orang Indonesia belajar di seluruh Uni 
Soviet, saat itu," ujar Alexander I Vaulin, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan 
Kebudayaan Rusia yang juga Sekretaris I Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk 
Indonesia, di Jakarta, pekan lalu.

Memang, sejak tragedi berdarah di Indonesia tahun 1965, hubungan kebudayaan 
antara Pemerintah Indonesia dan Rusia sempat terputus. Sejak saat itu, arus 
calon mahasiswa dari Indonesia yang ingin belajar di Rusia pun mengalami 
penyusutan luar biasa.

SELAIN memiliki sejumlah perguruan tinggi yang unggul dalam bidang teknologi, 
lingkungan, sosial, atau sastra, pendidikan di Rusia juga menawarkan biaya yang 
relatif murah dibandingkan dengan biaya pendidikan di kawasan Eropa. Biaya 
pendidikan di perguruan tinggi di Rusia rata-rata antara 2.000 dollar AS hingga 
5.000 dollar AS per tahun, tergantung bidang ilmu yang akan dipelajari.

"Untuk biaya hidup, antara 100 dollar AS hingga 150 dollar AS per bulan. Itu 
sudah cukup. Ya memang, ini tergantung dari pola hidup mahasiswa. Biaya hidup 
antara 100 dollar hingga 150 dollar AS itu untuk hidup sederhana," kata 
Alexander.

Sebagai contoh, untuk Program S1 Fakultas Teknik dengan masa studi dua tahun 
dan Fakultas Persiapan satu tahun menelan biaya kuliah plus asrama 4.000 dollar 
AS untuk dua tahun. Sedangkan biaya hidup adalah 100 dollar AS x 12 bulan x 3 
(dua tahun masa studi dan satu tahun Fakultas Persiapan) sama dengan 3.600 
dollar AS. Biaya asuransi kesehatan 150 dollar AS x 3 = 450 dollar AS. Biaya 
Fakultas Persiapan 1.800 dollar AS, tiket pesawat pergi pulang 2 x 500 dollar 
AS = 1.000 dollar AS. Jadi, total keperluan untuk Program S1 Fakultas Teknik 
memerlukan biaya 10.850 dollar AS. Apabila 1 dollar AS = Rp 8.500, total biaya 
Rp 92.225.000.

Lain halnya penghitungan biaya pendidikan Program S1 untuk Fakultas Kedokteran. 
Dengan masa studi enam tahun ditambah satu tahun Fakultas Persiapan, total 
biaya yang diperlukan adalah 25.450 dollar AS, atau setara dengan Rp 
216.325.000 (satu dollar AS = Rp 8.500). Sedangkan penghitungan biaya 
pendidikan untuk Program S3 (dengan lama kuliah tiga tahun plus satu tahun 
persiapan), memerlukan biaya 14.200 dollar AS, atau setara dengan Rp 
120.700.000 (Lihat tabel halaman 41).

Selain biaya, calon mahasiswa harus menyerahkan seluruh dokumen yang telah 
diterjemahkan dalam bahasa Rusia dan disahkan oleh notaris, antara lain, surat 
keterangan kesehatan, ijazah pendidikan menengah, ijazah dan transkrip nilai 
bagi calon mahasiswa S2/S3. Tidak kalah penting, hasil tes AIDS yang telah 
diterjemahkan dalam bahasa Rusia/Inggris dan disahkan oleh notaris.

"Untuk AIDS, kami memang tidak main-main. Begitu ada mahasiswa asing ketahuan 
terkena AIDS, Pemerintah Rusia akan langsung memulangkannya segera," kata 
Alexander.

Pemerintah Rusia sebenarnya juga memberikan beasiswa, termasuk untuk Indonesia. 
Untuk tiap negara, Pemerintah Rusia memberikan "jatah" 20 orang. Akan tetapi, 
Indonesia belakangan hampir tidak pernah memenuhi kuota itu. "Amat sedikit yang 
berminat. Sementara dari Malaysia, China, atau Vietnam, jatah beasiswa itu 
selalu penuh, bahkan mereka selalu minta lebih," ujar Alexander.

MEMANG, sejauh ini informasi mengenai pendidikan di Rusia bagi masyarakat 
Indonesia masih amat minim. Akan tetapi, hal itu bisa dipecahkan dengan mencoba 
mencarinya melalui Internet. Dalam Directory Russia-Colleges and Universities, 
misalnya, sudah tertera puluhan perguruan tinggi. Ada Moscow State Aviation 
Institute (University of Aerospace Technology). Ada juga Academy of National 
Economy, Astrakhan State Technical University, Institute of Social Relations, 
Kaliningrad State University, dan sebagainya. Untuk Anda yang ingin belajar 
seni, ada Saint Petersburg State Conservatory na (name after) NA Rymskiy 
Korsakov atau ke Niszhny Novgoro State Conservatory na KA Glinka, Saint 
Petersburg State Academy for Sport and Physical Culture na PF Lesgaft, atau 
Perm State Choreographic School.

Selain informasi yang minim, kesulitan yang membayang bagi mereka yang ingin 
kuliah di Rusia adalah masalah bahasa. Bagaimana pun juga, bahasa memegang 
peran penting. Karena itu, salah satu syarat yang harus dipunyai oleh mereka 
yang akan belajar di Rusia harus mampu membaca abjad Kiril, yang memiliki 34 
karakter. Keharusan mampu berbahasa Rusia memang tidak bisa ditawar-tawar 
karena kebanyakan anggota masyarakat Rusia belum bisa berbahasa Inggris.

"Sebenarnya belajar bahasa Rusia tidaklah sulit. Untuk preliminary course, 
hanya diperlukan satu tahun, dan itu bisa dilakukan sebelum studi utama. Akan 
tetapi, untuk sastra, memang diperlukan kemampuan berbahasa Rusia yang lebih 
tinggi, yang bagi kami orang Rusia sendiri, kadang-kadang juga mengalami 
kesulitan," kata Alexander.

Meski demikian, masalah kemampuan berbahasa asing, atau bahasa seperti yang 
digunakan di negara yang dituju, merupakan tantangan yang selalu dialami oleh 
setiap calon mahasiswa yang akan belajar ke luar negeri. Jangankan mampu 
berbahasa Rusia, mampu berbahasa Inggris pun harus dimiliki oleh mereka yang 
akan belajar ke Singapura atau Malaysia.

Melihat berbagai kemudahan dan biaya murah yang ditawarkan oleh pemerintah 
Rusia, agaknya Negeri Beruang Putih itu pantas untuk dilirik apabila ingin 
melanjutkan studi ke luar negeri. (tonny d widiastono)

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0404/29/PendLN/996953.htm

Mahasiswa Aligarh Muslim University
Aligarh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail 
storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: