[ppi] [ppiindia] Sewindu Reformasi: Problematika dan Agama

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=144837


            Sewindu Reformasi: Problematika dan Agama
            Oleh Nelson Alwi 



            Jumat, 26 Mei 2006
            Kita seperti tersentak. Era reformasi yang dicanangkan mengiringi 
lengsernya Soeharto dari jabatan Presiden RI pada 21 Mei 1998, nyaris belum 
menghasilkan sesuatu yang berarti. Sewindu lamanya anak bangsa seolah tenggelam 
dalam era transisi: dari pemerintahan totaliter bersifat represif menuju sistem 
perpolitikan terbuka lagi demokratis. 

            Ya, reformasi bergulir karut-marut. Mengecewakan. Masyarakat 
dirongrong berbagai perubahan serba cepat, penyimpangan berkedok perbaikan. 
Perubahan, yang adakalanya mengejutkan, menawarkan sejumlah tantangan. Terutama 
dalam menetapkan standar moral sehubungan perilaku manusia yang, mau tidak mau, 
selalu terlibat dalam proses keberadaannya selaku umat beragama. Sedangkan 
identifikasi keyakinan menyangkut kerangka perilaku jelas merupakan persoalan 
yang tak mungkin lepas dari perubahan itu sendiri. 

            Berbagai hal, sebagai produk akhir transformasi-reformasi, memang 
teramat pelik dan menggiriskan. Keamburadulan politik, krisis kepercayaan dan 
kemanusiaan, ketakstabilan ekonomi dan kian beratnya beban hidup rakyat kecil 
menjadi kenyataan. Meroketnya pertambahan penduduk miskin (berikut 
praktik-praktik pemiskinan terselubung) dan pengangguran. Di samping yang tak 
kalah penting, tidak kunjung tuntas-memuaskannya penanganan kasus-kasus 
korupsi, pelanggaran HAM, kerusakan dan pengrusakan lingkungan (illegal 
logging), kontinuitas konflik di beberapa daerah, dan kentalnya ketergantungan 
penyelenggara negara kepada kaum kapitalis-materialistis. 

            Masyarakat cukup paham bahwa tumpukan persoalan yang membadai tak 
bisa diatasi hanya dengan menunjukkan air muka penuh perhatian dan 
keprihatinan. Memahami asal-muasal kemiskinan dan sistem yang melanggengkan 
kezaliman, umpamanya, dalam aneka situasi dan kondisi akan mengakibatkan 
masyarakat atau penganut agama mana pun berhadapan langsung dengan 
kesimpangsiuran penafsiran fungsi kekuasaan. 

            Memang menarik menalitemalikan keadaan negara sekarang ini dengan 
soliditas agama warganya. Atau dengan kata lain, cukup relevan rasanya 
mengamati realita kehidupan spiritual masyarakat yang ngotot mengecam paham 
antiagama di tengah problematika yang mengharu-biru bangsa dewasa ini. 

            Bagi sebagian orang, pengertian keagamaan cenderung bias. Seolah, 
saat ini segala macam aktivitas keagamaan baru menemukan kesahihannya bila 
telah disejalankan dengan prinsip-prinsip kebersamaan yang salah kaprah. 

            Seperti dilansir berbagai media, di banyak tempat implementasi 
keagamaan yang hakikinya bersifat personal, diorganisasi dan dimobilisasi. 
Dengan mengatasnamakan kesejahteraan sesama (hablumminannas), syariat alias 
rukun agama menyangkut zakat (hablumminallah) dipecundangi: 2,5 persen gaji PNS 
dipotong semena-mena, menimbulkan gejolak. 

            Selain itu, tidak sedikit pemuka agama teperdaya (atau 
diberdayakan?) untuk memihak sehingga terkadang tak segan-segan mendukung 
"sesuatu" yang belum jelas juntrungannya. Tidak pula terhitung pejabat yang 
maling di kantor, namun tampak sangat khusyuk beribadah di depan umum. 

            Kesulitan dalam mengantisipasi perubahan yang telanjang, niscaya 
dapat melahirkan pengaruh yang tidak menentu. Kegalauan yang disodorkan 
kompleksitas proses transformasi sosial kemasyarakatan bersumber pada kegagalan 
(pemuka) agama dalam membimbing penganut atau pemeluknya. 

            Artinya, sebagian anak bangsa bisa jadi gagal memberikan arti 
keberadaannya di muka bumi ini. Sebab, keterlibatan mereka selalu saja menjurus 
kepada relevansi kemasalampauan (stagnant). Dan sebagai alternatif yang lebih 
buruk, mereka akan terjungkal masuk lingkar permasalahan yang betul-betul 
membingungkan. Suasana dan kondisi seperti itu besar kemungkinan menimbulkan 
frustrasi dan memancing berkembang-biaknya sikap kritis-radikal-reaksioner 
berlatar "konsep" keagamaan yang sesungguhnya sangat luhur. 

            Berdasarkan fakta lapangan, militansi kelompok terorisme mencermati 
sebab-akibat dekadensi moral dan degradasi keagamaan dengan kacamata kuda, 
lempang. Menanggapinya secara ekstrem, karena semata-mata bertumpu pada tolok 
ukur konvensional. 

            Memang, wujud reaksi ataupun kekerasan sepihak berupa aksi 
terorisme maupun anarkisme demonstrasi yang marak mewarnai kehidupan 
sehari-hari negeri tercinta ini cenderung semakin dominan bila keyakinan atau 
agama sudah kehilangan kemampuan untuk merespons segala macam aktivitas dan 
kreativitas yang erat kaitannya dengan perubahan. 

            Persoalannya adalah, pemeluk agama yang bagaimanakah yang sanggup 
mempertahankan eksistensi atau kekuatannya di tengah keterpencilannya dari 
perubahan yang dimanipulasi, yang merambah dan menyelimuti ruang-ruang sosial, 
politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya, di dunia yang didiaminya? 

            Segala bentuk keteledoran yang secara kasat mata terjadi selama ini 
disebabkan ketidakmampuan mempersepsikan ajaran agama dengan benar (Franz 
Magnis Soeseno: 2006). Karenanya, tidak boleh tidak, kapan dan di mana pun, 
kita yang mengaku beragama senantiasa dituntut meluangkan waktu untuk 
merenungkan berbagai arti perubahan yang di alami dari masa ke masa. 

            Menurut Andre Malraux (1901-1976), manusia tidak akan survive bila 
nilai-nilai keagamaan tidak selalu diaktualisasikan. Agama, sebagaimana 
diketahui, memiliki potensi dan pengaruh (dynamic functions) untuk 
menginterpretasikan, menyusun kembali nilai-nilai, norma-norma maupun tujuannya 
dalam mengukuhkan struktur pengertian hidup yang dicita-citakan. 

            Dengan kata lain, agama adalah segala-galanya bagi umat manusia. 
Sebagai pedoman dan tolok ukur penilaian terhadap perbuatan kita. Sebagai 
petunjuk atau ilham yang berfungsi menuntun manusia ke arah suatu kebenaran 
transenden. Sebagai satu-satunya jalan atau alternatif menuju kemaslahatan umat 
manusia, dunia wal akhirat. 

            Dan praktik keagamaan yang baik lagi benar akan berperan sangat 
besar dalam rangka mengartikulasikan kerinduan manusia kepada makna hidup yang 
sesungguhnya. Makna hidup yang lebih memadai lagi berdinamika, dalam mewujudkan 
(arah) reformasi yang diidealkan sejak pertama dicanangkan.*** 

            Penulis bermukim di Padang.  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: