[ppi] [ppiindia] Soekarno v Playboy
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 26 Apr 2006 02:41:56 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=222935
Rabu, 26 Apr 2006,
Soekarno v Playboy
Oleh Asvi Warman Adam *
Sebagai dalih untuk menjatuhkannya, pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965,
Presiden Soekarno dituding bertanggung jawab terhadap kemerosotan akhlak. Dalam
pembelaannya pada pidato berjudul Nawaksara, Bung Karno menandaskan bahwa bila
terjadi tindakan amoral oleh masyarakat, itu bukanlah tanggung jawab presiden.
Secara konstitusional, presiden hanya dapat dimintai pertanggungjawaban soal
pelaksanaan pembangunan sebagaimana diatur dalam haluan negara. Lebih jauh,
kasus itu membuat kita bertanya apakah negara bertanggung jawab terhadap moral
orang atau kelompok masyarakat.
Apa atau siapa yang mengakibatkan mundurnya etika bangsa? Bila berbicara
tentang pornografi, apakah majalah seperti Playboy yang terbit perdana Desember
1953 dengan cover Marylin Monroe itu dapat merusak moral masyarakat?
***
Sebuah anekdot disampaikan budayawan Emha Ainun Najib dalam bukunya yang
berjudul Folklore Madura. Dia menuturkan, seorang warga kampung yang akan
berangkat ke kota ditanya oleh tetangganya mau pergi ke mana. "Mau beli
playboy", ujarnya tegas. "Lho kok sampeyan beli majalah gituan?" Dengan kalem,
yang ditanya menjawab, "Bukan, saya mau beli mainan anak-anak, play itu main,
boy itu anak".
Ada pula cerita menarik mengenai majalah Playboy yang terjadi pada 1965 di
Jakarta. Kisah ini menyangkut Marshal Green, duta besar Amerika Serikat (AS)
yang bertugas di Indonesia sejak medio 1965.
Berbeda dengan pendahulunya Howard Jones yang cukup rapat dengan Bung Karno,
Green adalah diplomat kawakan yang piawai memainkan peran "destabilisator" di
Asia-Pasifik. Kedatangannya disambut demonstrasi besar di ibu kota.
Karena itu, dia sengaja tiba di Jakarta malam hari. Di sepanjang jalan,
terdapat coretan yang menyuruh Marshal Green pulang saja (Green, go home).
Untunglah, sang diplomat masih punya humor yang tinggi dan pada memoarnya, dia
menulis bahwa pada beberapa coretan tersebut terbaca "Green go home and take me
with you" (Green pulanglah dan bawa daku bersamamu). Itu ditulis dengan gincu,
mungkin oleh perempuan tunasusila.
Pada acara koktail setelah menyerahkan surat kepercayaan di Istana, Green
dibisiki Soekarno untuk membawakan Playboy. Dia ragu apakah itu serius atau
jebakan? Sebagai presiden, Soekarno dengan mudah dapat meminta menteri atau
diplomat Indonesia untuk mendapatkan majalah panas tersebut. Apakah Bung Karno
ingin menguji sikapnya? Bukankah dalam pidato penerimaan sang Dubes, Soekarno
sudah mempermalukannya dengan mengkritik politik luar negeri AS?
Bahkan seperti terjadi belakangan, pada 28 September 1965, dalam sebuah acara
di depan mahasiswa UI, Bung Karno "mengerjai" Green dengan memintanya memakan
buah durian yang baunya sungguh tidak sedap bagi sang diplomat Barat. Padahal,
duta besar Meksiko yang juga hadir dalam kesempatan tersebut tidak diminta
melakukannya.
Namun, kalau permintaan sang presiden dipenuhi, ketika dia memberikan majalah
tersebut, jangan-jangan pers sudah siap dengan kamera mengabadikannya dan
menyiarkan bahwa duta besar AS menyogok presiden Indonesia dengan majalah
panas. Dia akhirnya memesan majalah itu, tetapi tidak sampai menyerahkan kepada
Soekarno.
Majalah itu memang bertaburan model kelas atas yang berpose seronok dengan
bayaran mahal (edisi bulanan USD 20 ribu dan edisi tahunan USD 100 ribu plus
mobil, menurut ensiklopedi Wikepedia yang tentu perlu dicek silang).
Green mengaku, tatkala harus membakar arsip saat demonstrasi anti-AS semakin
marak, majalah-majalah Playboy itu yang terakhir hangus. Apakah disebabkan
kualitas kertasnya yang bagus atau justru majalah tersebut yang terakhir
dibuang ke api karena "eman-eman" masih dilirik-lirik petugas kedutaan termasuk
sang Dubes ?
***
Dari kisah di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa kemerosotan akhlak dan
majalah erotis adalah dua hal berbeda. Ukuran kemerosotan moral menjadi kabur
bila dikaitkan dengan gambar porno. Sebetulnya lebih tepat bila kriterianya
adalah korupsi.
Misalnya, ketika Soekarno berhenti, dia meninggalkan utang USD 2,5 miliar,
sedangkan saat Soeharto turun, dia mewariskan utang (pemerintah dan swasta) 60
kali lipat, yaitu USD 150 miliar.
Menurut Prof Soemitro Djojohadikusumo, terjadi kebocoran 30 persen dari
anggaran pemerintah. Dari sisi utang saja, hitung sendiri berapa jumlahnya.
Jelas korupsi selama 30 tahun pemerintahan Soeharto jauh lebih banyak daripada
enam tahun Orde Lama (1959-1965). Dengan kata lain, kemerosotan akhlak justru
berkembang luas pada era Orde Baru. Korupsi merupakan kriteria yang jelas dari
dekadensi moral yang bisa dihitung dengan angka-angka ketimbang mempersoalkan
berapa senti di atas lutut agar pemakai rok mini tidak dituduh melakukan
pornoaksi.
* Dr Asvi Warman Adam, ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) di Jakarta
--
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 461 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Soekarno v Playboy