[ppi] [ppiindia] Setelah 61 Tahun Merdeka
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 24 Jul 2006 23:42:21 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
MODUS
Senin, 24/7/06 15:30 WIB
Setelah 61 Tahun Merdeka
Oleh: Tan Swie Ling*)
"Di dalam tahun '33 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama
"Mencapai Indonesia Merdeka".Maka di dalam risalah tahun '33 itu, telah saya
katakan, bahwa kemerdekaan, politike onafhankelijkheid, political independence,
ta' lain dan ta' bukan, ialah satu djembatan, satu djembatan emas. Saya katakan
di dalam kitab itu bahwa diseberangnya djembatan itulah kita sempurnakan kita
punya masyarakat"(Bung Karno, dalam Pidato Lahirnya Pancasila).
Kini 61 tahun sudah bangsa Indonesia berada diseberang "Djembatan emas". Coba
kita lihat pada satu contoh kecilnya saja yang sehari-hari mudah kita lihat
menyuguhkan kenyataan. Bahwa sampai dengan usia 61 tahun kemerdekaan, di
Jakarta yang Ibu Kota Negara,pemerintah belum mampu menyediakan angkutan umum
yang baik. Maksudnya angkutan umum yang bebas dari pencopet dan penodong. Bebas
dari silih bergantinya para pengemis- yang sesungguhnya kewajiban negara untuk
mengurusnya-, baik yang bergaya nelangsa maupun yang bergaya preman pemaksa
rakyat kecil, leluasa naik ke dalam bus-bus padat penumpang. Para pengemis yang
bukan saja mengganggu secara materi, bahkan sekaligus juga menyakiti hati.
Mereka meminta-minta. Tapi bahasa mereka selalu membuat perasaan jadi terluka.
Betapa tidak, kalau ucapan mengemisnya seperti ini: "Bapak/Ibu. Saya baru
keluar dari penjara. Bantulah saya. Uang seribu-duaribu yang tidak ada artinya
bagi anda akan mencegah saya kembali masuk penjara karena terpa
ksa menodong lagi". Atau: "Mohon maaf, kalau kehadiran saya mengganggu. Maksud
saya bukan begitu. Saya tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak halal. Hanya
karena susah mendapat kerja, saya di sini minta bantuan. Jadi, bukan
kesombongan atau keangkuhan yang saya harapkan, melainkan bantuan. Dan
kata-kata ini justru diulang-ulang. Seperti hasil rekaman yang dihafal oleh
komunitas pengemis. Yang membuat pengemis yang berbeda mengucapkan kata-kata
yang sama. "Bukan keangkuhan atau kesombongan, melainkan bantuan. Hargailah
usaha saya ini."
Suatu hal yang membuat masyarakat kecil yang sebelum merdeka, yang kemana saja
bepergian menggunakan jasa angkutan yang ada merasa aman-aman saja ternyata,
justru di zaman merdeka yang sudah 61 tahun umurnya sekarang ini, sama sekali
tidak merasa enak apa lagi nyaman berada di dalam bus-bus kota. Padahal,
masyarakat terpaksa bersedia naik angkutan umum yang rawan
penodongan/pencopetan, sebab tidak mampu naik taksi. Tapi ternyata, naik Metro
Mini atau Kopaja yang jauh dekat taripnya Rp 2.000,- toh akibat terpaksa
memberi para pengemis, apalagi kalau ditambah dengan para pengamen
dewasa/bergitar ataupun pengamen cilik/berecrek-ecrek dari sejumlah tutup botol
yang dipantek pada sebuah tangkai kayu, menyebabkan beaya transportasi
masyarakat kecil yang dipikulnya jadi sangat menggerogoti beaya untuk dapurnya.
Mengingat dalam satu rute perjalanan Metro Mini atau Kopaja, secara bergantian
bisa naik kurang-lebih sepuluh pengamen dan pengemis yang bergaya preman
pemaksa. Belum lagi, m
emberi atau tidak memberi para pengemis tersebut, toh masyarakat pengguna jasa
angkutan umum tersebut tetap saja tidak terbebas dari caci-maki dan sumpah
serapah para pengemis yang merasa tidak puas terhadap para penumpang. Begini
sumpah-serapah mereka: "berjilbab, tapi tidak berperikemanusiaan", atau
"diminta baik-baik tidak acuh, rupanya memang lebih suka dirampok saja". Itu
tadi para pengamen dan pengemis di atas angkutan umum.
Kalau ditambah dengan jumlah para pengemis yang mangkal ditiap perapatan jalan,
maka mulai mereka yang kakek-kakek-nenek-nenak sampai kepada bayi sendiri
maupun bayi sewaan yang digendong-gendongnya untuk mengetuk belas kasihan hati
sasaran yang diemisnya, maka luar biasalah banyaknya jumlah pengemis di dalam
republik ini. Dan kalau banyaknya jumlah pengemis tersebut dipadukan dengan
kualitas sikap-laku dari gaya nelangsa berubah jadi preman pemaksa, maka
alangkah menyedihkannya kondisi Republik kita di usianya yang 61 tahun ini.
Lalu, dengan kenyataan ini siapa berani menyatakan masyarakat telah
tersempurnakan, setelah 61 tahun merdeka? Dan kalau oleh sebab itu timbul
celetukan, "terperbaiki saja belum apalagi tersempurnakan", dan seterusnya
disusul pertanyaan yang berbunyi "kenapa begitu", kita jadi bingung kan? Karena
kondisi kehidupan bangsa kita ini memeng benar-benar membingungkan.
Sampai-sampai, untuk menutupi kebingungan, Bapak Wapres kita memilih
berkelakar. Dan berk
atalah Pak JK dalam kelakarnya: " - Pemerintah seharusnya juga menitipkan
promosi pariwisata kepada para TKI di Timur Tengah. -Kalau ada masalah Janda di
Puncak itu urusan lain. Jadi orang-orang Arab yang menjadi janda-janda di
kawasan puncak bisa memperbaiki keturunan. ..-Nanti mendapat rumah kecil, rumah
BTN, ini artinya kan sah-sah saja". (BBC.INDONESIA.COM/2906006).
Tentu saja menghadapi kenyataan ini, sebagai bangsa semangat kita tidak boleh
runtuh. Andaikan kondisi yang kita hadapi sekarang ini merupakan perahu yang
terancam akan karam, persoalannya justru bagaimana sebagai bangsa kita berjuang
untuk berbuat mencari cara agar bisa membuat layar biduk Republik Indonesia
terkembang kembali mengantarkan bangsa/rakyat Indonesia ke pantai labuh sesuai
dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam rangka mencari cara agar
dapat membuat layar biduk RI kembali terkembang sepertinya kita perlu
menelusri/melihat kembali tapak perjalanan republik tercinta kita sejak awal
diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia s/d sekarang. Sesuatu yang
tentunya tidak mungkin dapat diungkapkan oleh sebuah tulisan pendek ini. Karena
itu sekiranya kita bagi tapak perjalanan RI ke dalam tahapan-tahapan
periodisasi =Masa proklamasi/Perang kemerdekaan s/d masa dekrit kembali ke UUD
1945, masa demokrasi terpimpin s/d tumbangnya kekuasaan Presiden Soekarno,
masa berdirinya kekuasaan Orde Baru s/d lengsernya Presiden Soeharto, dan
masa era reformasi s/d sekarang= maka yang paling mungkin kita tengok
barangkali terbatas hanya secuwil, ya hanya secuwil dari periode masa era
reformasi saja.
Sejujurnya bangsa dan rakyat Indonesia menaruh harapan besar kepada kekuatan
politik reformasi agar bisa memandu mereka kembali menggapai cita-cita
proklamasi 17 Agustus 1945. Sayang, RI terlalu lama berada dalam dekapan
bidangnya dada Presiden Soeharto, Seorang Jenderal berbintang lima yang dalam
upaya melestarikan kekuasaannya sangat piawai menangani para oposannya.
Sehingga kalau bisa diibaratkan berbagai gerakan yang beroposisi terhadap
kekuasaannya itu biji kedelai, maka sepanjang rentang masa kekuasaannya, kalau
toh biji-biji kedelai tersebut pernah sempat bertunas toh tidak mungkin sempat
berkecambah walau sekedar untuk jadi toge saja, apalagi tumbuh menjadi pohon
kedelai yang batangnya kokoh, daunya rimbun dan akarnya menghunjam dalam ke
perut bumi. Demikianlah kenyataannya, andaikan biji-biji kedelai itu adalah
berbagai gerakan rakyat yang bersemangat menentangnya, selekas tampak bertunas,
selekas itu pula jari telunjuk pak Harto cepat dan sigap memencet hancur tunas
biji kedelai itu Sehingga kalau toh sempat bertunas, gerakan rakyat penentang
rezim Sorharto tidak ada yang memiliki kesempatan tumbuh menjadi sebuah gerakan
rakyat yang berpengaruh luas serta memiliki konsep perjuangan yang jelas.
Akibatnya rata-rata gerakan penentang rezim Soeharto tidak terkecuali, juga
gerakan reformasi, sesungguhnya hanya merupakan gerakan-gerakan dadakan saja.
Gerakan yang tidak dipandu konsep perjuangan apapun selain hanya sebatas konsep
menumbangkan Soeharto dari kursi kepresidenannya. Maka sebagai akibat logis
dari kondisi tersebut, ketika Presiden Soeharto berhasil dilengserkan,
satu-satunya yang menjadi agenda kekuatan politik reformasi sampai dengan
sekarang tidak lain adalah memperebutkan kursi presiden. Hal yang sampai-sampai
membuat Mahatir, mantan PM Malaysia, berkomentar: "di Indonesia terlalu banyak
orang yang ingin jadi presiden". Demikian memang kenyataannya. Elite-elite
politik yang merasa dirinya tokoh reformasi kesibukannya ternyata h
anya mengejar-ngejar kursi presiden. Sampai-sampai untuk itu ada tokoh yang
gegabah meyakinkan pemilih pemilu bahwa kalau dirinya terpilih menjadi presiden
ia cukup membutuhkan waktu satu periode kekuasaan saja (5 tahun?) mampu
mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi Republik ini. Tentu saja gerakan
reformasi yang ditokohi elite politik yang semangatnya hanya menguber-uber
kursi kepresidenan menjadi sangat mustahil bagi terwujudnya harapan terkembang
kembalinya layar biduk Republik Indonesia untuk mengantarkan bangsa/rakyat ke
pantai labuh seperti yang diarahkan dalam cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.
Lalu bagaimana sebaiknya sekarang?
Mengingat hanya ada satu cara yang merupakan satu-satunya syarat yang
memungkinkan bagi terkembangnya kembali layar bahtera Republik Indonesia, yaitu
pembangunan kekuatan politik berdasarkan semangat nasionalisme, maka kita harus
melakukannya. Caranya? Caranya semua orang yang merasa memiliki kepedulian
terhadap nasib bangsa dan rakyat Indonesia, tentunya tidak terkecuali para
tokoh reformasi harus kembali mengingat-ingat, mengapa bangsa Indonesia lahir,
bagaimana proses terbentuknya bangsa Indonesiatersebut, apa pula tugas
sejarahnya serta apa yang paling pertama harus dikerjakan untuk maksud
melaksanakan tugas sejarah bangsa dimaksud. Hanya apabila semua pihak yang
berkepedulian terhadap nasib Republik Indonesia berhasil membangun kekuatan
politik dimaksud, barulah terbuka peluang bagi terkembangnya kembali layar
bahtera RI. Dirgahayu Republik Indonesia. *)Penulis adalah Ketua Umum LKSI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts: