[ppi] [ppiindia] Setahun BRR Menikmati Uang Samadiah di Aceh

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/24/nas04.html



Setahun BRR Menikmati Uang Samadiah di Aceh  
Oleh
Murizal Hamzah

Banda Aceh - "Sungguh berat amanah kerja di BRR. Saya tak sanggup 
mempertanggungjawabkan," ungkap blak-blakan Taufik yang selama perang di Aceh 
aktif membantu pengungsi korban kekerasan oleh RI-GAM. BRR yang dimaksud itu 
adalah Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias untuk menangani Aceh 
dan Nias pascagempa bumi dan tsunami. 

Presiden Susilo mengeluarkan Perpu No 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi 
dan Rekonstruksi (BRR) pada 16 April 2005. 

Jawaban spontan itu mengagetkan penulis yang bertanya mengapa dirinya tidak 
memilih bekerja di BRR. Dengan kemampuan dan komitmennya, ada kemungkinan besar 
dia diterima di BRR dengan gaji puluhan juta per bulan. Penulis terkesima 
manakala dia berfatwa siapa pun yang bekerja di LSM, NGO, BRR di Aceh dengan 
alasan membantu korban tsunami, justru pada waktu bersamaan mereka sedang 
menolong diri sendiri serta menikmati uang samadiah.

"Kita harus hati-hati mengurus uang samadiah yang mengalir dari seluruh pelosok 
internasional. Jangan tetangga yang tidak mengalami bencana kemudian datang 
membantu keluarga yang ditimpa musibah justru dia yang menikmati fulus daripada 
ahli bait yang kehilangan anak, suami atau istri," ingatnya kepada penulis.


Uang di Baskom Beras
Penulis tertunduk. Dalam adat istiadat Aceh, uang samadiah atau takziah identik 
dengan uang kematian. Hingga kini di Serambi Mekkah terutama di pedesaan jika 
ada warga yang meninggal dunia, ahli keluarga menempatkan beras dalam baskom di 
rumah atau halaman. Selanjutnya, warga yang bertakziah atau berdoa 
menyelinapkan uang ke baskom. Jadi fungsi beras untuk membenamkan uang logam 
atau uang kertas sehingga setiap orang yang mengulurkan bantuan tidak diketahui 
oleh orang lain. 

Kelaziman di Aceh, masa berkabung selama tujuh hari. Praktis, keluarga duka 
tidak bekerja. Artinya kalau seorang petani atau pedagang yang anaknya wafat, 
selama tujuh hari tidak bekerja dan tidak ada pemasukan. Selama bersedih, 
keluarga korban menerima pentakziah yang menghibur atau menunjukkan kepedulian. 
Selama berkabung segala kebutuhan jamuan tamu, keluarga yang meninggal dunia 
hingga tetangga yang membantu dirogoh dari dana yang disumbangkan oleh 
penziarah. Tentu saja pendoa atau tamu yang menyampaikan duka disajikan segelas 
teh dengan sepiring kue untuk menghilangkan dahaga. 

"Jika gaji rata-rata di BRR sekitar Rp 5-10 juta per bulan saya mau di sana. 
Namun gaji terlalu tinggi padahal pengungsi masih di tenda. Kerja di Aceh ini 
ada unsur kerja kemanusiaan, bukan kerja bisnis," ungkap Taufik yang bergaji Rp 
3 juta per bulan di LSM lokal yang mendampingi warga dalam pembedayaan 
masyarakat di Aceh Besar.


Gaji NGO dan BRR
Tak pelak, usai tsunami 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan 17 kabupaten 
dari 21 kabupaten, Aceh tumpah ruah oleh sekitar 500 NGO internasional, 
nasional, dan regional. Secara perlahan, satu per satu NGO angkat kaki dari 
Aceh dengan alasan sudah melewati masa tanggap darurat atau kehabisan dana 
operasional. 

Kini tersisa 291 NGO yang terus bekerja hingga tahun 2009 sebagaimana berakhir 
masa kerja BRR di Aceh dan Nias. Keberadaan NGO yang ragam kegiatan dan asal 
negara dikoordinasi oleh BRR agak tidak tumpah tindih dalam pelaksana. 

Berapa sih gaji pekerja di BRR? Berdasarkan usulan BRR ke pemerintah, empat 
item untuk Dewan Pengarah digaji Rp 5-10 juta, Badan Pengawas yang terdiri dari 
tiga item yakni Rp 4-20 juta. Nah untuk Badan Pelaksana seperti Ketua Bapel BRR 
Kuntoro Mangkusubroto digaji Rp 75 juta per bulan (lihat tabel). 

Hingga kini, minimal hilir mudik 400 pekerja BRR dengan cabang di beberapa 
kabupaten di Aceh. Ghalibnya, bagi hasil "uang samadiah" ini ada beda walaupun 
sama-sama berpaspor Indonesia dan menduduki jabatan yang sama karena melihat 
pengalaman kerja. 

"Mereka digaji besar agar tidak korupsi dan bisa fokus kerja di sini. Tidak 
lagi nyambil di tempat lain," ungkap Kuntoro berulang kali menanggapi besarnya 
gaji di badan yang menjunjung misi kemanusiaan.

Bagaimana nasib Aceh setelah BRR dan NGO internasional angkat kopor tahun 2009 
sambil mengecek hasil pengumpulan uang samadiah setelah empat tahun "membantu" 
korban tsunami di Aceh? Mungkin mirip dengan sebuah keluarga yang salah satu 
anaknya meninggal dunia. 

Selama tujuh hari, mereka dihibur dan menerima sedekah dari teman-teman yang 
bertakziah. Setelah sepekan, keluarga itu pun sepi kunjungan. Uang yang 
semestinya dari donatur bisa untuk modal kerja ke sawah atau melaut ternyata 
sebagian sudah terkuras untuk operasional selama samadiah. 

Demikian juga, setelah empat tahun BRR dan NGO hilir mudik di Aceh dengan mobil 
double cabin, ID, dan flash disk bergelatungan di leher, korban tsunami kembali 
mengurus diri sendiri. LSM lokal dan rakyat Aceh, suka tak suka, harus menjadi 
tukang "cuci piring" dari ragam persoalan sosial budaya yang menguat selama 
rekonstruksi dan rehabilitasi. 

Kecemburuan sosial, solidaritas yang kendur, atau rumah bantuan NGO yang ambruk 
serta tata ruang kota yang mungkin tak dilaksanakan hanya tinggal menunggu 
waktu. "Masa kerja kemanusiaan sudah berakhir tiga bulan usai tsunami. Sekarang 
masa kumpul uang. Di mana ada kematian, di situ ada kehidupan baru bagi orang 
lain, " ungkap rekan penulis yang sudah dua kali pindah kerja di NGO  
internasional karena mengejar "uang samadiah" yang berbeda antar-NGO. Mari 
menikmati uang samadiah di Aceh, ayo siapa yang mau ke Aceh?! n

-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 406 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: