[ppi] [ppiindia] Seragam Sekolah, Perlukah?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 31 Aug 2005 11:41:38 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/30/opi01.html
Seragam Sekolah, Perlukah?
Oleh
Arissetyanto Nugroho
Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional), Bambang Sudibyo punya rencana
menghapus seragam sekolah. Artinya, tidak ada lagi ketentuan siswa SD sampai
SMA wajib berseragam. Kita masih menunggu, apakah rencana tersebut akan menjadi
kenyataan dan ditaati sekolah-sekolah mengingat seragam sekolah adalah sebuah
identitas-baik dari sisi jenjang pendidikan maupun indentitas sekolah.
Seperti diketahui, SD menggunakan seragam baju putih dan bawahan merah, SMP
bawahan biru baju putih, sedang SMA menggunakan bawahan abu-abu dan baju putih.
Seperti diketahui pula, masing-masing sekolah bebas menentukan seragam
sekolahnya masing-masing. Motif seragam merupakan indentitas sekaligus
kebanggan sekolah.
Beberapa sekolah malah menambah keseragaman tersebut dengan sepatu. Misalnya,
warna sepatu harus hitam dan harus bertali. Plus harus pula menggunakan kaos
kaki putih dan ikat pinggang hitam.
Saya ingat betul seragam sekolah dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan
antarsiswa yang satu dengan yang lain. Seorang siswa tidak bisa bergaya dan
memamerkan baju-baju mewahnya di sekolah. Seorang siswa dipaksa tampil seperti
siswa lainnya. Di dalam kebijakan seragam ini, ada pula pengajaran disiplin
terhadap siswa. Pada sekolah tertentu, siswa dikenai hukuman apabila melanggar
ketentuan seragam sekolahnya.
Tepatkah kebijaksanaan menghapus seragam sekolah? Kebijakan seragam sekolah
bukanlah kebijakan mendasar karena itu hanyalah atribut, asesoris. Seragam
sekolah tidak memiliki korelasi dengan prestasi siswa dan kualitas pendidikan
nasional.
Tanpa adanya ketentuan dan keharusan memakai seragam pun pendidikan nasional
harus jalan. Generasi muda sebagai penerus bangsa harus tetap mendapatkan
pendidikan agar memiliki kapabilitas dan kemampuan meneruskan mengelola
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bukan Pendidikan Militer
Kebijakan Mendiknas menghapus seragam sekolah patut dipertimbangkan. Kita tidak
perlu khawatir penghapusan seragam sekolah akan menimbulkan efek negatif
terhadap siswa misalnya akan terjadi perang pamer kekayaan. Siswa keluarga kaya
akan memamerkan pakaian mewahnya, sehingga menimbulkan kecemburuan siswa lain.
Pada sisi lain, pada saat ini amat sulit menghentikan menonjolnya strata
ekonomi tertentu untuk seorang siswa. Sekolah tidak pernah melarang siswa ke
sekolah dengan kendaraan pribadi atau antarjemput dengan sopir pribadi. Tidak
ada larangan pula seorang siswa membawa telepon selular ke sekolah.
Tidak cuma itu, siswa dari golongan mampu pun memilih menggunakan sepatu dari
merek ternama, karena memakai sepatu mahal tidak melanggar aturan yang
diterapkan sekolahnya. Jadi pamer kekayaan dan kecemburuan pun tetap terjadi
walaupun seragam sekolah diberlakukan.
Pendidikan sekolah dari SD hingga SMA bukanlah pendidikan militer. Bagi sebuah
angkatan perang, identitas memang amat dibutuhkan. Filosofinya untuk membedakan
tentara dengan masyarakat sipil dan membedakan satu kesatuan dengan kesatuan
lainnya. Di medan perang akan membedakan musuh dengan kawan.
Para saat ini, kebijakan tanpa seragam sekolah bila dikaitkan dengan upaya
perbaikan sistem pendidikan dan berujung pada upaya pemerintah untuk mengubah
pola berpikir dalam pendidikan, merupakan terobosan yang harus
diimplementasikan di sekolah-sekolah. Saya tidak berharap, kebijakan tanpa
seragam itu sebagai bagian inkonsistensi sistem pendidikan nasional, melainkan
berangkat dari pemikiran yang amat mendasar-yakni upaya meningkatkan kualitas
pendidikan secara sistematis.
Pola Berpikir Formal
Selain itu, sudah saatnya kita menyadari sepenuhnya, indoktrinasi generasi
melalui sistem pendidikan harus diubah dengan pola pendidikan yang lebih
interaktif dua arah. Siswa bukanlah objek tetapi adalah subjek pendidikan.
Hubungan siswa dengan sekolah, siswa dengan guru, harus didorong pada hubungan
kesetaraan pada pola berpikir, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
sekarang digunakan di tingkat SD hingga SMA menempatkan guru sebagai salah satu
sumber kebenaran informasi, bukan pemilik tunggal kebenaran informasi itu
sendiri. Dengan demikian terjadi pula demokratisasi di dalam dunia pendidikan.
Dengan menghapus seragam diharapkan siswa, orang tua siswa, guru dan pengelola
sekolah membuka wawasan berpikir seluas-luasnya, tentang pentingnya
mengeliminasi pola berpikir formal yang selama ini telah menghambat kreativitas
baik siswa maupun guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bakat-bakat
alamiahnya menjadi lebih berpikir substantif (pendekatan isi).
Saya meyakini, kebebasan berpikir dan tidak terbelenggu pada pola berpikir
formal, secara jangka panjang berdampak positif kepada perkembangan generasi
muda bangsa. Kita pun tidak perlu berburuk sangka, bahwa penghapusan seragam
akan berdampak pada tingkat kedisiplinan siswa dan menumbuhkan kecemburuan
sosial antara siswa yang mampu dan tidak mampu.
Pengalaman ketika duduk di SMP dan SMA yang tidak berseragam sekolah,
menunjukan kecerdasan intelektual, disiplin dan rasa kesetiakawanan yang tinggi
bisa terwujud.
Adalah lebih tepat apabila disiplin diajarkan tidak secara formal seperti di
dalam pendidikan militer, tetapi ditempatkan pada kerangka pola dan perilaku
masyarakat secara lebih luas. Disiplin haruslah dimulai dari tingkat paling
dasar, yakni rumah tangga.
Artinya, orang tua dan anggota keluarga harus menjadi garda terdepan
keteladanan bagi siswa untuk bersikap disiplin bagi diri sendiri dan orang
lain. Disiplin harus dilakukan sebagai tanggung jawab bukan sebagai
indoktrinasi. Disiplin bukanlah sekadar formalitas melalui seragam sekolah,
karena seragam sekolah bukanlah unsur elementer dalam sistem pendidikan
nasional.
Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Seragam Sekolah, Perlukah?