[ppi] [ppiindia] Setahun pemerintahan Yudhoyono-Kalla
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 19 Oct 2005 12:30:59 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/19/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Setahun pemerintahan Yudhoyono-Kalla
Upaya Memulihkan Kewibawaan Negara
Benny Susetyo
SITUASI perekonomian yang tak kunjung membaik membuat rakyat semakin apatis
terhadap kemampuan yang dimiliki jajaran pemerintahan kali ini. Kepercayaan
bahwa kabinet ini bisa membawa perbaikan ekonomi kian memudar.
Alih-alih nasib yang membaik, justru rakyat kecil merasa semakin menderita
akibat kebijakan yang seolah- olah berpihak kepada mereka, tapi nyatanya
membuat sengsara. Setahun pemerintahan Yudhoyono-Kalla, diharapkan membawa
perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Setahun lalu, masyarakat begitu yakin bahwa pergantian pemimpin akan membawa
suasana yang lebih baik. Meluncurlah harapan yang terlampau besar sudah
diberikan kepada Yudhoyono-Kalla tanpa pernah ada reserve apakah janji mereka
benar-benar bisa diuji dan dipegang teguh.
Makin Banyak
Korupsi dan kolusi dalam bentuk sogok dan suap justru semakin banyak terjadi di
lembaga-lembaga negara kita. Lembaga tertinggi keadilan kita bahkan mengalami
kasus yang sangat memalukan. Ini menunjukkan semakin jelasnya keadilan di
negeri ini hanya dimiliki oleh orang- orang berduit.
Didukung manajemen pemerintahan yang belum sepenuhnya transparan, kita bisa
meyakini kasus suap yang muncul hanyalah gumpalan-gumpalan gunung es.
Di tengah penyelenggaraan pemerintahan di era reformasi kali ini, tradisi
suap-menyuap masih dilanjutkan sampai hari ini.
Baik di lembaga-lembaga kenegaraan, birokrasi pemerintahan maupun badan publik
yang lain, reformasi yang didengungkan masih sebatas wacana. Profesionalitas,
kejujuran dan menjunjung tinggi pengabdian untuk publik belum menjadi budaya
kerja yang bisa dijadikan teladan.
Kehancuran publik sudah memasuki kerusakan yang hampir sempurna. Badan publik
kita tidak bekerja untuk kepentingan publik, tapi untuk kepentingan pasar.
Hasilnya bukan diperuntukkan untuk kepentingan publik melainkan untuk
kepentingan para 'preman'.
Badan publik kita tak ubahnya sapi perah, siapa yang 'merasa memiliki-nya'
ialah yang 'merasa berhak' memerahnya. Sebagai sapi perahan, badan publik kita
tidak bisa menjalankan aktivitasnya secara profesional dan maksimal. Begitu
besar aset/modal dan kekayaan tidak menjamin sebuah badan publik bisa
diperuntukkan semua keuntungannya untuk publik.
Di sisi lain, fungsi silang antara poros negara, badan publik dan pasar yang
seharusnya didasari oleh mekanisme tawar-menawar ternyata tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Warga tidak memiliki akses untuk menjalankan fungsi
kontrol alias pengawasannya.
Kecenderungannya adalah masing-masing poros saling bertentangan satu dengan
yang lain. Akibatnya menimbulkan celah kolusi, korupsi dan merebaknya 'potensi
kekerasan'.
Janji Manis
Inilah gambaran suram masa depan ketika seorang pemimpin tidak mampu lagi
menjalankan kewibawaan untuk mengembalikan keadaban publik. Tanda-tanda ini
sedikit demi sedikit sudah mulai terbaca oleh rakyat lewat sebuah lagu
campursari berjudul, "Jeng Sri Pulanglah".
Mungkin saja ini merupakan refleksi rakyat yang terus-menerus tertipu oleh
janji manis yang tak pernah terealisasikan.
Dikatakan naiknya harga BBM akan membawa kesejahteraan, nyatanya adalah
kebangkrutan bagi rakyat kecil? Ini yang membuat rakyat kecewa. Dulu, mereka
berjanji akan membawa kesejahteraan, yang terjadi kini adalah kebangkrutan.
Dulu mereka berjanji akan ada perubahan mendasar, tapi setelah dinantikan
sekian lama, tak kunjung tiba. Tanda-tanda frustasi rakyat ini bila tidak
direspons secara baik oleh pemerintah, pada saatnya mereka akan menyesal.
Rakyat akan meninggalkan mereka, dan apapun bujuk rayu tak ada gunanya.
Sayangnya elite politik kita sering tidak mau belajar dari bahasa rakyat yang
resah seperti ini. Kecuekan pemerintahan yang ada saat ini bila dibiarkan
berlarut-larut pada akhirnya akan menyulut bara api. Kinerja kabinet
Yudhoyono-Kalla bila tidak segera dibenahi dan ditata kembali akan melahirkan
dampak fatal.
Sistem pemerintahan akan berjalan dengan baik bila setiap menteri memiliki
keutamaan menyangkut kemampuan serta adanya pengabdian kepada negara, bukan
kepada pasar.
Wajah kabinet bukanlah warna-warni wajah partai. Bila mereka adalah pelangi
partai maka yang terjadi sejauh ini mereka hanya memikirkan kepentingan partai.
Yang dibutuhkan sekarang ini adalah menteri yang memiliki komitmen untuk berani
bekerja keras serta memiliki alternatif berpikir secara mandiri yang dijabarkan
dalam visi yang jelas untuk membuat bangsa ini tidak tergantung kepada negara
donor.
Pikiran Bersih
Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar orang pandai, melainkan mereka yang
masih bersih pikirannya dari paham neoliberalisme yang nyata-nyata tanpa
disadari akan membawa kita dalam penjajahan baru (neokolonialisme).
Mereka berpaham liberalis seperti ini tanpa sadar bahwa mereka bekerja seperti
robot. Sebagai robot liberalisme, perilaku dan mekanismenya terpola pada sistem
ekonomi yang hanya menguntungkan pada pemodal.
Sudah saatnya sekarang ini orang-orang yang tidak pro rakyat itu perlu ditata
ulang dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang berani berpikir berbeda
untuk membenahi negara ini. Jika pergantian kabinet diperlukan, para
penggantinya haruslah mereka yang memiliki komitmen untuk mengurangi dan
menghentikan secara total utang bangsa ini.
Mereka juga berani untuk meminta penghapusan utang. Utang yang dilakukan rezim
saat ini adalah utang yang bukan digunakan untuk pembangunan, melainkan untuk
dikorupsi para koruptor.
Bank Dunia dan World Bank sekiranya paham benar bahwa dana pinjaman mereka
kerapkali disalahgunakan.
Pengakuan dari mereka harusnya membuka peluang untuk melakukan lobi supaya ada
pemotongan utang.
Sudah saatnya Yudhoyono-Kalla menata kembali kabinetnya diisi dengan
orang-orang yang tidak menjadi antek lembaga donor. Itu hanya terjadi jika
pemerintahan Yudhoyono -Kalla ini menyadari bahwa negara ini harus diselamatkan
dari bulan-bulanan negara donor.
Di mana kewibawaan negeri adidaya trah Majapahit dan Sriwijaya ini?
Ada Waktu
Tentu saja masih ada waktu supaya rakyat tidak minggat, sebagaimana Jeng Sri,
bila pemerintahan ini sungguh-sungguh untuk membenahi kabinet dengan orang yang
kredibel dan memiliki keberanian untuk lepas dari ketergantungan dengan badan
donor.
Ada dua syarat, pertama, mereka bukan orang partai (yang diperkirakan
pikirannya akan selalu dikontaminasi oleh partai) dan kedua, mereka adalah
orang yang tidak memiliki jejak rekam sebagai komparador liberalisme.
Negara ini berwibawa jika tidak dikendalikan oleh antek-antek pasar yang sama
sekali tidak bisa berpikir demi rakyat. *
Penulis adalah seorang budayawan
Last modified: 19/10/05
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Setahun pemerintahan Yudhoyono-Kalla