[ppi] Re: [ppiindia] Siapakah Togog Itu? (3)

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Ayah saya pernah cerita mengenai Togog, Semar dan
Bethara Guru. Togog, Semar dan Bethara Guru adalah
Dewa-Dewa paling tua di Kahyangan. Togog adalah yang
tertua, kemudian Semar dan yang paling muda adalah
Bethara Guru. Sehingga betapapun tingginya kedudukan
Bethara Guru di kahyangan, Bethara Guru selalu
memanggil Togog dan Semar dengan sebutan "Kakang".
Dewa-dewa lain juga memanggil Semar dan Togog dengan
sebutan "Kakang". Sebaliknya Togog dan Semar selalu
memanggil Bethara Guru dengan "Adi Guru". 

Pada waktu pemilihan Pemimpin para Dewa di Kahyangan,
mereka bertiga (Togog, Semar dan Bethara Guru) yang di
nominasikan sebagai Pemimpin Para Dewa oleh Sanghyang
Wenang. Sanghyang Wenang memberi syarat, barangsiapa
dari ketiganya yang sanggung menelan Gunung utuh-utuh,
kemudian memuntahkannya utuh-utuh maka dialah yang
menjadi Pemimpin Para Dewa.

Pertama-tama Togog diberi kesempatan pertama. Dengan
kesaktiannya sebagai seorang Dewa, Togog mencoba
menelan Gunung tersebut. Tetapi sayangnya, baru
separuh bagian Gunung yang ditelan, mulut sang Togog
sudah robek. Jangankan untuk memuntahkannya kembali
untuk menelannya seluruhnya Togog tidak mampu,
Akhirnya menyerahlah Togog akan tantangan SangHyang
Wenang dan gagal juga menjadi pemimpin Para Dewa.

Kemudian Semar diberikan kesempatan. Dengan
kesaktiannya Semar berhasil menelan Gunung tersebut
utuh-utuh. Tetapi sayangnya ketika berusaha
memuntahkan Gunung tersebut, Semar tidak sanggup.
Gunung tersebut tetap tinggal di perutnya. semar juga
gagal menjadi pemimpin para Dewa.

Kemudian Bethara Guru diberi kesempatan. Singkat
cerita Bethara Gurulah sanggup menelan dan memuntahkan
Gunung secara utuh. Akhirnya Bethara Guru yang
diangkat sebagai Pemimpin Para Dewa di Kahyangan. 

Bagaimana dengan Semar dan Togog? 

Semar diperintahkan turun ke Bumi untuk mengemong
orang-orang baik, dan Togog juga turun ke Bumi untuk
mengemong orang-orang jahat.

Mungkin cerita tersebut benar, mungkin juga salah.
         
--- Tangkisan Letug <tletug@xxxxxxxxx> wrote:

> www.suarakarya.com
> 7 Agustus 2004
> 
> Lakon Wayang Dan Lakon Kita
> Catatan N. Riantiarno 
> 
> Menafsir kembali salah satu segmen dari lakon
> wayang,
> sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon
> Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering
> disebut
> oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut
> 'penafsiran kembali' itu sebagai carangan atau
> versi.
> Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan
> epos Mahabharata karya Vyasa. 
> 
> Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan
> Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa
> Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno.
> Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar
> adegan
> lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di
> dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri,
> cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan
> budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja
> Kediri
> sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya
> (1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan
> kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis
> oleh para pujangga masa itu. 
> 
> Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang
> mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang
> digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna.
> Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya
> diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali
> oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula.
> Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu,
> seakan
> makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan
> perubahan bentuk tokoh. 
> 
> Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita
> dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian,
> Raden
> Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar
> (1478-1518)
> dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan
> Ngampel,
> Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan
> Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan
> Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi
> salah satu medium penyebaran agama. 
> 
> Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi
> miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa
> digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang
> Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga
> menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter
> wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus,
> diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit)
> yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau
> kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat
> digemari.
> Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa. 
> 
> Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang
> memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam
> dan
> putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak
> pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon
> carangan. Pakem lakon dari India 'hanya'
> dimanfaatkan
> sebagai narasumber imajinasi. 
> 
> Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil
> yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian
> wayang.
> Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan
> kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang
> sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia
> juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu.
> Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip
> dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus,
> 1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan
> tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian
> disebut
> Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa. 
> 
> Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah
> (1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk
> wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan
> dengan
> lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga
> menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar,
> Bagong,
> Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah
> karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah
> Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong
> dianggap terlalu 'lancang' mengritik kebijakan
> pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para
> dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris
> sebagai gantinya. 
> 
> Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah
> ditulis
> hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan
> para
> pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita
> mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon
> digali dan digali terus-menerus, seakan tak
> habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan
> disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon
> wayang dan karakter wayang, menjadi harta
> intelektual
> yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang
> sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.
> 
> 
> Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito,
> Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang
> tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan
> kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut
> pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem
> yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem
> aslinya
> dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan
> misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.
> Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami
> penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku
> bangsa
> Jawa. 
> 
> Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya
> bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang
> tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad
> karya
> Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng
> dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua.
> Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang
> saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris' dan
> 'Wayang
> Prancis'), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi
> setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari
> ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari
> sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya
> mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi
> sinergis. 
> 
> Jika sumber ilham datang dari lakon wayang
> (Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya
> menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini.
> Menjadi
> lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita,
> masalah
> kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya
> coba
> sadur lewat jalan pikiran wayang. 
> 
> Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya,
> tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau
> narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian
> yang
> dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan
> dan
> asesori yang berbeda. Justru yang paling penting
> adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi
> roh
> penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak
> diungkapkan. 
> 
> Bagi saya, kesenian adalah 'seni menafsir alam dan
> kehidupan'. Tujuannya hanya satu 'berterimakasih
> kepada alam dan kehidupan'. Apa pun anugerah alam
> dan
> kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus
> disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang
> dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang
> bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan,
> bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai
> ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi.
> Nikmat
> dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri.
> Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa
> diri.
> Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga.
> Sepanjang masa. 
> 
> Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh
> 'dalang'. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan
> milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di
> tangan
> 'dalang'. 
> 
> Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering 'kerasukan'
> Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari
> 'dalang' menganggap diri berkuasa. padahal kita
> hanya
> muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap
> tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak
> 
=== message truncated ===



                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
http://promotions.yahoo.com/goldrush


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: